LOGINPagi itu, kelopak sakura berjatuhan perlahan di halaman Paviliun Bunga yang sengaja di siapkan Wang Xuemin sejak lama, seperti hujan berwarna merah muda. “Ini?”“Hadiah pertunangan untukmu.”Lian Wei tidak bisa berkata-kata lagi, ia memandang takjub pada pemandangan di depannya.Udara musim semi masih dingin, membawa aroma bunga yang lembut bersama semilir angin pagi. Di antara pepohonan sakura yang bermekaran, suara air kolam terdengar tenang, sesekali diiringi kicau burung kecil yang hinggap di gazebo kayu.Ia berjalan perlahan menyusuri jalan batu taman, ujung hanfu merahnya menyapu kelopak bunga yang jatuh. Cahaya matahari pagi menembus sela-sela ranting, menciptakan bayangan lembut di wajahnya.Wang Xuemin dengan jubah merah yang kontras dengan lautan bunga yang lembut berdiri di bawah pohon sakura. Tangan kanannya menggenggam ranting sakura yang baru saja jatuh, sementara tatapannya diam-diam mengikuti langkah gadis itu sejak tadi.“Pangeran ini indah sekali, namun sayangnya me
“Apa kau berharap aku akan menciummu?” tanyanya dengan menuangkan teh ke dalam cangkirnya. Karena tidak merasakan apapun pada tubuhnya, Lian Wei membuka matanya. Ia melihat Wang Xuemin yang duduk tenang dengan teko tehnya. “Lagi pula itu bukan disebut ciuman pertamamu istriku. Apa kau lupa jika kita pernah melakukannya sebelumnya?” “Kau!” Raut wajah Lian Wei memerah mendengarnya. Setelah mendengar perkataan Wang Xuemin, Lian Wei refleks memegang bibirnya. “Ini minum,” ucapnya seraya menyodorkan cangkir teh pada Lian Wei, yang langsung di ambil dan meminumnya. Tidak lama kemudian mereka sampai di istana. Banyak pangeran dan putri dari kerajaan lain yang datang pada hari ini. Sehari sebelum acara perjamuan, Kaisar mengundang semua putra dan putri dari kerajaan sahabat dan bangsawan sekitar ke Kerajaan Wei. Lian Wei dan Wang Xuemin pergi ke Paviliun Sakura, mengabaikan semua orang yang hadir di sana. Liu Changhai yang melihat Lian Wei segera menghampiri Lian Wei. “Lien'er!” pa
“Migxue, dimana tuanmu?” tanya Lian Wei pada kuda itu, segera dia menolehkan kepalanya ke arah kedai. Segera Lian Wei masuk ke kedai itu, pemandangan yang dilihatnya sangat ramai di dalam sini. Ia tampak mencari keberadaan Wang Xuemin, hingga akhirnya ia menemukan Wang Xuemin yang duduk di meja lantai dua. Segera Lian Wei naik ke lantai dua, saat tiba di atas ia melihat banyak gadis yang menggoda Wang Xuemin. Sepertinya mereka tidak tahu jika mereka menggoda iblis yang ditakuti di seluruh kekaisaran. Iya memang dia tidak bereaksi apapun terhadap mereka, namun entah kenapa Lian Wei merasa tidak terima tunangannya di dekati banyak bunga. Segera Lian Wei menghampiri Wang Xuemin dan menerobos mereka semua. Ia juga memberanikan diri duduk di pangkuan Wang Xuemin dengan posisi duduk miring. Ia mengalungkan tangannya di leher Wang Xuemin dan mengecup pipi kirinya. Hal itu membuat para bunga itu marah karena tindakan Lian Wei. Wang Xuemin juga marah karena tindakan seorang perempuan
Suara orang jatuh disertai dengan teriakan kesakitan membuat dua orang itu menoleh ke sumber suara. Bertepatan dengan itu prajurit yang tadinya berbalik badan segera menghampiri Lien Hua yang terjatuh. Sehingga saat mereka menoleh, pemandangan yang dilihat oleh Xiuhuan adalah prajurit itu mengganggu Lien Hua. Segera Xiuhuan berlari menghampiri Lien Hua dengan panik. Dia juga mengecek keadaan Lien Hua. “Kakak kakiku sakit, mereka mendorongku dengan keras,” ucap Lien Hua pada Xiuhuan, mengkambing hitamkan Lian Wei. Sementara pengawal itu menggeleng keras. Segera ekspresi Xiuhuan mengeras, ia menatap tajam pada Lian Wei yang duduk tenang disana. Segera Xiuhuan menggendong Lien Hua untuk pergi dari sana. ‘Tatapan itu? Jadi hanya segini saja perhatianmu padaku? Padahal aku sudah senang dia mau berbaik hati merawatku. Tapi lagi-lagi tatapan dingin itu terlempar padaku saat Lien Hua terluka.’ “Apa aku benar-benar tidak ada di hatinya sedikitpun?” lirihnya. Setelah kepergian mereka,
“Kemungkinan seperti itu ayah.”“Kak, ibu selir bukannya saling menyayangi, kenapa mereka saling menyerang? Mereka juga tampak akrab, ataukah mereka hanya berpura-pura saja kak?" tanya Lian Wei polos pada Jianying.“Kakak tidak tahu, itu bisa saja Lian'er. Ayo kembali ke paviliun mu, kau belum bisa berjalan jauh,” ucapnya lembut. “Ayah aku akan mengantar Lian'er dulu, lalu aku akan menyelidiki masalah ini bersama kakak,” ucap Jianying. “Ya baiklah.”“Jianying aku ikut denganmu,” ucap Xiuhuan.‘Cih untuk apa dia ikut?!‘ batin Lian Wei.“Lian Wei kemarin kau dari mana? Aku pergi ke paviliunmu tapi kau tidak ada di sana.”“Memangnya ada urusan apa kakak mencariku? Kenapa kakak tidak menitip pesan pada pengawal di sana?” tanyanya.“Hmm aku... aku hanya ingin memberikan ini padamu,” ucapnya dengan memberikan salep yang dibelinya dari Kekaisaran Song. “Uh kau bisa memberikannya pada Anming,” ucapnya menerima salep itu. “Aku harus memberikan itu langsung padamu.”“Terimakasih, ini salep
Lian Wei memakai baju serba hitam tidak lupa dengan masker hitam untuk menutupi wajahnya. Ia melompati tembok dan sampai di Paviliun Selir Cui dengan mudah. Ia masuk dari jendela kamarnya, terlihat Selir Cui sedang tidur. Ia menyumpal mulut Selir Cui dengan kain hitam, kemudian menyeretnya hingga turun dari ranjangnya. Lian Wei mengeluarkan belati kesayangannya dari pinggangnya, ia menggoreskan belati itu pada wajah Selir Cui, hal itu membuat Selir Cui bangun dari tidurnya. Ia ingin berteriak tapi tidak bisa karena mulutnya disumpal oleh kain. “Hmmp…!” Lian Wei kembali menggoreskan belati pada lengan Selir Cui hingga merobek hanfu tidurnya. “Hmmp…!” Ia terus melukis di tubuh Selir Cui dengan belati kesayangannya. Darah merembes keluar hingga hampir menutupi seluruh tubuh Selir Cui. Setelah puas dengan tubuh Selir Cui ia memukul tengkuk Selir Cui hingga pingsan. Sebelum Lian Wei pergi, ia meninggalkan tanda pengenal milik Selir Zhu yang dulu sempat di ambil oleh Lian Wei, saat







