LOGINSebagai orangtua tunggal dari seorang anak laki-laki berusia empat tahun, Disti ditantang untuk melawan kerasnya kehidupan. Namun, ketidakberuntungan memaksa Disti untuk menyerah. Disti pun terpaksa menikah dengan kakak mendiang suaminya, Yasa, yang telah beristri untuk menutupi aib! Lantas, sanggupkah Disti bertahan kala kehidupan pernikahan poligami yang tidak direncanakan akhirnya mengombang-ambingkan perasaan ketiganya? Bagaimana juga perasaan istri Yasa?
View MoreCatherine’s Point of View
Isang malamig at mabango ng simoy ng hangin ang dumampi sa aking mga balat, Nakapikit ang mga mata ko habang pinapakiramdaman ang hangin.
Pinapakinggan ang ganda ng tunog ng mga alon, 17 years akong nakatira dito. At tanging ang hangin at tunog ng alon ang aking kasama sa araw araw. Hinding hindi pa rin ako nagsasawa rito.
Ako si Catherine Alcantara 22 years old. Yan lang natitinging alam ko sa sarili ko. Lumaki akong walang magulang ang tanging nag alaga at nag aruga sa akin ay si Tiyang Amelia.
Simula nung ako ay nag 12 years old tumira na ako dito sa beach house ni tiyang Amelia na mag isa. Tinuruan niya ako ng mga bagay na dapat ko malaman para mamumuhay ng mag isa, dito sa malaking bahay na ito, kung paano magluto,maglinis, at iba pa.
Kapatid niya ang mother ko, sa kanya ako hiabilin ng mother ko nung siya ay mamatay. Tiyang Amelia treat me very well, tinuting niya akong parang anak niya at minahal ng mabuti.
Nasa kanya ang buong tiwala ko, hindi dahil siya ang nagpalaki sakin kundi dahil, yun ang huling habilin ni mama na ang tiyang Amelia lang ang dapat kong pagkatiwalaan.
Isang malambot na bagay ang dumapo sa likod at braso ko. Kasama nito ang mainit na kamay na humawak sa kamay ko.
“ Sinabi ko na sayo na, kapag lumalabas ka ng bahay nagdadala ka malang ng jacket” Tiyang Amelia, ngayon ko lag naalala . ngayon nga pala ang dalaw niya sakin.
“ Hayy, lagi kong nakakalimutan.”
“ Magkakasakit ka niyan sa ginagawa mo. Kapag nagkasakit ka, paano kung wala ako? Sino mag aalalaga sayo.”
Inakap ko sa sarili kumot na naka akap sakin. Ngayon ko naramdaman ang lamig sa mga balat ko.
“ Anjan naman si shadow para alagaan ako”
Tinapik niya ang noo ko, Napa aray ako at hinawakan ang noo ko. Hinihimas ang tinapik niya.
“ Sinabi ko na sayo, Shadow is your bodyguard not a caregiver. Besides there is a boundary between a man and woman. Kaya hindi siya pwedeng makalapit sayo”
“ yeah yeah, i know sinabi mo na yon sakin non. Hindi ko naman nakakalimutan. “
We both laugh at each other, she hold my hand at parehas kami umupo sa buhanginan. Napaligiran kami ng katahimikan at tanging hangin at alon lamang ang naririnig sa buong kapaligiran.
“ Cath, you know that i will not make any decision na ikapapahamak mo diba”
She hold my hand, while saying this. I smiled.
“ Of Course Tiyang, meron po ba kayo gustong sabihin sakin?”
She pauses. Humigpit ang hawak niya sa kamay ko. Nito ko na napagtanto. She made a big decision sa buhay ko, na alam ko ika babago ng buhay ko simula ngayon.
“ Remember the last time i told you na, soon you’ll be getting out of this out. Once na maaayos ko na ang lahat para sayo sa labas ng lugar na to. Once na malaman ko na you will be safe na outside” she said. Tumango tango ako sa kanya. I remember those.
“ That day finally come, I’m taking you out here” she said. Halo halo ang nararamdaman ko habang sinasabi niya to sakin.
Hindi niya ko hinahayaan na makaalis dito, sa kadahilanan na hindi ako safe sa labas ng lugar na to. Dahil may mga tao ang gusto humabol sakin o gusto manakit. Naalala ko pa nun nung sinabi niya nung 7 years old ako na nagpupumilit lumabas at umalis ng bahay.
Wala dapat makaalam na nagexist ako sa mundo na to. Mas safe kung siya at isa pang pinagkakatiwalaan niya ang may nakakaalam na nag exist ako.
“ You mean? I can leave this house? Go outside this place?” i ask.
“ Yes, yes. Finally. But there is something must be done, bago mangyari yon” she said.
“ … kailangan mong magpakasal” she continous.
Napakunot na ang noo ko.
“ You mean.. Marry someone?”
“ Ou, this perso will protect you. Someone who will care for you. So you must be good to him while you are married” she said.
“ but.. I don’t even know this guy. Paano ko malalamn kung magiging mabuti siya sakin”
“ trust me for this cath, alam kong buong buhay mo pinagkakatiwalaan mo lahat ng desisyon ko. Ngayon lang ako humiling sa iyo. I want you to have an husband that will forever be with you for the rest of your life” she said in a soft and calming voice.
She is right, ngayon lang siya humiling. At alam ko naman sa sarili ko na it’s for my own good, dahil walang ginawa si tiyang Amelia kudi mahalin at alagaan ako.
“Hindi po ba ang kasal ay nagbubuhol sa dalawang taong nagmamahalan para sila ay maging isa. Pano po mangyayari yon kung ang taong ikakasal sakin ay hindi ko pa nakikita at hindi ko kilala” She hug me from my side I lean my head towards her.
“ I know, I know. Kaya i want you to get to know him. You may misunderstand him at first of your meeting dahil hindi mo siya kilala. But open your heart, at pagkakataon o panahon na lang ang magdidikta if you want to be with him hanggang dulo.”
Maybe, she is right. I should give it a shot. Lalo na at pagkakataon ko na to to para makaalis and feel the other side of the this place meet new people.
“ Pumapayag na po ako, Can I wish for one thing?” i ask her.
“Hmm…?” we are still hugging each other.
“ Can you walk me in the aisle, since my parents are not around anymore. I want you to be close to me before i start a new life with someone” I ask. She smiles.
“ ofcouse hindi mo na kailangan hilingin yon, dahil kahit hindi mo sabihin. Ako at ako pa rin ang maghahatid sayo sa altar” she said.
Plaaak! Tamparan Disti mendarat di pipi Yasa. Wanita itu tidak menduga Yasa akan berkata yang menyakitkan hatinya seperti tadi. Apa yang bisa Disti lakukan jika Yasa benar-benar membawa masalah hak asuh Kieran ke ranah hukum? Yasa punya segalanya. Jelas ia akan memenangkan hak asuh itu, meskipun anak di bawah umur seharusnya dibesarkan oleh ibunya. Yasa bisa melakukan apa saja untuk merebut hak asuh Kieran.Disti terdiam. Semua kata tertahan di tenggorokannya. Hanya air mata yang membasahi pipi yang mewakili kehancuran hati dan harapannya. Begitupun, dengan Yasa. Pria itu tertegun merenungi bagaimana ia dengan bodohnya melayangkan kalimat intimidasi pada Disti. Wanita yang pernah mengisi hati dan telah memberinya seorang putri. Dorongan yang tak terbendung memberikan kekuatan pada Yasa. Mengabaikan semua permasalahan yang ada, Yasa merengkuh Disti ke dalam pelukannya.
Wanita berkulit putih yang mengenakan gaun merah selutut itu tersenyum. Mata sebiru lautannya berbinar terang seolah tidak ada beban sedikit pun di pundaknya ketika ia harus berhadapan dengan mantan istri Yasa."Halo, aku Azra. Yasa pasti sudah memberitahukanmu bahwa aku yang akan menjemput anak-anak." Azra mengulurkan tangannya.Tidak mau terlihat gugup Disti menjabat tangan Azra. Entah Azra bisa merasakan kegugupannya atau tidak, Disti hanya ingin terlihat kalau ia tidak gentar dengan penampilan sempurna wanita itu."Halo, aku Disti. Iya, Mas Yasa sudah memberitahuku."Pertemuan sekaligus perkenalan canggung itu berlangsung singkat. Sebelum Azra membawa kedua anaknya, ia meminta perempuan cantik itu untuk menyampaikan pesannya pada Yasa agar ia tidak lupa untuk mengant
Mata Disti mulai berkaca-kaca. Dahulu, ia sempat mengira David hanya pria egois yang ingin memanfaatkannya. Namun, seiring waktu, ia melihat sisi lain dari David—pria yang ternyata bijaksana dan tulus. Ia mulai sadar, bahwa di balik sikapnya yang flamboyan, David adalah seseorang yang memahami dirinya lebih dari yang ia duga.David mengulurkan tangan dan menyentuh bahu Disti dengan lembut. "Aku akan tetap di sini, menemanimu. Tapi, kamu perlu berdamai dengan hatimu dulu, Dis. Cari tahu apa yang benar-benar kamu inginkan. Aku nggak akan memaksamu untuk memilihku atau siapa pun. Kamu yang berhak menentukan jalanmu sendiri."Disti mengangguk, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Kata-kata David menyentuh bagian terdalam hatinya, membuatnya merasa tenang, tapi juga tergugah untuk mencari kejelasan dalam perasaannya.David tersenyum hangat, lalu berkata, "Sekarang makan, ya. Nggak usah banyak pikir dulu. Biar hatimu nggak lelah sendiri."Disti tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya
Yasa kembali menghela napas, pandangannya kosong. "Aku bingung, Dis. Saat itu, Shalimah ... kondisinya memburuk. Aku tahu aku yang salah karena membiarkannya merasa tersisihkan, karena aku terus memikirkanmu. Aku sudah jadi pria yang kejam, lebih mementingkan perempuan lain daripada istri yang selalu setia di sampingku. Aku larut dalam penyesalanku. Sampai tiba waktunya aku ingin menemui kalian, David sudah benar-benar menggantikan posisiku." Yasa tersenyum masam, “Aku pengecut, ya?”Disti hanya bisa memandang Yasa tanpa kata-kata. Semua kata-kata yang keluar dari mulut pria itu menusuk hatinya, menciptakan rasa bersalah yang kian menumpuk."Apa yang terjadi pada Mbak Shalimah, Mas?" tanyanya akhirnya, meskipun ia sudah tahu jawabannya. Pertanyaan itu mengandung harapan bahwa jawabannya mungkin berbeda dari apa yang ia duga.Yasa menunduk, suaranya terdengar serak. "Shalimah meninggal dunia beberapa hari setelah melahirkan Gyan, putra kami.""Innalillahi wa inna ilaihi ra'jiun," gumam
“Assalamualaikum,” ucap Yasa, suaranya berat dan tegas, membawa suasana dingin yang langsung memenuhi ruangan.Disti mengangguk singkat, mencoba menutupi kegugupannya. “Waalaikumsalam,” jawabnya s
“Kamu melamarku, Dave?” tanya Disti, suaranya bergetar sedikit, antara terkejut dan tidak percaya.David tersenyum tipis, lalu berpura-pura melempar pandangan ke arah bunga-bunga mawar merah yang tumbuh di se
Jantung Disti berdegup kencang, nyaris melompat keluar saat melihat Yasa berjalan mendekat. Tatapannya terkunci pada sosok pria berpostur atletis dengan sorot mata yang masih sama, meski ada sesuatu yang tampak lebih matang, lebih tenang. Waktu seakan melambat. Dan
Ketukan di pintu ruang kerjanya mengalihkan sejenak pikiran Disti yang tengah kalut, memaksanya kembali pada realitas di senja yang pekat."Assalamualaikum. Maaf, aku datang tanpa kabar," ucap David sambil mendorong pintu terbuka. Senyuman yang biasa menghiasi wajah orientalnya segera memudar ketika






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews