Mag-log inPERHATIAN Dark Romance Adult Mengandung Adegan Dewasa Sejak pertama kali melihat Selena, Matthias merasa ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Tak peduli seberapa keras dia berusaha, matanya selalu tertuju pada sosok Selena. Entah itu saat dia melihatnya sebagai bayi yang lucu, seorang anak kecil periang, gadis remaja yang penuh semangat, atau kini sebagai wanita dewasa yang menawan. Matthias sudah melakukan segala cara untuk meredamkan ketertarikannya yang tidak normal pada Selena. Sampai akhirnya, dia tidak bisa menghentikan dirinya lagi ketika keinginan untuk mengikat wanita itu dan menjadikan miliknya semakin kuat dan tidak bisa tertahankan. Matthias mendambakan Selena, nona muda sempurna yang tak mengenal bahayanya dunia # Sangat disarankan membaca Series I : Wanita Incaran Sang Billionaire
view more“Is this actually me?” Anastasia said as she stared into the mirror. While her fingers moved slowly across her left cheek. Her skin felt so smooth and perfect under her touch. “So this is exactly where I had that ugly scar before.” This has been what she's being doing since she had a successful surgery. Whenever Anastasia wants to go out, she would stare at the mirror for long.
She kept caressing the spot, gentle and slow, like she was scared it might come back if she pressed it too hard. A soft giggle escaped her lips. “It just looks like I never had a scar there before. Like it was all a bad dream, that I was having for long.” she sighed.
For a moment, she smiled at the woman looking back at her. The new her.
Elegant.
Beautiful.
Strong.
But then something sharp hit inside her chest. She staggered back a step and grabbed the edge of the dresser to steady herself. That pain again. It had never left her, not even for one single day in the past year.
“Nathan Storm,” she whispered, and the name tasted like poison on her tongue. “That man who saw me as nothing but filth. That man that saw me as disaster.....”
Her heart started pounding hard. Memories came rushing in, one after another, until her eyes blurred with tears. She could hear his voice so clearly, like he was standing right behind her in this fancy hotel room.
“I can give you what no other man can. Let’s meet.”
That message alone had changed everything. Anastasia closed her eyes so tight. She remembered the day she first saw him properly at university. He had come as one of the sponsors on her graduation day. Their eyes locked for just a few seconds across the crowded hall, and her stomach had flipped like a silly schoolgirl. From that day, she carried him in her heart quietly. Secretly. A man like Nathan Storm noticing a girl like her? It felt impossible.
When his message came after her father died, she thought maybe, just maybe, he saw something in her too.
“I was so stupid,” she said out loud to the mirror. Her voice cracked. “I ran to him that night like a fool in love. Even when I knew it was probably all business. Even though I knew he needed my father's name to get to the top but I still went. Because I loved him.... Because I loved you Nathan..... God help me, I loved that cold bastard for years.”
She wiped her eyes roughly, but the tears kept coming.
That night. In his hotel. The way he touched her like she was the only woman in the world. For those few hours, she felt beautiful. Desired. Whole. The scar did not matter. Nothing mattered except his hands and his eyes on her.
Then morning came.
Anastasia straightened up and looked straight into her own eyes in the mirror. She forced herself to remember every cruel word.
“You remember what he said, don’t you, Anastasia?” she asked herself. “Say it out loud. Face it.”
She took a deep breath and spoke in a low, bitter voice, repeating his words as close as she could remember.
“‘Now I do not want to see you anywhere near me or my business. If I do, you will forget you ever had a half-flawless face, because I will see to it that your whole face is cut to pieces.’”
The words still cut deep. Anastasia slammed her hand on the dresser. “He called me ugly. After everything. After I gave him my body and my trust. He looked me dead in the eyes and threw me away like trash.”
Fresh tears rolled down her smooth cheeks. She did not wipe them this time. Let them fall. They were fuel now.
“My father had just died few months,” she said, her voice shaking with anger. “I was alone. Scared. The human wolves were already circling Vale Empire, trying to tear apart everything my father built. And Nathan? He offered protection. One night. One contract. I signed it because I thought he cared even a little. But he used me. He used my love against me.”
She laughed, but there was no joy in it. It was a dark, broken sound.
“You really thought you could break me, Nathan? You thought throwing those words at me would finish me off?”
Anastasia stepped closer to the mirror. Her reflection stared back with fire in her eyes.
“My name is Anastasia Vale,” she said slowly, each word very heavy with purpose. “My father ruled his empire since he was young. He built it with his own hands, his own sweat, his own blood. He’s gone now, but I am still here. And I am my father’s daughter.”
She paused, fighting the sob that wanted to come out when she thought of her dad.
“I will not cower anymore because of how small and worthless I felt back then. No. Vale Empire will stand tall again. Taller than before. And you, Nathan Storm…”
Her voice dropped to a dangerous whisper as she pointed at the mirror like she was pointing right at him.
“I will make sure I strip you of everything my father’s Empire has given you so far. You will cower and beg me, Nathan Storm..... You should watch and see, Nathan.”
Just then, her phone buzzed on the dresser. The screen lit up with a name that made her blood run cold.
Nathan Storm.
One new message.
Selena berdiri di depan ruang ganti, tangannya masih terlipat di dada. Ia bisa mendengar Matthias bergerak di dalam, mungkin sedang mengganti pakaiannya.“Matthias?” suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.Dari dalam terdengar suara Matthias. “Hm?”Selena menekan senyumannya. “Aku masuk.”Ia tidak menunggu jawaban sebelum membuka pintu dan menyelinap masuk.Matthias, yang hanya mengenakan kemeja putih yang belum dikancingkan sepenuhnya, menatapnya dengan satu alis terangkat. “Tidak sabar melihatku, huh?”Selena tidak menggubris godaannya. Ia melangkah mendekat dan dengan santai melingkarkan dasi di leher Matthias, menariknya sedikit hingga wajah mereka lebih dekat.Matthias tampak sedikit terkejut, tapi kemudian seringai itu kembali muncul. “Oh? Sekarang kau ingin membantuku berpakaian?”Selena tersenyum manis, tapi matanya penuh niat jahat. “Tentu saja&rd
Pernikahan itu berjalan begitu cepat—tanpa pidato panjang, tanpa perayaan meriah, hanya sumpah yang diucapkan di bawah tekanan waktu dan emosi yang masih menggantung.Matthias tidak memberi kesempatan pada siapa pun untuk menunda lebih lama. Begitu mereka berdiri di altar, suaranya tegas saat mengucapkan janji pernikahan, matanya tak sekalipun beralih dari Selena.“Dengan ini, kalian resmi menjadi suami istri”Matthias tidak menunggu aba-aba untuk mencium Selena. Bibirnya langsung menekan bibir Selena, mendominasi, menegaskan kepemilikannya di depan semua orang yang hadir.Sorakan kecil terdengar dari beberapa tamu, tetapi Matthias tidak peduli. Dia hanya menarik Selena lebih dekat, menyalurkan emosi yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.Begitu mereka masuk ke dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka. Matthias duduk di sampingnya, tangannya tidak pernah lepas dari tubuh Selena—entah menggenggam jemarinya atau sek
Selena menatap dirinya di cermin, jantungnya berdebar tidak karuan.Gaun putih itu terasa begitu indah di tubuhnya, tetapi berat di hatinya. Bukan karena dia tidak ingin pernikahan ini terjadi, tetapi karena semuanya masih terasa seperti mimpi yang belum bisa ia pahami sepenuhnya.Pintu ruang rias terbuka, dan Lumia masuk dengan senyum lembut."Sayang..." suara ibunya penuh kasih, tetapi ada sedikit kegelisahan di dalamnya. "Sudah waktunya."Selena menelan ludah, mencoba mengatur emosinya."Kau baik-baik saja?" tanya Lumia, mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari putrinya.Selena menatap tangan mereka yang bertaut, lalu mengangguk pelan. "Aku... aku tidak tahu, Mom."Lumia tersenyum kecil. "Pernikahan tidak pernah mudah, Selena. Tapi yang perlu kau tanyakan pada dirimu sendiri hanyalah satu hal—apakah kau ingin hidup tanpanya?"Selena mengangkat wajahnya, menatap bayangannya sendiri di cermin.Apakah dia bisa h
Kesalahan Dylan adalah tak mengenalkan dunia mereka pada putrinyaKesalahan Lumia adalah tak memberitahu identitasnya pada SelenaDan kesalahan Matthias adalah melecehkannya bahkan mengenalkan Selena pada dunia dengan cara yang keliru.Selena seharusnya tahu sejak awal.Seharusnya dia mengerti bahwa dunia tempatnya hidup bukanlah dunia normal.Dunia mereka gelap. Kotor. Berdarah.Tidak ada keadilan di sini, hanya kekuasaan dan kelangsungan hidup.Tapi Dylan ingin melindunginya.Lumia ingin menjaganya.Dan Matthias... Matthias ingin memilikinya.Selama ini, semua orang mengambil keputusan untuknya. Mereka membungkusnya dalam kebohongan manis, berpikir itu akan membuatnya aman. Tapi justru itu yang membuatnya semakin rapuh.Selena menatap Matthias yang masih memeluknya erat di dapur.Pria itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.Dan pada saat yang sama, satu-satunya tempat dia bisa berpulang."Matthias" gumamnya pelan."Hm?""Aku ingin mati saja..."Matthias membeku.Tubuhnya yang
Sebulan kemudian....Monarki kembali berada di bawah kepemimpinan Leonardo, dan kartel Oletros kembali ke puncak kejayaannya. Seolah semuanya telah kembali seperti semula—stabil, terkendali. Namun, ada satu hal yang masih menggantung di udara: pria yang mengincar Selena masih belum d
Delusional Perceptive Syndrome.Mata Selena terpaku pada tulisan itu. Diagnosis yang mengubah segalanya."Aku sudah gila?" pikirnya.Matthias duduk di sofa, mengamatinya dalam diam. Ia tidak memaksanya bicara, tidak menuntut jawaban. Ia hanya menunggu Selena melakukan sesuatu
“Dunia ini jauh lebih gelap dari yang kau kira, dan kau berada tepat di tengah-tengahnya, Princess...” Matthias mengusap pipi Selena dengan lembut “Mamaku adalah petinggi CIA dan Mommymu salah satu bagian penting dari FBI”Ucapan Matthias membuat Selena berpikir ker
“Daddy akan baik-baik saja, Mom” Selena menenangkan Lumia, meskipun di dalam hatinya sendiri ada kekhawatiran yang tak terucapkan.Lumia mencoba tersenyum, meski jelas terlihat bahwa hatinya sedang diliputi kegelisahan. Ia meremas jemari Selena dengan erat, seolah mencari












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore