Share

138. DILEMA ASMARA

Penulis: vitafajar
last update Tanggal publikasi: 2026-03-15 21:51:12

Cahaya matahari yang menyelinap dari celah gorden terasa begitu menyengat saat Arini perlahan membuka matanya guna menyambut hari yang baru. Ia mencoba menggerakkan bahunya, namun seketika rasa pegal yang luar biasa menjalar ke seluruh persendian hingga membuat wanita itu mengerang pelan sembari menarik selimut lebih tinggi.

Pikirannya melayang pada kejadian dini hari tadi, sebuah kenangan yang membuatnya antara ingin tersenyum sekaligus merasa kesal luar biasa. Bagaimana tidak, saat ia baru sa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   156. ASAL-USUL ALVARO

    Tak lama kemudian, Arini menyandarkan punggungnya ke dinding koridor yang terasa sangat dingin, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang menyedihkan. "Selain itu, aku juga nggak mau jadi penghalang besar di antara kamu dan keluargamu sendiri, Kak," ucapnya sembari terisak pelan."Kamu itu anggota keluarga Wijaya. Masa depanmu ada di sana—"“Masa depanku nggak ditentukan oleh keluarga Wijaya. Aku sendiri yang menentukannya. Lagipula, Wijaya sudah memiliki pangerannya sendiri. Aku hanya anak kedua dari seorang wanita yang merebut suami orang. Aku sama sekali nggak layak!" potong Alvaro dengan sangat cepat.Suasana di koridor apartemen itu mendadak membeku seiring dengan kata-kata Alvaro yang menggantung di udara malam yang sunyi. Arini tertegun mematung, tangannya yang tadi melingkar erat di pinggang kokoh Alvaro perlahan-lahan mulai melemas karena syok yang menghantam kesadarannya.Ia menatap lekat wajah Alvaro yang kini tampak sangat kelam, di mana rahang pria itu mengeras den

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   155. MENGULANG KESALAHAN

    Pintu apartemen yang setengah terbuka itu seolah menjadi gerbang menuju sebuah perpisahan yang sangat dingin dan menyakitkan bagi mereka berdua. Namun, dekapan Alvaro di pinggang Arini justru terasa begitu panas, seolah pria itu sedang menyalurkan seluruh sisa hidupnya agar wanita itu tidak melangkah keluar.Alvaro memutar tubuh Arini secara perlahan namun pasti, memaksanya untuk saling berhadapan di dalam ruang tamu yang kini terasa remang-remang dan mencekam. Ia menatap sebuah koper kecil yang berdiri di samping kaki Arini dengan tatapan benci, seolah benda mati itu adalah musuh nyata yang ingin merenggut dunianya."Rin, aku mohon banget sama kamu. Letakkan kopermu sekarang juga," bujuk Alvaro dengan suara bariton yang terdengar sangat serak dan bergetar."Kita bicara baik-baik dulu, ya? Jangan langsung ambil keputusan kayak gini," lanjutnya lagi sembari menatap dalam ke arah netra Arini yang nampak sembap akibat tangis.Arini menggelengkan kepalanya dengan lemah, ia mencoba melepas

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   154. PELARIAN YANG TERTAHAN

    Kegelapan malam di dalam kamar tidur itu terasa begitu pekat, seolah-olah waktu telah berhenti berputar untuk menyiksa Arini dalam kesunyian. Semalaman, Arini tidak bisa memejamkan mata sedikit pun, kelopak matanya terasa berat namun pikirannya terus terjaga, memutar ulang setiap inci penghinaan Sofia Wijaya.Setiap detak jantungnya terasa seperti ketukan palu yang menghantam ulu hati, menyisakan rasa sesak yang kian mencekik pernapasan. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, membiarkan air mata yang kering meninggalkan jejak perih di pipinya yang masih menyimpan bekas tamparan.Di balik pintu kayu yang mengunci dirinya, suasana di luar kamar sangat sunyi, tidak terdengar suara langkah kaki atau gumaman apa pun. Ketidakpastian itu justru membuat batin Arini kian bergejolak, menciptakan spekulasi-spekulasi menyakitkan tentang posisi dirinya di hidup Alvaro."Aku ini siapa bagi keluarga mereka?" bisik Arini lirih, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan fajar yang mul

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   153. MENUTUP RAPAT HATI

    Lampu lorong apartemen yang temaram menyambut kedatangan Arini dengan keheningan yang mencekam. Ia memasukkan kunci kartu ke dalam lubang pintu dengan tangan yang masih gemetar hebat, sisa dari ketegangan di lobi hotel tadi.Begitu pintu tertutup dengan bunyi klik yang solid, Arini menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin. Kesunyian ruangan itu seolah menjadi ruang hampa yang menghisap seluruh oksigen di sekitarnya hingga dadanya terasa sesak.Di sana, di tengah kegelapan ruang tamu yang belum sempat ia nyalakan lampunya, Arini sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga di depan Sofia dan Alvaro akhirnya pecah, memenuhi sudut-sudut ruangan yang sepi.Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut, namun rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan luka batin yang baru saja ditorehkan oleh Sofia Wijaya. Setiap kata penghinaan wanita itu terus bergema di kepalanya, berputar-putar layaknya kaset rusak yang menyiks

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   152. TAMPARAN DAN HARGA DIRI

    Arini merasakan dadanya bergemuruh hebat seolah ada ombak besar yang menghantam dinding pertahanan batinnya secara bertubi-tubi. Namun, ia segera memaksa jemarinya yang sempat mengepal sangat erat di bawah meja jati tersebut untuk perlahan-lahan mulai melemas.Ia menarik napas panjang, membiarkan pasokan oksigen yang murni itu mendinginkan suhu kepalanya yang sempat mendidih akibat hinaan sistematis dari Sofia Wijaya. Arini menyadari bahwa kemarahan yang meledak-ledak hanya akan menjadi bumerang yang merugikan posisi tawarnya di depan wanita penguasa ini.Ia tidak akan membiarkan dirinya terjatuh ke dalam amarah yang rendah dan tidak terkendali, karena hal itu hanya akan membuktikan tuduhan Sofia selama ini. Arini menolak untuk terlihat seperti wanita murahan yang tidak layak berada di lingkungan eksklusif yang sangat diagungkan oleh keluarga besar Wijaya.Arini mengangkat dagunya dengan sangat an

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   151. RACUN DALAM CAWAN PORSELEN

    Sisa saus di piring telah mengering, menandakan jamuan makan malam yang tenang itu telah mencapai puncaknya. Alvaro meletakkan serbetnya di atas meja dengan gerakan perlahan, lalu menatap Arini dengan binar mata yang dipenuhi kasih sayang sekaligus kekhawatiran yang samar."Gimana, Rin? Apa ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi malam ini?" tanya Alvaro dengan suara baritonnya yang menyejukkan. "Mungkin kita bisa sekadar berkendara keliling kota untuk melihat lampu-lampu?"Arini memberikan senyum tipis, namun matanya tidak bisa menyembunyikan gurat kelelahan yang mulai menjalar di balik kelopak matanya. "Aku rasa aku sudah kenyang dan sangat lelah, Kak. Aku cuma ingin pulang dan mengistirahatkan pikiranku sebentar."Alvaro mengangguk paham, ia segera bangkit dan meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi. "Tentu. Kamu tunggu aja di lobi bawah ya, biar aku yang ambil mobil ke parkiran supaya kamu nggak perlu jalan jauh."Arini menurutinya tanpa memba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status