LOGIN“Itu... aku hanya memang tidak suka makan, Kak.”“Ayo pergi.”Sementara itu, di Kekaisaran Wu, Wang Xuemin sedang membaca dokumen. Li Xiuhuan, Li Jianying dan Liu Changhai datang menemui Wang Xuemin karena sebuah surat mendesak yang dikirimkan oleh Wang Xuemin.Belum sempat mereka mengobati luka di hati, sebuah kabar mendesak datang dari garis perbatasan. Kekaisaran Song dikabarkan tengah mengerahkan pasukan dan bersiap melancarkan serangan terhadap tiga kekaisaran besar.Duka belum usai, tetapi perang sudah mengetuk pintu.Ketiganya berdiri lama di depan makam Lian Wei yang berada di pemakaman keluarga kerajaan Kekaisaran Wu. Angin dingin berhembus pelan, seolah ikut meratapi kepergian sang putri.Tianzhi menyuruh mereka untuk segera pergi menemui Wang Xuemin di ruang kerjanya, tetapi mereka masih tidak bergerak.Di sisi lain, Xu Kai memutuskan kembali ke Kekaisaran Xu karena menerima surat dari ayahnya. Dalam perjalanan, ia teringat bahwa hari penerimaan murid baru Akademi Adipati X
“Kalian apa yang terjadi pada kalian?”“Ini kami tadi masuk ke dalam jebakan lalu berhasil keluar dari sana,” ucap Lien Hua beralasan.Senior tidak curiga akan hal itu, karena banyaknya jebakan di hutan racun tadi membuat mereka mempercayai ucapan kedua rubah ini. “Cih!” decih Xue Yan kesal dengan mereka. “Sudah cepat masuk barisan,” perintah senior. Mereka berdua berjalan ke samping Lian Wei, karena kebetulan barisan di sebelah Lian Wei masih kosong. Lien Hua memperhatikan wajah Lian Wei. Ia sempat terkejut melihatnya. Namun ia menjadi lebih lega setelah melihat tahi lalat di pelipis kiri Lian Wei. ‘Kupikir jalang itu masih hidup,’ batin Lien Hua.‘Ini, dia bukan jalang itu. Dia kan sudah mati terkuras darahnya. Tidak mungkin bisa selamat dari hal itu, semua orang di istana sudah mengetahui kabar meninggalnya putri pertama,’ batin Lien Hua meyakinkan diri.‘Lien Hua, Mayleen tunggu pembalasanku,’ batin Lian Wei dengan tangan yang terkepal kuat menahan untuk tidak menyerang kedua
“Tapi kenapa akademi memiliki hutan ini?” tanya Xue Yan. Mereka semua terdiam, tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Hingga akhirnya Lian Wei yang menjawabnya.“Konon hutan ini adalah jalan satu-satunya menuju Kolam Teratai Emas. Kolam Teratai Emas itu memiliki banyak khasiat, namun jika di konsumsi orang itu akan kehilangan kesadaran dan menjadi tidak terkendali. Sifatnya hanya pemakaian luar saja,” jelas Lian Wei.“Apakah seberbahaya itu, Li Xinhua?” tanya Xue Yan.“Tidak jika seorang ahli bela tinggi yang memiliki tingkat ketinggian yang setara atau hampir menyamai dengan dewa.”“Itu sangat mustahil,” ucap Mingmei.“Aku baru tahu ada hal seperti ini. Tadi kau bilang hutan ini adalah jalan satu-satunya. Berarti untuk masa kini harusnya ada jalan lain untuk sampai pada kolam?” tanya Xie Nian ragu.“Kau benar Xie Nian. Tapi aku tidak tahu jalan lainnya. Hanya Kaisar Li dan Adipati Xinxi yang mengetahui jalan ini.”“Berarti kedua orang yang curang tadi…”“Kau benar Xue Yan, mereka p
“Menarik sekali anak-anak itu,” ucap seorang pria dari menara terbengkalai, lalu ia segera pergi dari jendela tersebut. Lian Wei dan Xue Yan jauh tertinggal dengan yang lain namun keberuntungan selalu berpihak pada mereka. Lian Wei melihat dua kelinci putih sedang bersembunyi. Ia menyuruh agar Xue Yan jalan perlahan lalu Lian Wei menebarkan bubuk putih di depan mereka. Tak lama kelinci itu terjatuh. “Ah Li Xinhua bukankah kita tidak boleh membunuh dengan racun?”“Kau tenang saja mereka hanya tertidur. Ini satu untukmu, kita harus segera mencari cara jalan keluar dari sini.”“Li Xinhua kau dapat apa?” tanya Mingmei.Lian Wei menunjukan buruannya.“Wah kelinci, aku hanya dapat burung,” ucap Mingmei.“Yang penting dapat.”“Li Xinhua… ini beneran untukku?”“Iya untukmu, ayo pergi sebelum gelap.”“Wah terimakasih, ayo pergi.”Mereka semakin memasuki hutan mencari jalan untuk mencapai Kolam Teratai Emas. “Berhenti!” seru Lian Wei tiba-tiba.Tanpa menunggu penjelasan, ia memungut sebuah b
“Apa yang kau lihat?” “Uh…” Mingmei terkejut dengan kehadiran Tianzhi. Ia refleks memukul Tianzhi dengan kuat.“Aduh!”“Bikin kaget aja,” ucap Mingmei sambil mengelus dadanya.“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Mingmei.“Jawab pertanyaanku dulu.”“Itu lihat,” Mingmei membuka sedikit tirainya agar Tianzhi melihatnya.Kemudian ia menatap Mingmei aneh.“Itu putri?” bisiknya pelan.Mingmei mengangguk pelan.“Ayo pergi, biarkan mereka berdua.”“Kau belum menjawab pertanyaanku.”“Ah… aku ingin memberitahu bahwa pangeran akan kembali ke istana dulu.”“Baiklah akan ku sampaikan pada nona,” ucap Mingmei.Lalu mereka pergi dari sana, sementara itu Mayleen pergi lebih dulu setelah puas mengobrol dengan Li Xinhua. Disaat para murid berbondong-bondong masuk ke akademi. Lian Wei masih asik dengan dunianya. Tiba-tiba pikirannya melayang pada ingatan masa lalunya saat ayahnya mengantar ia masuk ke sekolah militer.“Ayah…” lirih Lian Wei pelan.Lalu ia segera bersiap, ia turun dan mencari Mingmei
Setelah kembali Mingmei pergi menemui Lian Wei. Ia memberikan perlengkapan yang tadi diterimanya dari akademi.“Nona daftar ulang akan dilakukan besok, hari ini aku mendaftar untuk mendapatkan pakaian akademi. Agenda besok selain daftar ulang akan dilakukan tes kemampuan.”“Itu mudah saja.”“Lalu nona, hari ini aku bertemu Mayleen. Ia masih menjual alat tulis yang dibelinya.”“Ah benar, karena urusan Bao Yu dan Anming kemarin aku jadi melupakannya.”“Lalu rencana apa yang akan anda lakukan?”“Bertemu dengannya.”Lian Wei tersenyum licik, lalu ia mengambil kertas dan mulai menulis pesan. Setelah selesai ia memberikan itu pada Mingmei.“Berikan ini pada Mayleen.”Mingmei membaca isi suratnya lebih dulu.“Bertemu di kedai teh Xinxin, sepertinya ini sebuah jebakan.”“Aku tidak sejahat itu Mingmei.”Mingmei menatap penuh selidik pada Lian Wei.“Ya ya, anda yang paling baik,” ucapnya lalu keluar dengan memberikan kode dengan mengangkat suratnya.“Pergilah.”Mingmei meminta seseorang untuk m
Lian Wei pergi dari aula singgasana menuju Paviliun Harta di temani Mingmei dan Anming. Saat sampai pengawal di sana segera menghalangi jalan Lian Wei, namun ia menunjukkan token dan kunci Paviliun Harta pada pengawal."Titah Kaisar, aku boleh mengambil apapun dari Paviliun Harta."Segera pengawal i
Lien Hua dan Zhaoyang baru tiba di gerbang istana, seorang pengawal datang menghampiri mereka, lalu memberi hormat pada keduanya."Putri Kedua anda diminta menghadap Kaisar sekarang.""Apa? Kenapa ayah memanggil ku?""Sebaiknya anda melihatnya sendiri.""Baiklah, Kak Zhaoyang tunggu aku di danau.""
Mereka keluar dari rumah makan namun saat sampai di pintu seorang pria tak sengaja menabrak Lian Wei, untungnya pria itu dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Untuk sesaat mereka saling tatap bahkan Lian Wei sempat terpesona karena ke tampanannya, hingga akhirnya Lian Wei kembali ke alam s
"Kaisar tiba!"Lian Wei dan Mingmei saling pandang, segera Lian Wei menyembunyikan peralatannya sementara Mingmei ke kamar mandi mengambil air yang diminta Lian Wei."Putri Pertama, bagaimana keadaanmu?""Kaisar?" Lian Wei bangun dari tidurnya."Tidak perlu bangun, kau pucat sekali.""Yang Mulia Kai







