Share

Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua
Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua
Penulis: Maisa Queen

1. Awal

Penulis: Maisa Queen
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-02 06:05:18

Happy Reading 🎈

••••

‎"Lagi ngapain?" tanya Virly ketika melihat Reno di seberang yang grasak-grusuk.

"Apa sayang? Gak kedengeran, tunggu bentar mau pindah posisi dulu." Terdengar jawaban dari seberang telepon.

‎‎"Lagi ngapain sih? Kayak cewek aja, kameranya gak bisa diem." Virly menatap kesal layar handphone nya.

‎"Apa sayang? Cewek? Cewek siapa? Di sini gak ada cewek." Suara Reno kembali terdengar, tapi tidak dengan mukanya.

‎‎"Reno anak setan. Kalau nggak jelas aku matiin aja ya?" Virly ngedumel kesal mendengar ucapan Reno.

‎‎"Ehhh, jangan dulu dong! Ini udah selesai." Reno tersenyum menampilkan mukanya di layar HP.

‎‎"Lagi di mana? Kok banyak suara?". tanya Virly penasaran.

"Lagi di luar sama teman, sayang!" jawab Reno.

‎‎"Ihh, geli banget dan di panggil sayang. Panggil nama aja bisa nggak?" Virly geli sendiri mendengar ucapan Reno yang memanggilnya sayang sedari tadi.‎

‎"Biar terbiasa sayang, lagian kita kan pacaran." jawab Reno santai.

‎"Baru juga sehari." Virly memutar matanya malas.‎

‎"Ya kan tetap aja namanya pacaran." Reno terkekeh kecil.

‎"Ya udah, Kalau gitu aku matiin dulu ya. Babayy sayang!" Reno melambaikan tangan ke kamera.

"Bayyy, " Virly membalas lambaian tangan Reno.

‎Begitu kameranya mati, Virly langsung meletakkan hpnya dan terdiam sejenak.

‎"Argghhh, Reno Setann! Kan jadi baperrr!" Virly memekik tertahan, menutup mukanya dengan kedua tangannya dan membenamkan wajahnya di bantal salah tingkah.

‎Ia dan Reno baru jadian tadi pagi setelah sekian lama PDKT Alias Pendekatan.

‎Wajar saja ia mudah salah tingkah ketika mendengar ucapan sayang dari Reno.

‎"Aku yakin kali ini pasti hubungan kami langgeng. Mau bagaimana pun caranya harus langgeng, kalau bisa sampai menikah. Hahaha," Masih dengan acara salah tingkahnya, Virly kembali berguling-guling di ranjang karena perasaan yang membuncah.

‎ Sedangkan di luar kamar, tepatnya di ruang tamu. Pak Bagas, papanya Virly kedatangan tamu mendadak. Arsenio, Bos nya di tempat ia bekerja mengais rezeki.

‎"Saya langsung saja, Pak Bagas. Saya ke sini untuk menindaklanjuti kesepakatan kita semalam. Di mana uangnya? Ini sudah lewat dari batas perjanjian kita."

‎Wajah Pak Bagas langsung memucat. Ia hanyalah karyawan biasa di perusahaan Arsen, dan hutang 1 miliar lebih yang ia pinjam setahun lalu untuk operasi jantung istrinya terasa seperti jurang yang tak mungkin ia daki.

‎Pak Bagas menatap gugup, mengusap telapak tangannya. "Maafkan saya, Tuan. Saya... saya belum bisa melunasinya sekarang. Bisakah Tuan beri saya waktu satu bulan lagi? Saya janji akan berusaha semampu saya-"

‎Arsen langsung memotong dengan suara dingin dan berbahaya.

‎"Tidak ada lagi penundaan. Saya bisa menelepon pengacara Saya sekarang juga, Pak Bagas. Saya akan menjebloskanmu ke penjara atas tuduhan penipuan dan penggelapan, dan menyita semua aset yang kau miliki, termasuk rumah kecil ini. Bagaimana? Pilihan yang bagus, bukan?"

‎Tepat saat ancaman itu meluncur, Bu Anisa, istri Pak Bagas, yang wajahnya masih terlihat pucat karena sakit jantung, keluar dari kamar. Ia terkejut dan ketakutan mendengar ancaman Arsen. Ia segera duduk di samping suaminya.

‎"Apa yang terjadi, Pak? Kenapa Tuan Arsen bicara soal penjara?" Bu Anisa berbisik, terkejut.

‎Pak Bagas menelan ludah yang terasa pahit. Jika ia dipenjara dan asetnya disita, bagaimana nasib anak dan istrinya?

‎"Tuan, mohon jangan! Mohon belas kasihnya. Jangan masukkan saya ke penjara! Saya mohon! Apa saja akan saya lakukan! Apa saja, Tuan! Saya akan lunasi, secepat mungkin, saya janji!" Pak Bagas berlutut di hadapan Arsen, air mata nya berlinang.

‎Senyum tipis, dingin, dan penuh kemenangan tersungging di bibir Arsen. Momen inilah yang ia tunggu.

‎Arsen tetap santai, menyilangkan kakinya dengan angkuh.

‎"Baiklah. Ada cara lain agar kau tidak dipenjara dan tetap bekerja di perusahaanku. Saya punya tawaran." Arsen menatap pak Bagas datar.

‎Pak Bagas mendongak dengan tatapan penuh harap."Tawaran apa, Tuan?"

‎Arsen menghela napas perlahan, seolah meminta hal sepele. "Kau hanya perlu menyerahkan putrimu untuk kunikahi. Sekarang juga."

‎Kedua orang tua itu membeku. Wajah Pak Bagas berubah dari memohon menjadi kaget yang ekstrem.

‎"P-Putri saya? Maksud Tuan... Virly? Putri kami, Tuan?" Pak Bagas bertanya terbata-bata.

‎Arsen mengangguk mantap, nadanya tak terbantahkan.

‎"Tentu saja Virly. Bukankah putri kandungmu hanya satu? Jangan pura-pura bodoh, Pak Bagas. Kau seharusnya sudah tahu aku akan menuntut pembayaran dalam bentuk lain."

‎Bu Anisa langsung berteriak histeris. Ia berdiri, melupakan rasa sakit di dadanya.

‎"Tidak! Tidak bisa! Kami tidak bisa menyerahkan putri kami begitu saja! Dia masih muda, Tuan! Virly masih kelas tiga SMA! Dia sedang sibuk persiapan kuliah! Jangan lakukan ini pada putri kami!" Bu Anisa menangis histeris.

‎Arsen mengedikkan bahu, tanpa empati.

‎"Saya tidak peduli usianya, Bu Anisa. Aku hanya butuh persetujuan Pak Bagas agar pernikahan ini segera dilangsungkan. Saya butuh istri untuk anak-anak saya. Titik."

‎"Tapi... Bukankah Tuan Arsen masih memiliki istri? Nyonya Vina..." Pak Bagas memberanikan diri untuk bertanya.

‎Arsen tersenyum sinis. "Aku sudah menceraikannya. Perceraian kami akan diurus oleh pengacara besok. Virly akan menjadi istriku yang sah, dan yang terpenting, ia akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku, tidak seperti jalang itu."

‎Bu Anisa menangis tersedu-sedu, memegang lengan suaminya.

‎"Tuan Arsen... Tidak bisakah dengan cara lain? Kami akan menjual rumah ini, kami akan bekerja dua kali lebih keras! Tolong, jangan libatkan Virly!" Bu Anisa memohon dengan air mata.

‎"Pilihannya cuma dua, Virly atau Penjara. Kalian punya waktu 24 jam untuk memutuskan. Jika tidak ada jawaban setuju, aku akan menelpon polisi dan memproses penyitaan aset kalian besok pagi. Dan ingat, Pak Bagas, hutangmu lunas secara otomatis begitu Virly menandatangani perjanjian pranikah. Keputusan ada di tangan kalian." Ucap Arsen tak terbantahkan.

‎Saat Pak Bagas dan Bu Anisa masih dalam posisi pasrah dan air mata, terkejut mendengar ancaman terakhir Arsen, pintu kamar terbuka. Virly muncul dari dalam.

‎Gadis itu mengenakan kaus rumahan dan celana pendek, tampak polos dan jauh dari bayangan drama yang sedang terjadi. Ia mendekati ruang tamu karena merasa ada suara yang tak biasa dan tegang di luar.

‎"Ada apa, Pa? Ma? Kenapa Mama menangis? Dan Om... ada urusan apa ya?" Ucap Virly bingung.

‎Pak Bagas yang mendengarnya langsung berdiri tegang.

‎"Virly, Sayang. Duduk dulu sebentar. Ada hal penting sekali yang harus Papa sampaikan." Pak Bagas menarik napas dalam-dalam.

‎Virly menurut, tetapi rasa penasarannya memuncak. Ia duduk di samping ibunya yang buru-buru menyeka air matanya.

‎Mata Virly tanpa sengaja bertemu pandang dengan Arsen. Pria itu duduk tegak, dengan aura yang dingin dan mengintimidasi. Arsen juga menatapnya, tatapan yang mengukur dan menimbang, sebelum akhirnya Virly memutuskan kontak mata lebih dulu, merasa tidak nyaman.

‎Pak Bagas berusaha menenangkan diri. Ia tahu ini adalah tugas terberatnya.

‎"Virly... Nak, kamu ingat operasi jantung Mama setahun yang lalu?" Tanya Pak Bagas, dengan suara parau.

‎Virly mengangguk. Operasi itu berjalan sukses, tetapi meninggalkan trauma besar bagi keluarga mereka.

‎"Ingat, Pa. Kenapa?"

‎"Uang untuk operasi itu... Papa pinjam dari Bos Papa, dari Tuan Arsen yang ada di sini. Jumlahnya sangat besar, Sayang. Satu miliar lebih."

‎Virly masih diam, matanya mengerjap, mencoba menghubungkan benang merah ini dengan keberadaan Arsen di rumah mereka. Ia hanya mengamati kedua orang tuanya yang tampak hancur.

‎Pak Bagas menatap istrinya, Bu Anisa, untuk mencari kekuatan. Bu Anisa menatap balik dengan mata penuh kesedihan, dan dengan berat hati, ia hanya bisa mengangguk pasrah.

‎Pak Bagas menoleh kembali ke putrinya. Kata-kata itu terasa seperti belati yang menusuk lidahnya sendiri.

‎Pak Bagas terisak, meraih tangan Virly.

‎"Nak... demi keluarga kita... demi Mama agar Papa tidak dipenjara dan rumah kita tidak disita... Kamu harus menikahi Tuan Arsen."

‎Keheningan melanda ruang tamu. Kata 'menikah' menggantung di udara, absurd dan mengerikan. Virly menatap ayahnya, lalu ke ibunya, seolah mencari konfirmasi bahwa ini hanyalah lelucon buruk.

‎Virly yang merasa ini situasi yang serius pun mundur, dan berteriak kaget.

‎"APA?! Menikah dengan Bos Papa?! Tidak mau! Papa, ini lelucon, kan?! Aku masih kuliah Pa! Aku bahkan sudah punya pacar! Papa tidak bisa melakukan ini padaku!" Virly menolak mentah-mentah.

‎••••

‎Jangan lupa untuk vote dan tinggalkan komentar yaaa

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua    20. Om-om

    Hai🔥💙Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋Happy Reading 🎈 ••••"Sudah, pulang sana!" Desak Virly.Reno mengangguk. "Bye, Sayang!"Virly melambaikan tangan setelah kepergian Reno.Jantung Virly berdegup kencang saat matanya menangkap mobil Arsen yang sudah terparkir di depan pagar. "Sial, semoga Mas Arsen tidak melihat adegan pelukan tadi. Matilah aku!" Ia segera berjalan mendekati mobil itu, membuka pintu depan, dan duduk di samping Arsen."Mas." Virly mencoba tersenyum.Ia mengulurkan tangannya untuk salim pada Arsen. Arsen menerima uluran tangan Virly. Virly menempelkan punggung tangan suaminya ke pipinya, melirik Arsen yang menatap nya datar, lalu melepaskan tasnya.Arsen menjalankan mobil tanpa berkata apa-apa.Virly melepaskan dasi yang mencekik lehernya."Mas, ada air minum? Aku haus. Airku habis."Arsen mengambil tumbler yang tersedia di mobilnya dan menyerahkan ke Virly. Virly minum dengan hati-hati dan mengembalikan tumb

  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua    19. Double Date

    ‎Hai💙💙‎Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋‎••••••Arsen mengedikkan bahu, pura-pura tidak mengerti. "Terus aku harus apa? Sebagai seorang ibu, harusnya kau bisa mengurus anakmu.""Aku sebentar lagi akan terlambat!"Virly berharap Arsen mengerti."Aku juga mau pergi bekerja. Bukan cuma kamu yang ada kegiatan." Jawab Arsen sarkas.Mendengar jawaban Arsen yang seolah tak mau membantunya, Virly hanya diam saja. Rasanya percuma meminta tolong kepada manusia seperti Arsen.Ia kembali menjauh dari Arsen, duduk di meja makan, dan menepuk-nepuk punggung Kayvan dengan pelan."Baiklah. Kalau Kay tidak mau ditinggal, aku libur saja hari ini. Arsen, kau memang menyebalkan, tapi aku tidak akan membiarkan anakmu menderita karenamu." Batinnya.Keputusannya telah bulat. Virly pasrah melewatkan kuliah, demi menenangkan anak yang ia jaga.Melihat Virly hanya diam di meja makan, memeluk Kayvan, Arsen menghela napas. Ia berjalan mendekati Virly.Arsen b

  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua    18. Drama Pagi

    ‎Hai💙💙‎Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋‎‎Selamat membaca bagi yaa gaysss. Votee dan komen yang banyak ya! Spam dengan emot ini dulu biar semangat 💙💙 💙 💙 💙 ‎‎💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙‎‎••••••Pagi hari, sekitar pukul 05:30, sebelum anak-anaknya bangun, Virly sudah terbangun terlebih dahulu. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena harus berbagi ranjang dengan Kayvan dan Kayla. Ia menatap kedua anak itu dengan dalam, merasa iba melihat mereka harus menjalani hidup tanpa kasih sayang orang tua yang utuh.Ia segera menuruni ranjang dan berjalan menuju kamar utama. Ia memutar knop pintu dengan malas, tetapi pintu itu terkunci."Mas... Mas Arsen, buka!" Virly mengetuk pelan.Tak ada jawaban. Virly kembali mengetuk pintu dengan kencang, mulai panik karena takut terlambat sekolah."Mas Arsen! Buka! Aku mau mandi! Aku harus berangkat kuliah!"Tak lama, pintu terbuka. Arsen berdiri di sana dengan wajah baru bangun tid

  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua    17. Pulang

    ‎Hai💙💙‎‎Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋‎‎💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙‎‎•••••••Selesai dengan tablet-nya, Arsen memutuskan untuk keluar menuju kamar anak-anak. Begitu ia membuka pintu, ia melihat Kayvan dan Kayla yang sibuk menggambar. Matanya menoleh ke arah ranjang, di sana ada Virly yang membalut tubuhnya dengan selimut." Apakah dia sudah tidur? Ini bahkan baru pukul 7 malam. Apakah istriku merajuk? "Arsen kemudian mendekati kedua anaknya dan duduk di samping Kayla. "Sedang apa, Nak? Gambar apa itu?"Bukannya menjawab, Kayla malah menatap ayahnya dengan serius.Kayla berkata dengan suara polos namun menyentuh. "Papa... Papa tadi memarahi Mama, ya?"Arsen terdiam. Ia tidak menyangka Kayla memperhatikan."Tidak, Sayang. Papa tidak memarahi Mama. Papa hanya bicara tegas." Jawab Arsen."Tapi Mama terlihat murung. Mama sudah capek sekolah dari pagi, dan begitu pulang harus mengurus aku dan Adek lagi. Jadi... bisakah Papa jang

  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua    16. Kucing haus belaian

    ‎Hai💙💙‎‎Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋‎‎💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙‎‎••••••Follow Ig: wang_shineeHappy Reading 🎈 •••"Halo, Sayang! Sibuk ya? Nanti malam kita jadi keluar kan? Aku kangen banget nih." Suara Reno yang ceria, terdengar jelas.Virly terkejut total. Ia segera melihat layar ponselnya—ternyata memang Reno yang menelpon. Ia langsung mematikan loudspeaker dan berjalan menjauh ke arah balkon, sementara mata Arsen menatap tajam ke punggungnya."Reno, aku tidak bisa untuk malam ini. Ada acara mendadak. Sangat penting." Virly berbisik, suaranya tegang.Reno terdengar menghela napas. "Yah... padahal aku sudah siapkan kejutan. Kalau begitu, kapan Virly bisa? Besok?""Nanti aku kabari. Aku tutup dulu ya. Sampai jumpa." Virly langsung menyudahi panggilan tersebut.••••Virly kembali masuk ke dalam kamar dan langsung mendapatkan tatapan tajam, menusuk, dan penuh amarah dari Arsen.Virly, meskipun gentar, berusaha tidak

  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua    15. Tua Bodoh

    ‎Hai💙💙 ‎Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋 ‎Selamat membaca bagi yaa gaysss. Votee dan komen yang banyak ya! Spam dengan emot ini dulu biar semangat 💙💙 💙 💙 💙 ‎ ‎•••••• • Kayvan menggeleng. "Kay mau menunggu Mama." Virly menghela napas panjang. Ia menatap Arsen dengan sinis, matanya memancarkan kekesalan luar biasa. "Kenapa kau menatapku sinis begitu?" Ucap Arsen merasa terganggu dengan tatapan itu. Virly mendengus kesal. "Kau tidak punya hati." Arsen langsung memasang wajah tak terima. "Apa maksudmu, Virly? Jaga ucapanmu!" Virly, yang sedari tadi menahan kekesalannya, akhirnya meluapkannya. "Bagaimana bisa kau dengan santainya duduk tadi di bawah, membiarkan Kay menangis sampai sesegukan?! Bahkan sampai sekarang, sudah hampir jam empat sore, Kay belum makan sama sekali! Di mana hati nuranimu, Arsen?!" Ucap Virly, nada nya meninggi karena emosi. "Kayvan yang nakal! Aku sudah bilang dia harus diam dan men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status