LOGINSeason 1 : Bab 1 ~ 102 Season 2 : Bab 103 ~ 198 Bonus Chapter : 199 ~ on going ~~~~ Demi keluarga dan balas budi, Lintang Amalthea akhirnya setuju menggantikan posisi saudara perempuann untuk menjadi mempelai wanita dalam pernikahan politik yang saling menguntungkan.
View More|朝倉紗月《あさくらさつき》が玄関の扉を開け、部屋の中がこれまで幾度となく迎えてきた夜と同じように、がらんとして冷え切っているのを目にした瞬間、その瞳に濃い失望がよぎった。
今日もまた、彼は帰ってきていない。
紗月の顔色は病的なほど赤く、目尻は熱を帯びたようにじんと痛み、そこには気づかれないほどかすかな赤みも滲んでいた。
まるで次の瞬間には涙がこぼれ落ちてしまいそうなのに、それでも必死に強がって堪えているかのようだった。
数歩進んだだけで足元から力が抜け、彼女はそのままソファへと崩れ落ちた。戸籍上の夫がまた家に帰ろうともしない――その事実だけではない。
身体にこもる異様な熱もまた、全身をひどく不快にさせ、理性まで押し流してしまいそうだった。
「……慎一」
紗月は恋い慕う相手の名をかすかに口にし、ハンドバッグの中から苦労してスマートフォンを取り出した。
男に電話をかけようとしたその直前、ネットニュースの通知が、十数分前に届いていたことに気づく。
――新進気鋭の若手女優・|綾瀬由衣《あやせゆい》が、前事務所との契約終了を正式発表。ヴァレンティス・プロダクションへの移籍が決定……。
ヴァレンティス・プロダクション。
それは慎一のグループ傘下にある芸能事務所だった。そして綾瀬を獲得した人物など、考えるまでもない。彼女の夫である、あの男しかいない。
込み上げる悔しさと嫉妬に、紗月は一瞬、目の前がくらんだ。それでも感情を押し殺しながら連絡先を開き、彼の番号へ電話をかける。
長い沈黙が続いた。
もうこのまま出ないのではないかと、そう思いかけた頃になって、ようやく通話がつながった。「……何だ」
男の声は冷えきっていて、不機嫌そのものだった。まるで紗月からの電話など、ひどく厄介なものだと言わんばかりに。
「慎一、私……熱があるみたいで……。帰ってきて、そばにいてくれない……?」
慎一の向こう側はひどく騒がしかった。
熱に浮かされた頭でもわかる。煽るような音楽、歓声、そしてすぐ近くから聞こえるいくつもの声。「社長、朝倉社長、一杯どうですか!」
酒場だった。
騒がしい音と人の気配に満ちたその場所で、電話中だと気づいたのか、酒を勧めていた相手がふいに声を潜め、遠慮がちに問いかける。「……奥さまからですか?」
「気にしなくていい」
慎一は鼻で笑うようにそう言った。
奥さま、そんなふうに呼ばれたその一瞬でさえ、彼の声には何の感情も宿っていなかった。紗月は、ずきりと痛みを増していく頭を押さえながら、それでも最後の望みに縋るように、もう一度だけ口を開く。
「慎一、本当に苦しいの……。家には誰もいないし、私、あなたにいてほしくて……」
けれど、そんな必死の助けを求める声に、慎一が同情を示すことはなかった。
ましてや、愛しさなど。結婚して、もうすぐ三年。
結婚記念日を目前にしても、慎一の態度はただ冷え続ける一方で、かつて初めて会った頃に向けられていた、上辺だけの優しさでさえ、今では思い出の中にしか残っていない。紗月がここまで頭を下げ、帰ってきてほしいと願っても、彼は眉をひそめ、ただひどく冷たく言い放つだけだった。
「また何を企んでる?」
たったそれだけの言葉で、紗月の心は容赦なく踏み潰され、そのまま地獄の底へと突き落とされた。
呼吸すらできないほどの痛みだけが胸に残る。“Pak Raga.” Maha segera menyusul Raga, ketika rapat umum yang dihadiri para direktur dan manajer perusahaan selesai dilaksanakan. Ia mensejajarkan langkahnya dengan mudah, saat Raga memperlambat langkahnya. “Bisa kita bicara?” Raga menoleh dan tetap berjalan menuju ruangannya. Ia mengangguk tegas, sembari berkata. “Silakan.” Maha balas mengangguk dan mereka memasuki ruangan Raga dalam ketenangan. Sesaat sebelum masuk, Raga meminta sekretarisnya untuk menghandle semua hal karena ia akan bicara empat mata dengan Maha. “Ada masalah?” tanya Raga tetap bersikap profesional, meskipun ia sudah muak melihat Maha berada di kantor. Namun, sebisa mungkin ia tidak mencampuradukkan hal pribadi, dengan semua hal yang berada di kantor. Maha menghela panjang, lalu duduk pada sofa tunggal yang berhadapan lurus dengan meja kerja Raga. “Seperti yang kita tahu … penetapan hasil pemilu sudah diputuskan MK dan kita tinggal menunggu agenda pengucapan sumpah dan janji—” “Bisa kita langsung ke inti dari p
“A-aku minta maaf, Lin.” Maha dengan segera menghampiri Lintang yang baru saja keluar dari ruang kesehatan. Ruang yang ada di lantai satu tersebut, memang dipersiapkan untuk jalan sehat pagi ini. Sudah ada seorang dokter yang bertugas dan beberapa perawat yang dengan sigap membantu jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. “Mana nggak papa, kan?” Belum sempat Lintang menjawab, pintu ruangan yang biasa digunakan sebagai tempat meeting terbuka. Raga keluar dengan menggendong Mana, yang sudah tidak lagi menangis keras akibat terjatuh dari tangga. Namun, wajah menggemaskan itu masih terlihat sembab dan sesenggukan sambil memeluk sang papa. Di saat Maha dan Biya berdebat, bocah gembul itu ternyata mencoba menaiki tangga kayu yang menuju panggung. Padahal, Maha sedikit lagi mencapai tubuh Mana saat ia melihatnya, tetapi, bocah itu lebih dulu terjatuh, sehingga membuat kehebohan. Bagaimana tidak heboh, jika yang terjatuh adalah putra direktur utama, sekaligus cucu dari pemilik perusahaan.
“Aku sebenarnya pengen banget ndepak Maha dari perusahaan.” Raga menyerahkan Mana pada Biya, yang baru saja menghampirinya. Bocah yang baru bisa berjalan itu, langsung mengulurkan kedua tangan dan minta digendong oleh tante yang selalu memanjakannya. “Tapi, sayangnya dia masih punya saham di sini dan sepertinya Maha nggak punya niat buat jual sahamnya sama siapa pun.” “Jangan lupa, tujuan dia masuk ke perusahaan ini karena papanya juga mau nyalon.” Meskipun bobot Mana semakin bertambah, tetapi Biya tidak bisa untuk tidak menggendong keponakan yang menggemaskan itu. Ia melirik sebentar pada Lintang yang baru keluar dari mobil, lalu kembali fokus pada Raga. “Sama seperti pak Ario, pak Anjas juga butuh media buat pencitraan. Mana sekarang lagi musim-musimnya, kan? Coba kita lihat aja sampai pileg nanti, apa Maha masih mau netap di sini.” “Bapak sama ibu di mana, Bi?” tanya Lintang sudah berusaha untuk berdamai dengan saudara perempuannya. Hubungan mereka memang tidak sedekat layaknya Li
“Ini bukan tempat yang cocok buat malam amal.” Fayra menyilang kaki, sekaligus bersedekap menatap gedung restoran yang ada di hadapannya. Tidak berniat keluar, kendati sopir sang papa sudah membukakan pintu mobil untuknya. “Papa pasti mau ketemu teman lama Papa yang bawa anak, terus mau ngenalin aku sama dia. Iya, kan?” “Fay—” “Apa Papa lupa, aku ini sudah punya pacar.” Fayra menyela dan tetap dalam keadaan tenang. “Apa Papa lupa sama Fajar? Atau, Papa nggak setuju sama dia, karena dia bukan berasal dari … keluarga kayak mas Raga, atau Nino? Begitu?” Eko menarik napas pelan, sembari mengeluarkan ponsel dan segera menghubungi seseorang. Ia masih berada di samping Fayra, tidak akan keluar sampai putrinya itu keluar lebih dulu. “Halo, Bik, tolong bereskan barang-barang Fayra dan langsung bakar malam—” “Papaaa.” Fayar bergerak cepat dan merampas ponsel sang papa, lalu berbicara dengan seseorang yang baru saja dihubungi Eko. “Bik, Bik, barangku jangan diapa-apain. Papa cuma becanda. Ja
Farya buru-buru keluar dari mobilnya, ketika melihat Fajar baru saja melewati pintu kantor. Pria itu sudah mengenakan jaket kulit, dan membawa helm full face di tangan kirinya. Sungguh terlihat berbeda, dengan Fajar yang ditemuinya saat di restoran dan siang tadi ketika mereka makan bersama Eko. “J
“Ehm.” Tati menarik kursi di meja makan, yang berseberangan dengan Fajar. Putranya itu tengah sarapan dengan lahap seorang diri, karena Fikri sudah lebih dulu makan, sementara Tati tidak berselera sejak pertemuannya dengan Eko kemarin siang. “Kamu … minggu-minggu ini ada rencana ke luar kota, nggak,
“Ayo turun.” Safir memberi perintah pada putrinya, yang hari ini tepat berusia satu tahun. Di depan mereka, sudah ada satu buah meja panjang yang berisi dua buah cake ulang tahun, dengan lilin angka yang sama. Fira menggeleng, sembari mengeratkan pelukannya pada leher Safir. Bibir merah nan mungil
“Maaf, aku tadi pagi nggak ikut jemput ke rumah sakit.” Lintang meletakkan Mana di tempat tidur, tepat di samping Anwar yang sudah pulang dari rumah sakit. Kondisi Anwar sudah kembali membaik, sehingga bisa pulang tetapi harus tetap melakukan kontrol rutin. Lintang datang tanpa Raga, karena sang sua






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore