Share

Turun Gunung Memikul Takdir
Turun Gunung Memikul Takdir
Author: Murlox

1. Hujan dan Kabut

Author: Murlox
last update publish date: 2026-08-20 15:48:58

Butiran air hujan terus berjatuhan dari langit kelabu semenjak siang tadi. Guyurannya tak terlalu lebat, namun cukup untuk menenggelamkan seseorang dalam ilusi kenangan.

Di atas sana, langit tampak muram, diikuti kabut putih yang menutupi setiap sela lereng dan puncak gunung. Walaupun jarak memisahkan keduanya, seolah-olah mereka berada dalam dekapan rasa yang sama.

Jalur setapak tampak berlumpur, membelah hutan menuju sebuah kuil bobrok. Bangunan tua yang sepertinya sudah lama ditinggalkan dan terbengkalai.

Diselimuti rajutan jerami dan topi bambu tua, langkah Wan Xuan tak tergoyahkan meskipun tanah liat di bawah kakinya berusaha menahan setiap pijakan.

Begitu sampai di dekat kuil, ia berdiri diam sejenak. Tatapannya tertuju pada tangga batu yang basah dan dipenuhi bercak tanah liat, menandakan seseorang telah berada di sana lebih dahulu.

Namun, Wan Xuan tak merasakan niat jahat dari dalam kuil. Ia memutuskan masuk karena sepanjang perjalanan, hanya kuil inilah satu-satunya tempat berteduh yang layak.

Kegelapan menyambut begitu ia masuk. Namun, remang-remang api unggun berpendar di tengah kuil yang cukup luas.

Seorang pria bersandar pada sebatang tongkat kayu. Ia duduk tenang di dekat api unggun dengan kedua tangan bersilang di depan dada.

"Aku kedinginan. Apa boleh duduk di sini sebentar?"

Beberapa meter dari pria itu, Wan Xuan berdiri menunggu jawaban. Cahaya api unggun yang berpendar membuat bayangan tubuhnya yang tegap tampak semakin besar.

Keduanya tak saling melirik, namun diam-diam saling memperhatikan. Setengah wajah Wan Xuan tertutupi topi bambu, hanya menampilkan ekspresi datar yang sesekali diterpa nyala api.

"Ambil posisi senyaman yang kau mau. Hujan di luar tak akan berhenti sampai besok pagi."

Mata pria itu sedikit bergeser. Awalnya ia hanya diam menatap api unggun, tetapi sesuatu seolah menarik perhatiannya.

Dari sudut matanya, ia mengintip bayangan pemuda di hadapannya. Samar, tetapi ia bisa merasakan gejolak liar yang tengah bersembunyi di balik sosok tenang tersebut.

"Langkah yang berat di dalam kegelapan, jangan sampai kehilangan nyala dalam lentera," pria itu bersenandung lirih, cukup terdengar oleh siapa pun yang berada di dekatnya.

Wan Xuan melepas topi bambu, juga rajutan jerami kering yang melekat pada tubuhnya. Namun, ia bisa merasakan bobot dari ucapan pria itu, seolah-olah kalimat tersebut sedang mendeskripsikan situasinya saat ini.

"Bagaimana Anda tahu?" tanya Wan Xuan.

Pria itu tersenyum tipis. "Tahu apa? Aku hanya bersenandung mengucapkan kalimat yang pernah kudengar."

Wan Xuan terdiam. Ia tak berniat berkata lagi sampai akhirnya mengeluarkan sebuah labu berisi arak berusia seratus tahun, peninggalan gurunya.

"Mau mencoba?" Wan Xuan mengulurkan labu itu setelah meneguknya sekali.

Aroma khas arak tua segera menguar, cukup menggugah selera bagi siapa pun yang memahami nilainya. Sosok di seberang api unggun menerima tawaran tersebut tanpa menolak.

Begitu meneguknya sekali, mata pria itu langsung terbuka lebar. Hanya untuk sesaat, ia bisa merasakan sesuatu yang begitu familiar. Rasa yang telah lama hilang, sesuatu yang menyimpan kenangan puluhan tahun.

"Namamu?" tanya pria itu sembari melempar kembali labu arak.

"Wan Xuan. Bagaimana dengan Anda, Senior?"

Beberapa kali labu itu dilempar silih berganti. Setiap tegukan seolah memberikan kedua pria itu rasa yang mengingatkan mereka pada kenangan lama.

"Sen Tian," balas pria itu dengan senyum tipis.

"Dengar, aku hanya akan mengatakan ini sekali." Sen Tian tiba-tiba berkata serius. "Jangan mencari mereka ketika kau tak bisa mengendalikan bayanganmu sendiri."

Wan Xuan tertegun. Sen Tian seolah mengetahui siapa dirinya, padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu.

"Ucapan itu meyakinkanku bahwa Anda juga merupakan muridnya."

"Murid? Aku hanya pernah belajar sedikit dari pria tua berjanggut putih itu. Mungkin hanya kaulah yang benar-benar bisa disebut sebagai muridnya."

Setelah berkata demikian, Sen Tian tertawa getir. Ia segera berdiri dan merapikan pakaiannya dari debu.

Ia ingin pergi, dan Wan Xuan tak berniat menghentikannya.

Mereka berdua adalah murid dari sosok tua yang pernah mengguncang dunia bela diri. Yang satu adalah pria yang terbiasa hidup bebas, sedangkan yang lainnya adalah pemikul tanggung jawab.

Namun, pertemuan kali ini benar-benar di luar dugaan Wan Xuan. Seolah-olah pertemuan tersebut memang telah digariskan oleh takdir.

Sebelum benar-benar meninggalkan kuil, Sen Tian berkata tanpa menoleh.

"Ini pertama kalinya kita bertemu. Sebagai senior, aku hanya bisa mengingatkanmu. Berhati-hatilah terhadap mereka yang mengatasnamakan guru."

Wan Xuan mendengarnya tanpa ekspresi. "Bagaimana dengan Anda, Senior?"

"Jangan pikirkan aku. Dibandingkan kau dan murid-murid lainnya, aku sudah tak punya alasan untuk bersaing dengan kalian." Tawa getir terdengar di akhir kalimat.

Sesaat kemudian, suasana kembali sunyi. Hujan di luar kuil masih turun tanpa tanda-tanda akan berhenti. Di dalam, hanya percikan api yang cukup untuk melindungi dari dingin.

Tatapan Wan Xuan terhenti pada sebatang kayu yang perlahan berubah menjadi abu. Sejak meninggalkan Gunung Baiyun, wajahnya seolah kehilangan seluruh emosi.

Ia hanya tahu bahwa dirinya dipungut oleh seorang lelaki tua ketika berusia lima tahun. Selebihnya, Wan Xuan tak benar-benar mengingat bagaimana kehidupannya sebelum itu.

Seiring berjalannya waktu, ia tumbuh menjadi pria dewasa di bawah bimbingan Bai Haotian. Walaupun hidupnya tak seperti kebanyakan anak lainnya, Wan Xuan tetap merasa bersyukur.

Namun, beberapa bulan lalu, semua rasa syukur itu seakan direnggut darinya.

Lelaki tua yang merawatnya sejak kecil, sosok yang menjadi gurunya sepanjang hidup, ditemukan tewas mengenaskan tanpa kepala.

Jejak terakhir yang ditemukannya hanyalah kenyataan bahwa gurunya mati akibat teknik racun ciptaannya sendiri.

"Sen Tian, auranya lembut dan tenang. Ia sama sekali tak menerapkan metode yang diajarkan Guru," gumamnya. "Kejam dan tanpa ampun. Itulah ciri khas seorang ahli yang menerima ajaran Bai Haotian."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Turun Gunung Memikul Takdir   17. Bergerak dalam gelap

    Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya

  • Turun Gunung Memikul Takdir   16. Peringatan & Keluhan

    Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi

  • Turun Gunung Memikul Takdir   15. Selamat Malam

    “Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li

  • Turun Gunung Memikul Takdir   14. Tertipu

    “Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo

  • Turun Gunung Memikul Takdir   13. Introgasi

    Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia

  • Turun Gunung Memikul Takdir   12. Berubah Pikiran

    Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status