共有

Pesona Kembang Desa

作者: NomNom69
last update 公開日: 2026-05-19 10:01:25

"Oh, iya, Mas Dayat. Sini, Mas, masuk. Mesin sanyonya ada di halaman belakang," ucap wanita itu sambil buru-buru merapikan daster bagian atasnya setelah menyadari arah pandangan Dayat. Ia meletakkan sapu lidi yang dipegangnya ke pojokan dinding teras dengan gerakan yang agak canggung, mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Dayat berdehem kecil, berusaha menguasai diri dan mengangguk sopan. "Iya, Mbak. Mari saya lihat."

"Ini, Mas, coba tolong dicek dulu mesinnya. Soalnya kemarin aku
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Tukang Servis Spesialis   Pesona Kembang Desa

    "Oh, iya, Mas Dayat. Sini, Mas, masuk. Mesin sanyonya ada di halaman belakang," ucap wanita itu sambil buru-buru merapikan daster bagian atasnya setelah menyadari arah pandangan Dayat. Ia meletakkan sapu lidi yang dipegangnya ke pojokan dinding teras dengan gerakan yang agak canggung, mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dayat berdehem kecil, berusaha menguasai diri dan mengangguk sopan. "Iya, Mbak. Mari saya lihat." "Ini, Mas, coba tolong dicek dulu mesinnya. Soalnya kemarin aku tinggal pulang kampung sampai dua bulan penuh. Pas tadi pagi mau dipakai, tiba-tiba mesinnya cuma mendengung dan sama sekali nggak keluar airnya," ucap wanita itu setelah mereka sampai di dekat sumur pompa. Dayat langsung berjongkok di depan mesin sanyo yang tampak berdebu itu, mencoba masuk ke mode kerja profesional agar pikirannya tidak melantur. "Oh, begitu ya. Kalau sebelum-sebelumnya, apa pernah macet-macet atau tersendat begini nggak, Mbak Put?" tanya Dayat sambil mulai meraba pipa pralo

  • Tukang Servis Spesialis   Job Baru Pelanggan Baru

    "Kamu tuh ya, Mas! Suka banget balas dendam ke aku sampai kayak begini. Dengkulku rasanya mau copot tahu, masih pagi padahal," gerutu Gita dengan nada manja sambil melempar bantal kecil ke arah punggung Dayat. Dayat dengan sigap menangkap bantal itu sebelum mengenai kepalanya, lalu memutar tubuhnya sambil tertawa lepas. Suara tawa renyahnya memenuhi kamar baru yang masih berbau harum itu. "Yaa kan lumayan, Git. Hitung-hitung kita sarapan keringat dulu pagi-pagi biar sehat dan metabolisme tubuhnya lancar, hahah!" "Dasar modus! Hari ini kamu ada jadwal mau ke mana memangnya, Mas? Masih ada proyekan rumah yang belum kelar?" Dayat merapikan letak kerah kemejanya sekali lagi, memastikan penampilannya sudah cukup rapi untuk keluar rumah. "Hari ini aku mau ke kantor Luki dulu, Git. Ada beberapa urusan dokumen dan jadwal yang harus aku pastikan sama dia biar nggak bentrok untuk minggu depan." Gita manggut-manggut paham, ia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya secara perlaha

  • Tukang Servis Spesialis   Mandi Lagi

    ​"Duh, mampus gue... parfum Clara masih nempel kayaknya," gumam batin Dayat, merutuki kecerobohannya sendiri karena tidak sempat membasuh leher atau berganti pakaian terlebih dahulu tadi. ​"Oh, ini?" Dayat sengaja menarik kerah kemejanya sedikit, pura-pura ikut mencium aromanya sendiri untuk meyakinkan Gita. "Tadi aku ditawarin parfum sama bosku di sana, Git. Cuma karena baunya mirip parfum perempuan, jadi nggak kuambil." ​ "Hmmmm? Beneran begitu, Mas?" tanya Gita dengan nada suara yang masih menggantung penuh selidik. ​Dayat tertawa kaku, lalu mengacak rambut Gita dengan pelan untuk mencairkan suasana yang sempat menegang. "Iya, Gita... ngapain juga aku bohong soal ginian. Memangnya kenapa? Bau banget ya?" ​Gita melipat tangannya di dada, bibirnya sedikit mengerucut. "Bukan bau, justru wangi banget. Terus kenapa tadi nggak kamu ambil saja pemberian bosmu itu? Kan bisa buat aku parfumnya kalau kamu nggak suka." ​Dayat memutar otaknya lagi, lalu buru-buru menyahut sambil be

  • Tukang Servis Spesialis   Aroma Yang Bukan Miliknya

    Dayat mengancingkan kemejanya satu per satu dengan gerakan yang tenang, meskipun di dalam hati ia mulai menghitung waktu. Aroma sisa gairah masih terasa pekat di dalam kamar tidur utama bernuansa mewah itu. Di atas ranjang, Clara merapikan letak selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya, lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil menatap punggung tegap Dayat yang sedang merapikan kerah baju. "Kamu udah mau pulang, Yat? Nggak mau di sini dulu menemani aku sebentar lagi?" tanya Clara dengan nada suara yang sedikit manja, matanya mengerjap lembut menatap pria di depannya. Dayat berbalik, lalu melirik sekilas ke arah jam dinding besar yang detaknya terdengar teratur. "Iya, Tan. Udah jam segini, takut kemalaman di jalan. Nggak apa-apa kan kalau saya pulang duluan, Tan?" ucap Dayat sambil memberikan senyuman santai namun tetap menunjukkan rasa hormat. Clara menghela napas panjang, sedikit kecewa namun ia mengerti situasi Dayat. Ia membetulkan posisi duduknya di atas kasur. "N

  • Tukang Servis Spesialis   Sentuhan Kehangatan Bergairah

    ​"Halo, Git. Kenapa?" tanya Dayat, suaranya diusahakan selembut dan sesopan mungkin. ​Dari seberang telepon, suara Gita terdengar sedikit manja, kontras dengan gemuruh yang sedang tertahan di ruang tengah rumah Clara. "Mas... aku tiba-tiba pengen banget makan sate padang yang di dekat simpang itu lho. Boleh tolong belikan nggak sebelum Mas pulang?" "Oh... iya, Git. Yaudah, nanti aku belikan pas jalan pulang ke rumah," jawab Dayat, menahan getaran di suaranya agar tidak menimbulkan kecurigaan. ​"Iyaa... makasih banyak ya, Mas! Jangan malam-malam pulangnya," ucap Gita dengan nada riang. ​"Iyaa... yaudah ya, Git. Ini aku lagi agak sibuk periksa berkas sama Bos. Nanti aku kabari lagi kalau sudah jalan," tutur Dayat, mencoba mengakhiri percakapan secepat mungkin sebelum pertahanannya runtuh. ​"Siapa sih, Yat? Mengganggu momen kita saja," tanya Clara, suaranya serak dan manja sembari mengerucutkan bibirnya yang basah. ​"Biasa, Tan... urusan rumah," jawab Dayat pendek. ​Tanpa

  • Tukang Servis Spesialis   Antara Kopi dan Gairah

    "Duduk dulu, Yat. Aku sebentar lagi selesai kok," ucap Clara dengan nada yang sedikit genit, sambil memberikan kedipan mata yang sarat akan maksud terselubung. Ia memutar tubuhnya kembali ke arah konter dapur, sengaja memperlihatkan bagaimana daster satin marunnya bergoyang mengikuti setiap gerakan pinggulnya. ​Dayat menelan ludah, mencoba menenangkan debaran di dadanya yang mendadak tidak beraturan. "Iya, Tan. Santai saja, jangan buru-buru," jawab Dayat, berusaha menjaga suaranya tetap terdengar sopan dan luwes. ​Ia melangkah menuju sofa empuk yang berada di ruang tengah yang cukup luas itu. ​Tak lama kemudian, aroma wangi kopi hitam yang pekat mulai tercium mendekat. Clara berjalan dengan langkah anggun yang sengaja diperlambat, membawa nampan berisi dua cangkir kopi cup hangat dan sepiring kecil camilan kue kering. Ia membungkuk perlahan untuk meletakkan hidangan itu di atas meja, membuat potongan daster rendahnya semakin terbuka di depan mata Dayat. ​"Nih, diminum dulu ko

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status