Share

Bab 9

Penulis: Langit Biru
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 12:13:05

“Yang Mulia… Yang Mulia!” teriak Kasim Ho sambil berlari tergesa.

Kaisar Ming yang tengah menelaah tumpukan surat di atas meja kerjanya langsung menghentikan kegiatannya. Ia mengangkat kepala, menatap Kasim Ho yang tampak pucat dan kehabisan napas.

“Ada apa, Kasim?” tanyanya datar.

“I–itu, Yang Mulia…” Kasim Ho tergagap. Napasnya masih tersengal ketika berdiri di hadapan Kaisar.

“Katakan dengan jelas!” titah Kaisar Ming.

Kasim Ho menelan ludah dengan susah payah, lalu mengatur napasnya sej
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 10

    Cetas… Cetas… “A–ampun, Yang Mulia… hamba sudah melaksanakan perintah Anda…” Suara pelayan setia Selir Fai terdengar parau, dipenuhi rasa sakit yang tak tertahan. Tubuhnya bergetar hebat setiap kali ujung cambuk menyambar kulitnya, meninggalkan jejak perih yang membakar. “Lalu apa hasilnya, hah?!” bentak Selir Fai, suaranya tajam penuh amarah. “Kaisar Ming tetap mencabut gelarku, bukan?! Kau memang tidak becus. rasakan ini!” Cambuk itu kembali menghantam tubuh lemah pelayan tersebut tanpa ampun. mengabaikan suara jeritan demi jeritan yang dilontarkan oleh pelayannya tersebut. “Aaaargh!” Teriakan pilu sang pelayan menggema di keheningan malam, menyayat telinga siapa pun yang mendengarnya. Di luar paviliun, sebuah sosok berdiri di balik bayangan gelap. Ia menyaksikan semuanya tanpa ekspresi. Kepalanya tergeleng pelan, bukan karena iba, melainkan seolah mengiyakan sesuatu yang telah lama ia duga. “Ternyata… dia memang belum berubah,” gumamnya dingin. Tanpa menoleh lag

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 9

    “Yang Mulia… Yang Mulia!” teriak Kasim Ho sambil berlari tergesa. Kaisar Ming yang tengah menelaah tumpukan surat di atas meja kerjanya langsung menghentikan kegiatannya. Ia mengangkat kepala, menatap Kasim Ho yang tampak pucat dan kehabisan napas. “Ada apa, Kasim?” tanyanya datar. “I–itu, Yang Mulia…” Kasim Ho tergagap. Napasnya masih tersengal ketika berdiri di hadapan Kaisar. “Katakan dengan jelas!” titah Kaisar Ming. Kasim Ho menelan ludah dengan susah payah, lalu mengatur napasnya sejenak. “Di dapur, Yang Mulia…” “Ada apa dengan dapur?” tanya Kaisar Ming, alisnya terangkat. “S–Selir Mo…” suara Kasim Ho sedikit bergetar. “Dia membuat kekacauan di dapur istana, Yang Mulia.” Kening Kaisar Ming seketika mengerut. “Bukankah dia sudah mendapatkan makan malamnya?” ucapnya dingin. “Lalu kenapa gadis itu kembali membuat keributan?” Padahal, setelah insiden sebelumnya, ia telah memerintahkan Kasim Ho untuk menyuruh kepala koki memasakkan makanan khusus bagi Xia Mo dan mengantark

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 8

    Brak! Seketika seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak ketika mendapati seorang gadis melangkah masuk dengan sorot mata mematikan, amarah jelas terpancar dari wajahnya. Srek! Suara gesekan logam membuat semua orang menahan napas. Ujung pedang itu kini menempel tepat di leher Kaisar Ming. Sementara semua orang menahan napas melihat aksi Xia Mo, yang terkesan berani dan tidak takut mati sama sekali. “Kaisar sialan! Apa kau sengaja, hah?!” teriak Xia Mo nyaring. “Ingin membunuhku perlahan dengan tidak memberiku makan?!” Wajah Xia Mo memerah menahan amarah. Napasnya memburu, dadanya naik turun tajam, sementara tatapannya menusuk lurus ke arah Kaisar Ming—yang justru terlihat begitu tenang. “Apa yang kau lakukan?! Lancang sekali!” bentak seseorang. “Diam!” Xia Mo memutar pedangnya dengan cepat, mengarahkannya pada salah satu selir Kaisar. Selir itu seketika membeku. Wajahnya pucat pasi, kedua matanya membulat sempurna saat ujung

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 7

    “Sialan… bukan hanya dijuluki selir buangan, kau bahkan jauh lebih miskin dari yang kuduga, Xia Mo,” umpatnya lirih. Xia Mo hanya bisa menatap lesu deretan pedagang kue bulan di hadapannya. Tangannya sudah merogoh setiap saku yang ia miliki, dari lengan hingga lipatan jubah, tetapi tak satu keping uang pun ia temukan. Akhirnya, ia terpaksa berbalik pergi, menelan ludah sambil menahan perih lapar yang mencengkeram perutnya. ”Sepertinya aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini," batinnya pahit. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara teriakan seorang kasim tiba-tiba menggema di seluruh pasar. “Yang Mulia Putra Mahkota Zhu telah tiba!” teriaknya nyaring. Dalam sekejap, pasar yang semula riuh mendadak sunyi. Para pedagang dan pengunjung buru-buru berlutut, membungkuk penuh hormat ketika tandu Putra Mahkota Zhu melintas. Xia Mo yang masih diliputi kebingungan, tersentak ketika tiba-tiba seseorang mencengkeram tengkuknya dan mem

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 6

    “Aaarrrgggghhh!” Suara jeritan Selir Fai menggema di seluruh aula, menembus keheningan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Di tengah aula, tubuhnya terhuyung-huyung menerima cambukan demi cambukan. Suara tamparan cambuk bersahutan, menyayat udara. Mata Selir Fai menatap penuh kebencian ke arah Xia Mo yang berdiri tak jauh dari sana, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. “Aku akan membalasmu… lihat saja nanti,” desisnya di antara deru napas dan air mata. Namun, Xia Mo hanya menanggapinya dengan seringai sinis. Tatapannya tenang, nyaris dingin. Hari ini, Selir Fai bukan hanya kehilangan kehormatannya di depan seluruh istana. Kaisar Ming juga mencabut gelarnya sebagai Selir Agung. “Ini belum seberapa, Fai Mu…” gumam Xia Mo lirih. “Kau akan merasakan yang lebih dari ini.” * * * Beberapa jam sebelumnya… Xia Mo menatap tusuk rambut berornamen giok di tangannya, yang baru saja dipasangkan oleh Pelayan pribadi Selir Fai. Dengan cepat, ia ber

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Selir Buangan   Bab 5

    “Dobrak pintunya! Bawa keduanya keluar dari dalam kamar!” titah Kaisar Ming dengan suara menggema, tegas dan dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang membara begitu mendengar laporan kasim tentang salah satu selirnya. Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera melangkah cepat menuju paviliun milik selir itu. Begitu tiba di sana, pemandangan yang disaksikannya membuat darahnya mendidih—para pelayan dan penjaga berkerumun di depan kamar sang selir, menahan napas saat suara desahan samar terdengar dari balik bilik. “Baik, Yang Mulia!” para penjaga menjawab serentak, lalu bergegas melaksanakan perintah. Brak! Pintu kamar didobrak paksa, membuat dua sosok di dalamnya tersentak kaget. “Lepas! Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!” teriak sang selir histeris saat para penjaga menariknya keluar dengan paksa. Namun tak seorang pun berani menanggapi. Mereka terus menyeretnya hingga tiba di hadapan Kaisar Ming. Bruk! Tubuh sang selir terhempas di lantai, tepat di bawah kaki K

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status