ANMELDENPemuda itu melihat Arlo masuk. Kilatan kewaspadaan melintas di matanya. Dia mengeluarkan kartu identitas dari sakunya."Aku Krisno, dari Departemen Urusan Luar Kemiliteran Provinsi Hareast."Arlo melirik sekilas kartu identitas itu, lalu merespons, "Terus?"Krisno mengerutkan kening dan berkata, "Sheila yang menyuruh orang memukul lebih dulu. Aku hanya menjalankan tugas sesuai hukum!""Mm. Pasal mana yang memberimu hak untuk menutup toko?" tanya Arlo balik.Krisno tetap tenang, bahkan tidak menunjukkan sedikit pun niat mengalah. "Beberapa orang Gorasa ini adalah personel pendamping dalam kompetisi militer kali ini. Mereka memiliki identitas khusus!""Lagi pula, sekalipun terjadi perselisihan, nggak seharusnya main hakim sendiri. Jadi aku punya alasan untuk meragukan motif Sheila. Menutup toko sementara sambil menunggu penyelidikan juga wajar."Arlo hanya bersuara singkat, lalu tertawa sinis. "Jadi, kamu bermain tuduhan tanpa bukti denganku?"Krisno menghindari tatapan Arlo dan melanjut
Setelah mendengar apa yang dikatakan orang di telepon, wajah Sheila menjadi agak dingin. Dia segera berjalan cepat menuju lantai bawah.Di lantai dua adalah ruang pameran lukisan dan kaligrafi. Saat ini, seorang staf wanita yang mengenakan gaun tradisional berdiri di sana dengan wajah memerah. Matanya dipenuhi air mata. Dia tampak panik dan tidak tahu harus berbuat apa.Empat atau lima orang Gorasa berbicara dalam bahasa asing yang tidak jelas. Mereka menarik-nariknya sambil tertawa, tatapan mereka sangat mesum.Petugas keamanan bergegas datang dan baru saja membuka mulut. "Pak, jangan begitu ...."Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, salah satu orang Gorasa langsung mengangkat tangan dan menampar wajah petugas keamanan itu. "Bodoh! Kamu kira kamu siapa?"Petugas keamanan itu ditampar hingga tertegun. Namun, bekerja sebagai petugas keamanan di tempat ini, dia tahu bahwa orang-orang yang datang untuk berbelanja di sini kebanyakan adalah orang kaya atau berkuasa.Wajahnya memerah. Sete
Afdhal memeluk kotak kardus itu dan kembali ke mobil."Apa ini?" tanya Vino, sopir sekaligus orang kepercayaan Afdhal.Afdhal mengelus dagunya, lalu berkata dengan suara berat, "Ini tugas yang diberikan oleh Master Antasari kepadaku."Setelah itu, dia mengulang perkataan Arlo kepada Vino.Vino langsung memutar bola matanya. "Master Antasari ini benar-benar licik. Bukankah ini sama saja dengan memerasmu?""Memerasmu, tapi bahkan nggak memberimu penawar racun! Kak, menurutku orang ini nggak berbeda dengan para tokoh besar berhati jahat itu! Lebih baik kita cari jalan lain saja!"Sebagai orang kepercayaan, dia sangat tahu bahwa 20 miliar lebih itu bisa dibilang adalah setengah dari seluruh harta Afdhal. Toh Afdhal tidak disukai Keluarga Jayadi.Afdhal tersenyum. "Nggak apa-apa. Racunnya belum bekerja, hanya wajahku saja yang terlihat pucat. Sepertinya untuk sementara nggak akan membahayakan nyawa.""Dengan kekayaan Master Antasari, kalau dia benar-benar ingin memeras orang, dia nggak akan
"Aku nggak ingin menjadi tukang bersih-bersih, nggak ingin hidup di dalam kegelapan! Aku ingin menjadi orang yang bermartabat, menjalankan bisnis yang terhormat! Tapi Ibrahim nggak mau memberiku kesempatan itu. Dia hanya ingin aku menjadi bayangan Felix, terus membantunya!"Sampai di sini, Afdhal berhenti sejenak, lalu mengangkat kepalanya dan menatap Arlo. "Ibuku ... mati di tangan orang-orang Keluarga Jayadi!"Arlo hanya merespons dengan singkat, "Oh."Di dalam keluarga besar, hal seperti ini sebenarnya tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Dia kira-kira sudah bisa menebak apa yang terjadi.Ibrahim menghabiskan waktu bersenang-senang di luar, sampai menghamili anak orang. Keluarga istri sahnya memiliki kekuatan yang cukup besar.Pada akhirnya, sang ibu disingkirkan, anaknya dipelihara. Anak haram itu kemudian dijadikan alat bagi putra sah. Semakin kaya seseorang, semakin mudah mereka memainkan praktik gelap ala kaum bangsawan feodal seperti itu."Aku nggak memelihara orang nggak berg
Yusuf sangat gembira setelah Arlo menyetujuinya, bahkan kegembiraan itu bercampur sedikit rasa bangga. Bahkan Brandon pun tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.Tak disangka, Yusuf benar-benar berhasil memperjuangkan hak distribusi Air Suci untuknya! Kesempatan seperti ini adalah sesuatu yang diidam-idamkan oleh banyak tokoh besar.Jika dilihat dari kekuatan, Keluarga Raharjo sebenarnya sama sekali belum memenuhi syarat untuk menjadi agen Air Suci!Sheila memandang dua orang dari Keluarga Raharjo yang tampak seperti baru saja mendapatkan harta karun. Di dalam hatinya, dia hanya bisa menggeleng pelan dan merasa sayang pada mereka.Banyak orang mengatakan bahwa pilihan lebih penting daripada usaha. Kalimat itu terasa sangat tepat untuk situasi saat ini. Yusuf sudah sangat "berusaha" menciptakan kesempatan sehingga Arlo mau muncul di "meja perundingannya".Arlo juga sudah memberikan mereka sebuah kesempatan. Sayangnya, mereka memilih untuk menolaknya. Setelah keluar dari rumah Keluarga
Sheila mencibir. "Sudahlah, Pak Yusuf. Sandiwara begini sudah nggak ada artinya sekarang."Brandon juga merasa malu sampai wajahnya memerah. Dia meminta Yusuf menyimpan kembali cek itu. "Pak Arlo bersedia datang kali ini sepenuhnya karena permintaan Bu Sheila."Vior dan Naufal sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka hanya menatap dengan bingung.Arlo langsung memotong basa-basi itu dan berkata terus terang, "Pak Yusuf mengundangku untuk mengobati penyakit hanyalah salah satu alasan. Sepertinya masih ada hal lain. Lebih baik langsung saja."Wajah Yusuf sedikit menunjukkan keterkejutan. Ketajaman Arlo benar-benar di luar dugaannya. Bahkan Brandon pun tidak menebak maksudnya. Dia melihat ke arah Brandon dan benar saja, wajah pemuda itu penuh kebingungan.Yusuf pun tidak berbelit-belit lagi dan langsung berkata, "Master Antasari benar-benar luar biasa. Kemampuan dan caramu bertindak sangat mengagumkan. Aku akan bicara terus terang.""Di bawah tekanan Keluarga Sinaga, bisnis per
"Ayah, nggak usah ngomong lagi. Masih belum jelas juga? Dia pasti ketakutan, lalu pura-pura ke toilet padahal kabur!" ejek Luke.Artha menyeringai sinis. "Kak, bukan aku yang bicara sembarangan, tapi kalau nanti kamu mau menyerahkan saham perkebunan ini ke Arlo, aku pasti nggak akan setuju! Harta Ke
wajah Sugi pucat pasi. Dia berulang kali sujud sambil mengatupkan kedua telapak tangannya untuk memohon, "Pak Arlo, aku benar-benar nggak tahu diri! Aku memang pantas mati! Tapi, kumohon maafkan aku kali ini karena nggak mengenali Pak Arlo!"Ekspresi Arlo tetap datar. Karena dia mengenal Faris, maka
Saat Arlo kembali ke rumah, Keluarga Hanafi sudah beristirahat. Dia mencuci muka dan berganti pakaian, lalu kembali ke kamarnya untuk mulai bermeditasi. Dalam Kitab Medis Abadi tertulis sebuah kalimat, "mencari jalan menuju pencerahan itu sulitnya setara dengan naik ke langit, tidak boleh ada kelala
Si Pembantai menyeringai dengan tak acuh, tetapi senyum itu segera membeku di wajahnya. Pukulan yang tampak biasa saja itu tiba-tiba berubah dari kepalan menjadi jari yang menusuk lurus ke arah dahinya.Dalam hitungan detik, si Pembantai sudah menghindar delapan kali. Namun, jari Arlo terus diarahka







