ログインMalam semakin larut ketika Xia Mo akhirnya meninggalkan hutan terlarang. Setelah memastikan pria bercadar itu pergi lebih dahulu, Xia Mo memilih jalur berbeda untuk kembali ke istana. Dia berjalan dengan tenang. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa dirinya baru saja melakukan sesuatu yang mencurigakan. Namun begitu sampai di paviliunnya, langkah Xia Mo mendadak terhenti. Pintu kamarnya terbuka. Xia Mo mengernyit. Seingatnya, sebelum pergi tadi dia sudah menutup pintu itu. Dia melangkah perlahan. Tangannya bahkan sempat menyentuh gagang pedang kecil yang terselip di balik jubahnya. Kemudian dia masuk. Dan dalam sekejap— Xia Mo membeku. Di dalam kamar, seseorang sedang duduk di tempat tidurnya. Kaisar Ming. Mata Xia Mo langsung melebar. Dia mundur satu langkah. Kemudian menatap ke sekeliling. Kiri. Kanan. Bahkan sampai melihat papan nama kecil di dekat pintu. Paviliun Selir Xia. Xia Mo berkedip. Dia benar-benar tidak salah masuk kamar. “...Kenapa Yang Mulia ada di s
Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma
Sejak beberapa waktu terakhir, Kaisar Ming mulai memperhatikan satu hal.Xia Mo semakin sering menghilang pada malam hari.Awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya.Baginya, seorang selir yang pergi dari paviliun pada malam hari bukanlah sesuatu yang terlalu penting.Namun semakin lama, kebiasaan itu mulai terasa aneh.Hampir setiap malam.Pada waktu yang hampir sama.Xia Mo selalu keluar dari paviliunnya.Dan setiap kali keluar, dia tidak pernah membawa pelayan.Kaisar Ming berdiri di balik jendela ruang kerjanya, memandang halaman istana yang mulai sepi.“Yang Mulia.”Pengawal kepercayaannya berdiri di belakang.“Selir Xia keluar lagi.”Kaisar Ming tidak menjawab.Tatapannya tetap mengikuti sosok Xia Mo yang berjalan cepat melewati lorong belakang.“Sudah berapa kali?”“Enam malam berturut-turut.”Kaisar Ming mengernyit.“Dan dia pergi ke mana?”Pengawal itu ragu sejenak.“Kami belum tahu.”Kaisar Ming akhirnya berbalik.“Jangan sampai dia menyadari kalau sedang diikuti.”“Baik.”Ma
Peringatan pria bercadar itu tidak membuat Xia Mo berhenti.Justru sebaliknya.Semakin dilarang, semakin besar rasa penasarannya.Malam berikutnya, setelah seluruh paviliunnya sunyi, Xia Mo kembali membuka jendela kamar.Dia mengintip ke luar.Tidak ada siapa-siapa.“Seharusnya aman.”Dengan hati-hati, dia keluar dari kamar dan menutup jendela kembali.Sejak beberapa hari terakhir, dia sudah semakin hafal waktu pergantian penjaga. Dia tahu kapan lorong belakang istana mulai sepi, tahu jalan mana yang jarang dilewati, bahkan tahu bagian tembok mana yang paling mudah dilewati tanpa menarik perhatian.Awalnya, dia merasa sedikit bersalah.Tetapi begitu teringat aliran qi yang dia rasakan di dalam hutan, rasa bersalah itu langsung hilang.Di sana, qi terasa jauh lebih kuat.Seolah-olah seluruh hutan dipenuhi energi yang tidak bisa dia temukan di dalam istana.Setelah berjalan cukup lama, Xia Mo akhirnya sampai di bawah pohon besar tempat dia biasa berkultivasi.Dia duduk.Memejamkan mata.
Suara langkah kaki itu semakin jelas.Krek.Satu ranting patah di antara pepohonan.Xia Mo spontan menoleh.“Sepertinya mereka menuju ke sini.”Pria bercadar itu tidak menjawab.Dia justru memejamkan mata sejenak, seolah sedang mendengarkan sesuatu.Kemudian berkata pelan, “Tiga orang.”Xia Mo terdiam.Dia sendiri bahkan belum bisa membedakan suara langkah sebanyak itu.“Kau bisa tahu?”Pria itu membuka mata.“Pendengaranmu masih lemah.”Xia Mo mengerutkan hidung.“Kalau pendengaranku lemah, kenapa kau tidak pergi saja dari sini?”“Kalau aku bisa pergi, aku tidak akan masih berdiri di sini.”Jawaban itu membuat Xia Mo terdiam.Benar juga.Pria ini sedang terluka.Meskipun dari tadi berusaha terlihat baik-baik saja, wajahnya sudah sedikit pucat. Napasnya juga tidak setenang sebelumnya.Xia Mo menghela napas.“Kalau begitu, ikut aku.”“Ke mana?”“Ke tempat yang lebih aman.”Pria itu menatapnya sejenak.“Kau yakin?”“Tidak.”Jawaban Xia Mo begitu cepat sampai pria itu sedikit mengangkat
Malam telah turun sepenuhnya.Istana mulai sunyi. Sebagian besar pelayan sudah kembali ke tempat mereka beristirahat, sementara para penjaga berjaga di sekitar tembok istana.Namun, Xia Mo justru meninggalkan paviliunnya secara diam-diam.Dia tidak menuju taman seperti biasanya.Malam ini, dia memilih tempat yang jauh lebih sepi.Hutan di bagian belakang istana.Tempat itu hampir tidak pernah didatangi siapa pun. Jalannya tertutup semak liar dan pepohonan yang tumbuh tidak beraturan. Bahkan para pelayan istana jarang berani mendekat karena konon hutan tersebut sudah lama tidak digunakan.Bagi Xia Mo, justru itulah tempat yang sempurna.Dia tidak ingin ada orang yang mengetahui rahasianya.Setelah berjalan cukup jauh, Xia Mo berhenti di bawah sebuah pohon besar.Dia mengamati sekeliling.Sepi.Tidak ada suara manusia.Hanya suara angin yang melewati dedaunan dan beberapa serangga malam.“Seharusnya aman.”Xia Mo duduk bersila.Dia memejamkan mata dan mulai mengatur napas.Sejak menemuk
"Apa? Kalian yakin dia melakukan itu pada kalian semua?" Suara Selir Agung Fai meninggi, penuh kemarahan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam para pelayan yang berlutut di hadapannya. "Yakin, Yang Mulia. Kami tidak berani berbohong pada Anda," jawab pelayan senior dengan suara bergetar, menun
“Seharusnya aku yang bertanya… siapa kau?” Xia Mo atau lebih tepatnya Xia Bai yang kini menempati tubuhnya, menatap tajam ke arah pria di hadapannya. Ujung pedang pria itu telah menyentuh kulit lehernya, namun tak ada sedikit pun rasa gentar di mata Xia Mo. Kaisar Ming mengerutkan kening. G
“Siapa kau?” tanya Xia Mo dengan nada dingin.Tatapannya tajam menusuk ke arah salah satu gadis berpenampilan seperti pelayan itu.“Cih... sudah di ujung kematian saja masih sombong?” sindir gadis itu dengan nada meremehkan.Mata Xia Mo membulat, terkejut sekaligus murka mendengar kata-kata lancang
“Bai, ini aku bawakan minuman untukmu. Cepat diminum, ya,” ucap Xia We lembut, sambil menyerahkan segelas air kepada adiknya.Tanpa rasa curiga sedikit pun, Xia Bai menerima gelas itu.“Terima kasih, Jie Jie. Kau memang tahu saja, aku sedang haus.”Ia meneguk air itu dengan tenang. Namun baru beber







