Masuk"Oh, ya sudah! Kalau begitu, kasih tahu, kapan hari ulang tahunmu?" tanya Drizela sambil duduk di bangku klasik panjang berwarna putih bermodelkan ukiran yang sangat unik. "Nanti aku akan meminta papaku untuk memberikanmu mainan bagus sebagai hadiah ulang tahun!" jelas Drizela lagi. Kalau tidak boleh menerima barang dari orang lain, setidaknya memberinya kado di hari ulang tahun, ibunya tidak akan menolak. "Ulang tahunku tiga bulan lagi! Itu kata Mama!" balas Michael yang sedikit lupa dengan ulang tahunnya. "Oh, baiklah! Nanti kalau pulang, tanyakan pada mamamu, kapan ulang tahunmu?" "Baiklah! Nanti kutanyakan!" ucap Michael. "Eh, iya, kalau tiga bulan lagi, itu bulan yang sama dengan ulang tahunku! Kata pelayanku, tiga bulan lagi aku ulang tahun yang ke-5! Lihatlah itu ...." Drizela menunjuk sebuah rumah-rumahan besar, cukup untuk beberapa anak. Di atas gentengnya ada tulisan empat angka. Drizela menyebutkan angkanya satu per satu, "Dua ... tiga ... kosong ... sembilan. Papa b
"Hah? Apa maksudmu? Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Marissa sambil menoleh ke samping. Ia melihat Fanny dengan serius. Sebenarnya, bukan hanya Fanny saja yang berpikir seperti itu tentang anak perempuan yang menjadi teman Michael di sekolah itu. Marissa pun sama, berpikir bahkan teman Michael yang bernama Princess Drizela itu ialah bayi kecil Marissa yang diambil oleh Ambar dan Danendra. Bahkan tadi di sekolah, Marissa melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bahwa anak yang akrab disapa Izela itu keluar dari mobil yang waktu itu dikendarai oleh Asisten Anas. "Tadi Wilyam sendiri yang bilang, nama keponakannya, Izela! Aku pikir, itu pasti Izela si Princess kecil itu! Dari awal aku sudah curiga, namanya sangat mirip dengan nama Pak Danen! Danendra dan Drizela. Seperti halnya kau, Sa! Marissa dan Michael!" "Bukan!" Marissa segera menyangkal. "Aku menamai putraku Michael agar sama dengan Mario! Adik kakak dengan inisial yang sama, itu sangat lucu, kan?" Walau Marissa masih
"Ah, ti-tidak!" Fanny pun menjawab dengan asal, "Aku dengar Marissa baru kembali ke kota ini. Tapi, kami belum sempat bertemu!" Kalau sampai Wilyam tahu Fanny tinggal bersama Marissa, mungkin dia akan bertanya semua hal tentang Marissa. Fanny tidak ingin menyulitkan teman baiknya itu dengan membuka semua rahasianya pada Wilyam. Lebih baik jika saat ini Fanny tutup mulut saja, itu lebih aman untuknya dan untuk Marissa. "Oh, tidak! Ya sudah! Tadinya aku ingin meminta bantuanmu mempertemukan aku dengan Marissa! Ada beberapa hal yang ingin aku bahas dengannya, terutama tentang anak yang belum pernah Marissa lihat!" 'Emmm!' Fanny terus menutup rapat bibirnya. Takut jika dirinya salah berbicara. "Apa kau tahu, anak yang Marissa lahirkan, sekarang sudah tumbuh menjadi anak yang pintar. Kami sangat menyayanginya, kami pun bisa memberikan apapun agar dia bahagia. Tapi, ada satu hal yang tidak bisa kami berikan padanya, yaitu kasih sayang seorang ibu! Aku ingin bertemu dengan Marissa sa
Di depan pintu apartemen, ada dua pria yang berdiri sambil membawa beberapa kotak makanan. Mereka disuruh oleh seseorang mengirim beberapa jenis menu makanan dalam jumlah yang banyak ke tempat tinggal Marissa. Michael yang tadinya senang mendengar ada bunyi bel, kini malah kecewa. Dikira yang datang itu adalah tantenya, Fanny. Tqpi setelah pintu dibuka, ternyata yang datang adalah karyawan restoran. Mereka berdua mengenakan seragam karyawan bertuliskan Foodair. Dilihat dari nama restoran yang ada di seragam karyawan tersebut, Marissa sudah tahu, restoran mewah yang dulu membuka cabang di luar kota itu milik keluarga Adipraja. Marissa tahu itu karena dulu pria tua yang merupakan paman dari mantan suaminya ditugaskan untuk memegang cabang di sana. "Maaf, ini ada kiriman untuk Nona Marissa!" ucap salah satu orang ketika Marissa membuka pintu. Marissa terdiam tanpa berkata apa pun. "Oh, sepertinya saya tidak memesan makanan! Mungkin kalian salah alamat," balasnya sambil memegang pint
Sore hari, di dalam supermarket yang sangat besar dan luas, Fanny berjalan sendiri sambil mendorong troli. Ia berkeliling mencari bahan-bahan untuk memasak. Hari ini, Darius dan Mario datang berkunjung ke apartemen Marissa sebelum besok pagi mereka kembali ke Kota K. Fanny pun berencana memasak makanan enak untuk mereka. Dari arah belakang, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya, lalu orang itu menghampiri. Saat dilihat, ternyata itu adalah Wilyam. "Eh, Pak Wilyam? Selamat sore, Pak!" sapa Fanny yang tiba-tiba memberi hormat. Wilyam pun dengan ceria menyapanya. "Apa kabar sekarang? Sudah lama aku tidak melihatmu! Mungkin terakhir kali bertemu saat kau masih bekerja di perusahaan kami!" "Emh, ya! Sepertinya setelah saya dipecat, kita tidak pernah bertemu lagi, Pak!" balas Fanny yang sedikit malu. Pasalnya Fanny dan Wilyam ini bukanlah teman akrab, bukan pula seseorang yang sering bertemu dan mengobrol bersama di luar jam kerja saat mereka satu kantor. Fanny dan Wilyam ha
Marissa menunduk, tidak berani menatap pria baik yang saat ini ada di sampingnya. "Tidak seharusnya aku ikut Danen ke rumahnya! Aku ...." "Sudahlah! Tidak usah meminta maaf! Aku juga tidak apa-apa, kok!" balas Zain yang duduk di samping Marissa sambil mengemudi. Zain menggenggam tangan Marissa dengan satu tangannya, mencoba bersikap tenang walau di dalam hati sangat marah dan kecewa. "Aku pikir, tadi Danen benar-benar akan membawaku menemui putriku! Tapi ternyata, dia berbohong!" ucap Marissa lagi dengan pelan. Tangannya sudah dilepaskan oleh Zain, Marissa duduk sambil melihat ke depan. "Danen ... mengajakmu menemui putri kalian?" tanya Zain yang tiba-tiba berubah sikap. Ia menoleh ke samping, menatap Marissa, lalu kembali melihat ke arah jalan raya. "Enh ...." Marissa pun mengangguk. Walau sedikit kecewa tidak bisa melihat putrinya, tapi ia sangat puas dengan ekspresi kecewa Danendra saat tahu kalau Zain datang dan menunggunya di luar. "Kenapa? Apa kau masih ingin merawat an
"Mama!" Mario berteriak saat melihat Marissa. Ia memeluk kaki ibunya dan terus memanggil. "Mama!" Marissa terdiam. Putra yang selama ini dia rindukan, sekarang benar-benar ada di depan matanya, dan bahkan memeluk kedua kakinya dengan erat. Marissa tidak bisa berkata apapun. Ia terpaku, rasan
Setelah Marissa naik ke atas motor tinggi dan besar itu, bukannya membelokan motornya dan pergi dari sana, Zain malah berjalan lurus menuju rumah tua itu. Ia menghiraukan teriakan Marissa dari belakang. Dia terus saja berjalan. "Zain! Apa yang kau lakukan? Kenapa membawaku ke rumah tua itu lagi?
Malam hari, Marissa baru turun dari bus setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit dari tempat kerja menuju rumahnya. Tubuhnya terasa capek dan lelah, untuk berjalan pun rasanya sangat sulit. Marissa ingin segera sampai di rumah dan tidur. Hari ini, pekerjaan Marissa di kedai mie cukup meng
Di rumah tua yang sangat sepi, samar terdengar suara hewan-hewan dari sekitaran rumah tersebut. Bukan hanya suara hewan-hewan kecil saja, hewan besar seperti long-longan anjing pun begitu jelas terdengar. Marissa yang dikurung di tempat yang sepi itu merasa merinding dan sedikit takut. Marissa ma







