LOGIN“Dimana Kaisar Li?”“Tuan putri?” ucap pengawal itu terkejut.“Aku tak akan mengulanginya lagi.”Dua orang pengawal itu saling pandang sejenak, lalu yang satunya memberanikan diri menjawab pertanyaan Lian Wei.“Di dalam, putri.”Brak!Mereka melihat ke arah pintu, terlihat Lian Wei yang mendorong pintu dengan keras. Sifat lamanya seperti kembali lagi, ke saat ia baru terbangun di tubuhnya.Seorang pengawal langsung berlutut di lantai."Yang Mulia mohon maaf, kami tidak bisa mencegah tuan putri," ucap seorang prajurit yang ketakutan. "Pergilah," perintah Hong Li Song. "Ada apa Xin'er?""Kenapa kau menunjukkan wajah dingin itu lagi Lian'er?" ucap Li Jiazhen."Katakan," ucap Lian Wei tanpa basa basi. "Apa yang telah kau lakukan pada orang-orang ku?" lanjutnya."Ayah hanya mengajari hal kecil saja Lian'er."Tak lama semua orang sudah berkumpul di ruang singgasana. "Sejak kapan anak buahku dapat diatur oleh kalian?!" marahnya. “Seorang bawahan memang sepatutnya begitu,” ucap Li Jiazhe
"Sejak kapan kau memanggilku tuan putri?!”Bruk…Segera Lixin berlutut didepan Lian Wei dan meminta ampun. Lian Wei berjongkok dan mencengkram wajah Lixin. "Katakan siapa saja yang menyentuh orangku atau kau akan menerima hukuman mati disini," ucapnya dingin. "Yang Mulia Kaisar Li," ucapnya takut. "Bagus, baik sekali kau ayah," ucapnya semakin dingin lalu pergi dari sana. "Ah... tuan! tuan!" pekik Lu Lixin mencoba mengejar Lian Wei namun saat tangannya meraih tangan Lian Wei segera di dorongnya menjauh. Lian Wei pergi menjauh dari sana dengan Lixin yang masih memanggil namanya walau sudah tersungkur. "Tuan," lirih Lu Lixin. Lu Lixin mencoba bangun dan mengejar Lian Wei meskipun sangat jauh tertinggal, tapi dia tetap berusaha mencegah Lian Wei mengamuk. “Bisa perang dunia lagi ini, aku harus menghentikan tuan,” ucap Lu Lixin dan mengejar Lian Wei.Beberapa pelayan langsung menyingkir dari jalan begitu melihat Lian Wei. Mereka takut dengan aura dingin yang keluar dari tubuh Lian
‘Suara yang akrab dan hangat ini…’ batin Lian Wei. ‘Xuemin menungguku bangun,’ Lian Wei menyadari suara hangat Xuemin. Masih menutup mata, suara di sekitar masuk ke telinganya. Tetapi matanya tidak bisa bergerak. ‘Aku sangat merindukannya, aku ingin kembali. Bagaimana cara untuk kembali?’ batin Lian Wei. Perlahan Lian Wei yang asli dan Fang Yin menghilang. Bukan menghilang melainkan menyatu dalam dirinya, tidak ada lagi yang asli dan yang palsu. Hanya ada satu orang, Lian Wei yang dikenal semua orang. Tak lama cahaya putih yang bersinar terang menyelimuti Lian Wei atau kita kenal sebagai Xinxin. Kesadaran Lian Wei kembali ke tubuhnya. Kelopak matanya mulai mengedip, jemari lentiknya perlahan bergerak. Semua orang di sana sangat menantikan Lian Wei bangun sangat berharap Lian Wei menunjukkan hasil yang positif. Wang Xuemin masih setia menunggu Lian Wei bangun, disaat semua orang sudah terlelap hanya dia satu-satunya yang masih terjaga."Lian'er bangunlah."Lian Wei membuka kedua
“Berhenti apa yang akan kau lakukan pada putriku?” cegah Li Jiazhen.“Jika Yang Mulia Kaisar tidak ingin melihat tuan meninggal, lebih baik anda diam saja. Serahkan tugas ini pada orang lebih berpengalaman.”Tegas.Hari ini entah mengapa sikap Lu Lixin begitu berbeda dari biasanya.Belum sempat Li Jiazhen menjawab sudah ditahan oleh Hong Li Song.“Biarkan dia mencoba, bagaimana dia di ajari oleh putri kita. Tidak mungkin akan salah, kau tidak ingat sehebat apa orang miliknya?”Mingmei masih mengulurkan tangannya dengan suntikan di tangannya. Lu Lixin menerimanya dengan ragu, namun ia teringat dengan perkataan Lian Wei. ‘Jika seseorang mengalami kejang saat kau sudah mengikuti semua prosedur ini, kau tidak boleh panik. Ambil pil penenang dan berikan padanya. Cek nadinya kembali, lalu cek kelopak matanya. Jika masih mengalami kejang. Ambil cairan nomor delapan dan suntikan pada lengannya.’‘Apa kau sudah mengerti Lu Lixin?’‘Sudah tuan, aku akan mengingatnya.’Ingatan itu seakan berput
Sementara itu, Hong Tiong Wai membawa pasukannya menyisir bagian barat.Ia menemukan beberapa prajurit yang mencoba melarikan diri dengan melepas zirah mereka dan mengganti pakaian."Berhenti!"Mereka berbalik.Salah seorang langsung berlari, Hong Tiong Wai mencabut pedangnya.Sret!Ia melemparkan pedangnya ke tanah tepat di depan kaki pria itu. Pria tersebut tersandung dan jatuh."Jangan membuatku mengejar kalian."Para prajurit segera mengepung mereka. Hong Tiong Wai berjalan mendekat."Kalian pikir dengan melepas zirah, aku tidak akan mengenali kalian?"Tidak ada yang menjawab."Kalian semua pernah berada di bawah komando Hong Li Hao.""Kami hanya menjalankan perintah," ucap salah seorang pria menggertakkan gigi."Kalau begitu, kalian akan menjelaskan semua perintah yang kalian jalankan."Hong Tiong Wai memberi isyarat, "Ikat mereka."Para prajurit segera menangkap mereka. Namun ketika hendak pergi, Xiuhuan melihat seorang pria yang terus menundukkan kepalanya, tatapannya mencuriga
Wang Xuemin masih ingat saat tubuh Lian Wei terbaring di atas tandu darurat. Darah masih membasahi bagian samping zirahnya. Seorang tabib wanita Lu Lixin berlutut di sisinya, berusaha menghentikan pendarahan dengan kain yang terus berubah warna menjadi merah.Namun yang paling membuat Wang Xuemin gelisah bukan hanya luka itu. Lian Wei belum juga membuka mata. Wang Xuemin mengusap wajahnya kasar, memandang Lian Wei masih tertidur di ranjangnya."Lian'er..."Wang Xuemin duduk di samping ranjangnya dan menggenggam erat tangan Lian Wei, jari-jari gadis itu terasa dingin."Sudah cukup lama," gumamnya.Tabib yang sedang memeriksa lukanya menundukkan kepala."Yang Mulia, luka tuan cukup dalam. Tuan kehilangan darah yang cukup banyak. Tuan mungkin… membutuhkan waktu untuk sadar.""Waktu?" Wang Xuemin menatap Lu Lixin itu tajam."Berapa lama?"Lu Lixin terdiam sesaat."Kami tidak dapat memastikan."Jawaban itu membuat dada Wang Xuemin semakin sesak. Ia kembali menatap wajah Lian Wei.Biasanya
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen
Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg
Satu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini."Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu







