共有

Bab 6 Dia Sudah Gila

作者: Tusya Ryma
last update 公開日: 2025-11-29 18:02:30

Keesokan harinya, pagi sebelum Ray pergi bertugas ke luar kota, Marissa duduk di salah satu kafe bersama Ray. Mereka duduk bersama untuk membicarakan masalah kemarin malam.

"Jadi, kau masih menyangkalnya?" tanya Marissa setelah mendengar penjelasan dari Ray yang masih saja menyangkal.

Padahal semuanya sudah jelas, Marissa merasakan hal aneh setelah diberi minuman oleh Ray.

"Sungguh, Sa! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan! Kemarin malam aku berniat membantumu, bukan mau memanfaatkanmu," jawab Ray lagi. Masih sama dengan jawaban sebelumnya.

Ray masih berpura-pura tidak tahu dengan kondisi Narissa di malam itu. Padahal, dialah orang yang masukkan obat ke dalam minuman agar mereka tidur bersama. Namun semua rencamanya gagal ketika kunci kamar itu harus tertinggal di dalam saku jasnya.

"Jadi, Sa, kemarin malam itu kau dipengaruhi oleh obat per ...." Ray berpura-pura bodoh. Ia tidak melanjutkan ucapannya.

Ekspresi wajah wanita di depannya sudah sangat buruk. Ray khawatir itu akan semakin buruk kalau dirinya terus menanyakan hal itu secara rinci.

Namun, Marissa mengerti. Ia menjawabnya dengan tegas, "Iya! Aku tahu itu karena ulahmu!"

"Bukan! Itu bukan ulahku! Mungkin itu ulah Fanny! Dia iri karena kemarin malam kau lebih cantik darinya!"

"Cih, menyebalkan! Sekarang malah menuduh orang lain yang melakukanya!"

Walau Ray terus berkata tidak, namun Marissa tidak percaya dengan hal itu.

"Sungguh Sa! Aku tidak tahu! Kita sudah berteman lebih dari satu tahun, tidak mungkin aku melakukan hal bejad itu terhadapmu! Percayalah, Sa!" Ry mengiba. Ia meraih tangan Marissa di atas meja.

Sebelum tangannya berhasil menggenggam tangan halus Marissa, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari sampingnya, "Bukankah seharusnya kau sudah berangkat ke Kota C?"

"Eh!" Ray segera menarik tangannya kembali. Ia menoleh ke samping, melihat orang yang ada di sampingnya.

Seketika Ray terkejut.

"Pak Danen?"

"Masih tidak pergi? Bukankah sebentar lagi pesawatnya akan berangkat? Atau, kau berencana untuk tidak pergi?" tanya Danendra dengan sinis. Ia menatap Ray dan Nqrissa silih berganti.

"Tidak, Pak!" Ray segera berdiri.

Ia takut dipecat, segera membungkuk hormat pada Danendra. "Saya akan berangkat sekarang!"

"Emh! Pergilah! Jangan lupa bayar dulu tagihanmu!" balas Danendra, masih dengan sinis.

"Baik Pak!"

"Aku pergi dulu, ya!" bisik Ray pada Mqrissa. Lalu ia pergi meninggalkan tempat itu.

Walau masih banyak hal yang ingin Ray bicarakan dengan Marissa, terpaksa ia harus segera pergi. Kalau tidak, mungkin Danendra akan benar-benar memecatnya.

Melihat Ray pergi, Marissa pun berniat untuk keluar. Tidak ada alasan baginya untuk tetap tinggal.

Marissa memberi hormat dengan membungkukan badan pada Danendra, lalu pergi keluar dari kafe tanpa berkata apapun.

Mengucapkan kata "Permisi." pun, tidak.

Tadi, dari seberang jalan, Danendra sengaja turun dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam kafe setelah melihat Ray dan Marissa duduk di sana. Sebelum benar-benar sampai ke meja mereka, Danendra mendengar percakapan Marissa dan Ray tentang kejadian kemarin malam.

Tapi sekarang, Marissa tidak berkata apapun pada Danendra, dia malah mengabaikannya.

Di trotoar jalan, Marissa berjalan dengan terburu-buru tanpa mempedulikan apapun. Ia menatap kiri dan kanan lalu menyeberang jalan diikuti Danendra dari belakangnya.

"Hey, tunggu!" teriak Danendra pada Marissa sambil terus berjalan.

Marissa pun segera menghentikan langkah kakinya. Ia merapikan emosinya, lalu berbalik badan menghadap Danendra.

Dengan berani, Marissa berkata pada pria itu, "Maaf Pak, untuk kelancangan saya kemarin malam, saya sungguh minta maaf! Kejadian itu dibawah kendali saya. Tapi Anda tenang saja, saya tidak akan menjerat Anda, atau memaksa Anda untuk bertanggung jawab atas kejadian itu. Anda tidak perlu khawatir, saya tidak akan melakukan hal itu!"

"Lebih baik kalau masing-masing dari kita melupakan kejadian itu. Anggap saja itu sebagai mimpi buruk yang tidak pernah terjadi," tambah Marissa dengan pelan.

Ia sangat malu membahas hal itu dengan pria yang pernah tidur dengannya.

Setelah mengatakan panjang lebar pada Danendra, Marissa pun berbalik badan dan berniat untuk pergi.

"Saya permisi!"

Baru beberapa langkah berjalan, Danendra kembali memanggilnya.

"Marissa, tunggu!"

Langkahnya kembali terhenti. Namun kali ini Marissa enggan untuk berbalik badan. Menurutnya semuanya sangat jelas, sudah tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan.

Walau tadi dirinya yang meminta maaf pada Danendra, tapi sebenarnya yang dirugikan dalam masalah ini bukanlah pria itu, tapi Marissa. Danendra lah yang menikmati malam gila itu dan menyiksa Marissa sepanjang malam.

Kalau membicarakan masalah rugi, siapa yang rugi? Jelas saja itu Marissa. Wanita itu dirugikan secara fisik dan mental.

Namun, jawaban dari Darendra benar-benar mengejutkan Marissa. "Kembalikan kemeja dan jasku!"

"Heh?"

Marissa segera menoleh ke belakang, lalu menyebutkan kembali dua barang milik pria itu.

"Ke-kemeja, jas?"

Marissa pikir pria itu memanggilnya untuk membahas masalah tadi malam. Tapi ternyata, dia memanggilnya hanya untuk menanyakan kemeja dan jas yang kemarin Marissa pakai.

"Iya! Bukankah kemarin kau kabur dengan membawa kemeja dan jasku? Kau juga mencuri uang dari dompetku!"

"Uhuk! Uhuk!"

Marissa hampir mati tersedak mendengar ucapan pria itu.

'Tidak disangka, Pak Danen begitu perhitungan! Bukankah dia itu orang kaya? Hanya uang segitu saja, harusnya tidak masalah, kan?'

Akhirnya, Marissa berbalik badan dan kembali berbicara, "Maaf, Pak Danen! kemarin, saya memang memakai kemeja dan jas Anda karena Anda sudah menghancurkan pakaian saya. Bahkan, pakaian dalam saya. Dan ... untuk masalah uang ...."

Marissa diam sejenak. Ia meraba semua saku di celananya.

Sepertinya, ia tidak membawa uang sebanyak itu sekarang.

"Uang itu, saya akan menggantinya, besok!"

"Hah, besok? Kenapa tidak sekarang saja?" tanyanya dengan mengangkat kening.

"Sekarang saya tidak membawa uang! Jadi, besok saja!" balas Marissa dengan cepat.

"Emh, besok? Bukankah besok kau masih libur, ya? Apa jangan-jangan kau ingin menipuku?"

'Aish!' Marissa hampir lupa, drinya mengambil libur selama tiga hari. Jadi, besok masih tidak perlu pergi ke kantor.

"Itu ...." Marissa berpikir sebentar untuk mencari alasan. "Besok, saya akan menitipkan uangnya pada Fanny!"

"Fanny?" Danendra mengingatnya, "Besok dia masih berada di Kota C mengurus masalah pekerjaan. Bagaimana bisa menemuiku?"

Tiba-tiba Danendra mendekat. Ia berkata dengan penuh sindiran, "Apa kau ingin menipuku?"

"Ti-tidak!" Marissa mundur satu langkah ke belakang untuk menghindar. Ia tidak ingin berdekatan dengan pria itu.

Wangi tubuh Danendra sangat jelas tercium. Wangi itu mengingatkan Marissa pada kejadian kemarin malam. Malam penuh kesakitan.

"Tidak!" Marissa mendorong tubuh Danendra agar menjauh. Ia tidak ingin mengingat apapun tentang malam itu.

"Ayo! Aku akan mengambil uang dan pakaianku di rumahmu!"

"Apa??? Ke-ke rumahku?"

'Bos macam apa ini? Apa dia sudah gila?'

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 431 Selesai

    Tidak terasa, waktu berlalu sangat cepat. Marissa dan bayinya sudah keluar dari rumah sakit setelah beberapa hari dirawat. Fanny pun sudah pulang dan hidup bersama suami dan anaknya di Kota K. Sekarang, Marissa dan keluarga kecilnya tinggal di rumah yang sangat bagus dan mewah yang sudah dibuat dari jauh-jauh hari oleh Danendra. Mereka hidup bahagia tanpa ada yang mengganggu. "Mama, kalau Baby Damar sudah besar, nanti dia akan merebut mainanku, dong! Di sekolah juga ada teman kami yang bilang kalau adiknya selalu mengacau, merebut mainan, dan menangis! Aku dan Izela tidak suka punya adik seperti itu!" ucap Michael yang saat ini sedang duduk di taman belakang bersama ayah dan ibunya, juga Drizela dan bayi Damar (singkatan dari nama ayah dan ibunya, Danendra dan Marissa). Mereka berlima sedang bersantai sambil menikmati udara pagi yang sejuk dengan rumput hijau dan bunga-bunga yang bermekaran di taman belakang rumah. "Husss, jangan bicara seperti itu! Kaka Michael dan Kakak Izel

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 430 "Terima kasih, Sayang!"

    Benar saja, setelah dokter memeriksa Fanny, ternyata wanita itu akan melahirkan. "Aahhh, bagaimana bisa? Kami ke sini untuk menjenguk Marissa, sama sekali tidak membawa apapun! Perlengkapan untuk bayi, kami tidak membawanya. Bagaimana ini?" Darius terus menggerutu. Ia tidak tahu harus berbuat apa menghadapi persalinan istrinya yang mendadak itu. "Tidak apa-apa! Masalah itu, kau jangan khawatir. Kalaupun bayinya lahir sekarang, ada perlengkapan bayi kami yang belum dipakai. Selain itu, pihak rumah sakit juga menyediakan perlengkapan bayi untuk bayi yang lahir mendadak seperti ini!" Danendra mencoba menenangkan Darius. Mereka berdua duduk di depan ruang persalinan Fanny. Danendra sampai meninggalkan istrinya demi menemani Darius yang terlihat panik. Beberapa menit kemudian, dokter memanggil Darius dan meminta ayah dari sang calon bayi untuk masuk ke dalam ruangan. "Bagaimana ini? Aku tidak berani ...." Darius benar-benar sangat takut. Ia tidak ingin masuk ke dalam ruangan itu dan

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 429 Tanda-Tanda Melahirkan

    Di sebuah ruangan persalinan yang cukup tenang, terdengar suara tangisan bayi diiringi ucapan syukur dari para dokter dan ayah sang bayi. Danendra merasa lega, bayi yang baru saja dilahirkan oleh istrinya berjenis kelamin laki-laki. Bayi itu sangat sehat dengan suara tangisan yang begitu kencang. "Selamat, Nona! Bayi Anda laki-laki!" ucap dokter yang membantu persalinan Marissa. Bayi yang baru lahir itu segera diletakan di dada ibunya agar mencari ASI-nya sendiri. "Owa ... owa ... owa!" Bayi itu terus menangis sambil bergerak-gerak di dada Marissa. Danendra sampai terharu saat melihatnya. Di luar ruangan, Ambar dan suaminya, Wilyam, juga anak kembar—Drizela dan Michael—masih harap-harap cemas menunggu kabar dari dalam ruangan itu. Mereka tadi sempat mendengar suara tangisan bayi dari dalam sana, tetapi belum ada satu orang pun yang keluar dan memberitahu mereka. "Tadi itu suara apa, Nek? Apa suara kucing?" tanya Michael sambil mendongak menatap neneknya yang terlihat kh

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 428 Kontraksi Palsu

    Pagi ini, dunia terasa sangat indah. Marissa bangun dari pelukan pria yang semalaman menemaninya. Mereka menghabiskan waktu bersama tanpa mengenal lelah. Entah mengapa, hari ini menjadi hari yang sangat istimewa bagi Marissa. Bukan hanya karena semalaman mereka menikmati kebersamaan sebagai suami istri, tetapi juga karena semua kendala dalam hidupnya sudah berhasil dilalui dengan baik. Sekarang, Marissa merasa hidupnya begitu damai. Ia punya suami yang sangat mencintainya, juga kedua anak kembar yang sangat lucu, serta satu calon bayi yang masih ada di dalam kandungannya. Belum lagi mertua yang kini sudah merestui hubungan mereka. Selain itu, ada kakek dari pihak ayah yang baru ditemuinya belum lama ini. Semua itu benar-benar membuat Marissa sangat bahagia. "Ennnh, Sayang! Mau ke mana?" ujar Danendra sambil memejamkan mata. Ia melingkarkan tangannya di perut buncit istrinya. "Jangan dulu bangun. Aku masih mau seperti ini!" ucap Danendra lagi tanpa membuka matanya. Marissa yang su

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 427 Istana Megah

    Di dalam mobil, Marissa terheran ketika melihat jalanan yang tidak sama dengan jalan menuju tempat tinggalnya. "Eh, kita mau ke mana dulu? Tidak langsung pulang, ya?" tanya Marissa pada suaminya yang duduk di sampingnya. Selain ada Danendra dan Marissa, ada juga Drizela yang duduk bersama mereka, sedangkan Michael duduk di kursi depan bersama Asisten Anas yang sedang mengendarai mobil. "Hehe!" Danendra tersenyum. Ia sangat bangga bisa mengajak Marissa dan anak-anaknya tinggal di rumah baru yang sudah dibuatnya dengan waktu pembangunan yang cukup lama. Mungkin rencana pembangunannya sudah ada saat Marissa hamil anak pertama. Hanya saja, saat itu Marissa dan Danendra ada masalah, jadi pembangunan rumah itu dihentikan sementara waktu. "Nanti juga Sayang akan tahu!" jawab Danendra masih dengan senyum lebarnya. "Apa kita akan pergi berbelanja dulu? Atau ... mengajak anak-anak bermain?" tebak Marissa sambil melihat ke arah anak-anaknya. Mereka pun balas melihat Marissa. Dari

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 426 Mama Pulang

    "Minggir! Minggir!" "Semuanya minggir!" Petugas kepolisian bergegas menahan orang-orang yang akan mendekat. Mereka semua memegang ponselnya masing-masing, lalu merekam kejadian tersebut, di mana tubuh seorang pria tergeletak di aspal dengan genangan darah yang terus keluar. "Ah ...." Melihat hal mengerikan itu, akhirnya Marissa tidak kuat lalu pingsan. Tuan Lim yang ada di sampingnya pun segera memeluk dan menahannya agar tidak terjatuh. Dari depannya, Danendra berlari, lalu menghampiri Marissa yang terlihat lemah. "Apa yang terjadi? Marissa kenapa?" tanyanya dengan cemas. Danendra melihat Marissa memejamkan mata. Ia semakin panik, lalu memanggil bawahannya dan memintanya untuk segera membawa Marissa ke rumah sakit. Di dalam mobil, Danendra begitu cemas, bukan hanya karena melihat kejadian mengerikan yang terjadi pada Ken, tetapi juga karena melihat istrinya yang saat ini tidak sadarkan diri. Tuan Lim sudah menceritakan kronologi kejadiannya pada Danendra, dan ia pun semakin

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 186 Tidak Mengganggu Marissa

    Di depan rumah Fanny, Marissa turun dari dalam taksi sambil memegang kunci rumah. Ia masih berdiri di samping taksi sambil melihat Fanny yang masih ada di dalam taksi. "Apa kau yakin mau pergi menemui Ethan? Aku sedikit khawatir! Lebih baik, aku ikut denganmu!" Marissa ragu dengan hal itu. Ia p

    last update最終更新日 : 2026-04-05
  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 97 Lebih Hangat dari Sebelumnya

    Semenjak kejadian malam itu, Fanny tidak pernah lagi menghubungi Marissa, tidak juga mengangkat teleponnya, bahkan tidak mau bertemu dengan Marissa lagi walau teman baiknya itu sudah datang ke rumah atau bahkan menjemputnya di kantor. Fanny benar-benar menghindar.Sekarang, terasa ada jarak di anta

    last update最終更新日 : 2026-03-26
  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 58 Pelayan Lain Merasa Iri

    "Mama! Apa benar Mama sakit karena memikirkan aku? Aku baik-baik saja di sini bersama bos Mama!"  Yang Mario tahu hanya itu. Pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu adalah bos ibunya di kantor. Mereka pernah bertemu sebelumnya dan mereka pernah menginap di apartemennya. Itulah yang membuat M

    last update最終更新日 : 2026-03-22
  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 34 Danen yang Selalu Berubah-Ubah

    Danendra masih membolak-balik buku menu di tangannya. Jemarinya berhenti di beberapa halaman, lalu menunjuk satu per satu dengan ekspresi datar. “Apa kau suka yang ini? Atau yang ini?” tanyanya. Marissa melirik sekilas, tetapi tidak benar-benar membaca. Matanya mengikuti gerak jari Danendra, se

    last update最終更新日 : 2026-03-19
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status