เข้าสู่ระบบTidak lama berselang, seorang pelayan menghampiri meja Dongmei dan menjelaskan bahwa Tuan Muda Guo meminta para tamu yang datang dari keluarga terpandang untuk bergabung dalam perjamuan utama. Surat pengantar Dongmei telah menarik perhatian tuan rumah, yang menganggapnya sebagai kesempatan untuk menjalin hubungan dengan saudagar dari ibu kota.
Di sampingnya, Xuan Huan menyarankan agar Dongmei menerima undangan tersebut karena beberapa pejabat perdagangan juga berada di sana, tetapi ia
Tidak lama berselang, seorang pelayan menghampiri meja Dongmei dan menjelaskan bahwa Tuan Muda Guo meminta para tamu yang datang dari keluarga terpandang untuk bergabung dalam perjamuan utama. Surat pengantar Dongmei telah menarik perhatian tuan rumah, yang menganggapnya sebagai kesempatan untuk menjalin hubungan dengan saudagar dari ibu kota.Di sampingnya, Xuan Huan menyarankan agar Dongmei menerima undangan tersebut karena beberapa pejabat perdagangan juga berada di sana, tetapi ia menyerahkan keputusan kepada sang putri.Dongmei mempertimbangkan keadaan sejenak sebelum berdiri. “Kita datang untuk mencari informasi. Akan aneh jika kita menolak kesempatan berbicara dengan orang-orang yang memang ingin kita temui.” Setelah mengambil keputusan, keduanya berjalanmengikuti pelayan menuju tangga, melewati deretan lentera yang bergoyang tertiup angin dari sungai.Di lantai dua, suasana pesta terasa jauh lebih meriah. Meja-meja panjang dipenuhi hidangan mahal.
Sore ini, Dongmei memutuskan meninggalkan penginapan untuk mencari informasi secara langsung. Setelah menghabiskan sebagian besar waktu memeriksa catatan perdagangan dan mendengarkan laporan dari Xuan Huan, ia membutuhkan gambaran lebih nyata tentang kehidupan para saudagar di Qingyuan.“Aku akan pergi bersama Xuan Huan. Zihai, tetaplah di penginapan dan pastikan semua barang kita aman,” kata Dongmei, mengencangkan ikat pinggang di balik jubah luarnya. “Kita belum memiliki alasan untuk membuat keluarga Bai mencurigai tujuan perjalanan kita, jadi jangan mengirim terlalu banyak pengawal.”Zihai, yang sedang memeriksa daftar perlengkapan, mengangkat wajah. “Jika Anda hendak mengunjungi tempat yang dipenuhi bangsawan muda dan saudagar kaya, dua pengawal seharusnya tetap ikut.”“Dua pengawal akan membuat orang bertanya mengapa seorang wanita muda membutuhkan perlindungan sebanyak itu.” Menyesap tehnya pelan, Dongmei masih belum berdiri dari tempat duduknya. Zihai terlihat ingin membantah
Dongmei menangkap gerakan halus pada rahang pria di hadapannya yang mengencang sejenak, sebelum ia secara perlahan mengangkat tangan kanan, mengibaskan jemari tangan dengan gerakan anggun nan tegas, memerintahkan seluruh pengawal bersenjatanya mundur melangkah kembali ke posisi semula. Perubahan instruksi halus itu menjadi sinyal mutlak bahwa pria tersebut memutuskan untuk tidak memperpanjang bentrokan di tengah sorotan publik pasar."Terimalah permohonan maafku atas ketidaknyamanan yang sempat mengganggu perjalananmu," ujar pria itu dengan nada formal yang kaku. "Sebagai bentuk kompensasi atas waktu berharga yang terbuang karena kecerobohan pengawalku, aku akan menanggung seluruh biaya sewa penginapanmu selama berada di kota ini."Dongmei memberikan gelengan kepala secara halus. "Sikap bersahabat yang sangat bermurah hati, tapi tidak perlu. Aku masih memiliki cukup keping emas untuk membiayai kamar penginapanku sendiri."Memasang ekspresi tenang, pria tampan itu berkata, "Anggap saja
"Lepaskan, lepaskan tanganku, Brengsek!" Pengawal itu mengerang keras, berusaha menarik diri, tapi cengkeraman jari-jari Dongmei terasa sekuat jepitan besi.Di belakang pria itu, lima orang prajurit dengan baju zirah ringan berdiri dengan sikap siap menyerang. Namun, Dongmei tidak gentar. "Aku akan melepaskannya dengan senang hati," balas wanita itu terdengar tajam, "segera setelah kau mengutarakan permohonan maaf atas kelakuan kasarmu." Menambahkan dengan nada dingin yang sama, mata Dongmei berkilat, dipenuhi oleh tekanan besar.Situasi di lorong jalan melesat ke tingkat berbahaya tatkala dua pengawal berzirah lainnya melangkah maju mendekat, tangan mereka secara serempak hinggap di atas gagang pedang yang siap ditarik dari sarungnya. Melihat bahaya nyata yang mengintai, Zihai bergerak cepat melompat turun dari pelananya, memosisikan tubuh di garis depan sembari memberi isyarat mata penuh peringatan kepada para prajurit penyamar mereka.Xuan Huan sendiri berges
Menjelang tengah hari, kesibukan Kota Qingyuan langsung menyapa rombongan Dongmei saat roda-roda kayu kereta kuda mereka melintasi perbatasan jalan utama. Di sepanjang lorong berbatu yang membelah pusat kota, deretan pedati bermuatan gulungan kain sutra dan karung bahan pangan merayap pelan di antara himpitan para pedagang kaki lima.Uap panas roti kukus, aroma gurih daging panggang, serta wewangian tajam rempah-rempah membumbung dari kedai-kedai kayu berbaur pekat dengan debu tipis yang terangkat oleh derap langkah kaki kuda. Sebagai salah satu simpul persimpangan paling krusial menuju pelabuhan utama di selatan, Qingyuan menjelma menjadi tempat berkumpul berbagai macam manusia dari segenap penjuru negeri. Mulai dari saudagar kaya, pencari kerja, hingga para pelancong yang sekadar menumpang istirahat sebelum menembus belantara selatan.Dongmei membetulkan posisi topi bambu bertepi lebar yang ia kenakan, menarik sedikit tirai kerudung tipis agar menutupi separuh wajah saat kuda tungga
Dongmei mengarahkan pandangan ke sudut lorong tempat Bai Lang Bo menghilang tadi. Menarik napas dalam, wanita itu menyarungkan kembali pedang pendeknya ke dalam sarung. "Dia tidak memperlihatkan indikasi ketakutan sedikit pun tatkala bilah tajam hanya berjarak sejengkal dari urat lehernya, sementara kedua pengawalnya merespons dengan kecepatan tempur yang terlalu terlatih untuk ukuran pengawal pribadi biasa.”Menjeda, dia melirik Xuan Huan yang terlihat mendengarkan dengan saksama. “Ada dua kemungkinan yang tersisa, dia memang sudah sangat terbiasa berhadapan dengan ancaman pembunuhan secara konstan, atau sengaja memancing pertikaian untuk menguji sejauh mana kemampuan orang-orang di sekitarnya."Pernyataan Dongmei membuat Xuan Huan mengernyit. "Apakah ada kemungkinan ia berhasil menerka identitas asli yang kita sembunyikan?" Kekhawatiran muncul di dalam hatinya saat ini. Jika mereka membongkar penyamaran Meifeng, jelas sekali harus ada perubahan rencana.
Jawaban yang diberikan putra mahkota membuat raja tertawa keras. Kekhawatiran putra mahkota memang sangat beralasan mengingat sifat Meifeng yang sekarang mudah tersulut emosinya. “Adikmu tidak akan melakukan hal yang akan membahayakan orang lain jika tidak diganggu,” ujar raja.Jauh dalam hatinya d
Putra Mahkota berdiri di sana beberapa lama. Ia hanya melambaikan tangan saat Han meminta izin untuk kembali ke paviliunnya. Liwei sama sekali tidak menyangka jika Meifeng bisa bersikap sekasar itu di hadapannya.“Kakak Pertama, apa itu benar-benar Putri Meifeng?” tanya Pangeran Lang. Suaranya terd
Dongmei mengangkat dagu, membalas tatapan tajam Liwei dengan kalimat sinisnya, “Aku tidak mengerti kenapa kau tidak sependapat denganku? Istana memiliki peraturan, terlebih untuk seorang budak. Budak yang berani menantang tuannya harus dihukum mati,” desisnya. Ia berbalik, menatap dayang yang kini
Dengan gerakan tenang Dongmei menepuk-nepuk gaun sutranya yang berwarna biru langit. Ia menatap lekat Tao Tao saat berkata, “Jangan terus meminta ampun kepadaku, kau membuat telingaku sakit.”Dongmei berjalan dengan Tao Tao yang mengikutinya di belakang. Sesekali dia menendang kosong saat Tao Tao m







