MasukHaruskah aku pergi karena luka yang tersebab oleh cinta? Bagaimana kalau aku memilih bertahan? Widia terkejut saat mendapati bubur bayi di dapur rumah mertuanya. Ia merasa aneh karena tak ada yang mempunyai anak kecil di rumah itu. Ibu mertuanya hanya tinggal bersama Laras, anak bungsu yang masih kuliah dan belum menikah. Keanehan berikutnya ia temukan berkali-kali. Anehnya, sang suami seolah berusaha menutupi semua keanehan yang terjadi hingga menimbulkan kecurigaan dalam benak Widia. Perempuan itu bertekad untuk mencari benang merah dari semua kejadian yang ia temui. Akankah ia berhasil?
Lihat lebih banyakSerafine's POV
"This girl is a human virgin. She is special. Her bidding starts at fifty thousand dollars!"
Monsters. Bright light blinded me as I heard those who were celebrating my auction. I'm standing at the center of the stage of a casino. Music roared, drums beat and I heard men whistling and passing lewd remarks. The air reeked of alcohol mingled with that of a strong cedar scent.
"One fifty thousand.” A rough grating voice sounded. I turned my gaze to the left to the direction of the voice. A man with light brown hair and hazel eyes was sitting on a chair, surrounded by all the girls that were just sold. He looked well- built with muscular arms. He pulled a terrified girl in his lap and grabbed her waist.
He stared at me like a hawk and when our gazes met, I flinched. Hair on the back of my nape rose. Lucky Luciano, the mafia lord. It was said he had a certain kind of fetish for having sex. Many girls that he had bedded were found murdered and maimed in shady streets of Pennsylvania.
"Five hundred thousand!" A throaty voice from the back came.
"Alpha Jace!" People murmured. Immediately the air shifted and I could feel as if the air was stifling. A bulky man got up from behind. I slowly dragged my gaze to his and the softness in those hazel eyes held me prisoner. His facial features were puzzling... There was something akin to concern in them.
Why were they calling him Alpha? Maybe that was his first name?
I saw his throat bobbing as if he wanted to say something to me. I think he mouthed my name, Serafine? Was I imagining?
“Eight hundred thousand!" Lucky raised his price. I shuddered as he pinched the nipple of the girl on his lap and she stifled a shriek.
My body started shaking. I didn't want to go to him. I heard people murmuring. No one was expecting the bid to go this high. With that kind of money, Lucky would own my soul. The way he stared at me right now, it was as if he was imagining his wildest fantasies with me. Tears welled in my eyes as I looked around frantically.
"Nine hundred thousand." Alpha Jace increased his bid.
Nervous murmurs followed as I seemed to have caught the attention of everyone in the room.
From the corner of my vision, I saw Madame Roxana swaying in her blue silk gown with a pipe in between her lips. She looked at me with a smirk as she puffed smoke in the air. If God gave me one more chance to live, I promised to myself that I would erase her from the face of earth.
Several days ago, I had managed to escape from Madame Roxana's Home of Pleasures only to be caught back. She accused me of seducing her husband. Why would I? I was the daughter of a cleaning lady who had come only for one day as her substitute.
Lucky shoved the girl on his lap and she fell to the ground. "One million," he shouted. I could see his eyes turning hard. It had become a war of prestige for him.
Jace whipped his head towards Lucky, gazing incredulously at him, his expressions etched with worry.
The emcee became excited. "This is the hottest bidding we are seeing today! Lucky Luciano has never bid so much for a girl here."
Terror gripped my heart. Breath lodged in my throat. Lucky took a step towards me and I backed shaking my head.
The emcee said, "Is this final? Or do we hear others placing a higher bid?"
Lucky proudly started closing the gap between us.
"Don't you fucking touch her!” Jace hissed as he stood in Lucky’s way, preventing him from coming to me.
"One million for her, Lucky Luciano!” Emcee announced. Lucky and Jace turned to look at me.
“One!" Emcee hit the hammer on the table softly.
"One million. Two!" He hit the hammer again.
Lucky raised his hand and was about to raise his bid when a deep voice shouted, "Two million dollars!"
A chorus of audible gasps filled the hall. Shocked, I turned to my last minute bidder.
I found myself staring into the winter gray eyes of a man sitting on one of the casino tables with a blond girl in his lap.
He was so beautiful that I forgot to breathe. He has a straight nose, high cheekbones and slanted eyes like that of a wild animal. With broad shoulders and chest, he was clearly the tallest and strongest man out there. His arms muscles were bulging and his neck muscles were strained. His black hair was neatly
combed back.
The shirt he was wearing molded over him like second skin. Its buttons were open till his chest revealing a tattoo I couldn't make out. He had curled a hand around the waist of the blond possessively. And she had looped her arms around his neck.
The blond in his lap appeared scandalized as she stared at her man who had made the bid.
The emcee was so excited that he literally jumped in his place and squeaked, "Alpha Bran Cornick!" he clapped his hands. "Two million, one!"
I could hear a growl from Alpha Jace and Lucky gnashed his teeth as he scowled at Alpha Bran.
"Two million, two!"
The emcee looked around and then quickly brought down his hammer at, "Two million, three!" With quivering lips, I looked at my buyer. "This virgin belongs to Alpha Bran Cornick. Please pay the money before touching her." Alpha Bran nodded once and a man rushed forward. I watched him getting up with the blond throwing daggers at me and exiting the casino.
"Tunggu, biar aku bantu rapikan."Tangan Mas Zaki dengan cekatan membantu aku yang sedang mengenakan kembali gaun pengantin. Ia bahkan merapikan setiap detail hijab yang kupakai. Dalam waktu sekejap saja, penampilanku sudah hampir sama dengan setengah jam lalu, saat kami belum masuk ke kamar ini."Nah, sudah," ujarnya sambil mengulas senyum sehangat mentari senja. Aku berjalan lebih mendekat ke arah cermin. Mengamati setiap jengkal diri sendiri mulai dari wajah, hingga pakaian yang menutup seluruh tubuh. Nyaris sama, tetapi aku merasa tamu undangan sepertinya tetap akan tahu apa yang baru saja kami lakukan di lantai dua ini. Apalagi kalau ada yang melihat mas Zaki membawa aku masuk ke kamar pengantin. "Hm, kayaknya penampilanku tetap terlihat seperti ....""Apa? Seperti baru selesai bercinta?"Nah, itu dia tahu, kan? Bagaimana nanti pikiran orang lain? Tamu masih banyak, kami malah memadu kasih di sini."Kamu nggak usa
"Kau benar-benar akan menikahinya lagi, Fri?"Aku membeku sesaat, untuk kemudian menghela napas panjang. Pandanganku lurus ke arah bunga-bunga mawar yang sedang mekar di taman belakang. Ada titik-titik air di hampir setiap helai mahkotanya. Hujan memang belum terlihat hendak beranjak meninggalkan bumi petang ini. Arsi duduk di sebelahku. Di hadapan kami terhidang dua cangkir kopi robusta Temanggung yang dipadu gula aren dari Banjarnegara. Ada sepiring besar carabikang di dekat minuman favoritku itu."Sepertinya itu yang lebih baik untuk Cyra.""Pikirkan dirimu juga. Cari bahagiamu, Fri."Aku menoleh ke arah Arsi. Lelaki itu ternyata juga sedang menatapku. Pandangan kami bertaut. "Jangan menahan semua emosimu, Fri," ujar Arsi lagi. "Kamu berhak bahagia dengan tidak mengesampingkan Cyra juga."Kuulas senyum sehangat kopi milik kami yang belum habis. Arsi seolah berhenti bernapas. Ia menatapku semakin lekat."Aku
Arsi menerima beberapa lembar kertas itu, lalu menoleh hingga pandangannya menerobos mataku. Ia kemudian menarik dua sudut bibirnya hingga membentuk senyuman."Setelah ini, kamu nggak usah datang ke sini hanya untuk fisioterapi. Perawatnya akan datang ke rumahmu. Juga dokternya.""Nggak bisa gitu, Ar. A-aku ....""Sudahlah, Fri. Semua untuk kebaikan kamu. Aku gak tega lihat ayahmu harus mendorong kursi rodamu seperti ini. Ayo."Tiba-tiba lelaki itu sudah memutar kursi rodaku dan mendorongnya ke pintu keluar. Ayah yang sejak tadi diam, juga mengikuti di belakang Arsi. Sampai di depan meja perawat, kami berhenti. "Ubah statusnya jadi home visit. Laporannya langsung ke saya," perintah Arsi pada seorang perawat yang duduk di balik komputer, sambil melemparkan berkas di tangannya."Ba-baik, Pa," jawab perawat muda itu setelah sebelumnya ia berdiri dan mengangguk hormat pada Arsi.Aura mengerikan lelaki itu demikian kental. Bahkan
Azan subuh sayup terdengar. Mataku membuka sedikit. Bayangan tirai di sekeliling tempat tidur seketika menerpa kornea. Sel-sel di kepalaku mencoba mencerna situasi. Untuk sesaat, aku masih belum bisa mengingat kapan terpejam dan juga kejadian sebelumnya."Kamu sudah bangun?" Aku menoleh ke sisi kanan tempat tidur dan mendapati Ayah tersenyum. Mata senjanya menyiratkan lelah dan sedih. Saat itulah aku merasakan nyeri yang hampir tak tertahan di sana. Ah, tentu saja sakit. Kakiku patah setelah kecelakaan itu. Operasinya hari ini kan?"Jangan bangun dulu." Tangan Ayah terulur seolah hendak menahanku yang bergerak hendak bangun dari tidur yang melelahkan ini. "Aku mau sholat subuh, Yah.""Iya, tapi dalam posisi tidur saja.""Aku tayamum aja, ya?" Ayah menggeleng. "Kamu bukan sakit yang kalau kena air akan jadi bertambah parah, Wid."Aku diam sejenak, lalu menggerakkan tangan yang terpasang selang infus.
Arsi tidak melawan sama sekali. Ia membiarkan Mas Zaki terus memukul. Aku ingin berteriak. Namun, suara seolah tercekat di tenggorokan. Untung saja dua polisi di dekat mereka segera menahan tangan mantan suamiku itu.Mas Zaki dan Arsi sama-sama diamankan. Mereka dibawa keluar dari IGD. Aku hanya se
Aku sudah beberapa kali mengajukan keberatan dengan panggilan itu, tetapi Mas Zaki teguh dengan pilihannya. Ia selalu menyapa dengan kata yang masih membuatku berdebar hingga sekarang setiap kali mendengar dari mulutnya. "Kamu jadi datang ke acaranya Denny sial*an itu?" tanya Mas Zaki lagi melalui
Ayah meletakkan sendok yang dipegangnya ke atas piring. Nasi goreng miliknya baru dimakan separuh. "Kamu mau jenguk? Ayo, Ayah temani kalau gitu.""Rencananya gitu, tapi nanti minta antar Namu aja. Ayah pasti capek udah bantu acara kemarin.""Huh, kamu meremehkan Ayah? Walau memilih menyerahkan se
"Dalam kesempatan yang luar biasa ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ayah, Bang Deri, dan seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan penuh pada persiapan dibukanya tempat ini. Beribu terima kasih juga saya haturkan untuk sahabat, kolega, rekan dan klien yang telah memberikan sumban






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak