LOGINTak banyak informasi yang didapatkan Wan Xuan di Paviliun Tian Xiang. Para pengawal dan pelayan di sana mengaku hanya staf biasa yang bekerja demi upah. Mereka bahkan tak mengetahui identitas sebenarnya dari pemilik paviliun.
Wan Xuan tak memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Ia sadar emosinya masih belum sepenuhnya terkendali. Sebelum emosinya kembali lepas kendali, ia memilih pergi dan mencari petunjuk sendiri. Wan Xuan baru beberapa langkah meninggalkan Paviliun Tian Xiang ketika sebuah suara terdengar dari seberang jalan. "Sebaiknya kau menyerah saja. Pemilik Paviliun Tian Xiang bukan orang yang bisa kau sentuh dengan mudah." Suara itu datang dengan sedikit nada meremehkan, disertai humor tipis. Di seberang jalan berdiri seorang pemuda dengan sikap santai yang entah mengapa terasa familiar. Cara berdirinya, senyum malas di wajahnya, bahkan nada bicaranya samar-samar mengingatkan Wan Xuan pada seseorang. "Kenapa tidak?" balasnya pelan. "Aku tak mengenalmu. Namun, kau tampaknya tahu sesuatu." Tatapan datar Wan Xuan tak banyak berubah. Hanya alisnya yang sedikit berkerut. Walau begitu, ia diam-diam menilai pria di seberang jalan. Sun Liang hanya terkekeh getir, merasakan tatapan waspada dari Wan Xuan. Sun Liang mengangkat bahu. “Kenapa aku harus mengatakannya? Bahkan kalau aku tahu, apa urusanku denganmu?” "Kalau begitu, aku akan membayarmu jika kau bicara," ucap Wan Xuan. Sun Liang terkekeh. Tatapannya bahkan tampak semakin santai, seolah-olah tawaran Wan Xuan tadi sama sekali tidak menarik. “Hahaha... Kalau aku tak mau?” jawab Sun Liang cepat. Wan Xuan terdiam. Ia tahu pemuda itu sedang mempermainkannya. Seharusnya ia pergi saja dari sana, mengabaikan pria itu. Namun, informasi tentang pemilik Paviliun Tian Xiang terlalu penting untuk dilepaskan. Tatapannya perlahan menjadi dingin. “Aku tak tahu berapa lama kau mengamatiku. Tapi jangan buang waktuku.” Wan Xuan melangkah mendekat ke seberang jalan. Jaraknya dengan Sun Liang tak sampai sepuluh meter. Setiap pijakan kakinya membawa tekanan tak kasatmata. Setiap langkah Wan Xuan membawa tekanan samar yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat. Namun, Sun Liang tetap berdiri santai. Dalam hati, Sun Liang terkekeh getir. Ia tak percaya dirinya bisa memancing emosi Wan Xuan dengan begitu mudah. "Ya ampun... Sen Tian benar-benar bercanda menyuruhku menjaga orang seperti ini?" batinnya. Memang Sen Tian memintanya menjaga pemuda ini. Kalau begitu, setidaknya ia harus tahu seberapa kuat orang yang akan dijaganya. Seberapa jauh batasan yang ia miliki. "Kalau kau mau tahu sesuatu, tangkap aku kalau bisa!" seru Sun Liang dengan seringai yang agak menyebalkan. Sesaat kemudian, sosoknya melesat tinggi ke udara, melompat dari atap satu bangunan ke bangunan lainnya. Wan Xuan menatapnya dengan wajah muram. Ia tak mengerti motif Sun Liang, tetapi sadar bahwa pria itu sengaja memancingnya. Sesaat kemudian, ia juga melesat ke arah yang sama, bergerak dengan kecepatan kilat yang hanya menyisakan bayangan samar. Sun Liang sedikit menoleh ke belakang. Mengetahui Wan Xuan benar-benar mengejarnya. Saat bayangan Wan Xuan sudah semakin dekat. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. "Huh... Bajingan ini." "Kecepatannya ternyata tidak buruk." Ia segera mempercepat langkah. Sementara Wan Xuan mengejarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya tetap dingin, seolah tidak peduli ke mana pun Sun Liang membawanya. Keduanya melintasi atap-atap bangunan, membuat beberapa penduduk di bawah mendongak karena terkejut. "Berhenti!" Sun Liang justru tertawa. "Kalau aku berhenti, bukankah permainan ini jadi membosankan?" Wan Xuan tidak menjawab. Dalam sekejap, tubuhnya melesat lebih cepat. Sun Liang yang merasakan jarak mereka semakin dekat segera melompat ke atap bangunan yang lebih tinggi. Namun, ketika ia menoleh kembali, Wan Xuan sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya. Senyum Sun Liang langsung membeku. "Heh...?"Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya
Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi
“Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li
“Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo
Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia
Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja







