LOGINMingmei meminta orang untuk menyiapkan bak mandi untuknya berendam.Setelah siap ia menuangkan ramuan itu ke dalam bak, Lian Wei mengajak Xie Nian untuk kembali ke kamarnya. Lian Wei membopong Xie Nian keluar.Saat sampai di luar suara teriakan terdengar begitu kencang dari dalam rumah herbal.“Ahk! Sakit!”“Li Xinhua, ada apa dengan Mingmei?”“Dia sedang diobati, ayo pergi.”Lian Wei mengajak Xie Nian namun pandangan Xie Nian masih berada di belakang.“Aku tidak akan pakai obat ini lagi!” pekik Mingmei kuat.Lian Wei tersenyum puas.‘Taipi efek penyembuhannya cepat,’ ucap Lian Wei dalam hati.Setelah mengantarkan Xie Nian ke kamarnya, Lian Wei kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah satu jam Mingmei kembali ke kediamannya, Xie Nian yang panik segera menghampirinya.“Mingmei, kau tidak apa-apa?”“Aku tidak apa-apa. Besok akan sembuh.”“Ayo aku bantu kau istirahat.”Keesokan harinya semua murid kembali berkumpul. Kali ini mereka berkumpul di aula pedang, ujian terakhir dalam me
“Tidak mungkin.”“Apa yang kau pikirkan?”Buk!Satu pukulan membuat Lien Hua terpukul mundur. Semua orang bersorak karena hal itu, Lien Hua tidak bisa bangkit lagi sehingga ia dinyatakan kalah.“Pemenangnya adalah Li Xinhua!” ucap Luo Yang.Adipati Xinxi yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum tipis.“Li Xinhua berapa banyak yang kau sembunyikan?” ucap Adipati Xinxi sebelum pergi dari sana.Pertandingan selanjutnya Xie Nian melawan Mayleen. Lian Wei tahu bahwa Mayleen lebih kuat dibanding dengan Lien Hua.Ia memberi peringatan pada Xie Nian, namun Xie Nian meremehkan peringatan Lian Wei.“Li Xinhua kau tenang saja. Aku akan mengalahkannya.”“Kalau kau kena pukul, aku akan siapkan obatnya,” ucap Mingmei.Xie Nian menepuk pundak Mingmei kuat.“Siapkan yang paling mahal, besok masih pertandingan pedang.”Setelah mengatakan itu Xie Nian naik ke arena. disana Mayleen sudah menunggu dengan bersedekap dada.“Weh lama sekali? Apa kau takut huh?” sindir Mayleen pada “Aku takut?”Xie Nian m
“Kalau sudah sarapan, segera bersiap. Hari ini masih ada pertandingan.”“Ba-baik guru,” jawab Lian Wei kaku.Lian Wei melihat punggungnya pria seperempat abad itu perlahan menjauh. Lalu Lian Wei kembali masuk ke kamarnya dan meminum supnya, setelahnya ia memakan sarapannya dan bersiap untuk pertandingan berikutnya.Halaman latihan Akademi Adipati Xinxi sudah dipenuhi para murid. Udara pagi terasa sejuk, tetapi suasana justru dipenuhi ketegangan. Hari ini mereka akan menjalani pertandingan fisik.Lian Wei berdiri di antara para murid dengan pakaian latihan berwarna putih. Tatapannya tenang, sementara di seberangnya berdiri Lien Hua yang tampak percaya diri.“Pertandingan pertama, Lian Wei melawan Lien Hua!” seru Luo Yang.Murid-murid yang berada di sekitar arena langsung memperhatikan keduanya.Lien Hua melangkah maju dan mengambil posisi bertarung. Tatapannya menilai Lian Wei dari atas hingga bawah.“Jangan salahkan aku jika kau terluka,” ucap Lien Hua.Lian Wei hanya tersenyum tipis.
Setelah Yuze mengatakan hal itu, segera mereka membubarkan diri. Lian Wei melihat pada Adipati Xinxi yang masih menatapnya.Lian Wei kembali ke kamarnya untuk beristirahat sejenak. Ia mengambil air mandinya sendiri, Mingmei tidak bisa melayani di sampingnya.Setelah Lian Wei membersihkan diri ia menyisir rambut panjangnya. Tidak lama terdengar suara ketukan pintu. Lian Wei segera memakai pakaian luarnya, lalu berjalan membuka pintu.“Xue Yan?”Yang mengetuk pintu itu adalah Xue Yan. Ia datang dengan membawa satu botol anggur yang di sembunyikannya.“Li Xinhua, Mingmei dan Xie Nian mengajak kita makan di taman untuk merayakan hari pertama kita masuk akademi.”“Ah…? Bukankah tidak boleh minum di dalam akademi?”“Kau tenang saja, Guru Besar sudah mengizinkannya.”“Guru Besar?” beo Lian Wei.“Ayo…” Xue Yan menarik tangan Lian Wei keluar kamarnya.“Ah iya iya, aku tutup kamar dulu,” ucapnya.Setelahnya mereka pergi ke taman. Di sana sudah tersaji hotpot yang panas dari Resto Xinxin. Tentu
“Lalu selanjutnya yang bertanding adalah…” ucap Yuze terjeda.“Mingmei melawan Lien Hua!”Mendengar namanya dipanggil, Mingmei melangkah maju. Ia menggenggam busur dengan tenang, sementara Lien Hua berjalan dari sisi berlawanan.“Mohon bimbingannya,” ucap Lien Hua sambil memberi hormat.Mingmei membalas hormat, “Begitu juga denganku.”Keduanya berdiri di posisi masing-masing. Kali ini pertandingan dimulai dengan lemparan buah, mengelilingi lapangan dan terakhir menembak papan target diam. Beberapa buah kembali dilemparkan ke udara.“Mulai!”Lien Hua segera menarik busurnya.Wush!Sebuah anak panah melesat dan mengenai buah pertama tepat di tengah.“Bagus!” seru beberapa murid.Namun, Mingmei tidak terburu-buru. Tatapannya mengikuti gerakan buah yang terus berputar di udara.Tangannya perlahan menarik tali busur.Swish!Anak panah melesat dan menembus buah kedua sebelum buah itu sempat jatuh.Lien Hua mengerutkan kening, ia tidak menyangka kemampuan Mingmei akan setara dengan para muri
“Dia membelah anak panah sebelumnya?”“Li Xinhua!” kesal Bei Chen.Lian Wei hanya mengedikan bahunya acuh, hal itu membuat jiwa persaingan dalam diri Bei Chen bangkit.Lalu mereka kembali menembak papan target itu kembali. Anak panah Lian Wei menembus hingga masuk ke papan target. Setengah bagiannya menusuk kedalam papan target.Semua yang melihat hal itu sangat terkejut dengan kejadiannya. Seorang murid mencoba menarik anak panah itu keluar namun terlalu sulit.Lian Wei berjalan dan mengambil anak panah itu dengan santai dan satu gerakan.“Apa begitu sulit menariknya keluar?” tanya Lian Wei tnapa ekspresi apapun.Mingmei hanya tersenyum puas melihatnya.“Ini belum seratus persen kekuatan yang dikeluarkan,” ucapnya pelan, namun hal itu membuat Xie Nian dan Xue Yan menoleh padanya.“Apa?”“Kenapa?” tanya Mingmei pada keduanya.“Kau bilang ini belum seratus persen kekuatannya?” tanya Xie Nian.“Memang seberapa kuat dia?” tanya Xue Yan.“Kalian akan tahu sendiri nanti,” jawab Mingmei.Ke
"Apa yang terjadi disini?" suara berat menginterupsi."Kakak?" Lien Hua menoleh ke arah sumber suara."Adik? Apa yang terjadi padamu?" Xiuhuan membantu Lien Hua untuk bangun."Kak, aku ingin mengunjungi kakak pertama. Kudengar dia terluka dan belum makan, tapi mereka melarangku.""Ini sudah perinta
Qianfan segera datang berlutut yang entah datang dari mana."Berikan obat pada kakakku yang menyamar itu.""Baik nona."Setelah kepergian Wang Xuemin, Lian Wei meminta Mingmei untuk memanggil Tabib Luo untuk datang. Tak lama kemudian Mingmei dan Tabib Luo datang ke ruang tamu. "Salam putri, anda m
"Kakak!" suara bariton khas Jianying menggema. "Sudah ku bilang kau jangan terlalu bodoh dan jangan ganggu adikku lagi. Tapi kenapa kau masih mengganggunya kak?" "Apa?" ucapnya sambil bangun dari posisinya yang memalukan. "Lian Wei jatuh karena didorong Lien Hua, lalu luka dalamnya itu karena
"Aku tidak tahu, aku hanya mengajakmu keluar untuk melihat kereta ini.""Apa?!" ucapnya terkejut. "Kau tahu aku sibukkan? Kenapa kau mengajakku tanpa tahu tujuan begini? Buang waktu tahu saja?!" ucapnya kesal. Wang Xuemin hanya mengangkat kedua bahunya acuh. "Menyebalkan," gerutu Lian Wei. "Hen







