MasukJasmine benar-benar bingung dengan perasaannya. Sejak ciuman mereka itu, semuanya telah berubah. Perasaan yang dulu sebatas kakak beradik, entah kenapa ia menjadi canggung kepada Mario. Ia berusaha untuk menolaknya karena tidak mungkin dirinya menyukai sang kakak. Tapi, hati nuraninya berkata lain. Ia merasa Mario adalah sosok yang dewasa meskipun pemuda itu sangat posesif dan protektif. "Nggak, nggak! Aku nggak boleh menyukai kakakku sendiri. Meskipun dia kakak angkatku. Aku dibesarkan di keluarga ini sebagai anak. Mana mungkin aku mengecewakan Mama dan Papa. Mereka orang tua yang baik dan nggak mungkin aku melukai perasaan mereka dengan menyukai Kak Mario, astaga!" Jasmine berusaha untuk melupakan perasaannya. Namun sepertinya itu sangat susah apalagi bayangan first kiss-nya saat itu. Semuanya sangat gila. Sungguh Jasmine sangat tidak bisa menahan perasaanya sendiri. Untuk menghilangkan pikirannya yang kalut. Gadis itu keluar dari kamar untuk mencari udara segar. Seridaknya ia bi
Bukan cuma Jasmine saja yang tidak suka. Bahkan Mario sendiri juga tidak suka dengan itu. "Celine siapa?" sahut Mario untuk menegaskan lagi. "Celine itu putrinya Om Johannes yang punya PT. Angkasa Jaya. Rencanaya Papa mau jodohin kamu sama putrinya supaya perusahaan kita semakin berkembang pesat. Dengan begitu bisnis Papa akan semakin lancar dan kamu bosa menjadi direktur utamanya nanti!" kata Papa Julian lebuh jelas. Mario sepertinya tidak tertarik untuk perjodohan itu. Pemuda itu pun menolaknya dengan tegas dengan alasan ia sudah mempunyai calon sendiri. "Aku nggak mau!" jawabnya dengan jelas. "Loh, kamu belum ketemu orangnya udah bilang nggak mau. Papa yakin sekali kamu tidak akan menyesal. Dia gadis yang smart dan dewasa, cocok sama kamu!" kata Papa Julian lagi. "Tapi aku sudah punya calon, Pa. Nanti deh kalau udah waktunya aku kenalin ke rumah. Sekarang aku masih PDKT!" kata Mario entah itu berbohong atau bukan. Yang jelas sorot matanya tertuju pada sang adik yang sedari
Mario heran melihat ekspresi keluarganya yang menatap dirinya penuh selidik. Jasmine sendiri juga ikut terkejut dan langsung melototkan matanya pada Mario seolah memberikan isyarat jika ucapan pemuda itu sangat absurd. Mario langsung mengrti maksud kode dari Jasmine. Pemuda itu langsung meralat kata-katanya sambil garuk-garuk tengkuknya. "Oh hehe, apa tadi? Maksudnya aku akan memastikan Jasmine baik-baik saja meskipun tidur di kamar belakang. Begitu maksudnya!" jawab pemuda itu dengan ekspresi datar meskipun ia hampir saja keceplosan. Mama Nadine pun menghela napas. "Ya sudah kalau begitu. Jasmine, kalau kamu nggak bisa tidur, kamu bisa pindah ke kamar tamu saja nggak apa-apa!" tawar Mama Nadine, ia masih khawatir dengan Nadine yang tidur sendirian di kamar belakang. "Nggak apa-apa, Ma. Aku tidur di kamar belakang saja. Aku juga lagi ngerjain makalah dan butuh wakttu tenang. Biar Emma tidur sama Oma saja," kata Jasmine. Meskipun Mama Nadine tak tega anaknya tidur di kamar belak
Tubuh mereka begitu dekat. Jasmine duduk di atas pangkuan Mario. Tatapan mata keduanya sama-sama mendambakan kehangatan. Entah siapa yang mulai duluan, tanpa disadari ujung bibir mereka saling menyentuh dan terjadilah ciuman pertama mereka. Beruntung kaca mobil milik Mario tidak bisa dilihat dari luar sehingga orang-orang yang berada di luar mobil tak tahu jika Jasmine dan Mario saling berciuman. Tak sadar atau keduanya sama-sama menikmatinya. Baik Jasmine mau pun Mario saling membalas ciuman bahkan lidah mereka saling membelit satu sama lain. "Oh my God! Apa yang terjadi padaku. Kenapa aku nggak bisa lepas dari ciuman ini! Dia kakakku tapi dia bisa membuatku sangat bergairah!" batin Jasmine yang sukses dibuat melayang-layang oleh ciuman tiba-tiba itu. Tiba-tiba saja bel sekolah berbunyi. Jasmine langsung melepaskan ciuman itu dan gadis itu spontan turun dari pangkuan Mario. Mario sendiri juga panik dan salah tingkah. Apa yang sudah baru saja dilakukannya. Ia mencium adiknya se
Benar dugaan Mario. Jasmine memang masih kepikiran soal tadi pagi. Gadis itu berusaha untuk berpikir positit tapi dirinya masih saja bertanya-tanya. Kenapa kah sang Oma membeda-bedakannya dengan kakak dan adiknya. Padahal ia juga bagian dari cucu-cucunya. Atau mungkin karena ia cuma anak angkat saja sehingga ia mendapatkan perlakuan beda dari dua saudaranya. Meskipun dalam kartu keluarga Jasmine diakui sebagai anak kandung. Namun tetap saja gadis itu tahu jika dirinya tidak terlahir dari rahim Mama Nadine. Ia lahir dari rahim Ana yang meninggal sesaat setelah melahirkannya. Naasnya lagi sang nenek, Nyonya Hanum juga meninggal saat ia berusia lima tahun. Sampai akhirnya ia dirawat oleh Nadine dan Julian sampai usianya menginjak 18 tahun. "Aku memang bukan anak Mama dan Papa. Mungkin ini sebabnya Oma pilih kasih padaku. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Harusnya aku tahu diri dari dulu. Oma tidak akan pernah bisa sayang dan tulus padaku karena aku bukan cucu kandungnya!" batin Ja
Sebuah cincin yang terbuat dari metal. Desainnya juga biasa saja dengan hiasan satu mata mutiara sintetis di tengahnya. Memang itu sebutannya cincin mutiara tapi itu kualitas rendah. Nyonya Ratih langsung menjelaskan saat Jasmine baru saja membuka hadiah darinya. Sedangkan yang lainnya nampak tercengang karena hadiah untuk Jasmine memang sangat biasa tidak seperti yang lainnya. "Eh coba lihat cincin yang aku belikan untuk Jasmine. Ini juga dari mutiara! Bagus, kan! Cocok sekali untuk Jasmine!" kata Nyonya Ratih sambil tertawa sinis. Entah kenapa wanita itu memperlakukan Jasmine berbeda dari dua cucunya. Mungkinkah karena Jasmine bukan cucu kandungnya dan juga anak dari Ana, mantan menantunya yang jahat. Langsung saja Mario menyahuti ucapan sang nenek karena hadiah yang Jasmine dapatkan adalah cincin KW dan sangat murah. Entah kenapa sang nenek membelikan adiknya itu barang yang lebih murah dan biasa saja, berbeda dari hadiah yang ia dan adiknya Emma dapatkan. "Tapi itu cincin KW,
“Diafff kamfu!” teriak Nadine lagi. Kali ini Juki berusaha untuk tidak tertawa meskipun ia ingin sekali tertawa mendengar jawaban wanita itu. Konyol, ini sangat konyol. Bagaimana nanti jika dirinya jadi hidup serumah dengan wanita itu, pasti hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan. “Iya, iya, maafk
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok







