LOGINEkspresi Sun Liang menegang saat tangan Wan Xuan meraih kerah pakaiannya dari belakang.
Tarikan kuat menghentikan gerakannya yang hendak melompat dan menyeret tubuhnya ke belakang. Sun Liang merasakan tubuhnya terbanting, sementara dunia di matanya seolah berputar. Namun, Sun Liang bukanlah ahli bela diri biasa. Ia segera memutar tubuh di udara, lalu menjejak beberapa kali permukaan atap sebelum akhirnya mendarat dengan seimbang. Wan Xuan menatapnya dengan tajam. Ia sebenarnya tak ingin membiarkan petunjuk berlalu begitu saja. Terlebih kali ini menyangkut kematian gurunya. Dalam jarak kurang dari satu tarikan napas, Wan Xuan sudah melesat semakin dekat dengan Sun Liang. Gerakannya cepat, seperti yang pernah ia tunjukkan kepada Komandan Penjaga Kota Linmeng sebelumnya. "Ack!" Sun Liang tercekat. Ia baru saja mendarat, tetapi ketika menatap ke depan, ia terkejut melihat Wan Xuan sudah berada tepat di hadapannya dengan tinju terayun. Sedikit saja terlambat bereaksi, Sun Liang mungkin sudah merasakan bagaimana wajahnya dihantam tinju itu. Keberuntungan masih berpihak kepadanya. Ia membengkokkan tubuh sedikit ke belakang, lalu memutarnya ke samping. "Sial, dia tak memberiku kesempatan bernapas," batin Sun Liang saat menghindar. Namun, ia tak menyadari bahwa pukulan itu hanyalah tipuan. Serangan sebenarnya baru datang ketika Wan Xuan mengayunkan kakinya dan menendang bagian belakang tumit Sun Liang hingga pria itu kehilangan keseimbangan. Lagi-lagi Sun Liang dibuat terkejut. Keseimbangannya runtuh. Ia terjatuh dan menggelinding di atas atap genting sebelum akhirnya meluncur ke arah tumpukan sampah di belakang bangunan. Brak! Rasa sakit yang menyengat melanda tubuh Sun Liang. Di antara tumpukan sampah itu, tubuhnya tampak tenggelam, hanya tangan dan kakinya yang terlihat di permukaan. "Arg... Bajingan kurang aja—" Kata-katanya terpotong ketika ia membuka mata. Kepalanya menyembul di antara bak-bak sampah kayu seperti kura-kura bermata besar. Pedang yang tak pernah terhunus dari sarungnya kini teracung tepat di depan mata, hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Sun Liang. "Apa lagi yang mau kau sebut?" Suara dingin Wan Xuan akhirnya menggema di antara gang. Tatapannya datar tanpa sedikit pun emosi. "Pilihanmu hanya satu. Bicara." ucapnya sarat ancaman. "Hek! Baik-baik, akan kukatakan apa yang kutahu!" Sun Liang merinding. Ia hanya bisa menelan ludah kering karena tatapan Wan Xuan layaknya tatapan binatang buas berdarah dingin. Saat itu, ia baru menyadari bahwa dirinya telah salah mengambil keputusan. Seharusnya ia tak bercanda sejak awal. Ia harus serius menghadapi Wan Xuan. Namun, semuanya sudah terlambat. Permainannya telah berakhir. Sementara Wan Xuan menarik kembali pedangnya ke balik punggung, Sun Liang akhirnya dapat bernapas lega. Ia segera melompat kecil dan keluar dari tumpukan sampah. "Ya ampun, pakaianku jadi kotor begini." Bahkan ketika Sun Liang mengeluh, Wan Xuan tak peduli. Itu salahnya sendiri karena terlalu banyak bercanda. "Dengar, ya. Kau sebaiknya menyerah mencari tahu sosok pemilik Paviliun Tian Xiang," kata Sun Liang akhirnya. "Kenapa?" Sun Liang menatap Wan Xuan dengan sebelah alis terangkat. Namun, ia tetap menjelaskan dengan patuh. "Meng Xiang. Putri Raja Kota Linmeng." Sun Liang menghela nafas sejenak. "Sekarang kau tahu kenapa aku menyuruhmu berhenti." Sun Liang sudah bersungguh-sungguh memberikan informasi kepada Wan Xuan, bahkan sampai menasihatinya. Bukan karena ia merasa sangat peduli, tetapi ia tak mau repot-repot melindungi seorang pembuat onar. Kalau Wan Xuan tetap mencari masalah, Sun Liang tahu dirinya yang akan kerepotan juga. Karenanya ia harus menghentikan Wan Xuan sebelum terlambat. Wan Xuan terdiam beberapa saat. Ia sudah mendapatkan sedikit informasi. Hanya sedikit. "Dan untuk apa kau memperingatiku? Jangan bilang itu karena kau tertarik kepadaku." Ucapan Wan Xuan terdengar datar tanpa ekspresi. Namun, bagi siapa pun, termasuk Sun Liang, kata-kata itu jelas merupakan ejekan sekaligus penghinaan. Sun Liang langsung terbelalak, hampir tersedak napas sendiri. "Ka-kau... Jangan sembarangan bicara. Siapa yang tertarik padamu? Jangan terlalu percaya diri!" "Oh? Baiklah," balas Wan Xuan. "Ngomong-ngomong, aku harus pergi. Pakaianku kotor gara-gara kau, sial." Sun Liang baru hendak pergi ketika suara Wan Xuan terdengar dari belakang. “Tunggu.” Sun Liang berhenti. “Apa lagi?” “Kau belum menjelaskan kenapa kau begitu mengenal Paviliun Tian Xiang. Aku juga ingin tahu lebih detail tentang mereka.” Sun Liang membatu. Ia baru sadar bahwa Wan Xuan sama sekali tidak peduli dengan peringatannya. Pemuda itu hanya ingin mengetahui apakah Paviliun Tian Xiang menyimpan jejak yang berkaitan dengan kematian gurunya. Dari niat dan nada bicara Wan Xuan, Sun Liang tahu pria itu tengah menuntut jawaban rinci. Namun, seberapa banyak yang boleh ia katakan tanpa membuat dirinya ikut terseret?Beberapa hari kemudian, di kediaman Raja Kota Linmeng.Aula utama kediaman raja kota terasa begitu sunyi. Pilar-pilar besar menopang langit-langit yang dihiasi ukiran rumit, sementara karpet merah membentang dari pintu masuk hingga ke singgasana.Di atas singgasana tersebut, Meng Feiyun duduk dengan punggung tegak.Wajahnya tampak datar, tetapi sorot matanya menyimpan kemarahan yang sulit disembunyikan. Jari-jarinya mengetuk sandaran singgasana secara perlahan, menciptakan bunyi kecil yang justru membuat suasana aula terasa semakin menekan."Bodoh. Benar-benar bodoh."Suaranya tidak keras, tetapi setiap kata terdengar penuh tekanan.Di hadapannya, Hu Huan berdiri dengan kepala tertunduk. Pelayan pribadi itu berusaha mempertahankan sikap tenangnya, meskipun keringat dingin mulai membasahi punggungnya.Meng Feiyun mengangkat pandangan."Mengurus satu orang saja mereka tidak becus. Untuk apa mereka menyebut diri sebagai serikat pembunuh terhebat di dunia bawah jika pekerjaan sesederhana
Pagi perlahan menyingsing di ufuk timur. Cahaya matahari menerobos sela-sela pegunungan, menyinari hutan yang masih diselimuti kabut tipis. Suara burung mulai terdengar dari kejauhan, seolah alam kembali menjalani kehidupannya setelah melewati malam yang penuh pertumpahan darah.Namun, suasana di sekitar kuil terbengkalai masih jauh dari kata damai.Api berkobar di antara reruntuhan bangunan tua, melahap kayu-kayu lapuk dan sisa-sisa benda yang berserakan. Asap hitam mengepul ke udara, membawa bau hangus yang bercampur dengan aroma darah. Beberapa saat lagi, kuil itu mungkin hanya akan menyisakan tumpukan abu dan bara yang perlahan mendingin.Sun Liang duduk bersandar pada sebatang pohon yang nyaris tumbang. Pakaiannya kusut, sementara wajahnya menunjukkan kelelahan setelah pertarungan panjang melawan para anggota Serikat Qianquicin.Ia mengangkat tangan untuk menutupi hidungnya ketika angin membawa bau tak sedap dari arah api."Ugh! Bau daging mereka benar-benar menjijikkan." Sun Lia
Bao Sinqing mulai kehilangan kesabarannya. Pertarungan yang berlangsung hampir satu jam itu sudah cukup menghiburnya, tetapi melihat Wan Xuan masih berusaha bertahan dalam keadaan terluka parah membuatnya merasa bosan. Baginya, pemuda itu sudah tidak memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan.Ia bahkan tidak perlu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengakhiri pertarungan tersebut.Hanya membunuh bocah itu. Setengah dari kekuatanku sudah lebih dari cukup.Bao Sinqing mengangkat tongkat kayu hitam di tangannya. Kristal bulat yang tertanam di ujungnya memancarkan cahaya ungu redup, kemudian berdenyut semakin cepat ketika energi sihir mulai berkumpul.Di belakangnya, tengkorak arwah raksasa membuka rahangnya lebar-lebar. Asap ungu di sekelilingnya bergerak menuju rongga mulut, berkumpul menjadi gumpalan energi yang terus membesar. Dalam beberapa saat, sebuah bola sihir seukuran kepala kerbau telah terbentuk di antara kedua rahangnya.Permukaan bola itu berputar tidak beraturan, mem
Kehancuran yang ditinggalkan oleh serangan Sun Liang membuat suasana di sekitar kuil terbengkalai mendadak sunyi. Debu masih beterbangan di udara, sementara beberapa bongkahan batu yang terlepas dari dinding runtuh berguling di atas tanah. Para anggota Serikat Qianquicin yang tersisa menatap pemandangan tersebut dengan wajah pucat. Tak seorang pun menyangka bahwa pria yang mereka kejar sejak tadi ternyata menyimpan kekuatan mengerikan semacam itu.Sun Liang berdiri di tengah reruntuhan dengan kedua tangan menggantung di sisi tubuhnya. Ia melirik para pengejarnya, lalu menyeringai tipis."Heh! Rasakan itu, bedebah sialan. Kalian sendiri yang memojokkanku. Sekarang, terimalah akibatnya!"Meskipun berkata demikian, Sun Liang tidak langsung menyerang kembali. Ia hanya mengamati keadaan di sekelilingnya, memastikan tidak ada lawan yang berpura-pura tumbang untuk melancarkan serangan mendadak.Sejak awal, ia tidak pernah terbiasa meremehkan lawan, bahkan ketika menghadapi seseorang yang kek
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama."Hati-hati! Jangan biarkan dia menyerang dengan bebas!" seru pemimpin kelompok bertopeng.Ia rupanya tidak berniat membiarkan anak buahnya mengulangi kesalahan yang sama. Beberapa orang segera mundur untuk mengukur jarak, sementara yang lainnya menyebar membentuk formasi penyerbuan.Mereka tidak lagi menyerang secara sembarangan.Dua orang bergerak ke sisi kiri Sun Liang, tiga lainnya mengambil posisi di sebelah kanan, sedangkan sisanya menutup jalan keluar. Dengan susunan tersebut, setiap kali Sun Liang berusaha menghindari satu serangan, ia akan langsung berhadapan dengan serangan berikutnya.Sun Liang mengernyit.Orang-orang ini ternyata cukup pintar."Serang!"Mereka bergerak serempak.Bilah-bilah pedang berkelebat dari berbagai arah. Sun Liang menghindari dua tebasan pertama, kemudian memiringkan tubuh untuk melewati tusukan yang mengincar pinggangnya. Akan tetapi, gerakannya terhambat ketika seorang penyerang muncul dari belakang.Ia
Di sisi lain, Sun Liang bergegas memasuki kedalaman kuil terbengkalai yang terletak tak jauh dari tempat Wan Xuan bertarung melawan Bao Sinqing. Langkahnya melewati tumpukan batu runtuh dan pilar-pilar tua yang sebagian besar telah kehilangan bentuk aslinya. Debu beterbangan setiap kali kakinya menginjak lantai batu yang retak."Ya ampun... orang-orang bodoh ini benar-benar membuatku kesal setengah mati!"Ia melirik ke belakang sambil terus berlari. Wajahnya tampak jengkel, terutama ketika melihat para pengejarnya masih bertahan mengikuti dari belakang.Jarak mereka bahkan kurang dari sepuluh meter.Beberapa sosok bertopeng berlari dengan pedang terhunus, sedangkan yang lainnya bergerak melalui sisi bangunan yang runtuh untuk memotong jalur pelariannya. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Seolah-olah apa pun yang terjadi, mereka harus menangkap Sun Liang malam itu juga."Jangan biarkan dia memasuki kuil terlalu jauh! Cepat cegat dia!"Seruan salah satu sosok bertopeng







