LOGIN“I-ini…?”Di hadapannya terbentang sebuah lapangan luas. Ratusan pria dan wanita sedang berlatih secara berkelompok.Sebagian berlatih menggunakan tombak. Sebagian lainnya memegang pedang kayu.Di sisi lain, puluhan orang sedang menarik busur dan menembakkan anak panah ke sasaran.Tidak ada yang bermalas-malasan.Tidak ada yang berbicara.Semua bergerak mengikuti aba-aba.Lian Wei memperhatikan mereka dalam diam.“Ini baru seribu orang?”“Benar.”“Yang lainnya berada di tempat berbeda?”“Benar, tuan.”Lian Wei menarik nafas panjang. Ia tidak menyangka Xiao Wen benar-benar berhasil membentuk pasukan sebesar ini tanpa menarik perhatian pihak luar. Namun, sesuatu membuatnya lebih terkejut.“Berapa lama kalian melakukan semua ini?”“Tidak lama, hanya setengah tahun.”Lian Wei menoleh cepat, “Setengah tahun?”“Ya.”Xiao Wen tersenyum tipis.“Ketika kami pertama kali membawa mereka, sebagian besar bahkan tidak mampu memegang senjata. Tetapi mereka memiliki satu hal yang sangat kuat.”“Apa?”
“Jadi ini hasil yang kalian setor selama ini?”“Benar tuan, uang dari penyewaan jasa mereka besar. Sebagian kami setorkan pada tuan dan sebagian lainnya kami simpan untuk kebutuhan kami disini.""Berapa total budak yang kau bawa?""Ada tiga ribu, masing-masing seribu dan tersebar di berbagai tempat tuan.""Jadi kalian bertiga terpisah?" analisis Lian Wei. "Benar tuan," ucapnya membenarkan. "Ah… tuan apa kau butuh sesuatu?""Malam ini aku ingin melihat mereka.""Baik tuan, saya akan membawa tuan ke tempat persembunyian." "Bagus.""Tuan…" "Ada apa?"Bandit itu mendekat dan membisikan sesuatu pada Lian Wei. "Para budak itu sudah kami latih untuk persiapan perang. Katakan perintahmu kami akan segera menyerang," bisiknya. "Kau memang cerdas Xiao Wen, memang sesuai dengan apa yang aku inginkan," ucapnya tertawa mendengar perkataan bandit itu. Lian Wei menyipitkan matanya. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya berubah menjadi jauh lebih serius.“Tapi aku belum pe
“Hyaaa! Hyaaa!”“Tuan, sebentar lagi kita akan sampai di Kekaisaran Xu,” ucap Mingmei. “Kita harus sampai perbatasan sebelum siang.”Mereka memacu kudanya dengan maximal. Hingga saat hampir tengah hari mereka sampai di ibu kota Kekaisaran Xu. “Tao Mo cari tempat penginapan, kita akan menetap disini satu hari dan berangkat saat sebelum matahari terbit.”“Baik tuan.”“Tuan, mengapa kita tidak menginap di Istana Xu saja?” tanya Mingmei.“Bisa saja, hanya kita tidak akan lama disini. Kita hanya mampir untuk istirahat.”“Bukankah, disini ada rumah panglima Zei?”“Maksudmu, tempat persembunyian mereka?”“Benar tuan.”“Jika Tao Mo tidak menemukannya, kita akan menginap disana.”“Baik tuan.”Tao Mo berkeliling ibu kota dan akhirnya menemukan penginapan. Ia memesan tiga kamar, setelah mendapatkan kuncinya segera ia kembali untuk melapor. “Tuan saya sudah temukan tempat yang cocok.”“Baiklah ayo.”Saat mereka tiba di penginapan datang orang yang langsung mengambil alih kuda. Saat mereka semu
“Kenapa nona memilih ramuan ini? Bukankah ada ramuan yang lain?” tanya Yelu.“Ramuan ini adalah cara tercepat. Tuan harus melakukan banyak hal. Itu sebabnya ia memilih ramuan ini. Sebaiknya kita bersiap untuk pergi, setelah tuan bangun kita akan punya misi selanjutnya.”“Kau benar, kita perlu bersiap. Sebaiknya kita keluar dulu,” ajak Yelu lalu membenarkan selimut Lian Wei. Malam harinya Lian Wei bangun, dengan sedikit rasa sakit di punggungnya ia mencoba untuk bangun. “Tuan anda sudah sadar?” tanya Mingmei yang baru masuk kedalam. Ia segera membantu Lian Wei bangun.“Minta Yelu menyiapkan ramuan mandi.”“Ini kertas dan kuasnya tuan,” ucap Mingmei yang sudah paham dengan Lian Wei.Lian Wei menuliskan herbal untuk dicampur pada air mandinya. Ia harus berendam dengan ramuan obat agar lukanya mengering. “Berikan ini padanya, lalu siapkan makanan untukku.”“Baik tuan.”Mingmei pergi untuk menyiapkan makan malam dan menyampaikan pesan pada Yelu. Di bantu oleh Bao Yu, Yelu mengambil herb
“Lindungi Yang Mulia!”Para pengawal segera menghunus pedang.Lian Wei berbalik menuju jendela. Sebuah anak panah menembus kisi-kisi jendela dan melesat lurus ke arah Selir Cui.“Berhenti!”Lian Wei bergerak cepat.Tangannya menangkap anak panah itu hanya beberapa inci dari wajah Selir Cui.Namun sebelum siapapun sempat bereaksi, Selir Cui memuntahkan darah.Matanya melebar.“Cui'er!” pekik Kaisar Li dan segera bergegas menghampirinya.Lian Wei segera meraih pergelangan tangan Selir Cui.“Nadinya melemah.”Lian Wei menatap ujung anak panah, “Bukan anak panahnya.”Lian Wei mencium ujung panah tersebut.“Racun.”Wajah Kaisar Li berubah murka.“Siapa yang berani menyerang di dalam istanaku?!”Lian Wei justru menatap Selir Cui.Karena sebelum kehilangan kesadarannya, Selir Cui menggenggam tangan Lian Wei dengan sisa tenaganya.Bibirnya bergerak sangat pelan.“Gerbang... utara...”Lian Wei membungkuk.“Apa?”“Cari... orang...”Napas Selir Cui tersengal.“Yang memakai... giok...”Setelah me
“Jelaskan mengapa surat ini menyebut namamu.”Wajah Selir Cui seketika kehilangan seluruh warna. Lian Wei menatapnya tanpa berkedip.“Dan bukan hanya namamu,” ucapnya berhenti sejenak.“Surat itu juga menyebut perintah untuk membunuh ibuku, permaisuri kerajaan ini.”Kaisar Li mengepalkan surat tersebut.“Dan perintah untuk membuat kematiannya terlihat seperti kecelakaan saat melahirkanku.”Selir Cui terduduk lemas.“Tidak...”Lian Wei melangkah mendekat, “Masih ingin mengatakan bahwa kau difitnah?”Selir Cui menatap Lian Wei dengan kebencian yang tidak lagi mampu disembunyikan. Namun Lian Wei justru tersenyum.“Belum selesai.”Ia mengeluarkan sebuah botol kecil.“Karena ada satu hal lagi yang bahkan lebih menarik.”Kaisar Li menatap botol itu.“Apa itu?”“Racun.”Mata Kaisar Li melebar.“Racun yang sama ditemukan di dalam makanan ibuku.”Selir Cui langsung menatap botol tersebut dan kali ini, Lian Wei menangkap sesuatu yang sangat jelas.Ketakutan.Bukan ketakutan seseorang yang ditud
"Kau!"'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut.'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu,' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping.'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen
Satu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini."Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh







