LOGIN“Anda tahu bagaimana perasaanku saat mengira aku kehilanganmu?!” Lian Wei hanya berdiri diam, semantara Mingmei sudah terduduk sambil menangis. “Sudahlah,” ucap Lian Wei yang berjongkok dan menenangkan Mingmei. Detik berikutnya Mingmei memeluknya erat. Sangat erat. Seolah takut wanita itu akan menghilang lagi. “Anda masih hidup…” tangisnya pecah. “Anda benar-benar masih hidup…” Lian Wei membalas pelukan itu. “Maafkan aku.” Anming yang biasanya tenang langsung berlutut. Air mata mengalir di wajah pria itu. “Putri…” ucap Anming dengan suaranya serak. “Hamba... benar-benar mengira putri telah pergi…” Lian Wei segera menghampirinya. “Anming.” Pria itu menundukkan kepala, bahu lebarnya bergetar menahan tangis. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Lian Wei melihat Anming menangis seperti anak kecil. Sedangkan Tao Mo hanya berdiri mematung. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Lian Wei. “Kenapa diam saja?” tanya Lian Wei pelan. Tao Mo tertawa kecil. Namun air m
Langit sore diselimuti awan kelabu.Upacara pemakaman Putri Agung Li Lian Wei telah berakhir sejak beberapa saat lalu. Pemakaman di gelar dengan tertutup, hanya keluarga kerajaan dan pengikut setia Lian We. Satu per satu dari mereka meninggalkan area pemakaman kerajaan.Tangisan telah mereda.Dupa yang dibakar perlahan habis dimakan waktu. Namun satu orang masih berdiri di depan makam yang baru ditimbun tanah itu.Wang Xuemin.Jubah putihnya berkibar pelan diterpa angin.Tatapannya tidak pernah lepas dari batu nisan yang terukir nama wanita yang dicintainya.“Semua orang sudah pergi. Tidak ada lagi nama yang begitu akrab di telinga ku setelah hari ini.”Wang Xuemin bermonolog.“Kenapa harus sampai sejauh ini?”Beberapa saat kemudian, ia berjongkok di depan makam. Tangannya menyentuh tanah yang masih basah. Kemudian mengambil cangkir berisi arak, lalu ia minum sebagian dan sisanya dituangkan ke tanah.“Aku tidak pernah menyangka harus mengantarmu dengan cara seperti ini.”Suaranya begi
Tidak terasa mereka telah tiba di tempat tujuan, Wang Xuemin yang tidak tega membangunkan Lian Wei hanya membiarkannya saja hingga gadis itu bangun sendiri. Kereta mereka masuk di halaman belakang, sementara iring-iringan masuk lewat pintu utama.“Kau sangat cantik saat tidur, bisiknya dengan merapikan anak rambut Lian Wei. Namun Lian Wei bermimpi buruk, terlihat ia mengerutkan keningnya.‘Komandan kita harus bagaimana?’‘Cepat keluar dari sini! Sebentar lagi bomnya akan meledak!’‘Xinxin kau tak apa?’‘Ayah?’‘Komandan ini adalah markas penjahat itu.’‘Ku mohon jangan mati Xinxin.’‘Kakak janji akan makan dan pergi bersamaku kan?’‘Iya, Lian Wei kakak janji.’‘Xin'er kenapa kau meninggalkan ayah seperti ini?’‘Bangunlah Xin'er.’“Hah!” Lian Wei terbangun dengan nafas yang tidak beraturan. Sejak tadi Wang Xuemin mencoba membangunkan Lian Wei saat ia merasakan Lian Wei yang gelisah dalam tidurnya. Mimpi tentang kejadian saa detik-detik kematiannya, lalu mimpi tentang keinginan besa
“Xu… Xu Kai? Kau bercanda bukan?” tanya Liu Changhai.Xu Kai menoleh kebelakang dan melihat para pengawalnya yang sudah mengarahkan pedang. Dengan satu kibasan tangannya pedang itu diturunkan.“Hehehe kau terlalu berlebihan,” ucap Xiuhuan seraya merangkul leher Xu Kai dan menyeretnya kembali ke Kediaman Xu KaiJianying dan Liu Changhai mengikuti dari belakang. Tak lama mereka sampai di kediaman, pintunya ditutup dengan rapat.“Kau tidak jadi pergi?” tanya Xu Kai.“Kita tidak mungkin pergi kesana, dengan keadaan pasukan dan kuda yang kelelahan, di tambah cuaca sedang hujan,” ucap Xiuhuan setelah menidurkan tubuhnya pada ranjang milik Xu Kai. “Ya kau benar, kali ini aku setuju. Lagipula aku tidak terlalu khawatir pada Lian'er. Dia berada pada orang yang tepat,” ucap Liu Changhai ikut mendudukkan diri pada kursi di depan ranjang Xu Kai. “Aku tidak percaya dia semudah itu mati,” lirih Jianying. “Kau benar Jianying,” balas Liu Changhai.“Lagipula dia sudah mati sekali, tidak mungkin mat
“Adikku yang malang, apa yang akan kukatakan pada ibu?” ucap Jianying. Mereka bertiga terdiam dengan pikirannya masing-masing. Sementara Liu Changhai yang pergi tiba-tiba dengan keadaan marah. Ia pergi ke aula tempat Lian Wei menjalankan prosesi penghormatan terakhirnya. Namun mereka tidak ada di sana, ia diberitahu jika Wang Xuemin sudah membawanya. Melihat Liu Changhai yang tidak ada di kediaman segera mereka mencarinya. “Kemana Liu Changhai?” tanya Xiuhuan. Setelah Xu Kai membacakannya, Jianying mengambil kertas itu dan memasukkannya ke dalam hanfunya. Lalu mereka keluar dari kediaman. Xu Kai menghentikan seorang pelayan. “Dimana Pangeran Liu?” tanya Xu Kai. “Aula pemakaman, Yang Mulia.” Segera mereka menuju kesana dengan tergesa-gesa. Ketika sudah sampai mereka semua terdiam membeku. “Ada apa ini?” tanya Xiuhuan dan Jianying. Terlihat Liu Changhai yang duduk di lantai dengan kertas jimat yang sudah dibakar habis, yang tersisa hanya abunya. Yang pertama sadar adala
“Pisahkan mereka!”Xu Kai memerintahkan pengawalnya untuk memisahkan mereka.Dua orang pengawal memegangi Liu Changhai yang masih mengamuk.“Ini semua karenamu Xiuhuan! Jika kau bisa berlaku baik pada Lian Wei dia tidak akan mati!”Bruk…Liu Changhai jatuh terduduk, dengan pengawal yang masih memegangnya.“Seharusnya aku membawanya setelah tahu dia siksa. Aku yang salah, kenapa aku menuruti keinginannya untuk tetap tinggal? Aku seharusnya memaksanya,” ucap Liu Changhai penuh penyesalan. Air matanya jatuh begitu deras.“Bibi Fang Yin, maafkan kelalaian ku.”Xu Kai memegang pundak Liu Changhai, seolah sedang menguatkan.“Jianying kau harus terima akibatnya, kau sudah berjanji akan menjaga dia tapi dia mati! Aku tidak akan mengampuni kalian.”“Tenanglah, aku akan membawa kalian ke kediaman Lian Wei,” ucap Xu Kai menengahi.“Aku akan membuat perhitungan dengan kalian. Mulai sekarang kita bukan lagi teman,” ucapnya seraya melepaskan pegangan Xu Kai dan pergi sana. Sebelum pergi ia sempat m







