เข้าสู่ระบบSembilan bulan berlalu sejak tangis penyesalan dan pengampunan bergema di lereng Gunung Lawu. Waktu berjalan seperti air yang mengalir perlahan, mengikis satu per satu batuan tajam trauma yang selama ini menyumbat aliran kebahagiaan di antara Liam dan Rosa.Segala bentuk kemewahan palsu yang dulu menjadi pemicu petaka telah mereka tanggalkan tanpa sisa. Rumah utama yang penuh kenangan pahit, saham-saham warisan yang tercemar sengketa, hingga posisi mentereng Liam di ibu kota, semuanya telah dilepaskan dan dialihkan untuk mendanai panti asuhan serta yayasan sosial korban kecelakaan kerja.Kini, mereka berada di sebuah kota yang jauh lebih tenang, di pinggiran Jogjakarta, tempat di mana langit sore selalu berwarna jingga hangat tanpa sekat kepulan polusi.Liam membangun kembali hidupnya dari titik paling dasar. Tidak ada lagi setelan jas mewah seharga puluhan juta atau ratusan karyawan yang membungkuk hormat. Pria tegap itu kini hanya memimpin sebuah perusahaan kontraktor lokal kecil-ke
Dia mencoba mengangkat tangan kirinya yang tertancap jarum infus, memberikan isyarat dengan gerakan lemah agar Rosa mendekat ke arahnya. Liam menoleh ke belakang, menatap Rosa dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. Ada permohonan yang tak terucap dari mata Liam, sebuah permohonan dari seorang anak yang sedang menyaksikan ibunya sekarat, meminta agar sang istri sudi memberikan secercah kebaikan di ujung jalan kematian ini. Rosa menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara kamar yang dingin, lalu mengembuskannya dengan sangat perlahan untuk menguasai gejolak emosi di dalam dadanya. Dia melangkah maju dengan langkah kaki yang teratur dan tegar, memutari ranjang, hingga kini dia berdiri tepat di sisi lain tempat tidur, berhadapan langsung dengan ibu mertuanya. Begitu Rosa berada cukup dekat, Bu Diana dengan gerakan yang tergesa-gesa langsung meraih jemari tangan kanan Rosa. Cengkeraman tangan wanita tua itu terasa dingin namun dipenuhi oleh keputusasaan yang luar
Perjalanan darat menembus pekatnya malam menuju lereng Gunung Lawu terasa bagai sebuah migrasi panjang tanpa akhir. Di dalam kabin mobil yang kedap, kesunyian bergulir di antara deru mesin yang konstan dan sapuan lampu sorot yang membelah jalanan aspal berkelok-kelok. Di kanan dan kiri jalan, siluet pohon-pohon jati dan pinus yang rapat tampak seperti barisan raksasa hitam yang membisu, menyaksikan pelarian sebuah keluarga yang sedang dikejar oleh waktu. Liam memfokuskan pandangannya pada marka jalan di depan. Kedua tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang memerah akibat kantuk dan sisa tangis terasa sangat perih, namun dia menolak untuk menepi walau hanya untuk sekadar memejamkan mata selama lima menit. Di dalam dadanya, ada ketakutan yang teramat sangat ketakutan bahwa dia akan terlambat, ketakutan bahwa ibunya akan pergi sebelum dia sempat mendengar satu patah kata pun penjelasan, atau sebelum dia sempat memberikan satu pen
Ruang tengah itu mendadak kehilangan seluruh suplainya akan udara.Kesunyian yang tercipta pasca-pengakuan Rosa terasa begitu pekat, menindih dada siapa pun yang ada di sana hingga terasa sesak.Naina yang duduk di sudut sofa langsung membekap mulutnya sendiri, air matanya ikut meleleh melihat bagaimana takdir sedang menguliti sahabatnya dengan cara yang begitu kejam.Liam menatap layar laptop, lalu beralih menatap Rosa yang duduk mematung dengan pandangan kosong.Tubuh pria itu bergetar hebat.Rasa bersalah yang selama berbulan-bulan ini membakar dirinya, kini berubah menjadi sebuah kehancuran mental yang mutlak."Ros..." suara Liam tercekat, nyaris tak terdengar.Dia menjatuhkan tubuhnya kembali ke lantai, berlutut dan mencoba meraih kaki Rosa dengan tangan yang gemetar."Rosa, aku... demi Allah, aku nggak tahu... Aku nggak pernah tahu kalau perusahaan Ayah dulu...""Jangan sentuh aku dulu, Mas. Tolong," potong Rosa, suaranya sangat pelan, sangat tenang, namun getaran luka di dalamn
Angin siang yang berembus kencang di pekarangan teras membuat dedaunan pohon mangga saling bergesekan, menciptakan suara gemeresik yang seolah memperingatkan Rosa akan bahaya baru.Rosa masih berdiri mematung di dekat pagar besi, menatap benda pipih berwarna perak di atas pilar beton dengan pandangan nanar.Genggamannya pada selang air melonggar hingga air mengalir membasahi rumput di bawah kakinya tanpa dia sadari.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Rosa akhirnya mematikan keran air, lalu meraih flashdisk pemberian Rainer itu.Logam dinginnya terasa seperti es yang menyengat kulit telapak tangannya.Kalimat terakhir Rainer terus bergaung di dalam kepalanya seperti mantera yang menakutkan:Dosa besar di masa lalu yang membuat ibunya bersedia menghancurkan pernikahanmu.Baru saja Rosa hendak melangkah masuk ke dalam rumah, sebuah mobil taksi online berhenti di depan pagar.Pintu belakang terbuka, dan Naina keluar dengan membawa sekotak martabak manis kesukaan Rosa.Senyum ceria sahaba
Malam-malam di rumah baru mereka kini berjalan dengan pola yang berbeda, namun esensi jarak itu masih ada.Tiga minggu telah berlalu sejak dua garis merah itu mengubah status Rosa menjadi seorang calon ibu.Perubahan fisik mulai terlihat; wajah Rosa terkadang tampak lebih bersinar, namun gurat lelah di matanya akibat morning sickness yang parah tidak bisa disembunyikan.Liam benar-benar membuktikan ucapannya.Pria itu berubah total menjadi sosok yang sangat domestik.Setiap pagi sebelum matahari terbit, Liam sudah terbangun untuk menyiapkan air hangat dan wedang jahe di nakas tempat tidur Rosa.Dia mengambil alih cucian, memesan makanan bernutrisi, bahkan mengurangi jam kerjanya di kantor secara drastis demi bisa berada di rumah lebih lama.Namun, bagi Rosa, semua perhatian fisik itu belum cukup untuk meruntuhkan benteng pertahanan di dalam dadanya.Rosa masih sulit percaya pada Liam.Jauh di dalam lubuk hatinya, trauma enam bulan disidang dan dituduh secara kejam oleh suaminya sendir
Bu Diana mematung di tengah ruangan. Tatapan matanya yang semula angkuh kini bergetar, bergantian menatap lembaran kertas di atas meja dan wajah putranya yang merah padam menahan amarah. Udara di dalam ruang tamu baru itu mendadak terasa begitu tipis dan mencekik."Liam... ini tidak seperti yang ka
"Memangnya Rosa kayak gimana?""Apa aku masih harus mengeja?"Liam terdiam. Tak lama kemudian, dia menghela napas panjang beriring harapan bahwa tuduhan itu tidaklah benar.Masih di dalam kafe yang remang-remang, Evelyn menatap pria di hadapannya dengan mata penuh harapan. Aroma kopi bercampur deng
Langit malam masih gelap ketika Liam duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang kini terasa lebih berat dari biasanya. Percakapan yang baru saja terjadi masih terngiang di kepala, berputar seperti rekaman yang enggan berhenti. Ada sesuatu dalam nada suara di seberang sana yang membuat piki
Pria itu menatapnya lekat-lekat. "Aku akan tetap bersamamu. Aku juga minta maaf soal tadi." Kata-kata itu terasa manis, tetapi juga menakutkan. Bisakah mereka benar-benar bertahan melawan dunia? Wanita itu menarik napas panjang. Dia ingin percaya, tetapi hatinya masih penuh ketakutan. Karena ken







