Home / Fantasi / Turun Gunung Memikul Takdir / 8. Menuntut Informasi

Share

8. Menuntut Informasi

Author: Murlox
last update publish date: 2026-08-20 17:55:37

Ekspresi Sun Liang menegang saat tangan Wan Xuan meraih kerah pakaiannya dari belakang.

Tarikan kuat menghentikan gerakannya yang hendak melompat dan menyeret tubuhnya ke belakang.

Sun Liang merasakan tubuhnya terbanting, sementara dunia di matanya seolah berputar.

Namun, Sun Liang bukanlah ahli bela diri biasa. Ia segera memutar tubuh di udara, lalu menjejak beberapa kali permukaan atap sebelum akhirnya mendarat dengan seimbang.

Wan Xuan menatapnya dengan tajam. Ia sebenarnya tak ingin membiarkan petunjuk berlalu begitu saja. Terlebih kali ini menyangkut kematian gurunya.

Dalam jarak kurang dari satu tarikan napas, Wan Xuan sudah melesat semakin dekat dengan Sun Liang. Gerakannya cepat, seperti yang pernah ia tunjukkan kepada Komandan Penjaga Kota Linmeng sebelumnya.

"Ack!" Sun Liang tercekat.

Ia baru saja mendarat, tetapi ketika menatap ke depan, ia terkejut melihat Wan Xuan sudah berada tepat di hadapannya dengan tinju terayun.

Sedikit saja terlambat bereaksi, Sun Liang mungkin sudah merasakan bagaimana wajahnya dihantam tinju itu. Keberuntungan masih berpihak kepadanya. Ia membengkokkan tubuh sedikit ke belakang, lalu memutarnya ke samping.

"Sial, dia tak memberiku kesempatan bernapas," batin Sun Liang saat menghindar.

Namun, ia tak menyadari bahwa pukulan itu hanyalah tipuan. Serangan sebenarnya baru datang ketika Wan Xuan mengayunkan kakinya dan menendang bagian belakang tumit Sun Liang hingga pria itu kehilangan keseimbangan.

Lagi-lagi Sun Liang dibuat terkejut. Keseimbangannya runtuh. Ia terjatuh dan menggelinding di atas atap genting sebelum akhirnya meluncur ke arah tumpukan sampah di belakang bangunan.

Brak!

Rasa sakit yang menyengat melanda tubuh Sun Liang. Di antara tumpukan sampah itu, tubuhnya tampak tenggelam, hanya tangan dan kakinya yang terlihat di permukaan.

"Arg... Bajingan kurang aja—"

Kata-katanya terpotong ketika ia membuka mata. Kepalanya menyembul di antara bak-bak sampah kayu seperti kura-kura bermata besar.

Pedang yang tak pernah terhunus dari sarungnya kini teracung tepat di depan mata, hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Sun Liang.

"Apa lagi yang mau kau sebut?"

Suara dingin Wan Xuan akhirnya menggema di antara gang. Tatapannya datar tanpa sedikit pun emosi.

"Pilihanmu hanya satu. Bicara." ucapnya sarat ancaman.

"Hek! Baik-baik, akan kukatakan apa yang kutahu!"

Sun Liang merinding. Ia hanya bisa menelan ludah kering karena tatapan Wan Xuan layaknya tatapan binatang buas berdarah dingin. Saat itu, ia baru menyadari bahwa dirinya telah salah mengambil keputusan.

Seharusnya ia tak bercanda sejak awal. Ia harus serius menghadapi Wan Xuan. Namun, semuanya sudah terlambat. Permainannya telah berakhir.

Sementara Wan Xuan menarik kembali pedangnya ke balik punggung, Sun Liang akhirnya dapat bernapas lega. Ia segera melompat kecil dan keluar dari tumpukan sampah.

"Ya ampun, pakaianku jadi kotor begini."

Bahkan ketika Sun Liang mengeluh, Wan Xuan tak peduli. Itu salahnya sendiri karena terlalu banyak bercanda.

"Dengar, ya. Kau sebaiknya menyerah mencari tahu sosok pemilik Paviliun Tian Xiang," kata Sun Liang akhirnya.

"Kenapa?"

Sun Liang menatap Wan Xuan dengan sebelah alis terangkat. Namun, ia tetap menjelaskan dengan patuh.

"Meng Xiang. Putri Raja Kota Linmeng."

Sun Liang menghela nafas sejenak.

"Sekarang kau tahu kenapa aku menyuruhmu berhenti."

Sun Liang sudah bersungguh-sungguh memberikan informasi kepada Wan Xuan, bahkan sampai menasihatinya. Bukan karena ia merasa sangat peduli, tetapi ia tak mau repot-repot melindungi seorang pembuat onar.

Kalau Wan Xuan tetap mencari masalah, Sun Liang tahu dirinya yang akan kerepotan juga. Karenanya ia harus menghentikan Wan Xuan sebelum terlambat.

Wan Xuan terdiam beberapa saat. Ia sudah mendapatkan sedikit informasi. Hanya sedikit.

"Dan untuk apa kau memperingatiku? Jangan bilang itu karena kau tertarik kepadaku."

Ucapan Wan Xuan terdengar datar tanpa ekspresi. Namun, bagi siapa pun, termasuk Sun Liang, kata-kata itu jelas merupakan ejekan sekaligus penghinaan.

Sun Liang langsung terbelalak, hampir tersedak napas sendiri.

"Ka-kau... Jangan sembarangan bicara. Siapa yang tertarik padamu? Jangan terlalu percaya diri!"

"Oh? Baiklah," balas Wan Xuan.

"Ngomong-ngomong, aku harus pergi. Pakaianku kotor gara-gara kau, sial."

Sun Liang baru hendak pergi ketika suara Wan Xuan terdengar dari belakang.

“Tunggu.”

Sun Liang berhenti.

“Apa lagi?”

“Kau belum menjelaskan kenapa kau begitu mengenal Paviliun Tian Xiang. Aku juga ingin tahu lebih detail tentang mereka.”

Sun Liang membatu.

Ia baru sadar bahwa Wan Xuan sama sekali tidak peduli dengan peringatannya. Pemuda itu hanya ingin mengetahui apakah Paviliun Tian Xiang menyimpan jejak yang berkaitan dengan kematian gurunya.

Dari niat dan nada bicara Wan Xuan, Sun Liang tahu pria itu tengah menuntut jawaban rinci.

Namun, seberapa banyak yang boleh ia katakan tanpa membuat dirinya ikut terseret?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Turun Gunung Memikul Takdir   17. Bergerak dalam gelap

    Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya

  • Turun Gunung Memikul Takdir   16. Peringatan & Keluhan

    Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi

  • Turun Gunung Memikul Takdir   15. Selamat Malam

    “Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li

  • Turun Gunung Memikul Takdir   14. Tertipu

    “Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo

  • Turun Gunung Memikul Takdir   13. Introgasi

    Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia

  • Turun Gunung Memikul Takdir   12. Berubah Pikiran

    Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status