登入Tidak terasa mereka telah tiba di tempat tujuan, Wang Xuemin yang tidak tega membangunkan Lian Wei hanya membiarkannya saja hingga gadis itu bangun sendiri. Kereta mereka masuk di halaman belakang, sementara iring-iringan masuk lewat pintu utama.“Kau sangat cantik saat tidur, bisiknya dengan merapikan anak rambut Lian Wei. Namun Lian Wei bermimpi buruk, terlihat ia mengerutkan keningnya.‘Komandan kita harus bagaimana?’‘Cepat keluar dari sini! Sebentar lagi bomnya akan meledak!’‘Xinxin kau tak apa?’‘Ayah?’‘Komandan ini adalah markas penjahat itu.’‘Ku mohon jangan mati Xinxin.’‘Kakak janji akan makan dan pergi bersamaku kan?’‘Iya, Lian Wei kakak janji.’‘Xin'er kenapa kau meninggalkan ayah seperti ini?’‘Bangunlah Xin'er.’“Hah!” Lian Wei terbangun dengan nafas yang tidak beraturan. Sejak tadi Wang Xuemin mencoba membangunkan Lian Wei saat ia merasakan Lian Wei yang gelisah dalam tidurnya. Mimpi tentang kejadian saa detik-detik kematiannya, lalu mimpi tentang keinginan besa
“Xu… Xu Kai? Kau bercanda bukan?” tanya Liu Changhai.Xu Kai menoleh kebelakang dan melihat para pengawalnya yang sudah mengarahkan pedang. Dengan satu kibasan tangannya pedang itu diturunkan.“Hehehe kau terlalu berlebihan,” ucap Xiuhuan seraya merangkul leher Xu Kai dan menyeretnya kembali ke Kediaman Xu KaiJianying dan Liu Changhai mengikuti dari belakang. Tak lama mereka sampai di kediaman, pintunya ditutup dengan rapat.“Kau tidak jadi pergi?” tanya Xu Kai.“Kita tidak mungkin pergi kesana, dengan keadaan pasukan dan kuda yang kelelahan, di tambah cuaca sedang hujan,” ucap Xiuhuan setelah menidurkan tubuhnya pada ranjang milik Xu Kai. “Ya kau benar, kali ini aku setuju. Lagipula aku tidak terlalu khawatir pada Lian'er. Dia berada pada orang yang tepat,” ucap Liu Changhai ikut mendudukkan diri pada kursi di depan ranjang Xu Kai. “Aku tidak percaya dia semudah itu mati,” lirih Jianying. “Kau benar Jianying,” balas Liu Changhai.“Lagipula dia sudah mati sekali, tidak mungkin mat
“Adikku yang malang, apa yang akan kukatakan pada ibu?” ucap Jianying. Mereka bertiga terdiam dengan pikirannya masing-masing. Sementara Liu Changhai yang pergi tiba-tiba dengan keadaan marah. Ia pergi ke aula tempat Lian Wei menjalankan prosesi penghormatan terakhirnya. Namun mereka tidak ada di sana, ia diberitahu jika Wang Xuemin sudah membawanya. Melihat Liu Changhai yang tidak ada di kediaman segera mereka mencarinya. “Kemana Liu Changhai?” tanya Xiuhuan. Setelah Xu Kai membacakannya, Jianying mengambil kertas itu dan memasukkannya ke dalam hanfunya. Lalu mereka keluar dari kediaman. Xu Kai menghentikan seorang pelayan. “Dimana Pangeran Liu?” tanya Xu Kai. “Aula pemakaman, Yang Mulia.” Segera mereka menuju kesana dengan tergesa-gesa. Ketika sudah sampai mereka semua terdiam membeku. “Ada apa ini?” tanya Xiuhuan dan Jianying. Terlihat Liu Changhai yang duduk di lantai dengan kertas jimat yang sudah dibakar habis, yang tersisa hanya abunya. Yang pertama sadar adala
“Pisahkan mereka!”Xu Kai memerintahkan pengawalnya untuk memisahkan mereka.Dua orang pengawal memegangi Liu Changhai yang masih mengamuk.“Ini semua karenamu Xiuhuan! Jika kau bisa berlaku baik pada Lian Wei dia tidak akan mati!”Bruk…Liu Changhai jatuh terduduk, dengan pengawal yang masih memegangnya.“Seharusnya aku membawanya setelah tahu dia siksa. Aku yang salah, kenapa aku menuruti keinginannya untuk tetap tinggal? Aku seharusnya memaksanya,” ucap Liu Changhai penuh penyesalan. Air matanya jatuh begitu deras.“Bibi Fang Yin, maafkan kelalaian ku.”Xu Kai memegang pundak Liu Changhai, seolah sedang menguatkan.“Jianying kau harus terima akibatnya, kau sudah berjanji akan menjaga dia tapi dia mati! Aku tidak akan mengampuni kalian.”“Tenanglah, aku akan membawa kalian ke kediaman Lian Wei,” ucap Xu Kai menengahi.“Aku akan membuat perhitungan dengan kalian. Mulai sekarang kita bukan lagi teman,” ucapnya seraya melepaskan pegangan Xu Kai dan pergi sana. Sebelum pergi ia sempat m
“Lian Wei, aku harap ini yang terakhir kalinya.”Wang Xuemin seperti berbisik di telinga Lian Wei. Ia tidak ingin kejadian mengantar pemakaman wanita yang dicintainya terjadi lagi, meskipun ini hanya sandiwara. “Aku berharap… kau bisa menemaniku hingga tua Lian’er.”Sementara di Kekaisaran Xu, setelah tiga orang itu melapor pada petugas. Mereka diantarkan ke gerbang istana. Dari gerbang istana, penjaga gerbang mengantarkan mereka ke aula singgasana.“Hei, siapa yang berduka? Kenapa semuanya ditutupi kain putih?” tanya Liu Changhai.“Kakak sepupu, kau harus bersikap sopan.”“Benar Changhai, tanyakan itu saat bertemu Kaisar Xu,” sahut Xiuhuan.Seorang pengawal itu berhenti sejenak dan berbalik menatap ketiganya saat sudah sampai di pintu masuk aula.“Pangeran mohon tunggu sebentar, hamba akan pergi melapor pada Kaisar.”“Baiklah.”Pengawal itu masuk dan memberi hormat dengan berlutut.“Yang Mulia Kaisar, Putra Mahkota Li, Pangeran Kedua Li dan Putra Mahkota Liu ada disini. Mereka memin
Lian Wei dan Wang Xuemin beserta rombongannya bergegas menuju Kekaisaran Wu. Mereka tidak melewati Kekaisaran Shang. Tetapi mereka melewati jalur yang lain. Karena lebih dekat jika memotong jalur dibandingkan harus melewati Kekaisaran Shang. Lian Wei memandang keluar jendela, jalur yang asing baginya.“Kenapa kita lewat sini?”“Jalur memotong, ku yakin kau tak ingin ketahuan oleh keluargamu bukan?”Lian Wei masih tidak mengerti.“Jika kita memotong jalur akan lebih cepat sampai.”“Kenapa aku tidak tahu ada jalur ini? kapan jalur ini dibuat?”“Hmm… beberapa tahun lalu, aku tidak ingat kapan ini selesainya.”Di Benua Jiuzhou, posisi setiap kerajaan dan kekaisaran membentuk keseimbangan yang rumit selama ratusan tahun.Di bagian tengah berdiri Kekaisaran Shang, sebuah kerajaan yang berada tepat di jantung daratan. Letaknya yang strategis membuat kekaisaran ini menjadi penghubung bagi hampir seluruh jalur perdagangan dan perjalanan antarnegara. Para pedagang yang ingin menuju utara, sel







