LOGIN“Utusan dari Kekaisaran Xu telah tiba.”Xiuhuan dan Jianying saling pandang.“Suruh masuk.”Tak lama kemudian, seorang utusan Xu masuk dan memberikan surat bersegel kepada Jianying.“Ini pesan dari Yang Mulia Pangeran Xu.”Jianying membuka surat itu. Ekspresinya perlahan berubah serius.“Ada apa?” tanya Xiuhuan.“Kekaisaran Xu juga menerima laporan, mengenai pergerakan pasukan Song.”Ia menyerahkan surat itu kepada Xiuhuan. Isi suratnya singkat, Song sedang mengerahkan pasukan dalam jumlah besar.“Kenapa sekarang?” Xiuhuan mengerutkan kening.Belum sempat mereka berdiskusi lebih jauh, seorang pengawal lain berlari masuk.“Yang Mulia!”“Apa lagi?”“Dari ibu kota… ada kabar tentang Putri Lian Wei.”Suasana di dalam tenda seketika membeku.Xiuhuan langsung menoleh.“Lian Wei?”“Putri tidak ditemukan.”“Sejak kapan?” tangannya mengepal.“Sudah beberapa waktu, Yang Mulia.”“Bagaimana dengan Pangeran Wang? Apa ada kabar?”“Tidak ada Pangeran Kedua.”Jianying langsung mengambil pedangnya.“S
“Apa maksudmu?” tanya Jianying.“Lian Wei tidak menghilang karena diculik.”Xiuhuan membeku.“Dia pergi dengan kemauannya sendiri.”“Tidak mungkin,” sanggah Liu Changhai. “Kalau dia pergi sendiri, kenapa tidak memberitahu kami?”“Karena dia tahu kalian akan mencoba menghentikannya.”Kalimat itu membuat mereka bertiga terdiam.“Dia pergi ke mana?”Xiuhuan mengepalkan tangannya.Tatapan Wang Xuemin berubah serius.“Ke tempat yang sejak awal ingin dia hindari.”“Tempat apa?”Wang Xuemin menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya berkata,“Kekaisaran Song.”Wajah ketiganya seketika berubah.“Song?” ulang Jianying.Wang Xuemin mengangguk.“Dan kalau dugaanku benar…” ia menatap serpihan kain yang masih berada di tangan Changhai. “…dia tidak pergi ke sana untuk bersembunyi.”“Lalu untuk apa?” tanya Xiuhuan.Wang Xuemin terdiam sejenak.“Untuk menghentikan perang sebelum perang itu dimulai.”“Apa?!” sahut ketiga.“Lalu apa yang harus kita lakukan?”“Tidak ada, kalian hanya akan menghambat d
Di tempat lain, ketiga kakaknya sudah dibuat kalang kabut. Karena berita menghilangnya sang adik, hanya berdasarkan sepucuk surat dengan kalimat ‘Jangan mencariku, aku punya tugas lain,’ tanpa ada tanda kemana ia pergi.Li Xiuhuan berlari menyusuri lorong istana dengan wajah pucat. Li Jianying menyusul di belakangnya, sementara Liu Changhai terus mengirimkan para pengawal ke berbagai penjuru untuk mencari keberadaan Lian Wei.“Sudah kalian periksa seluruh kediaman?” tanya Xiuhuan dengan nafas memburu.“Sudah, Kak,” jawab Jianying. “Tidak ada jejaknya.”Xiuhuan menggenggam erat ujung lengan bajunya. Sejak tadi, firasat buruk terus menghantam dadanya.“Sudah ku bilang, adik sepupu tidak ada kemari,” ucap Liu Changhai yang santai melihat kedua saudaranya itu mengobrak-abrik istananya.“Memang apa lagi yang lakukan pada adik sepupuku?”Tidak ada jawaban.“Kita bahas itu nanti saja, yang penting kita harus tahu kemana adik pergi,” ucap Jianying.Liu Changhai mengalah.“Kalau begitu, kita
“Ayahanda, aku akan pergi memimpin pasukan untuk menyerang Jiazhen.”"Putra Mahkota?""Dendam Xin'er akan ku balaskan ayahanda.""Baik, kembali dulu Putra Mahkota kita akan membicarakan hal itu setelah rapat usai.""Baik.""Putra Mahkota berubah sejak putri datang ke istana.""Ada apa ini?""Kenapa dengan Putra Mahkota?"Banyak bisik-bisik di antara para menteri. Brak!Hong Li Song menghentakkan buku laporan di tangannya ke atas meja, hal itu membuat semua orang terdiam. “Apakah kita akan melanjutkan rapat, atau kalian masih ingin melanjutkan bergosip?” tegas Hong Li Song.Seketika suasana menjadi hening. Tak ada lagi yang berani berbicara di luar topik, dan rapat pun kembali dilanjutkan.Setelah rapat berakhir Li Song dan Tiong Wai pergi ke hutan belakang istana menemui Li Hao. Mereka mendiskusikan rencana penyerangan mereka dalam waktu. Lama mereka merencanakan penyerangan, akhirnya bisa menemui titik terang. Mereka sudah sepakat untuk menyerang Kekaisaran Shang setelah menyerang
Lian Wei menutup tirai tendanya dan merebahkan tubuhnya bersiap untuk tidur.Besok, ia akan menemukan apa yang sebenarnya disembunyikan Kekaisaran Song.Saat pagi hari mereka kembali ke istana, Lian Wei berpura-pura sakit lamanya kambuh. Jadi mengharuskan ia beristirahat di dalam kamar tidurnya. Mingmei datang dengan membawa obat oles dan ramuan obat. Mingmei memberikan ramuan untuk Lian Wei. “Yang Mulia Kaisar dan Putra Mahkota, hamba akan mengoleskan salep untuk putri, mohon Yang Mulia menunggu di luar,” ucapnya dengan hormat. “Baiklah, pelayan bantu putri,” perintah Hong Li Song. Mereka keluar namun saat mereka baru keluar, mereka mendengar jeritan Lian Wei. “Xiao Xinxin!” pekik Tiong Wai panik dan ingin masuk ke dalam. “Yang Mulia, tidak pantas melihat luka pada tubuh wanita yang belum bersuami. Mohon Yang Mulia bersabar dan menunggu mereka selesai mengobati putri,” ucap Tao Mo. Tak lama Mingmei dan pelayan lainnya keluar. Terlihat kain bekas yang penuh darah. Lian Wei senga
“Malam ini harus mendapatkan petunjuk,” lirihnya pelan.Tidak lama kemudian, suara langkah kaki kembali terdengar.“Xin’er.”Lian Wei yang sedang duduk segera menoleh. Hong Li Song masuk bersama dua orang tabib yang membawa kotak obat.“Ayah membawa tabib untuk memeriksa lukamu.”“Tidak perlu, Ayah. Lukanya hanya sedikit.”“Sedikit?” nada suara Hong Li Song langsung berubah tegas.“Lihat tanganmu. Bahkan ada luka di kakimu. Bagaimana mungkin kau mengatakan itu sedikit?”Lian Wei terdiam.Salah seorang tabib segera berlutut dan memeriksa lukanya.“Yang Mulia, lukanya tidak terlalu dalam. Namun tetap harus dibersihkan dan diberi obat agar tidak terinfeksi.”“Lakukan.”“Baik,” tabib itu mulai mengobati luka di tangan Lian Wei.Lian Wei sedikit meringis ketika obat menyentuh kulitnya. Melihat itu, Hong Li Song langsung mengerutkan kening.“Pelan-pelan.”“Yang Mulia, hamba sudah—”“Aku bilang pelan-pelan.”“Baik, Yang Mulia.”Lian Wei menatap ayahnya dengan sedikit heran. Sejak tadi pria
Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg
"Kau!"'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut.'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu,' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping.'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu
Satu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini."Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh







