INICIAR SESIÓN"Ini kesempatan bagiku bukan? Apakah aku dapat meminta apapun?”"Ya katakanlah," ucap Jiazhen. "Baiklah kalau begitu aku tak akan segan," ucapnya kemudian berpura-pura berpikir. "Kakak, berikan wilayah selatan Kekaisaran Shang padaku."Wilayah selatan kerajaan adalah tempat penambangan terbesar, juga terletak markas tentara Xinxin sebelum pindah ke Kekaisaran Lian Fang Xin. "Hanya itu?""Kurangi pajak untuk semua bisnisku.""Untukmu kau hanya perlu membayar pajak sebanyak tiga toko saja yang menghasilkan lebih banyak keuntungan, selain itu tokomu yang lain dibebaskan pajak.""Kau pelit sekali.""Kerajaan juga perlu dana Lian'er berbelas kasihanlah.""Baiklah baik, tiga toko saja.""Hmmm, lalu ayah buatkan pernikahan termegah yang belum pernah ada. Ayah harus banyak mengeluarkan banyak uang untuk pernikahanku dengan Pangeran Wang.""Apa?!" pekik Wang Xuemin terkejut. "Kenapa? Kau tidak akan menikah denganku Xuemin?""Tentu! Tentu saja aku mau!" serunya bersemangat. "Baiklah, ayah
"Adik ketiga, kau yang bilang membunuh wanita kaisar adalah kejahatan besar. Aku sudah menghukumnya sesuai dengan hukum kekaisaran. Lagi pula bukan aku yang membunuhnya, aku hanya menyiksanya dengan sadis. Tapi kau sendiri yang membunuhnya dengan tanganmu sendiri malam itu bukan?""Apa?! Tidak untuk apa aku lakukan hal itu? Dia ibuku!""Tentu saja kau tidak puas dengan ibumu. Ibumu merusak rencanamu. Itu sebabnya kau meracuni Selir Cui bukan? Kau sengaja pulang dari akademi dan membawakannya hadiah.""Apa? Kau meracuni ibuku?!" kesal Lien Hua pada Mayleen.‘Sudah ku bilang, ini drama yang menarik. Bagaimana jika di jadikan film ya?’ batin Lian Wei senang. "Oh hampir lupa, adik ketiga… kau juga berkomplot dengan Paman Hong Kedua untuk pemberontakan di Kekaisaran Shang bukan?"Lian Wei mengambil berkas lain dan menyerahkan pada ayahnya. Ia membacanya kemudian membanting berkas itu di hadapan Mayleen. "Li Mayleen!" marah Kaisar Li. "A-ayah aku tidak melakukan hal itu!""Bagus sekali M
"Xuemin, aku ingin tapi masih ada satu hal yang harus ku lakukan. Bisakah kau menunggu sebentar lagi?""Tidak masalah, aku sudah pernah menunggumu sangat lama. Aku tidak keberatan jika menunggu sedikit lagi.""Maafkan aku.""Ku bilang tidak masalah," ucapnya sembari memeluk kembali Lian Wei. Keesokan paginya saat Hong Tiong Wai sedang mengadakan pertemuan dengan para pejabat, Lian Wei masuk kedalam dan membuat pandangan semua orang tertuju padanya. Wanita tidak boleh masuk ke ruang pengadilan, namun berbeda halnya dengan Lian Wei. Ia juga seorang kaisar yang memimpin suatu daerah. "Salam kakak kaisar.""Bangunlah.""Salam Kaisar Lian Fang Xin," ucap para menteri. "Bangunlah.""Adik? Kenapa kau kemari?" tanya Tiong Wai. "Aku ingin kakak memberikan keadilan bagiku.""Siapa yang menindasmu?" geram Hong Tiong Wai. Ia mencengkram kursi dengan erat, bahkan berkas di tangannya sudah di banting di atas meja."Ini tentang kematian Mendiang Permaisuri Li, ibuku. Bisakah kau mengadilinya dis
"Kau tidak apa-apa?” tanya Xu Kai memutari tubuh Xi Lingxue dengan panik. Xi Lingxue segera menggenggam lengan kekar Xu Kai. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." "Tunggu sebentar, aku akan membelikanmu minum." Xu Kai hendak berbalik, tetapi Xi Lingxue segera menahannya. "Tidak. Tidak perlu, kita kembali saja." "Baiklah." Xu Kai akhirnya mengangguk. Ia berjalan di sisi Xi Lingxue, sesekali menoleh untuk memastikan wanita itu benar-benar tidak terluka. Suasana pasar malam yang sebelumnya ramai kini berubah kacau. Orang-orang berlarian menjauh dari sebuah kios yang terbakar. Asap mengepul ke udara, sementara beberapa pedagang berusaha menyelamatkan barang dagangan mereka. Xi Lingxue tanpa sadar semakin mendekat kepada Xu Kai. Pria itu menyadarinya, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memperlambat langkahnya agar Xi Lingxue tidak tertinggal. "Jangan terlalu dekat dengan kios-kios. Api bisa menyambar," ucap Xu Kai. "Aku tahu." "Kalau tahu, jangan berjalan di belakangku." X
"Kau!""Tapi adik bukankah itu wajar jika seorang komandan membunuh musuhnya?""Kau membunuh ibuku! Kau! Kau yang mendorong ibu pada kematian! Kau juga yang menyiksanya!" jerit Mayleen dengan tangan yang hendak menampar Lian Wei. Sementara targetnya hanya diam di tempat tanpa berbuat sesuatu. "Pengawal! Bawa dia pergi dari sini! Masukan dia ke penjara!" titah Li Jiazhen. "Baik Yang Mulia," dua orang pengawal memegang kedua lengan Mayleen dan menyeretnya pergi. "Ayah! Kau harus dengarkan aku! Dia membunuh istrimu!""Ayah! Tegakkan keadilan untuk ibu!""Membunuh wanita kaisar adalah kejahatan ayah!""Ayah!""May'er," lirih Lian Wei berpura-pura sedih. "Ayah lepaskanlah saja dia.""Lian'er, jangan pikirkan perkataan adikmu yang gila itu. Dua baru keluar dari hukuman kurungannya."‘Mayleen, apa kau menjadi gila karena rencanamu yang gagal itu?’ batin Lian Wei tersenyum. “Tapi ayah…”“Tenang saja, dia tidak akan membunuh dirinya sendiri.”"Ayah benar, adik tidak akan lakukan itu. Ayah
Segera Hong Tiong Wai masuk ke dalam, ia melihat adiknya sedang tidur. Ia duduk di tepi ranjang, Hong Tiong Wai merapikan selimut Lian Wei. "Xin'er kau pasti lelah menjadi Kaisar Lian Fang Xin, tidurlah yang nyenyak adikku," ucapnya seraya mengurut kening Lian Wei yang berkerut. Semakin lama kerutan itu menghilang, Hong Tiong Wai pun tidak tinggal lebih lama lagi, ia segera kembali ke kediamannya. Keesokan paginya, Lian Wei yang duduk di gazebo taman miliknya kedatangan tamu. Ia masih sibuk dengan berkas militer yang baru sampai pagi ini. "Anming, kenapa ada laporan lumbung makanan di perbatasan cepat sekali habisnya. Bukankah kita baru mengisinya minggu lalu? Kenapa mereka meminta lagi?""Sebenarnya Yang Mulia, pasokan makanan minggu lalu dibagikan prajurit untuk daerah miskin di luar perbatasan.""Masih ada daerah miskin di luar perbatasan?""Ya, Yang Mulia.""Kalau begitu pergilah untuk meyakinkan warga desa di sana untuk bergabung dengan kekaisaran kita.""Sepertinya hal ini a
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen
Satu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini."Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh
Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg
"Kau!"'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut.'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu,' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping.'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan







