Beranda / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 60. PENGUSIRAN PARA PENGKHIANAT

Share

60. PENGUSIRAN PARA PENGKHIANAT

Penulis: vitafajar
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-21 14:05:25

"Minggir kamu, babu!" Dewi mencoba mendorong Mbak Sumi yang berdiri menghalanginya. "Jangan berani-berani menyentuh tas ini dengan tangan kotormu!"

"Maaf, Nona," petugas pengadilan itu mencengkeram tangan Dewi dengan kuat hingga ia meringis. "Seluruh barang mewah, perhiasan, dan aset bergerak di rumah ini telah masuk dalam daftar sitaan sebagai aset milik Nyonya Arini. Anda tidak diizinkan membawa apa pun kecuali pakaian pribadi yang Anda kenakan."

"Nggak mungkin! Ini berlianku! Mas Adrian yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   100. KEMARAHAN KELUARGA

    Suasana di kediaman utama keluarga Wijaya pagi itu terasa mencekam, seolah oksigen di dalam ruangan luas itu telah tersedot habis oleh kemarahan yang membara. Di atas meja marmer yang dingin, sang ayah membanting koran pagi dengan tenaga yang cukup kuat hingga menciptakan suara debuman yang menggema ke seluruh penjuru aula.Berita di halaman utama menampilkan foto Alvaro yang sedang melangkah keluar dari pengadilan dengan wajah tenang. Di bawah tajuk berita itu, terpampang kemenangan gemilang kasus komersial dan progres gugatannya yang mematikan."Dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya! Berani-beraninya dia memamerkan kemenangan di saat kita sedang mencoba memberinya pelajaran!" geram pria paruh baya itu dengan napas memburu.Sama halnya dengan kakek Alvaro, pria tua yang duduk di kursi kebesarannya itu hanya terdiam dengan rahang mengeras. Matanya menatap kosong ke arah koran tersebut. Beliau merasa otoritas absolut keluarga Wijaya yang telah dibangun puluhan tahun kini diinj

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   99. KEMENANGAN MUTLAK ALVARO WIJAYA

    Lastri menyandarkan punggungnya ke kursi besi yang dingin, wajahnya yang biasa dipenuhi riasan mahal kini tampak pucat dan kuyu. Ia menatap pengacaranya dengan tatapan putus asa, seolah pria di hadapannya itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra masalah yang sedang menenggelamkannya."Sebutkan berapa pun biayanya, saya nggak peduli. Gimana caranya supaya saya sama anak saya bisa benar-benar bebas dari jeratan hukum sialan ini?" tanya Lastri dengan suara gemetar yang berusaha ia buat tetap angkuh.Pengacara tersebut menghela napas panjang sembari merapikan tumpukan berkas yang semakin tebal di atas meja. Ia menggelengkan kepala perlahan, memberikan kenyataan pahit yang sejak tadi coba ia sampaikan melalui bahasa hukum yang rumit."Jujur saja, Ibu Lastri, situasinya sangat sulit bagi kita sekarang. Bukti-bukti yang dikumpulkan tim Alvaro Wijaya terlalu solid, mulai dari rekaman CCTV, audit keuangan, sampai keterangan saksi kunci," ujar sang pengacara dengan nada rendah.Adria

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   98. DARI KEBANGGAAN MENJADI PECUNDANG

    Alvaro menggelengkan kepala perlahan, mencoba mengusir sesak yang sempat mampir di dadanya setelah Arini melangkah pergi. Ia tahu, menjaga jarak adalah satu-satunya cara untuk mematikan amunisi fitnah yang lagi dikumpulkan Adrian, namun membiarkan Arini benar-benar sendirian adalah hal yang mustahil baginya.Di dalam kesunyian kabin mobil, Alvaro mengambil ponsel dan menekan sebuah nomor yang hanya ia hubungi untuk urusan paling krusial. Tak butuh waktu lama sampai suara berat di seberang sana menyahut, menunggu instruksi dengan kesigapan profesional."Pantau apartemen Arini dua puluh empat jam mulai detik ini. Perketat penjagaan, pastikan nggak ada satu pun orang asing, termasuk Lastri atau wartawan, yang bisa melewati lobi tanpa sepengetahuan saya!" perintah Alvaro. Nada suaranya dingin dan tak terbantahkan.Ia terdiam sejenak, menatap menatap foto Arini. "Jangan sampai dia merasa terganggu atau sadar lagi diikuti. Cukup pastikan dia aman, dan lapor ke saya setiap tiga jam."Setelah

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   97. PEMBERSIHAN JEJAK

    Tanpa memedulikan teriakan terakhir Adrian, Alvaro berdiri dengan tenang dan merapikan kancing jasnya. Baginya, suara pria di hadapannya hanyalah kebisingan latar yang tidak berarti. Ia segera memberikan isyarat kepada Arini untuk bangkit, memastikan tubuh tegapnya menjadi penghalang alami agar Adrian tidak bisa mendekati wanita itu lagi."Ayo, Rin. Kita nggak perlu buang energi lebih banyak buat hadapi orang yang lagi kehilangan kendali diri sendiri," bisik Alvaro. Nada suaranya terdengar sangat menenangkan di telinga Arini.Sambil menggenggam erat tali tasnya, Arini melangkah keluar dari ruang mediasi tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Ia meninggalkan Adrian yang masih bersitegang dengan kuasa hukumnya sendiri. Arini merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat karena setidaknya, untuk hari ini, konfrontasi yang menguras batin itu telah berakhir.Tak lama kemudian, pintu jati ruang sidang tertutup rapat. Di dalam sana, Adrian terduduk lesu sembari meratapi kenyataan bahwa semua

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   96. FITNAH DI DEPAN HAKIM

    Begitu tombol putar ditekan, suara yang muncul dari sana seketika membekukan atmosfer, membuat napas semua orang di ruangan itu tertahan. “Mas ... Mas Adrian, tolong!” suara Arini di rekaman itu terdengar sangat panik dan penuh isak tangis. “Aku kecelakaan, Mas! Ada mobil yang menabrakku dan aku keluar jalur ... tolong aku, Mas. Kepalaku pusing sekali, aku nggak bisa buka pintunya!”Keheningan sesaat terjadi di seberang telepon, sebelum suara Adrian terdengar, sangat jernih namun begitu dingin dan penuh rasa terganggu. “Arini! Berhenti bersandiwara! Aku tahu kamu cuma mau ganggu waktu pribadiku, kan?”“Nggak, Mas! Aku beneran kecelakaan di jalan tol arah rumah kita ... mobilnya kabur ... Mas, perutku sakit sekali ... tolong ...” rintih Arini di dalam rekaman tersebut, suaranya semakin mengecil karena menahan rasa sakit yang luar biasa.Tiba-tiba, suara manja Dewi terdengar di latar belakang telepon Adrian. “Mas, siapa itu? Aku pusing banget, Mas. Nggak bisa tidur kalau denger suara.”

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   95. BUKTI PERSELINGKUHAN

    Arini mengangguk pelan. Ia merasa kekuatannya kembali penuh hanya dengan berdiri di samping pria yang rela kehilangan segalanya demi dirinya. "Aku siap, Kak. Apa pun yang terjadi di dalam sana, aku nggak akan mundur lagi."Sama halnya dengan Arini, Alvaro pun langsung memimpin langkah menuju ruang sidang utama untuk memulai agenda mediasi perceraian yang telah lama dinantikan. Ia menempatkan diri sedikit di depan Arini, secara fisik menjadi tameng yang memisahkan wanita itu dari sisa-sisa tatapan penasaran orang-orang di koridor.Begitu pintu ganda dibuka oleh petugas, hawa dingin dari AC langsung menyapu wajah mereka, kontras dengan suasana panas di luar tadi. Di dalam ruangan yang didominasi unsur kayu tersebut, suasana mendadak sunyi, hanya menyisakan gema langkah kaki mereka yang beradu dengan lantai granit.Arini menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantung saat melihat Adrian sudah duduk di kursi pemohon dengan wajah kaku. Di kursi penonton, Lastri duduk dengan gay

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status