LOGINMarkos mengepalkan kedua tangannya memberi hormat kepada Arlo. Suaranya lantang dan nadanya sangat tulus.Arlo tersenyum. "Kalau kamu sudah bilang begitu, malah kesannya aku ini picik sekali kalau aku masih mempermasalahkannya."Markos langsung menoleh ke arah Keluarga Kushanto. Tatapannya dipenuhi niat membunuh."Keluarga Kushanto benar-benar hebat! Kalian bahkan berani menjebakku ke dalam perangkap seperti ini. Sepertinya kalian benar-benar sudah lupa apa artinya kemarahan seorang grandmaster. Begitu seorang grandmaster murka, akan terjadi pertumpahan darah besar-besaran!"Ucapan penuh niat membunuh itu membuat Nicho langsung terpaku. Sebenarnya dia hanya mengetahui sebagian kecil dari urusan Axelo yang menipu Arlo. Dia sama sekali tidak memahami semua detail di baliknya.Karena itu, saat ini dia benar-benar kebingungan. Tanpa sadar dia berkata, "Master Markos, apakah ini berarti Anda tidak menghormati Pak Azriel?""Persetan dengan itu! Aku nggak membunuh dua bocah sialan itu sekaran
Namun dalam urusan militer, Arlo mendapat dukungan dari Dewa Militer. Keributan di luar memang tampak besar. Namun bagi Arlo, situasi seperti itu sama sekali tidak perlu dikhawatirkan.Mengenai Mohit dan Markos, Sheila sangat mengenal keduanya. Mohit pernah membantu cukup lama di klinik Arlo. Bahkan dia selalu memanggil Arlo dengan sebutan "Master Arlo".Beberapa waktu lalu, karena ada urusan penting di Gunung Naga Harimau, dia baru dipanggil kembali secara mendadak. Sedangkan Markos tampaknya juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Arlo. Kalau tidak, Arlo tidak mungkin setuju menjual Pil Jiwa hanya karena perantara dari Markos.Nicho malah menjadikan kedua orang itu sebagai sandaran untuk menghadapi Arlo. Di mata Sheila, itu benar-benar sebuah lelucon. Dia bahkan tidak berani membayangkan seperti apa ekspresi Nicho nanti ketika ketiga orang itu benar-benar tiba.Tentu saja, Nicho sama sekali tidak mengetahui isi pikiran Sheila. Dia hanya mengira wanita itu sedang berusaha bers
Ekspresi Nicho menjadi gelap. Sebagai kepala Keluarga Kushanto, ini adalah pertama kalinya dia dipaksa sampai sejauh ini."Arlo, anakku memang nggak tahu diri dan telah menyinggungmu. Tapi sejak Pil Jiwa dikembalikan dan kompensasi diberikan, urusan ini seharusnya sudah selesai. Keluarga Kushanto nggak berada di pihak yang salah!"Arlo tersenyum tipis. "Sepertinya Keluarga Kushanto nggak paham bagaimana cara memohon kepada orang lain.""Apa maksudmu?" Nicho mengepalkan tinjunya dengan erat.Arlo berkata dengan tenang, "Hari ini Keluarga Kushanto harus mengumumkan di depan umum bahwa kalian mengaku kalah. Mulai sekarang, di mana pun ada aku, anggota Keluarga Kushanto harus menyingkir.""Lalu, dua pelaku utama harus bersujud dan mengakui kesalahan mereka padaku. Kalau itu dilakukan, aku juga nggak keberatan mengakhiri masalah ini sampai di sini."Arlo berhenti sejenak, tatapannya tiba-tiba menjadi tajam. "Kalau kamu masih terus mengucapkan omong kosong, aku juga nggak keberatan menahanmu
"Lebih baik lagi kalau kakak iparku juga diminta mengerahkan pihak militer untuk menjaga situasi. Dengan dua persiapan sekaligus, aku nggak percaya Arlo masih bisa menimbulkan masalah besar," ujar Henky tiba-tiba.Nicho berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju.Syafiq melirik putra keduanya dengan tatapan dalam. Dia bisa melihat dengan jelas niat Henky untuk menghasut dan membalas dendam. Kalau sejak dulu Henky memiliki kecerdikan seperti ini, mana mungkin dia sampai menjadi sosok pinggiran dalam keluarga?Namun saat ini, Syafiq tidak ingin mempermasalahkan hal itu. Lagi pula, ucapan Henky memang ada benarnya. "Pergi bicara dengan kakak iparmu dan lihat apa pendapatnya.""Lalu hubungi ibu kota dan tanyakan apakah grandmaster yang diminta sudah tiba atau belum."Syafiq melambaikan tangannya dan tidak berkata apa-apa lagi.....Di aula hotel.Tanpa terasa, tiga jam telah berlalu. Saat itu sudah lewat tengah malam. Banyak tamu paruh baya mulai tidak sanggup bertahan. Mereka tidak berani p
Arlo kembali duduk di kursinya dan memejamkan mata untuk beristirahat. Axelo dan Valden sama-sama tergeletak di bawah kakinya. Keduanya tampak sangat menyedihkan dan penuh luka.Valden menggertakkan giginya lalu berkata, "Arlo, apa kamu yakin ingin aku menelepon ayahku?"Arlo hanya mendengus pelan sebagai jawaban. Valden segera mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan.Di sisi lain, Marshal juga sudah menelepon Mohit. Dia hanya mengatakan bahwa dirinya ditahan seseorang dan meminta pamannya segera datang menyelamatkannya."Pak Valden, jangan khawatir. Begitu Paman Mohit tiba, dia pasti nggak akan membiarkan orang ini lolos." Melihat wajah Valden yang suram, Marshal mencoba menghiburnya.Namun Valden yang baru saja menelepon kakeknya tidak menanggapi perkataan itu. Dia hanya menatap Arlo dan berkata dingin, "Ayahku sudah setuju untuk datang."Melihat mereka berdua mulai memanggil bantuan, wajah Arlo tetap tanpa ekspresi sedikit pun. Tidak terlihat rasa takut sama sekali.Namun, pa
"Bubar!"Arlo hanya mengucapkan satu kata.Marshal tiba-tiba merasakan sakit yang menusuk di kepalanya, seolah-olah ada jarum yang menghantam otaknya. Seluruh pikirannya seakan berhenti bekerja selama sesaat.Sebagai seorang praktisi spiritual, kekuatan mentalnya memang sangat kuat. Namun di hadapan serangan kesadaran ilahi Arlo, dia tetap kehilangan fokus selama sepuluh detik penuh. Dalam pertarungan para ahli, sepuluh detik sudah lebih dari cukup untuk menentukan hasil.Saat Marshal kembali sadar, tubuhnya sudah terlempar ke belakang. Perisai cahaya emas di tubuhnya juga telah dihancurkan oleh satu pukulan Arlo. Bahkan pusakanya, Mutiara Surya, sudah jatuh ke tangan Arlo.Arlo memainkan manik itu di tangannya sambil berkata, "Suruh Mohit datang jemput kamu. Kalau dia nggak datang, aku akan mematahkan kakimu."Marshal memuntahkan seteguk darah. Darah dan energinya bergejolak hebat. Dia sudah tidak memiliki kekuatan untuk bertarung lagi.Dengan marah dia berteriak, "Aku ini murid langs
Sheila mendengus pelan. "Hari ini pilihannya cuma dua, entah aku bawa orangku pergi dan urusan kita pelan-pelan kita hitung nanti ... atau aku bikin Grup Leopard ganti nama dan hilang dari kota ini. Pilih sendiri.""Bu Sheila, aku tahu kamu punya pendukung, tapi jangan lupa, aku juga bukan orang tan
Sampai menjelang fajar, Arlo baru membangunkan Fellis.Setelah tidur nyenyak karena akupunktur, Fellis merasa seluruh kondisi mentalnya sangat baik. Dia semakin menantikan ke mana Arlo akan membawanya.Arlo membawa Fellis meninggalkan rumah sakit. Pukul 4 dini hari di jalan, lampu jalan masih terang
Mereka membahas tentang putranya, Chairil, yang setelah lulus kuliah kembali ke Kota Naldern. Beberapa hari lalu, Chairil mengalami patah kaki. Kini, dia sedang dirawat di rumah sakit.Saat SMA, Arlo dan Chairil sangat akrab. Setelah masuk kuliah pun mereka tetap sering berhubungan.Sampai kejadian
"Serang!"Entah siapa yang berteriak, seketika belasan pria bertubuh kekar membawa pentungan langsung menerjang ke depan. Namun, seketika mereka menyadari bahwa ini adalah pembantaian sepihak!Arlo benar-benar seperti algojo tak berperasaan! Tidak, lebih seperti iblis yang keluar dari neraka!Di man







