Masuk“Mas Leo akhirnya kita bertemu juga,” ucap Emma dengan senang ketika tidak sengaja bertemu dengan Leo di salah satu mall.Matanya melihat ke arah Aurora dengan sinis, apalagi melihat bayi yang ada di stroller.Tangannya terkepal, ia merasa cemburu melihat Leo menggenggam tangan Aurora erat.“Sialan! Rasanya aku ingin melepaskan tangan mereka,” umpat Emma di dalam hati.Aurora menatap ke arah suaminya, ia semakin mengeratkan genggaman mereka. Awalnya, Aurora merasa gugup dan takut. Tetapi mengingat semuanya, ia harus berani menghadapi Emma.Mumpung mereka bertemu di sini, maka ia harus menunjukkan kemesraannya dengan Leo di depan Emma.Sedangkan Leo menatap Emma tanpa ekspresi, ia sudah sangat muak dengan tingkah Emma saat ini. Apalagi pakaian Emma yang kurang pantas, bukannya tertarik Leo ingin muntah melihatnya.“Mas Leo ada yang ingin aku bicarakan. Bisa kita bicara berdua?” tanya Emma sambil menekan kata ‘berdua’ dengan melirik Aurora dengan sinis.“Tidak bisa!” jawab Leo dengan si
“Kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita, Sayang. Tapi kamu hebat sudah bertahan sejauh ini, Sayang. Kamu sudah bahagia kan sekarang?” tanya Leo mengelus rambut Aurora dengan lembut.Bahagia?Tentu saja ia bahagia!Menikah dengan Leo adalah sebuah kebahagiaan terbesar untuk dirinya.“Bahagia sekali, Mas. Menikah dengan kamu adalah sebuah anugerah yang terindah di dalam hidupku,” jawab Aurora dengan lembut.“Syukurlah kalau kamu bahagia menikah dengan Mas, Sayang. Semoga seterusnya kita menjadi keluarga yang bahagia ya,” ujar Leo menyelipkan do'a dan harapan besar pada kata ‘bahagia yang ia ucapkan.Aurora mengangguk dengan tersenyum manis. “Amin. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan keluarga kecil kita, Mas.”Aurora berkata dengan tulus, memang ia setiap harinya berdoa agar rumah tangganya diberkati oleh Tuhan.Hati Leo merasa tentram. Aurora berhasil membuat dirinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bahkan yang dulunya ia gila kerja dan hampir tidak ada waktu di rumah sekarang
Drtt…drtt…. Tawa Aurora langsung mereda, ia melihat ke arah ponselnya. Nama papanya tertera di sana. Ya kemarin mereka sudah bertukar nomor ponsel, walaupun berat memberikannya tetapi ia harus mengikuti permainan Darma. Ada apa papanya menelepon? Ia menatap ke arah Leo seakan meminta persetujuan kepada suaminya. “Angkat saja, Sayang. Loudspeaker ya biar Mas mendengarnya juga,” ujar Leo dengan lembut. Aurora mengangguk setuju, ia menggeser ikon berwarna hijau itu dan menekan tombol speaker di sana. Darma : “Halo, Aurora. Ini Papa, Nak. Uhuk…uhuk…” Aurora : “Iya, Pa. Papa kenapa?” Tidak bisa dibohongi jika Aurora juga sedikit merasa panik ketika mendengar suara papanya yang terus batuk. Aurora : “Pa kok diam? Papa kenapa?” Darma sengaja diam, ia ingin melihat respon Aurora terhadap dirinya yang sakit. Darma : “Papa kambuh lagi, Nak.” Aurora melihat ke arah suaminya, tampak sekali wajahnya sangat panik. Leo mencoba menenangkan istrinya tanpa sebuah kata-kata, t
“Bagaimana keadaanmu, Shopia?” tanya Leo ketika ia mampir ke rumah anaknya.Sebagai orang tua, Leo juga khawatir melihat keadaan anaknya yang lemas saat hamil.Shopia tersenyum mendengarnya, ia senang diberi perhatian oleh Leo. Bahkan semua orang lebih perhatian saat dirinya hamil, apalagi suaminya.“Baik, Pa. Tapi masih lemas dan mual juga,” jawab Shopia dengan jujur.“Syukurlah kalau begitu. Papa kepikiran sama kamu, takutnya kamu masih memikirkan soal mamamu itu,” ujar Leo menghela napas dengan pelan.Shopia tersenyum tipis, memang ia masih kepikiran tentang mamanya yang tiba-tiba saja datang dan mengganggu ketenangan keluarganya kembali. Tetapi semua itu tak menjadi masalah untuk dirinya asal ada Raja yang selalu melindungi dirinya.“Memang aku sempat kepikiran, Pa. Tapi gak jadi masalah kok asal kalian selalu melindungiku. Oo iya, jaga mama Aurora dengan baik, Pa. Aku merasa mama seperti mengincar mama Aurora. Ini firasatku saja, semoga tidak terjadi,” ujar Shopia dengan serius.
Tubuh Aurora terasa sangat lemas ketika mendapatkan pelepasan. Dadanya naik turun, menikmati semua sentuhan Leo.“Enak, Sayang?” tanya Leo dengan serak.Aurora mengangguk. Ia memeluk lengan Leo dengan erat, tangan suaminya sangat nakal sekali, tetapi ia suka.“Jadi lemas banget aku, Mas. Tapi enak,” ujar Aurora dengan jujur.Leo terkekeh mendengarnya. Ia menggendong Aurora dan merebahkan tubuh istrinya di karpet berbulu yang ada di lantai.“Mas mau ngapain?” tanya Aurora dengan heran ketika ia dan Leo berada di bawah.“Kalau di atas nanti Alvaro bangun, Sayang. Di sini saja ya,” bisik Leo dengan suara seraknya.Aurora yang terhipnotis dengan tatapan Leo akhirnya mengangguk setuju. Ia pasrah ketika pakaiannya dilepas oleh Leo.Leo menelan ludahnya dengan kasar melihat pemandangan indah yang ada di hadapannya sekarang.“Buka pahanya, Sayang!” perintah Leo dengan lembut.Aurora menuruti perintah suaminya, tangannya berusaha menutupi miliknya. Tetapi tangan Leo menyingkirkannya kembali.“
Emma tersenyum dengan nakal, ia memegang milik Darma dengan gerakan sensual. “Tentu saja boleh, Sayang. Kita bisa bercinta kapan pun asal Leo tidak tahu. Aku ingin bersamanya kembali bukan karena cinta melainkan karena hartanya. Dia adalah dokter yang sangat kaya, dulu aku juga dimanjakan olehnya. Keluar uang berapa pun tak masalah baginya,” sahut Emma dengan lirih.Darma tersenyum puas, ternyata Emma selicik itu. “Kenapa kamu tidak mencintai Leo lagi?” tanya Darma dengan penasaran.“Leo orang yang sangat kaku sekali. Tidak romantis,” sahut Emma dengan jujur.Karena selama menikah dengannya memang Leo tidak pernah menunjukkan sisi romantisnya. Hingga ia mencari itu pada pria lain.Darma diam, ternyata seperti itu alasannya. Tetapi walaupun begitu Darma tidak rela jika kekayaan Leo kembali jatuh kepada Emma.Hanya karena satu kekurangan Emma mempertaruhkan semua kebahagiaan yang sudah ia dapatkan.“Wanita bodoh! Pantas saja Leo menceraikanmu. Pikiranmu sungguh sangat dangkal,” gumam







