เข้าสู่ระบบTatapan tersembunyi mengikuti setiap langkah Wan Xuan, tetapi tak satu pun cukup untuk membuatnya berhenti saat menyusuri kota.
Ia tahu mereka adalah para penjaga kota yang diam-diam di perintahkan untuk mengawasinya. Wan Xuan hanya membiarkan mereka begitu saja karena sejak awal ia tak pernah berniat mencari masalah. Di Kota Linmeng ini, Wan Xuan hanyalah pendatang baru yang belum memahami seluk-beluk kota, setidaknya untuk saat ini. Namun, ia tahu di mana tempat untuk mendapatkan informasi yang sekiranya membantu. Sebuah tempat dengan jumlah pengunjung yang banyak dan terbuka untuk khalayak umum. Langkah kaki Wan Xuan terhenti di depan sebuah bangunan yang cukup besar dan megah. Bangunan itu berdiri kokoh di antara bangunan lainnya, tetapi tampak paling mencolok karena arsitekturnya yang khas. Tiang-tiang kayu berukir, patung naga di sisi pintu masuk, dan lampion hias tergantung rapi. Wan Xuan mendongak sedikit. Matanya menangkap papan kayu bertuliskan "Paviliun Tian Xiang". Begitu memasuki paviliun, ia segera disambut oleh aroma arak yang kuat, hidangan berminyak, samar-samar wangi bunga, serta tatapan penuh penilaian dari sudut-sudut ruangan. Lantai bawah paviliun dipenuhi para pengunjung pria, mulai dari pengembara lokal hingga tukang kayu yang datang untuk melepas lelah. Wan Xuan mengambil posisi di meja paling pojok. Beberapa detik kemudian, seorang pelayan wanita berpakaian seksi datang menghampirinya. "Selamat datang, Tuan. Ini pertama kalinya aku melihat Anda di sini. Apa Anda membutuhkan sesuatu... atau mungkin layanan pribadi?" Pelayan itu tampak genit dan penuh godaan. Ia berdiri di sisi kiri Wan Xuan dan sesekali membelai pundaknya dengan jari-jari yang mulus dan ramping. Sebelum Wan Xuan sempat menjawab, indra penciumannya tiba-tiba menangkap aroma samar yang berasal dari tubuh pelayan tersebut. Aroma khas yang begitu lembut itu terasa familiar. Terlalu familiar. Sesaat, bayangan sebuah ruangan penuh asap dari tungku serta tanaman obat melintas dalam pikirannya. Aroma yang berasal dari ramuan yang hanya bisa dibuat dengan teknik milik gurunya. Aroma yang dahulu tak pernah ia pikirkan, tetapi kini justru terasa seperti duri yang menusuk ingatan. Mata Wan Xuan bergetar. “Bau ini...?” Napasnya mendadak berat. Ekspresi datarnya perlahan menghilang, digantikan gejolak emosi yang selama ini ia pendam dalam hati. Tanpa sempat berpikir, tangan kirinya bergerak. Dalam sekejap, leher pelayan itu sudah berada dalam cengkeramannya. “Kya!” Pelayan tersebut terkejut dan mundur setengah langkah, tetapi cengkeraman Wan Xuan membuatnya tak mampu bergerak lebih jauh. Wan Xuan menatapnya tajam. Ia tidak tahu apakah wanita itu mengetahui sesuatu, apakah dirinya terlibat dalam kematian sang guru, atau mungkin hanya sebuah kebetulan. Ia tahu aroma itu belum membuktikan apa pun. Namun, setelah kematian gurunya, Wan Xuan tak mampu lagi mengabaikan petunjuk sekecil apa pun. Aroma itu benar-benar sama persis. “Tujuh Tangkai Guihua...” gumamnya dengan suara rendah. “Bagaimana bisa aroma ini menguar dari tubuhmu?” Cengkeramannya tanpa sadar semakin kuat. “Jawab aku.” Nada suaranya terdengar dingin. Tatapan Wan Xuan yang semula tenang berubah menjadi penuh gejolak amarah. "A-apa yang kau lakukan? Lepaskan." Tatapan pelayan itu tampak gemetar. Ia tersedak oleh cengkeraman Wan Xuan. Butiran air menggenang di sudut matanya, bercampur antara terkejut dan ketakutan. Kursi-kursi mendadak bergeser dengan bunyi agak keras. Lima pria yang sejak tadi berjaga di sudut ruangan—berpura-pura menjadi pelanggan—kini segera bangkit... Merka melangkah maju, masing-masing mengacungkan bilah pedang ke arah leher Wan Xuan. "Hei, bocah. Beraninya mencari masalah di sini. Apa kau tak tahu tempat apa ini?" kata seorang penjaga Paviliun Tian Xiang. Wan Xuan hanya bergeming. Tatapannya masih tertuju pada pelayan wanita dalam cengkeramannya, sama sekali mengabaikan ancaman pedang di sekelilingnya. Pelayan itu meronta, berusaha melepaskan diri. Kepanikan menjalar ke seluruh tubuhnya, sementara tengkuknya perlahan terasa dingin. Ia benar-benar mengira dirinya akan mati di bawah tatapan Wan Xuan yang menyerupai binatang buas. "Bajingan ini! Lepaskan dia!" Seru seorang pengawal paviliun. "Jangan macam-macam dengan Paviliun Tian Xiang!" Lima pengawal di sisi Wan Xuan segera bergerak. Mereka sadar tak bisa membiarkan Wan Xuan bertindak semena-mena, apalagi sampai mencelakai salah satu staf paviliun.Beberapa hari kemudian, masa penahanan Wan Xuan akhirnya berakhir dan ia diperbolehkan beraktivitas kembali dengan bebas. Walaupun begitu, tetap saja ada beberapa pasang mata yang diam-diam mengawasinya, meski hal itu tak begitu ia pedulikan.“Kenapa kau ingin tahu tentang kediaman raja kota?” tanya Xin Nian di dalam ruang kerjanya di markas pusat, menatap Wan Xuan dengan alis sedikit terangkat.“Kenapa tidak? Aku harus mengenal tempat yang kutinggali, agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari,” jawab Wan Xuan santai.Xin Nian menghela napas pelan. Ia tak sepenuhnya memahami apa yang sedang dipikirkan Wan Xuan, namun entah mengapa ia juga tak sanggup menolak permintaan itu begitu saja.Tak lama kemudian, ia mengeluarkan setumpuk dokumen setebal tiga inci dari dalam laci mejanya, lalu berkata pelan, “Ini hanya informasi umum tentang kediaman raja kota. Tapi terus terang, aku curiga kau menyimpan motif tersembunyi di balik semua ini.”Wan Xuan tersenyum simpul mendengarnya. Ia melan
“Haha, pagi-pagi kau sudah membuat keributan, bahkan sampai menggoda seorang wanita.”Tawa Sun Liang pecah saat ia tiba-tiba muncul di sisi ruangan. Wan Xuan menghiraukannya dan kembali duduk di kursi dekat jendela, tak sedikit pun menunjukkan minat pada kehadiran Sun Liang.“Ngomong-ngomong, semalam kau pergi ke mana?” tanya Sun Liang, mencoba mencairkan suasana.“Kenapa kau ingin tahu?” Wan Xuan balik bertanya, nadanya datar tanpa emosi.Sun Liang menghela napas jengkel, tampak lelah menghadapi sikap dingin Wan Xuan yang tak kunjung berubah.“Sial, sikapnya dingin sekali saat berhadapan denganku, tapi tidak begitu dengan Komandan Xin itu,” batin Sun Liang kesal, membandingkan perlakuan yang begitu berbeda.“Aku tak sedang bercanda kali ini. Aku harus tahu apa yang kau lakukan. Atau setidaknya, dengarkan peringatan yang kukatakan—jangan membuat masalah,” ucapnya, kali ini nada suaranya terdengar lebih serius dari biasanya.Wan Xuan memandang ke luar jendela, menyaksikan lanskap langi
Wan Xuan melepaskan tekanan Qi yang kuat dari tubuhnya. Gelombang energi itu menyapu ruangan dan menghantam para pengawal Feng Sui yang berusaha mendekat.“Ugh!”Beberapa pengawal langsung kehilangan keseimbangan. Tubuh mereka terangkat akibat tekanan Qi yang begitu kuat, lalu terpental ke belakang dan menghantam dinding di tepi ruangan dengan suara keras.Brak! Brak!Tubuh mereka jatuh ke lantai satu demi satu, mengerang kesakitan.Bahkan Feng Sui yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia segera menahan tubuhnya agar tidak ikut terjatuh, lalu menatap Wan Xuan dengan wajah yang mulai berubah tegang.Ini bukan kali pertama Wan Xuan memperingatkannya dengan cara seperti itu. Namun, Feng Sui terlalu bodoh untuk mengingat peringatan terakhir yang hampir saja merenggut nyawanya.Yang terus terngiang di kepalanya hanyalah penghinaan yang pernah dilontarkan Wan Xuan kepadanya. Rasa malu itu memenuhi hati dan pikirannya, sampai-sampai ia melupakan bet
Xin Nian berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, wajahnya memerah seperti tomat matang dan pikirannya kacau tak menentu.Saat wajahnya menunduk berusaha menyembunyikan rona di pipinya, keanehan itu justru tertangkap jelas oleh beberapa penjaga yang kebetulan lewat, termasuk Feng Sui yang berada tak jauh dari sana.“Huh? Komandan Xin, kenapa ekspresinya seperti itu?” gumam Feng Sui pada dirinya sendiri, mengamati dengan alis terangkat.Ia sempat heran, namun tak lama kemudian sebuah kecurigaan tiba-tiba melintas di benaknya.“Tunggu... arah itu? ...Komandan baru saja meninggalkan tempat bajingan itu ditahan. Jangan-jangan sesuatu yang buruk sudah terjadi padanya di sana.”Tak mau tinggal diam, Feng Sui segera bergegas menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Ekspresinya berubah serius, dipenuhi kecurigaan yang semakin membesar seiring langkahnya.“Entah apa yang bajingan itu lakukan pada Komandan Xin, sudah pasti sesuatu yang buruk... awas saja kau,” geramnya di sela-sela perjalana
Matahari menyingsing dari arah timur, menerangi Kota Linmeng dengan kilau keemasan yang penuh kehangatan.Embun beku akibat dinginnya malam perlahan mencair, menciptakan kilau indah dari pantulan sinar matahari pada rerumputan dan helai-helai dedaunan.Markas pusat penjaga kota kembali disibukkan oleh penyelidikan kasus pembunuhan. Beberapa prajurit penyidik sudah dikerahkan untuk menyisir setiap sudut kota.Hanya saja, Komandan Xin Nian tak tampak senang. Ekspresi wajahnya agak cemberut, menyimpan sedikit... kecurigaan yang enggan ia ungkapkan.“Huh... ke mana orang itu pergi? Wan Xuan seharusnya sadar dirinya berada dalam kondisi yang tak menguntungkan sekarang, tapi dia justru menghilang begitu saja,” gumamnya kesal.Xin Nian berjalan tergesa menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Mendengar kabar bahwa Wan Xuan menghilang dari tempatnya sudah cukup membuat jantungnya berdebar tak menentu.“Untung saja Feng Sui belum mengetahui apa pun. Kalau tidak, dia pasti jadi orang pertama
Sosok bertopeng yang tersisa mengatupkan rahangnya keras-keras. Ia sadar betul bahwa kemampuan lawannya berada jauh di luar jangkauannya, bahkan mustahil untuk ditandingi.Ia menggeretakkan gigi dengan kesal. Tak peduli apa pun yang akan terjadi selanjutnya, ia hanya bisa pasrah sambil mencoba mencari celah untuk keluar dari situasi terjepit ini.“Kemampuan orang ini sulit dijelaskan dengan akal sehat. Bagaimana caraku menghabisinya? Atau setidaknya, bagaimana caraku bisa melarikan diri dari sini?” batin sosok bertopeng itu, dipenuhi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan.Dalam jarak sekitar sepuluh meter, Wan Xuan menatapnya dalam diam. Ia bahkan tak lagi menghunus pedangnya—senjata itu justru kembali melekat tenang di balik punggungnya, seolah tak dianggap perlu.“Kau... biarkan aku pergi. Jika kau bersikeras ingin membunuhku di sini, cepat atau lambat tuanku akan mencarimu dan membalaskan dendam ini,” kata sosok bertopeng itu, berusaha mengulur waktu sebisa mungkin.“Setidaknya, j







