LOGINJari-jari Wan Xuan terbuka. Pelayan itu tersungkur ke belakang, tangannya terbang ke tenggorokannya saat ia terengah-engah mencari udara.
Keheningan mendadak di paviliun terasa lebih berat daripada suara yang mendahuluinya, hanya dipatahkan oleh suara napas terengah-engah yang cepat dari wanita di lantai. Ujung-ujung pedang mengarah beberapa inci dari tubuh Wan Xuan. Baja dingin itu memantulkan cahaya matahari yang menyelinap melalui jendela paviliun, menciptakan sangkar logam di sekelilingnya. Getaran rendah mulai muncul di dada Wan Xuan. Ia memiringkan badannya kesamping, sedikit memutar tumit untuk mengembalikan keseimbangan tubuhnya. Tatapannya berpindah dari wanita itu ke para pengawal paviliun. Ia tidak meraih pedang di punggungnya, tetapi matanya menggelap, pupilnya menyusut menjadi titik-titik tajam. Sebuah gelombang energi dingin yang menekan merambat keluar—beban tak kasat mata yang menghantam dada para pengawal. Salah seorang pengawal merakan tubuhnya mendadak gemetar. Ia mundur setengah langkah, sepatu botnya menggesek keras lantai kayu. Yang lainnya ikut membeku, napas mereka terhenti bersamaan. Tak ada pukulan yang dilepaskan. Namun, para pengawal merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada tatapan binatang buas. Naluri mereka berteriak untuk mundur. Udara di ruangan itu seolah menipis, membuat para penjaga terengah-engah mencari oksigen yang terasa seperti menghirup debu besi. Wan Xuan menghembuskan napas, tekanan mematikan itu menghilang secepat ia datang. Ia menurunkan bahunya, ekspresinya kembali menjadi topeng ketidakpedulian yang agak dipenuhi penyesalan. "Aku minta maaf." Para pengawal tetap terpaku, mata mereka bergeming menatap Wan Xuan dengan pupil bergetar. "Tadi aku tak bisa berpikir jernih sesaat karena suatu alasan." Ia memandang para pengawal dan pelayan wanita itu sembari menangkupkan tangan, meskipun suaranya tetap datar. Wan Xuan benar-benar menyesali tindakannya. "Aku akan bertanggung jawab atas apa yang baru saja terjadi." Para pria itu tidak bergerak. Mereka bertukar pandang, wajah mereka agak pucat. Ancaman itu tak terlihat, tetapi terasa seolah-olah bilah baja telah menempel di leher mereka. Agresi yang mendorong serangan mereka menguap, digantikan oleh ketakutan yang hati-hati dan mengendap. Wan Xuan mengalihkan perhatiannya kembali ke pelayan. Ia masih berlutut, memegang lehernya, matanya lebar dan penuh air mata. Ia melangkah satu langkah ke arahnya. Pelayan itu menghindar, menempelkan punggungnya ke sebuah meja. "Aku mencium aroma minyak Tujuh Tangkai Guihua darimu." Suara Wan Xuan kini tenang, tetapi tatapannya tetap tajam seolah menuntut jawaban. "Dari mana aroma itu berasal? Siapa yang memberikannya kepadamu?" Pelayan itu bergetar, suaranya keluar sebagai bisikan yang tersengal. "Saya... saya tidak tahu apa yang Anda maksud dengan nama itu." Wan Xuan bersandar, bayangannya menenggelamkannya. "Aku minta maaf, tadi aku hanya lepas kendali... Tapi tolong jawab, aroma itu menempel di tubuhmu. Kamu pasti menggunakan minyak atau pengharum khusus. Siapa yang memberikannya?" Pelayan itu menelan ludah keras, tatapannya melirik para penjaga untuk bantuan, tetapi mereka tetap terpaku di tempat. "Itu... Paviliun menyediakan untuk kamar pribadi dan para pelayan. Hanya untuk menarik tamu agar betah." Dahi Wan Xuan berkerut. "Apakah memang diperintahkan oleh pemilik paviliun Tian Xiang?" "Y-ya... Baunya cukup harum dan dapat menenangkan saraf, sekaligus menarik perhatian. Pemilik paviliun tidak pernah menyebutkan hal penting apa pun kepada kami. Kami hanya diberi tahu untuk mengaplikasikannya pada pakaian, linen, dan lilin pengharum di lantai atas." Wan Xuan berdiri diam. Pikirannya berputar cepat. Tujuh Tangkai Guihua bukan ramuan biasa. Itu merupakan produk sampingan dari proses penyulingan obat yang sangat kompleks, sesuatu yang hampir tak mungkin dibuat tanpa pengetahuan mendalam tentang alkimia. Gurunya sering menggunakannya di ruangan pribadi, bahkan pernah mengajari Wan Xuan mengenali aroma dan sifatnya. Wan Xuan menatap ke arah lantai atas paviliun. Pelayan ini tidak tahu apa-apa. Namun, seseorang di tempat ini pasti tahu dari mana ramuan atau minyak itu berasal. Dan satu-satunya orang yang mungkin memiliki jawabannya adalah pemilik Paviliun Tian Xiang... Sementara ketegangan terjadi di lantai bawah paviliun, seorang pemuda malah terlihat bersandar santai di balok lantai dua Paviliun Tian Xiang. "Orang aneh. Hanya karena aroma bunga, emosinya bisa lepas kendali seperti itu." Sun Liang memutar koin perak di antara jari-jarinya, lalu menghela napas. "Aku punya firasat buruk tentang bocah ini."Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya
Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi
“Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li
“Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo
Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia
Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja







