로그인“Li Xinhua, apa kau mau menjadi murid inti terakhirku? Guru sendiri yang akan mengajarimu berlatih.”“Guru… murid sungguh merasa terhormat karena diberi kesempatan menjadi murid inti Anda.”“Hahaha baguslah kalau begitu,” ucap senang Adipati Xinxi.“Tapi guru, kenapa anda memilihku?”“Guru melihat banyak potensi darimu, sepertinya kau tidak perlu belajar di akademi karena pengalamanmu sudah banyak. Namun kau tetap masuk kesini walaupun kau sudah memiliki banyak ilmu.”“Guru…”“Guru hanya tua, tapi bukan guru tidak bisa melihat potensi dalam dirimu Li Xinhua.”“Tidak. Guru tidak tua, guru tetap yang paling tampan dan gagah di akademi ini,” ucap Lian Wei lalu mengambil teh untuk memberikan teh pada Adipati Xinxi untuk menerima hubungan murid dan guru ini.Adipati Xinxi menerima teh itu dan meminumnya, setelah meminumnya ia meletakan cangkir teh itu di atas meja.“Kalau begitu guru akan mengumumkan kepada semua orang, bahwa kau adalah murid terakhirku.”“Guru bisakah anda mengumumkan ha
“Besok pagi, datanglah ke Menara Tianji.”“Guru Besar…” salah seorang murid senior berseru pelan karena terkejut.Namun Adipati Xinxi telah berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan para murid yang saling berpandangan dengan wajah penuh kebingungan.Mereka tidak menyangka, seorang murid yang baru sehari memasuki akademi itu kembali menarik perhatian Adipati Xinxi untuk kedua kalinya.“Li Xinhua, sebenarnya apa yang Guru Besar lihat darimu yang tidak kami liaht? Kenapa sepertinya guru sangat tertarik padamu?”“Aku juga tidak tahu kakak senior.”“Li Xinhua, kau orang yang beruntung. Selama ini tidak ada satupun murid yang diundang masuk ke Menara Tianji, bahkan kami para murid inti pun hanya bisa mengetuk pintunya,” ucap Luo Yang.“sudah ayo kita berendam.”“Kakak duluan saja, aku mau keluar dulu,” ucap Lian Wei menghindari mandi bersama para seniornya.Lian wei berjalan tidak tentu arah. Ia hanya terus berjalan mengitari akademi. Sebenarnya tujuan utama dia adalah menjari jalan rahasi
Matahari mulai condong ke barat ketika Lian Wei duduk di bawah rindangnya pohon pinus. Di tangannya terbuka sebuah buku, seolah ia sedang membacanya dengan saksama. Namun, yang sebenarnya ia perhatikan bukanlah isi buku tersebut, melainkan selembar peta Akademi Adipati Xinxi yang diselipkan di antara halaman-halamannya sebagai penyamaran agar tidak menarik perhatian orang lain.Ujung jarinya, ia menelusuri setiap jalur yang tergambar.‘Asrama murid baru berada di sisi timur... Aula Pengajaran di tengah... Paviliun Kitab Suci di utara…’ gumamnya dalam hati.Tatapannya berhenti pada sebuah tanda berbentuk kolam.‘Kolam Mata Air Giok. Hanya murid dalam dan para tetua yang diizinkan memasukinya?’Di samping nama kolam itu terdapat catatan kecil.‘Airnya mengandung energi spiritual alami yang dipercaya sebagai kolam mandi para dewa, yang membantu memulihkan kelelahan dan mempercepat penyerapan qi dalam tubuh.’Lian Wei mengangguk pelan.“Tidak heran akademi dibangun di atas urat nadi spiri
Adipati Xinxi menatap lama kedua mata bening Lian Wei.“Li Xinhua... matamu mengingatkanku pada seorang teman lama.”Lian Wei sedikit terkejut. Ia tidak mengenal pria itu, apalagi teman yang dimaksudnya. Namun, dari sorot mata Adipati Xinxi, ia dapat merasakan kerinduan yang begitu dalam, seolah kenangan puluhan tahun lalu kembali hidup hanya karena sepasang mata yang serupa.Sesaat kemudian, Adipati Xinxi menghela nafas pelan. Ekspresinya kembali datar seperti semula.“Mungkin hanya kebetulan.”Ia mengalihkan pandangannya dari Lian Wei, lalu berbalik menghadap seluruh murid baru.Pada saat yang sama, Kepala Akademi melangkah maju dan menangkupkan kedua tangan.“Guru Besar, izinkan saya menyampaikan pengumuman kepada para murid baru.”Adipati Xinxi mengangguk tipis sebelum mundur beberapa langkah.Kepala Akademi memandang seluruh peserta dengan wajah serius.“Tradisi akademi kami dalam proses penerimaan murid baru adalah dengan diadakannya lomba keahlian untuk menentukan kalian layak
Bab 250“Paman.”Pria itu berbalik lalu tersenyum ramah.“Duduklah Xu Kai,” ucap pria itu mempersilakan.“Bagaimana performa murid baru tahun ini paman?” tanya Xu Kai.Pria itu tersenyum sebelum menjawab, “menarik, sangat menarik dari tahun sebelumnya.”“Oh ya? Jadi siapa yang membuat Paman Xinxin sampai terkagum seperti ini.”“Dia seorang gadis yang menyamar sebagai pria.”Deg…Jantung Xu Kai terasa seperti berhenti mendadak. Ia terdiam cukup lama sampai Xinxin menepuk pundaknya.“Ada apa Xu Kai.”“Ah… tidak. Aku hanya merasa aneh saja, aku jadi ingin bertemu dengannya,” ucap Xu Kai berbohong.Adipati Xinxi hanya menganggukkan kepalanya.“Apakah paman ingin menjadikannya murid inti?”“Paman tidak tahu, itu tergantung dengan performanya.”“Aku mengerti, seperti biasa paman selalu selektif dalam hal ini.”“Paman memanggilmu karena ada hal yang dibahas denganmu.”“Apa itu paman?”“Apakah benar Kekaisaran Song ingin berperang?”“Benar paman.”“Lalu siapa pemimpinnya?”“Untuk itu aku juga
“Dimana para pangeran?”Selir Cui dan Kasim Chen saling tatap.“Pangeran—” ucapan Kasim Chen terpotong.“Mereka sedang pergi ke Kekaisaran Wu, ada keadaan mendesak yang harus dibicarakan dengan Putra Mahkota Wu.”“Keadaan mendesak apa?” panik Kaisar Li, berusaha untuk bangun dari posisinya.“Yang Mulia sangat mencemaskan anak-anak. Yakinlah mereka akan baik-baik saja.”“Terimakasih Selir Cui.”Setelahnya Selir Cui pergi dari sana. Ia tidak kembali ke paviliunnya, melainkan pergi ke Istana Timur. Terlihat ia jalan dengan mengendap-endap, lalu meletakkan surat yang dibawanya di dalam sebuah pot bunga.Setelah selesai dengan aksinya ia kembali ke kediamannya. Tanpa ia sadari ada dua orang yang mengawasi mereka. Salah satunya adalah pelayan kaisar dan satunya lagi prajurit yang sedang bertugas. Pelayan kaisar itu adalah Lu Lixin dan tentu saja prajurit itu Tao Mo. Tao Mo segera memberitahu pengawal bayangan untuk menyampaikan berita tersebut. Di sisi lain Lian Wei masih makan bersama de
"Apa yang terjadi disini?" suara berat menginterupsi."Kakak?" Lien Hua menoleh ke arah sumber suara."Adik? Apa yang terjadi padamu?" Xiuhuan membantu Lien Hua untuk bangun."Kak, aku ingin mengunjungi kakak pertama. Kudengar dia terluka dan belum makan, tapi mereka melarangku.""Ini sudah perinta
Qianfan segera datang berlutut yang entah datang dari mana."Berikan obat pada kakakku yang menyamar itu.""Baik nona."Setelah kepergian Wang Xuemin, Lian Wei meminta Mingmei untuk memanggil Tabib Luo untuk datang. Tak lama kemudian Mingmei dan Tabib Luo datang ke ruang tamu. "Salam putri, anda m
"Kakak!" suara bariton khas Jianying menggema. "Sudah ku bilang kau jangan terlalu bodoh dan jangan ganggu adikku lagi. Tapi kenapa kau masih mengganggunya kak?" "Apa?" ucapnya sambil bangun dari posisinya yang memalukan. "Lian Wei jatuh karena didorong Lien Hua, lalu luka dalamnya itu karena
"Aku tidak tahu, aku hanya mengajakmu keluar untuk melihat kereta ini.""Apa?!" ucapnya terkejut. "Kau tahu aku sibukkan? Kenapa kau mengajakku tanpa tahu tujuan begini? Buang waktu tahu saja?!" ucapnya kesal. Wang Xuemin hanya mengangkat kedua bahunya acuh. "Menyebalkan," gerutu Lian Wei. "Hen







