เข้าสู่ระบบI spent my whole life in the shadow of my gorgeous sister, letting my family treat me like the backup plan while I hid the strange, ancient magic humming under my skin. When the moon goddess chose a legendary, highly successful Alpha as my fated mate, I thought I had finally won my freedom from their cruelty. But my sister’s jealousy changed everything overnight. Coveting my successful mate, she got our parents on her side, and together they forced us to swap places, leaving me bound to the cruel, cold Alpha she was originally arranged to marry. They expect me to break under the weight of this stolen destiny, but they have no idea what kind of power they just unleashed into the wrong pack house.
ดูเพิ่มเติมDentuman musik Electronic Dance Music (EDM) yang memekakkan telinga seolah menjadi satu-satunya denyut nadi yang tersisa di dalam diskotik mewah malam itu. Kilatan lampu disko berwarna-warni menyapu setiap sudut ruangan yang dipenuhi oleh lautan manusia yang sedang menari, menenggelamkan diri dalam euforia dan pekatnya aroma alkohol. Namun, di salah satu sudut meja VIP yang tersembunyi dari lantai dansa utama, suasana yang tercipta justru berbanding terbalik. Tidak ada tawa riang atau godaan nakal, yang ada hanyalah isak tangis yang terdengar menyayat hati.
Gadis yang sedang menelungkupkan wajahnya di atas meja marmer dingin itu bernama Lansia Luka. Di kalangan orang terdekatnya, ia lebih akrab dipanggil A'luka. Malam ini, bahunya bergetar hebat. Ia menangis tersedu-sedu, mengabaikan tatapan beberapa pengunjung yang sesekali melirik ke arah meja mereka. Dunia A'luka seakan runtuh, kepingan hatinya berserakan di lantai diskotik karena satu alasan klasik yang menyakitkan: ia baru saja diputuskan oleh pacar pertamanya, Andra, seorang pemuda yang selama ini ia puja-puja karena wajahnya yang imut dan senyumnya yang manis. "Hedeh, kenapa mantan harus ditangisi sampai segitunya, sih? Sadar, A'luka! Masih banyak cowok cakep di luar sana yang antre buat kamu!" Suara lengkingan penuh rasa gemas itu berasal dari gadis yang duduk di seberang A'luka. Ia adalah Valencia Rilina. Rambut pirangnya yang ditata bergelombang sempurna memantulkan cahaya neon, membingkai wajahnya yang luar biasa cantik. Kecantikan Valencia berada di level yang tidak ada bandingannya; seolah ia baru saja melangkah keluar dari sampul majalah fesyen papan atas. Persahabatan mereka bukanlah hal baru. Semenjak sekolah dasar hingga kini mendekati akhir masa SMA, mereka adalah duo yang tak terpisahkan. Tidak pernah ada adu mulut yang berarti, apalagi saling mengejek hingga menyakiti hati. Mereka selalu akur, saling melengkapi bagai dua sisi keping koin yang berbeda. "Gak bisa, Cia! Gak bisa!" A'luka menggelengkan kepalanya dengan brutal tanpa mengangkat wajahnya dari meja. Suaranya terdengar serak dan teredam. Ia akhirnya mendongak, memperlihatkan hidungnya yang sudah memerah seperti tomat matang dan matanya yang membengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Wajahnya terkulai lemas, kehilangan seluruh semangat hidupnya. "Andra pernah bilang dia akan menerimaku apa adanya. Dia janji sampai kita lulus sekolah nanti, kita bakal lanjut kuliah bareng. Terus kita bakal begini selamanya... tapi kenapa dia pergi?!" Valencia memutar bola matanya, menyandarkan punggungnya pada sofa beludru merah dengan pose elegan. "Lagian, kamu juga tahu kalau yang namanya pacaran itu sudah pasti ada risikonya, yaitu putus. Kenapa kamu masih ngotot mau pacaran, apalagi sama cowok modelan begitu? Lihat sekarang, siapa yang harus kamu buat susah untuk menemani kekacauan di tengah malam begini? Untung aku sayang sama kamu." Bagi Valencia, tingkah A'luka yang kelewat manja dan cengeng ini sudah bukan pemandangan asing. Jika mereka sedang berdua saja, A'luka memang akan membuang seluruh topeng ketegasannya dan berubah menjadi gadis yang sangat perasa. Namun, ini adalah rahasia terbesar mereka. Jika kalian melihat A'luka di sekolah, di depan para guru dan siswa-siswi lainnya, dia adalah sosok yang sangat pendiam, dingin, dan terlihat jinak namun mengintimidasi. Tidak ada yang akan menyangka bahwa di balik sosoknya yang karismatik, terdapat hati rapuh yang sedang menangisi mantan pacar yang menghilang. "Cegukan... cegukan... Cia..." A'luka memukul-mukul pelan meja dengan jari-jarinya yang panjang. "Aku gak mau putus. Tapi dia... dia yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar! Kirim pesan pamit juga tidak. Aku salah apa? Aku takut, huaaaaa... hiks... hiks... hiks." A'luka meraih gelas soda berkadar alkohol rendah di depannya, mengetuk-ngetukkannya ke meja dengan ritme putus asa, lalu menggunakannya sebagai tumpuan pipinya. Wajahnya sangat kuyu, seolah-olah jiwanya sudah melayang entah ke mana. "Cek." Valencia hanya bisa mendecak pelan, mengungkapkan ketidakpuasannya yang tertahan. Ia sebenarnya tahu persis alasan logis mengapa Andra, si pacar imut itu, kabur terbirit-birit. Namun, menatap wajah sahabatnya yang sudah hancur lebur malam ini, Valencia tidak tega untuk menyiramkan fakta pahit itu ke wajah A'luka. Sebagai gantinya, ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menepuk-nepuk punggung A'luka dengan penuh perhatian. "Udah, udah, gak masalah. Kan masih ada aku di sini," bujuk Valencia dengan nada yang tiba-tiba berubah menggoda. Ia menatap A'luka dengan pandangan memuja, layaknya seorang fangirl yang sedang menatap idola tampannya. "Bang A'luka mau main sama aku? Melakukan hal-hal menyenangkan bersama juga boleh. Aku rela, kok." Mata Valencia bahkan berkedip genit, seolah memberikan ilusi bentuk hati merah muda yang melayang-layang di udara. A'luka seketika memiringkan bibirnya, ekspresi jijik jelas tergambar di wajahnya yang basah oleh air mata. "Cia, sumpah, aku masih normal! Gini-gini aku dari dalam ke luar masih cewek tulen, ya!" Seruan itu sukses membuat A'luka sedikit tersadar dari keadaan pusingnya yang sedari tadi diperparah oleh efek alkohol murahan. Aku menganggapmu sebagai sahabat sehidup semati, tapi kau malah bercanda ingin tidur bersamaku? Ini sungguh konyol! keluh A'luka dalam hati. Candaan seperti ini sudah berlangsung sangat lama di antara mereka, dan A'luka sudah di tahap menyerah untuk mendebatnya terlalu jauh. Masalah utama dari semua kekacauan ini adalah fisik A'luka sendiri. A'luka sangat sadar bahwa dirinya sama sekali tidak memenuhi standar "gadis cantik" pada umumnya. Sebaliknya, ia sadar jika dirinya terlihat sangat keren—terlalu keren untuk seorang wanita. Entah bagaimana, ia memancarkan aura maskulin yang sangat kuat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jika soal tinggi badan bisa diabaikan—walau kenyataannya tidak, karena ia sudah mencapai tinggi 168 cm sejak masih duduk di bangku SMP—wajahnya adalah mahakarya ketampanan androgini. Rahangnya tegas dan bergaris tajam, matanya elang yang sanggup menusuk ke dalam jiwa siapa pun yang ditatapnya, dan suaranya... suaranya serak-serak basah dan berat, lebih berat dari kebanyakan anak laki-laki di sekolah mereka. Namun, di balik perawakan yang sering membuat para gadis menjerit histeris karena salah paham, dari dalam lubuk jiwanya yang terdalam, Lansia Luka adalah seorang cewek feminin sejati. Ia menyukai segala hal yang manis-manis, mengoleksi barang-barang berwarna pink, menyukai boneka beruang, dan mendambakan romansa ala novel picisan. Ironi inilah yang membuat hidupnya terasa seperti komedi gelap. "Aha! Aku tahu!" Valencia tiba-tiba berseru keras, mengebrak meja hingga beberapa gelas berdenting. Matanya berbinar terang layaknya ilmuwan gila yang baru saja menemukan rumus keabadian. "Aku tahu gimana caranya mengubah cogan sepertimu jadi cewek cantik seutuhnya! Penemuanku ini pasti seratus persen berhasil!" "Apa?! Gimana caranya?! Kasih tahu aku, Cia! Sekarang!" Harapan seketika menyala di dada A'luka. Ia melompat dari kursinya, mencondongkan tubuh melintasi meja, dan mengguncang-guncang kedua bahu Valencia dengan tenaga yang tidak main-main. Valencia sampai dibuat pusing, merasa seakan dunianya berputar lebih cepat dari lampu disko di atas kepala mereka. Setelah bersusah payah melepaskan diri dari cengkeraman tenaga kuli sahabatnya, Valencia merapikan pakaiannya. Ia tersenyum manis, membentuk lengkungan misterius di bibirnya yang dipoles lipstik merah merona. Syukurlah, batin Valencia. Setidaknya A'luka sudah tidak menangis lagi. Bagus, dia sudah mulai lupa mengingat si pengecut Andra yang kabur tanpa kabar. "Gini, aku kasih tahu realitanya," Valencia berdeham, menatap A'luka dengan pandangan menilai. "Karena potongan rambutmu pendek bergaya wolf cut dan kamu terlalu cakep... tunggu, maksudku wajahmu terlalu ganteng, suaramu lantang bak komandan upacara, bodi-mu atletis dan tegap, ditambah tatapan matamu yang tajam... kau itu benar-benar tipe idaman, Luka! Kau ramah, kau baik..." Urat-urat hitam tanda kekesalan perlahan bermunculan di dahi A'luka. Kebahagiaannya tadi menguap begitu saja. Ia marah, kenapa sahabatnya ini justru membahas hal paling sensitif yang sangat ia benci? Apakah Valencia tidak sadar kalau A'luka paling muak jika dibilang keren atau ganteng oleh anak perempuan lain? Apalagi kalau yang memujinya adalah anak laki-laki; rasanya A'luka ingin memuntahkan isi perutnya saat itu juga jika bisa. Plak! Satu pukulan mantap mendarat di lengan Valencia yang masih asyik sendiri membedah seluruh kemaskulinan sahabatnya. "Berhenti!" desis A'luka, matanya menyipit garang. "Kamu ini niat mau kasih saran atau sengaja mau menghinaku, hah?! Cepat masuk ke intinya saja! Jangan berputar-putar. Cepat jelasin!" Valencia mengaduh pelan, mengusap lengannya sambil terbatuk canggung. Ia baru tersadar kalau ia terlalu asyik berkhayal dan melupakan pantangan terbesar A'luka. "Uhuk, uhuk. Oke, oke, maaf. Begini, aku sangat tahu status keluargamu. Aku tahu kegilaan kalian—keluargamu—untuk selalu terlihat kuat, mendominasi, dan tidak terkalahkan dalam bidang apa pun. Aku sangat hafal dengan tradisi gila itu!" A'luka mengangkat sebelah alisnya, heran dengan arah pembicaraan ini. "Terus? Apa hubungannya dengan penampilanku?" Valencia mencondongkan tubuhnya, berbisik seolah sedang membagikan rahasia negara. "Rahasia, loh... Bagaimana kalau besok kita datang dan melakukan makeover total di butik milik kakak tirimu yang pertama? Aku berani jamin, dengan sentuhan tangan desainer papan atas miliknya, selanjutnya kamu pasti bakal bertransformasi jadi cewek paling cantik sekota ini." Mendengar saran itu, bulu kuduk A'luka seketika langsung berdiri tegak. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Dari segala hal menakutkan di dunia ini, A'luka paling takut jika sudah membahas tentang keenam kakak tirinya. Mereka adalah sekumpulan pria superior, overprotektif, gila kendali, dan memiliki kekuasaan mutlak yang bisa menghancurkan hidup siapa saja yang berani menyentuh adik perempuan satu-satunya. A'luka menggeleng kuat-kuat, mundur perlahan sambil terus berkeringat deras, trauma masa lalu kembali berkelebat di benaknya. "Gila! Memangnya mau ngapain ke sana?! Kenapa harus ke butik kakak gila itu?!" A'luka menggeser kursi putarnya dengan panik, menjauh sejauh mungkin dari Valencia yang menurutnya mulai kehilangan akal sehat. Berurusan dengan kakak pertamanya sama saja dengan menyerahkan leher untuk diikat rantai emas. "Hahaha! Santai, A'luka, aku cuma bercanda!" Valencia tertawa renyah, kembali menarik kursi A'luka mendekat. "Aku cuma mau mengajakmu berganti pakaian, sungguhan. Mengganti pakaian yang sekarang kau pakai ini. Ini sama sekali gak cocok jika kamu mau memancarkan aura cewek tulen yang manja." "Hah? Bukannya aku sudah kelihatan cantik sekarang?" A'luka menunduk, memandang dirinya sendiri dari atas ke bawah. Malam ini ia merasa sudah sangat berusaha keras. Ia memakai kemeja wanita berwarna putih lengan pendek yang dipadukan dengan rok mini sepaha berwarna hitam. Ia bahkan memakai sedikit lip gloss pink. Bukankah ini standar pakaian wanita cantik yang sering ia lihat di majalah? A'luka menatap Valencia dengan raut wajah penuh tanda tanya yang polos. "??" "Yah... masalahnya ada di auramu, Luka," desah Valencia, membuat kepalan tangan dan mengangkat ibu jarinya setengah pasrah. "Kamu memang selalu terlihat keren memakai pakaian jenis apa pun. Jangankan rok mini, kamu memakai pakaian gembel compang-camping atau seragam satpam saja pasti tetap bakal kelihatan oke banget, maskulin banget." Dalam pandangannya, A'luka sangat meragukan ketulusan pujian tersebut. Baginya, itu terdengar seperti ejekan terbungkus pita. Tulilit... tulilit... pib... pib... Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah perdebatan mereka. Itu adalah ponsel milik Valencia. Sebuah ponsel keluaran paling baru, edisi terbatas yang harganya dikabarkan setara dengan satu batang emas murni. Tapi anehnya, desain fisiknya agak nyeleneh dan norak, ditambah lagi bunyi dering panggilannya yang terdengar sangat kuno dan jauh dari kata kekinian. Sangat kontras dengan citra modis Valencia. Valencia langsung mengangkatnya dengan senyum semringah. "Halo, Aa..." Nada suaranya mendadak berubah menjadi seratus kali lebih lembut dan mendayu-dayu, panggilan sayang khusus untuk pacar barunya yang membuat A'luka pura-pura merinding. "Kenapa menelepon mendadak begini, Sayang?" Dari seberang sambungan, suara berat seorang pria terdengar samar. "Sayang... aku kangen banget pengen tidur sambil peluk kamu. Cepat turun, aku udah ada di bawah nih." Mata Valencia langsung berbinar-binar seperti disorot lampu sorot. Ia berdiri dari kursinya, melangkah cepat mendekati jendela kaca besar diskotik, dan memandang ke arah area parkir di bawah sana. Benar saja, pacarnya sudah berdiri di samping mobil sport mewahnya, berpose sangat tampan dan menawan. Valencia terburu-buru merapikan tas tangannya dan menatap A'luka dengan raut wajah tak bersalah. "A'luka sayang, sepertinya rencana makeover dan sesi curhat kita bisa ditunda dulu, ya? Aa-ku udah jemput di bawah. Aku mau kencan dulu, bye-bye, cintaku!" Tanpa menunggu persetujuan atau setidaknya permintaan maaf yang layak, Valencia langsung berbalik dan melesat pergi meninggalkan meja VIP, menghilang di balik kerumunan orang yang sedang menari. A'luka melongo selama beberapa detik sebelum kesadarannya kembali. "Hey... tunggu! Berhenti di sana, Valencia Rilina!" teriaknya sia-sia. Matanya melotot menatap deretan botol dan gelas yang berserakan di atas meja. "Jangan bilang tagihan pesanan VIP ini masa aku semua yang harus bayar?! Ini gak adil!! Cegukan... cegukan... dasar teman laknat!" Ingin rasanya A'luka menabok kepala temannya yang satu itu. Masa iya, persahabatan murni tanpa noda selama 15 tahun ini harus kalah dan sia-sia hanya karena seorang pacar yang bahkan baru berumur dua bulan masa jadian? A'luka mengusap wajahnya kasar. Kepalanya masih berdenyut pusing berat karena terlalu banyak mengonsumsi alkohol, dan hatinya kembali terasa kosong. "Pelayan! Tambah dua botol lagi ke meja ini!" seru A'luka dengan suara seraknya yang khas saat seorang pelayan kebetulan berjalan melewati areanya. "Baik, Nona. Segera disiapkan," jawab pelayan itu sopan, membungkuk sedikit sebelum bergegas pergi. A'luka menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya yang menyedihkan di permukaan meja marmer. Ia tidak menyadari bahwa semenjak Valencia pergi, suhu di sekitar mejanya terasa sedikit berubah. Dan ia sama sekali tidak sadar jika kini, tepat di kursi kosong di sebelahnya, ada seorang pria asing yang duduk memperhatikannya. Pria itu berwajah sangat tampan, dengan pahatan rahang yang sempurna dan hidung mancung yang aristokrat. Namun, yang paling aneh adalah kemunculannya. Ia bagaikan entitas dari alam gaib. Mengapa disebut alam gaib? Karena langkah kakinya sama sekali tidak bersuara, tidak ada decitan sepatu di atas lantai, tidak ada sapaan, seolah-olah ia berteleportasi dan muncul begitu saja menembus hingar bingar musik diskotik. "Permisi, Nona cantik. Apa saya diizinkan untuk ikut duduk di sini menemani Anda?" Suara baritone yang dalam, jernih, dan memabukkan itu menembus indera pendengaran A'luka. Ia menoleh dengan cepat, terkejut. Pria asing itu tersenyum kepadanya. Sebuah senyuman yang sangat simpel, tidak berlebihan, namun entah bagaimana memiliki kekuatan magis yang langsung membuat pertahanan hati A'luka meleleh seketika. Alasannya sederhana: pria itu memanggilnya "Nona cantik". Dua kata yang sangat, sangat jarang didengar oleh telinga A'luka secara langsung dari seorang pria dewasa. Kesan pertama A'luka terhadap pria di depannya ini langsung melesat ke angka sempurna. Karena pada dasarnya A'luka adalah tipikal gadis yang diam-diam suka menilai orang dari penampilannya, melihat pria dengan ketampanan yang tidak masuk akal ini, raut wajah A'luka yang tadinya suram dan penuh duka lara langsung berubah drastis. Ia menjadi semringah, matanya berkedip dengan kepolosan yang kontras dengan pakaian dan suaranya. "Oh... oh... ah..." A'luka tiba-tiba gagap, salah tingkah. Ia buru-buru memperbaiki posisi duduknya. "T-tentu, silakan duduk." "Apa Nona cantik sendirian saja datang ke tempat seramai dan seliar ini?" Pria itu menopang dagunya di atas punggung tangannya yang bertumpu pada meja. Lengan kemeja mahalnya yang digulung sebatas siku memperlihatkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Kesan yang dipancarkannya sangat kuat, seperti tipikal pria tampan, berkelas, mapan, yang sangat sopan dan tidak mudah marah. A'luka mengangguk pelan, tersipu malu-malu. Kali ini, ia benar-benar berusaha keras untuk menekan aura "pemimpin upacara"-nya dan mencoba membentuk citranya sebagai gadis baik-baik, rapuh, dan sopan di depan pria mapan ini. "Iya... teman saya baru saja pergi. S-saya agak takut sebenarnya..." cicit A'luka, memainkan ujung rok mininya dengan gugup. Mendengar jawaban itu, kilat misterius melintas di mata gelap sang pria. "Jika Nona merasa takut di tempat ini, bagaimana jika Nona ikut bersamaku sekarang? Tinggalkan saja tempat ini. Aku berjanji... aku pasti akan menjagamu dengan sangat, sangat baik." Pria tampan berinisial A itu menyunggingkan sebuah senyum yang sangat tipis. Di balik sikap sopannya, senyum itu sebenarnya adalah seringai licik seorang pemangsa yang telah menemukan buruan kecilnya—sebuah fakta mengerikan yang sama sekali tidak diketahui oleh A'luka yang sedang dimabuk pesona. Mata A'luka membulat, menatap pria yang memancarkan aura dominan bak CEO konglomerat yang sering ia baca di novel-novel kesukaannya. Pria itu memakai jas rapi dengan kemeja yang sedikit terbuka di bagian kerah. Dalam kepolosannya yang terpengaruh alkohol, A'luka keceplosan. "Benarkah itu, Paman?!" Seketika, senyum di wajah tampan pria itu membeku kaku. Sudut bibirnya berkedut menahan kekesalan. Paman? Umurnya baru saja menginjak masa kejayaannya, masa paling ideal bagi seorang pria di puncak kekuasaan. Ia masih sangat muda di usia dua puluhan akhir! Wajahnya juga sangat tampan, terawat, dan tegas—tidak ada kerutan sedikit pun. Pria itu menarik napas panjang, menahan diri, lalu mempertahankan senyum paksa yang mematikan. "Cantik... umurku masih dua puluhan. Kamu bisa memanggilku Abang, Kakak, atau Sayang sekalipun. Tapi 'Paman' itu terlalu kasar untuk calon pelindungmu. Itu bisa diubah, kan?"Reya By sunrise, Blackwood no longer looked like home. It looked like a fortress. Warriors lined the eastern walls while healers worked from the lower dining hall, and the hidden keepers spread through the estate, reinforcing entrances and staying close to the children. Wolves moved constantly between the outer boundary and the main house, carrying reports from one commander to another. Somewhere beyond the trees, an army was waiting for me. I stood barefoot on the balcony outside Killian’s study and watched the first light spread across the sky. My shadows curled quietly around my feet, fully mine again. There was no ancient voice inside them, no pull toward the ground, and no Guardian whispering through our connection. I should have felt relieved, but instead, I could barely breathe. “They’re still yours.” Killian stood in the doorway, the bandage around his side visible beneath his black shirt. He should have been sleeping, though so should I. He joined me at the balcony and wra
Killian: The fear vanished from Darian’s face so fast I almost thought I had imagined it. Then every line on the map lit up gold. The blast sent Sophia sliding across the floor and knocked Reya into me. I caught her around the waist as the ceiling cracked. Stone crashed behind us, pelting my back with fragments. “Cormac,” Reya gasped. Her eyes were closed, her fingers still locked around mine while she held whatever connection she had created with him. “What is he saying?” “He’s getting Elara.” Another tremor ripped through the chamber. The Guardian cried out as gold wrapped around his arms and crawled toward his shoulders. Darian stood a few feet away, but almost nothing about him felt like Darian anymore. Aelia was in control. “Tell Cormac to hurry.” Reya opened one eye. “I’m sure he assumed we wanted him to take his time.” “Baby.” “I’m telling him.” Aelia looked through Darian’s golden eyes toward Reya. “You cannot teach blood to reject what it was created to become.”
Reya: Cormac tipped backward into the broken training ground and vanished before we could reach him. Killian ran for the opening, and I caught his arm with both hands. He dragged me several feet before stopping. “Let go. Cormac is down there.” Killian tried to pull free, but I tightened my grip. “I know, but I’m not letting you jump.” The ground shuddered as darkness rolled from the crack. Behind the retreating keepers, children cried while Elara ordered everyone to hold the circle. “He’s my brother.” Killian was still staring into the opening, and the pain in his voice made me reach for his face. “Then help me bring him back instead of giving that thing two bodies.” He closed his eyes, then faced me. “Tell me what you need.” I turned to Elara. “Can the first circle hold?” She glanced toward the opening. “For minutes, perhaps. But it cannot stop the source from moving through Cormac.” The Guardian joined us, pale and barely casting shadows. “Cormac is outside the Fifth. He is n
Killian: The thing beneath Blackwood opened its eyes, and every wolf inside me fell silent. Two enormous white eyes stared up from a depth I could not measure. Whatever waited down there frightened me more than the ground shaking beneath us. Reya stood rigid in my arms. The shadows that had belonged to hundreds of people had vanished into her network, leaving the seven circles beneath our feet empty. We had separated the fragments, and something had woken beneath them. Darian laughed near the edge, tears running down his face as he stared into the opening. I wanted to drag him away from it. “You freed it,” he whispered. Reya pulled away from me just enough to stand. “What is it?” Darian turned to her. “The beginning.” I tightened my grip on her hand. “We have had enough beginnings.” The Guardian approached the opening. For the first time since I met him, he looked genuinely lost. “That is not possible.” Sophia stared at him. “You said the heart was part of Aelia.” “It was.”
ReyaThree full days passed, and I quickly realized that living in the guard wing of the Blackwood fortress was basically like being a ghost. Alpha Killian completely kept his word about ignoring me. He did not check on me once. A quiet, elderly omega servant brought a tray of minimal rations to my
ReyaThe journey to the northern border took three agonizing days. By the time the heavy wooden carriage finally ground to a halt, the warm green fields of the south were completely gone. I looked out the small window and saw nothing but dark pine trees and a freezing mountain rainstorm that looked
ReyaThe fairy tale did not even last until midnight. The very second our carriage pulled up to the Oakwood estate, the illusion shattered into a million pieces. We barely made it through the front doors before the first heavy crystal vase came flying across the grand parlor, smashing directly into
Reya"Stand straighter, Reya. You look like a hunchback standing next to your sister," my mother, Eleanor, hissed the words directly into my ear. She did not actually look at my face while she spoke. Her eyes were completely glued to my younger sister, Bernice, who was currently preening in front






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.