MasukSinopsis: Savannah Maheswari Kesuma, seorang gadis cerdas dan ambisius, baru saja menyelesaikan pendidikannya di Swiss. Ia kembali ke Indonesia dengan satu tujuan: memberikan kejutan manis untuk ayahnya di hari ulang tahunnya. Namun, apa yang menantinya jauh dari bayangan kebahagiaan. Keluarga Kesuma berada di ambang kebangkrutan, dan cobaan terbesar datang ketika Savannah dipaksa menikah dengan Putera Keluarga Wiratama, salah satu keluarga paling terpandang namun penuh intrik. Savannah tidak bisa menolak. Masalah semakin rumit karena Savannah sudah memiliki kekasih, Andrew Keller, pria yang telah memimpikan hidup bersamanya. Sayangnya, waktu dan keadaan tidak berpihak pada mereka. Savannah tak punya pilihan selain menuruti kehendak keluarganya. Savannah pun tahu pernikahan itu menjadi awal dari drama yang lebih besar. Apalagi dengan sifat para keluarganya itu. Namun, Savannah tidak menyerah begitu saja. Di tengah keterpaksaan, ia merencanakan pelariannya. Dihari Pernikahannya, Savannah meninggalkan cincin pernikahannya bersama sebuah surat. “Tuan, Nyonya Savannah melarikan diri dan meninggalkan cincin serta surat ini,” lapor asisten pribadi sang suami. Alih-alih panik, pria itu hanya tersenyum dingin, dengan tatapan penuh rahasia. “Biarkan saja. Dia akan kembali… dan kali ini, dia yang akan memohon-mohon padaku.” Apa yang sebenarnya tersembunyi di balik senyuman misterius itu? Akankah Savannah berhasil lepas dari bayang-bayang pernikahan yang mengurungnya, atau justru terjebak lebih dalam di pusaran dendam dan intrik keluarga Wiratama? Ketika cinta, dendam, dan ambisi bertabrakan, Savannah harus memilih: melarikan diri atau menghadapi takdir yang mengejutkan. Sejauh apapun Savannah lari, takdir selalu punya jalannya sendiri.
Lihat lebih banyakMia's POV
"Madam, are you sure you want to divorce Mr. Branson?"
The lawyer asked it gently, the way doctors ask if you understand the diagnosis. Rain traced slow lines down the window behind him, blurring the city into grey watercolor.
I looked down at my hands, folded in my lap. There was still a faint pink line across my palm where the pavement had torn it open. It would fade. Everything fades, if you give it enough time. That's what I had told myself for ten years.
"I'm certain," I said, and my voice only trembled a little. "I can't keep being a wife without dignity beside a husband who doesn't love me."
Saying it out loud hurt more than I expected.
I loved Kyle Branson. I had loved him since I was fifteen, from the back row of a party I wasn't welcome at, watching him laugh in his football jersey with his eyes fixed on someone else.
I had loved him quietly through college, through the years as his secretary, through three years of a marriage that existed only on paper and in the darkness of our bedroom.
The lawyer's pen scratched across the paper.
Two weeks ago, I had been happy. For one whole afternoon, I had been happy.
"Congratulations," Dr. Ray had said, "you're pregnant."
I blinked rapidly, trying to focus. Her smile never wavered as she guided my attention to the screen, pointing to two tiny dots pulsing in sync.
"Twins," she added. "You're having twins."
I had been so careful — the pills Kyle insisted on, the contract with its cold black text. Clause 6: Regular contraception required. No pregnancies permitted.
But staring at those two flickering lights, something warm and terrifying opened up in my chest, like a window I hadn't known was painted shut. Two lives. Two tiny beings growing inside me. Kyle's children. Our children.
I cried in the hospital parking lot, my forehead against the steering wheel, and I couldn't have said whether it was fear or joy. Maybe there's no difference, when you've wanted something for as long as I had wanted a family.
Would they look like me? Would they have my green eyes, or their father's dark, stormy gaze? The whole drive home, hope kept rising in me, impossible to ignore. Maybe this changes everything, it whispered. Maybe when he sees the picture. Maybe, maybe, maybe.
I should have known. Hope had never once kept its promises to me.
That evening, I stood outside his study with the ultrasound picture in my cardigan pocket. The door was ajar; lamplight spilled into the hallway in a thin gold line. I raised my hand to knock—
"You've been married three years, Kyle." Marcus's voice, lazy with whiskey. "She should be pregnant by now, right?"
I froze, knuckles an inch from the wood.
"There won't be a child." Kyle's voice was flat.
It's like standing in warm water and feeling it turn cold around you, inch by inch, while you're too stunned to move.
Marcus laughed. "True. Taylor's back in the country now — I bet all your attention is on her." Ice clinked against glass. "How was last night? A whole night of sweetness, I'd guess."
Last night I had crouched behind a parked car in an empty garage while a stranger's footsteps circled closer, my ankle screaming, my palm bleeding, my phone pressed so hard against my ear it left a mark. I called Kyle times.
He'll come. This time he'll come. I thought.
An old security guard found me. He shouted the man off, walked me to my car, and stood in the rain until my hands stopped shaking enough to drive.
Kyle's reply was waiting when I got home. One word, glowing in the dark bathroom while I wrapped my torn palm.
Busy.
Humiliation was a living thing crawled up my throat.
"So tell me," Marcus pressed, grinning audibly. "Which is better — the wife, or Taylor?"
Kyle didn't answer.
"Look at me asking," Marcus laughed. "How could a contract wife ever compare to a first love?"
I pressed both hands over my mouth so no one would hear me sob.
This is a deal, he'd said once, sliding the contract across his mahogany desk. I hope you don't have any other ideas. But I did. So I'd signed, clinging to the hope that time would help him see me differently. Three years later, that hope had proven as substantial as morning mist.
When there were no tears left, I took out the ultrasound picture and looked at my babies in the lamplight, two tiny dots, my two tiny dots.
"It's okay," I whispered, my thumb tracing the edge of the photo. "Mommy sees clearly now. We don't need him."
"All right, ma'am." The lawyer's voice drew me back. He capped his pen. "The divorce agreement will be sent to your email within five days."
Five days.
Outside, the rain had stopped. I stood on the courthouse steps and breathed, one hand resting lightly over my stomach.
Five days. And I'll be leaving him.
Suara bel pintu yang berdering keras membangunkan Savannah dari tidurnya yang nyenyak. Matanya terasa berat, dan tubuhnya enggan beranjak dari kasur yang hangat. Dia mengerang pelan, menarik selimutnya lebih erat, berharap suara itu hanya bagian dari mimpinya. Namun, dering bel itu terdengar lagi, kali ini lebih panjang dan mendesak. Setelah menelpon theo dan marah-marah, Savannah kembali tidur dan melupakan jika pagi ini dia harus berangkat ke Jakarta. Cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai, menerangi kamar yang masih berantakan dengan pakaian yang tergeletak di kursi dan beberapa buku yang berserakan di lantai. Savannah mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan kantuk. Rambut panjangnya kusut, dan piyama satin yang dikenakannya tampak kusut setelah semalaman berguling di tempat tidur.Dengan langkah malas, dia berjalan menuju pintu, matanya masih setengah terbuka. Begitu membuka pintu, dia terkejut melihat Arthur, sopir keluarga, berdiri di ambang pintu dengan senyum ramah.“Sel
Theo melirik Savannah sekilas sebelum mengalihkan pandangannya ke jalanan yang mulai sepi. Langkahnya melambat, seolah pikirannya sibuk menimbang sesuatu yang cukup serius. “Aku belum memutuskan,” katanya akhirnya, suaranya tetap tenang tetapi mengandung nada ragu. “Kalau kita pergi bareng, aku harus memastikan dulu jadwalku. Tapi kalau sendiri-sendiri…”Ia membiarkan kalimatnya menggantung, seakan sengaja memberi ruang bagi Savannah untuk menerka maksudnya. Savannah, yang berjalan setengah langkah di depannya, menoleh dengan alis sedikit terangkat. “Kalau sendiri-sendiri, kenapa?” tanyanya, menunggu jawaban Theo. Theo tersenyum tipis, hampir seperti ejekan halus pada dirinya sendiri. “Aku harus tahan menghadapi perjalanan yang membosankan tanpa seseorang yang bisa diajak ngobrol." Savannah mendengus pelan, lalu berpura-pura berpikir dengan ekspresi serius. “Jadi maksudmu… kamu ingin kita pergi bareng?” Theo akhirnya menatapnya langsung. Mata hitamnya tenang, tapi ada sesu
Setelah Moana pergi, Savannah berjalan kembali ke dalam rumah dengan langkah malas. Kaki-kakinya terasa berat, seolah-olah setiap langkahnya menyeret beban yang tak terlihat. Begitu tubuhnya menyentuh sofa empuk di ruang tamu, ia langsung menjatuhkan diri, membiarkan kepalanya bersandar di sandaran tangan. Matanya baru saja hendak terpejam ketika suara getaran ponsel di meja kaca mengusik ketenangannya. Getarannya yang berulang-ulang seperti memaksa Savannah untuk membuka matanya kembali. Savannah mengumpat dengan tidak sabaran, siapa lagi yang mengganggu diwaktu seperti ini? Savannah melirik layar dengan setengah hati. Nama Theo terpampang di sana, disertai dengan foto profilnya yang selalu terlihat rapi dan tersenyum. Ia menghela napas panjang, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca yang dingin, menimbang apakah ia harus mengangkatnya atau tidak. Setelah beberapa detik yang terasa lama, ia akhirnya menyerah dan menekan tombol hijau. "Halo?" suaranya terdengar datar,
Savannah duduk di tepi pantai di belakang rumahnya, mencoba menenangkan diri dari pusaran pikiran yang semakin kacau. Seharusnya, semilir angin sore bisa membantunya berpikir lebih jernih, tetapi hari ini, semuanya terasa salah. Tidak ada satu pun yang berjalan sesuai harapannya. Kehancuran finansial keluarganya terasa seperti pusaran air yang menyeretnya semakin dalam. Semua berubah begitu cepat, begitu drastis, dan Savannah merasa tak berdaya. Ayahnya dan keluarganya yang lain tidak pernah berubah mereka masih saja sama, selalu membuatnya muak.Suara tawa riang tiba-tiba memecah kesunyian. Savannah menoleh dan menemukan Moana, sepupunya, melangkah mendekat dengan gaya khasnya—angkuh, percaya diri, dan selalu tampak tak tersentuh oleh masalah. Gaun mahal yang membalut tubuhnya tampak sempurna, tas desainer terbaru tergantung di lengannya, dan sepatu hak tinggi yang seakan membuatnya melayang di atas dunia sendiri.Savannah mengerutkan dahi. Bagaimana mungkin Moana masih bisa bersikap
Setelah makan malam, pria itu tidak langsung mengajakku pulang. Sebaliknya, ia memarkirkan mobilnya di tepi pantai. Angin malam yang sejuk menyapa kulitku, namun suasana dalam mobil terasa lebih hangat, mungkin karena rasa penasaranku terhadap pria di sebelahku. Aku menatapnya, mencoba mencari jawa
Semua orang langsung terdiam, bahkan Theo yang tadinya tampak tidak peduli kini memasang tatapan tajam ke arah Thomas. Aku menahan napas, menyadari bahwa ini mungkin akan menjadi momen yang panas. Thomas tersenyum tipis, lalu menghela napas panjang sebelum menjawab. “Yang paling menyebalkan dari
Aku menghela napas panjang, berusaha menenangkan rasa sakit yang sulit aku ungkapkan dengan kata-kata. Hari ini benar-benar penuh kejutan, tapi bukan kejutan yang menyenangkan. Aku melarikan diri dari pernikahanku demi Andrew, pria yang selama ini kupikir adalah segalanya. Namun, kenyat
Savannah duduk di sudut ruangan dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya menyimpan banyak emosi. Di hadapannya, Andrew berdiri, menunduk sedikit seolah mencari keberanian untuk melanjutkan kata-katanya. “Aku tidak in






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.