เข้าสู่ระบบJuan selama ini terlalu ribut soal Freya yang tak disangka-sangka berani main api di belakangnya. Fokusnya hanya tentang Freya yang mencampakkan dirinya demi pria lain yang jauh lebih kaya dan berkuasa.Juan terus mempertanyakan alasan Freya berselingkuh. Namun, dia tak pernah sekali pun memikirkan apa yang telah ia lakukan hingga pengkhianatan itu terjadi. Foto-foto yang Freya sodorkan tampaknya merupakan momen yang terjadi lebih dari sebulan lalu. Artinya, setidaknya sudah selama itu juga Freya tahu bahwa Juan selingkuh dengan Lucy.Juan sungguh tidak mengira semua ini justru karena dirinya sendiri. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa Freya akan membalas perselingkuhannya dengan cara selingkuh juga.“Dengerin dulu penjelasanku. Kamu salah paham, Sayang. Ini nggak seperti yang kamu kira.”Freya mengabaikan apa pun diucapkan Juan untuk membela diri. Sementara pria itu terus bicara omong kosong, Freya melirik sekilas ke arah kiri. Manik bening Freya segera beradu tatap dengan Bagas
Tak ada seremonial khusus. Meski begitu, Juan dan timnya sudah menyiapkan berbagai hal spesial untuk setiap pelanggan yang datang ke Freija Eatery hari ini.Juan berdiri di depan pintu restoran didampingi sang manajer, menyambut orang-orang dengan senyum terbaiknya. Pria itu tampak menawan dalam balutan busana koki warna hitam, lengkap dengan apron senada.Juan tidak sekedar menyapa dan mengucapkan terima kasih. Dia juga membagikan bingkisan kecil berupa soft cookies rasa cokelat dan matcha yang tentunya bikinan Juan sendiri. Pada kemasannya, terdapat stiker bertuliskan “Favoritnya Freya Tercinta” yang sukses membuat banyak orang salfok dan tak jarang berujung menggoda Juan.“Bucinnya ngebucin banget, Chef!” seru orang pelanggan.“Pamer hak milik biar pacarnya nggak diambil orang, ya?”Tak sedikit pula yang menjadi penasaran dengan sosok Freya. “Freya tercintanya mana, Chef? Kok, nggak nemenin, sih?”Setiap kali ditanya begitu, Juan seringnya cuma tersenyum malu-malu. Kadang dia juga
Juan bangga pada dirinya sendiri yang memutuskan bertolak ke apartemen Chika. Dari semua lokasi yang mungkin didatangi Freya malam ini, Juan cukup yakin pacarnya itu bakal memilih tempat tinggal Chika.Memang ada kemungkinan Freya pergi menemui Aryan juga. Bahkan, bisa dibilang itu adalah pilihan terbaik jika Freya ingin menghindarinya. Sistem keamanan di apartemen Aryan jauh lebih ketat, masuk area rubanah saja harus pakai kartu akses khusus.Namun, entah kenapa firasat Juan berkata lain. Freya mungkin malah akan mengabaikan pilihan terbaik dan ternyata benar demikian. Freya sungguh pulang bersama Chika, bukan si pengusaha kaya raya.“Ngobrol di dalam sebentar, yuk!” kata Juan sambil membuka pintu mobilnya.Freya hanya diam. Tidak mengangguk ataupun menggeleng, cuma memandang Juan dengan tatapan datarnya.Sadar ditolak, Juan pun tersenyum tipis. Dia lalu menutup pintu mobilnya agak keras, lalu berniat mendekati Freya yang terang-terangan menjaga jarak.Freya berdiri di depan mobil Ju
Freya meletakkan ponselnya di meja wastafel usai menyalakan fitur pengeras suara. Tawa ringan Aryan pun terdengar setelahnya, mestinya jadi pertanda bahwa pria itu mau bekerja sama.Tiga orang yang menggosipkan Freya menyingkir dari depan cermin sambil memandangnya canggung. Seperti ingin minta maaf, tapi nyali mereka sudah terlanjur menciut. Freya tersenyum menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Dia jelas cuma membual soal memperbaiki riasan wajah. Nyatanya, tak ada satu pun produk makeup yang dibawanya ke toilet.Lewat cermin toilet yang membentang memenuhi dinding di hadapannya pula, Freya lalu melihat gerombolan tukang gosip memutuskan balik kanan tanpa mengatakan apa pun padanya.Namun, sebelum benar-benar keluar dari toilet, mereka mendengar jawaban Aryan yang bisa dipastikan bakal memperparah dunia pergosipan.“Kamu itu cantik, Freya. Mantap segala-galanya, makanya saya suka.”***Tata cekikikan membayangkan ekspresi tiga orang yang tertangkap basah menggunjing Freya. Mer
Alarm tanda bahaya seketika menyala di benak Freya. Suara imajinernya terdengar nyaring luar biasa, mirip sirine ambulans yang membuat Freya tersentak hingga refleks memundurkan tubuhnya.Reaksi defensif Freya menjelma hiburan kecil di mata Aryan. Tak hanya senyuman yang melebar, pria itu bahkan tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Gemas melihat ekspresi panik campur tersipu yang tercetak apik di wajah Freya.“Entah itu wartawan gosip atau orang suruhannya siapa pun, nggak ada salahnya kita bantu mereka supaya dapat jepretan terbaik.”Aryan berbisik lirih sambil mendekatkan wajahnya ke arah Freya. Kekehan kecil pun lolos dari bibirnya kala Freya buru-buru coba melindungi diri dengan gestur yang menurut Aryan percuma.“Jelas ada salahnya,” bantah Freya dengan suara tertahan.Memeluk dirinya sendiri erat-erat, Freya kemudian berkata, “Apa coba urgensinya kita bantuin mereka? Nggak ada, Yan! Nggak usah aneh-aneh kamu!”Aryan terdiam sejenak sebelum akhirnya mendengus geli. “Urgensi? Urg
Freya sejatinya tidak ingin Aryan mengantarnya sampai depan gedung kantornya. Maunya dia tetap turun agak jauh seperti biasanya saja supaya kehadirannya tidak mencuri atensi berlebihan.Namun, Aryan bilang, inilah saatnya mulai terang-terangan menunjukkan kedekatan mereka. Freya harus percaya diri memamerkan sosok orang ketiga yang nyatanya bukan pria sembarangan.“Lebih bagus lagi kalau aku ikutan keluar dari mobil, terus kamu tiba-tiba cium pipiku. Setelahnya, kamu langsung jalan cepet masuk ke kantor, ninggalin aku yang senyum-senyum salting kayak orang jatuh cinta pada umumnya.”Aryan semangat sekali membicarakan skenario pasaran yang cuma ditanggapi Freya dengan decakan sinis.“Ngapain juga kita akting mesra-mesraan kalau yang mergokin bukan Juan? Percuma,” gumam Freya.“Oh, gampang,” sahut Aryan tanpa pikir panjang. “Kita bisa atur supaya seolah-olah ada orang yang kebetulan lihat dan akhirnya nyebarin foto atau video sayang-sayangan kita berdua di media sosial.”“Jadi, cepat at
Aryan tak bisa menghilangkan senyum kecil di bibirnya saat terbayang kelakuan Freya sebelum mengusirnya dari kamar beberapa saat lalu.“Sengaja banget menguji kesabaran pacarnya,” gumam Aryan sembari berjalan santai memasuki area bar atap hotel.Sekitar 10 menit lalu, tak lama setelah Aryan ditelep
Aryan mulanya tak tertarik dengan benefit yang ditawarkan Freya. Perihal citra perusahaan dan promosi produk bisnis, Harsa Group sudah tidak terlalu butuh dukungan eksternal. Meski begitu, tentu tak ada ruginya juga menerima penawaran Freya. Hanya saja, setelah menilai kualitas pekerjaan Freya dan
Freya tersenyum menatap Juan yang berdiri di hadapannya dengan wajah tertekuk. Situasinya terasa familiar, seperti sudah pernah terjadi sebelumnya, tetapi Freya lupa-lupa ingat.“Kenapa aku nggak boleh ketemu Sara?”Juan bertanya dengan nada curiga. Melipat kedua tangan di depan dada, pria yang ber
Freya tampak serius membaca artikel yang ditulis Wina secara keseluruhan. Kilat saja, tak sampai lima menit, tapi sudah lebih dari cukup untuk membuat si reporter gugup setengah mati.“Kamu nulisnya berapa lama, Na? Mulai dari bikin transkrip sampai jadi artikel yang cuma 300 kata lebih dikit ini.”







