LOGINبسبب ساعة يد معطلة ورسالة أُرسلت بالخطأ، تحولت حياة الطالبة المشاغبة 'حلا' إلى جحيم مُطلق! كانت تظن أنها ترسل لوالدها تشتكي من أستاذها الجامعي الصارم، وتصفه بـ 'النكدي الذي يخطط لاحتلال العالم'.. لكن الصدمة الصاعقة كانت عندما اكتشفت أن المستمع والمستدرج خلف الشاشة ليس سوى البروفيسور 'يوسف' نفسه! يدخلان قاعة المحاضرات بـ 'حظر مؤقت'، وتبدأ بينهما لعبة انتقام باردة ومثيرة؛ هو يريد ترويض عنادها، وهي تحاول النجاة من سلطته. لكن خلف هذا القناع الصارم، يخفي البروفيسور سراً مظلماً وماضياً يرفض نسيانه. بين نظرات قاسية تخفي خلفها رغبة متقدة، وعلاقة يراها المجتمع خطيئة محرمة.. كيف سيتحول الكره والندّية إلى عشق مستحيل يجرفهما معاً؟ وهل ستصمد قصة حبهما عندما يتدخل الماضي لتدمير كل شيء؟
View MoreSuara kericuhan antara kedua orang tua dengan anak perempuannya. Membuat seisi ruangan menjadi panas akibat perbincangan yang cukup gila. Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening karena ucapan dari Raeny.
"Mah!! Pah!! Suruh Livia aja yang nikah sama pria mafia itu, aku kan udah punya Rendy!!" ucap Raeny menatap tajam kepada kedua orangtuanya. "Oh? betul juga ya, kenapa mama baru kepikiran ada anak itu?" ucap Mama sambil tersenyum licik. "Papa juga baru kepikiran.." sahut Papa menatap pada istrinya. "LIVIAAAA!!!" teriak Mama sangat nyaring. Livia datang sembari memegang sapu di tangannya, "Iya mah, kenapa?" "Simpan dulu itu sapu!! Mama dan Papa mau ngomong sama kamu," tegas Mama. "Oh baik, mah.." Livia segera menyimpan sapu jauh-jauh dari tempat itu. "Kenapa Mah? Pah?" tanya Livia yang baru kembali. "Jadi, mama mau kamu menikah dengan pria mafia terkenal!! Mama tidak mau tau, kamu harus terima itu!!" tegas Mama sambil melipatkan tangan. "A-apa? Menikah? T-tapi kenapa Mah? Pah?" tanya Livia menatap bingung kepada keduanya. "Kamu tahu kan keadaan keluarga kita sedang kritis!! Kamu tahu kan?!!!" bentak Papa sangat keras. "Tau.." lirih Livia menjawab takut. "Ya, kamu harus menggantikan kakakmu untuk menikah!! Karena hanya dia yang bisa menyelamatkan keluarga kita!!" tegas Papa. "Mikir deh.. Gue udah punya pacar dan lu? pfthh.. belum." Raeny menahan tawanya, "Mending lu terima itu deh.. daripada jadi beban di sini." "Benar kata kakakmu!!" sahut Mama. "Tapi mah.. aku.." "SUDAH!! Jangan membantah!!" bentak Mama menatap tajam pada anak tirinya. Livia hanya terdiam di tempat sambil menundukkan kepalanya. Menahan air matanya yang ingin keluar, perasaannya takut melingkup hatinya. "UDAH-UDAH!! Mending lu pergi dari sini, dan lanjutin urusan lu bersih-bersih.." usir Raeny sangat kejam dan menyakitkan. Livia hanya mengangguk mengerti, langkahnya pergi meninggalkan tempat menuju ruangan sebelumnya. Tiba-tiba tak terasa air matanya mengalir melewati pipinya. "Kenapa harus aku?" gumamnya. "A-aku belum siap.." Mengingat umurnya masih muda dan belum memiliki kemampuan dalam berumah tangga. Sangat mustahil, dirinya menjadi istri yang baik. Ia belum mengetahui apapun tentang suami istri. Apa yang harus dilakukannya? Apakah harus menerima pernikahan ini? Tetapi, keluarganya sangat berharga jika tidak diselamatkan. Mungkin ini adalah pilihan terbaik untuk menyelamatkan finansial keluarganya. Terpaksa menerima pernikahan ini karena kondisi keluarganya lebih penting dibandingkan dirinya. "Memasak apakah cukup?" pikirnya. "Hem... sudahlah, aku gak mau menangis hanya karena hal sepele ini!!" ucapnya keras sambil menghapus air matanya di sekitar pipinya. "Huh, aku harus kuat!!" Livia melanjutkan membersihkan lantai secepatnya karena pekerjaannya tidak hanya satu, masih ada beberapa tugas lainnya yang belum dilakukan. Tak terasa keringatnya mengalir dari dahinya ketika selesai dengan tugas awalnya. "LIVIAAAA!!" teriak Mama dari kamar mandi. "Hah? Apa mah?" tanya Livia menghampiri Mama yang ada di dalam kamar mandi. "Lihat iniii!! Kamar mandi kotor, yaampun.... Mama ga sanggup melihatnya." Mama keluar dari kamar mandi sambil menutup hidungnya. "Maaf mah... aku lupa bersihin kamar mandinya!!" ucap Livia menundukkan kepalanya sebagai permintaan maafnya. "Aduuuhhh!! Sekarang bersihin!! Awas ya kalau Mama ke sini belum bersih," geram Mama mengancam anak tirinya. "Baik, mah.." "Dasarrr anak gatau diri... kerjaannya lupa terus, lupa terus..." ocehan Mama sambil melangkah pergi. "Huh, maaf mah.." lirihnya. Semenjak mamanya meninggal, kehidupan telah berubah ketika Papa menikah dengan wanita lain yang sekarang menjadi mama tirinya. Dari dirinya yang tak pernah di anggap sebagai anak, melainkan menganggapnya seperti pembantu rumah. Berbeda dengan kakak tirinya yang selalu di prioritaskan. "Hem.. apa salahku?" Belasan tahun hidup penuh penekanan dan ketakutan. Lebih sakitnya ketika sifat Papa berubah menjadi keras dan kejam. Berusaha mengembalikan sifat Papa dulu itu sangat mustahil. "Papa.. ayo kembali seperti dulu.." Livia menghapus air matanya menahan nafasnya agar teratur. Mungkin saja, kehidupannya yang sekarang memiliki kebahagiaan tersembunyi. Hanya menunggu waktu dan tempat. Di sisi lain, Papa Tion sedang menghubungi seseorang yang dia butuhkan. "Ya dia mau..." ucap Papa sangar semangat. "Ya... Lalu?" tanya pria itu. "Apakah kau bisa datang sekarang untuk melihat calonmu terlebih dahulu?" tanya Papa. "Hm, aku sedang sibuk, mungkin nanti malam aku bisa ke sana," ujar pria itu. "Aku tidak meminta kemungkinan, aku butuh jawaban yang tepat.." "Ya, malam." "Kalau begitu Terima kasih, ku ingatkan kembali putriku sangat cantik. Kau pasti menyukainya.." "Aku tak peduli itu.." jawaban dingin dari sana. Telepon dimatikan dari pihak sana, Papa Tion merasa kesal sedikit dengan perilaku lelaki itu. Untungnya, ia bisa menahan emosinya terhadap lelaki mafia itu. Kalau tidak, mungkin nyawanya sudah terancam. "Sayang, bagaimana?" tanya sang istri yang baru saja datang menghampiri suaminya di kamar. "Dia datang ke sini nanti malam," jawab sang suami sembari tersenyum puas. "Yesss!!! Kalau begitu, usaha kita akan kembali sukses...." seru Mama Yeny sambil memeluk suaminya. "Aku lebih senangg, istriku.." sahut Papa Tion. Mereka pun segera menyiapkan makanan untuk nanti malam. Sedangkan, Livia sejak pagi sampai malam tidak ada hentinya mengerjakan pekerjaan rumah. Hingga waktu malam telah tiba, Livia duduk di kursi makan makanan untuknya. Karena di pagi hari, ia hanya di berikan makan nasi putih saja. Perutnya sudah sakit menahan lapar dari sejak pagi. Tubuhnya merasa pegal dengan kerjaannya yang tiada henti. Telihat wajahnya sudah pucat pasi menahan lapar. "NIH MAKAN!!" Mama Yeny memberikan satu piring yang berisi nasi, daging, telur, dan ikan secara kasar kepada Livia. Wajah Livia berbinar ketika melihat makan malamnya yang bergizi. "Ah ini?? Makasih Mama!!" Livia langsung menarik piring itu, mulai menyantap makanannya dengan lahap. Mama Yeny hanya mendecih, "Hari ini spesial untuk kamu karena calon suamimu mau datang ke sini!!" Livia menghentikan makannya, menatap wajah Mama tirinya penuh keterkejutan. "Beneran mah?" "Ya, setelah makan.. kamu harus siap-siap, jangan kucel dan jangan bau!!" pesan Mama Yeny kepada anak tirinya. "I-iya mah..." Livia melanjutkan makan malamnya, "Kenapa secepat ini?" batinnya merasa cemas. Tanpa berpikir panjang, Livia segera menghabiskan makanannya. Tak biasanya ia mendapatkan makanan lezat seperti ini. Maka, makanan itu habis dalam waktu singkat. "Uh.. aku harus siap-siap!!" Livia segera pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Sedangkan, Raeny dan Mama sudah bersiap lebih dulu dibandingkan Livia. Percakapan di ruang tamu membuat keduanya sedikit bertengkar. "Sayang, kenapa kamu ga mutusin Rendy? Kamu tau kan pria mafia itu tajir melintir.. hidup kamu sangat terjamin, Raen.." ucap Mama dengan lembut kepada anaknya. "Aku gamau hidup aku hancur mah!! Aku tau, dia kaya.. tapi, sifatnya itu yang bikin aku gasuka mah!!!" rengek Raeny menolak dengan kesal. "Ohh begitu ya sayang, gapapa. Lagipula kita juga akan dapat harta pria itu lewat anak itu..." bisik Mama kepada anaknya. Raeny tertawa puas, "Harus dong mah!! Aku pokoknya harus dapet yang banyak!!!" "Tentu dong sayang..."دخل الجميع القاعة والهمس لا يتوقف. تعمّد "أمير" بأسلوبه الواثق والجريء أن يتحرك بخطوات متريثة، وجلس في المقعد المجاور لحلا مباشرة! التفت إليها بابتسامة ساحرة ووسيمة، وهمس بنبرة خفيضة:"يبدو أن أستاذ المادة شديد الصرامة.. أم أنه هكذا معكِ أنتِ فقط؟"ارتبكت حلا، وحاولت إبعاد عينيها عنه وهي تعدل دفاترها: "الدكتور يوسف لا يحب الفوضى فقط يا أمير."في هذه اللحظة، اعتلى يوسف المنصة. رمى ملفه على الطاولة بقوة أحدثت صوتاً جافاً جعل القاعة تصمت كلياً. كانت نظراته كالرصاص تسقط مباشرة على "أمير" الجالس بجانب حلا.فتح يوسف الشاشة التفاعلية، وبدأ الشرح بنبرة حادة وصارمة أعلى من المعتاد. كان يتحرك في القاعة كالإعصار، ونظراته الشغوفة والمشتعلة بالغيرة تلاحق حلا كلما حاولت الالتفات نحو أمير.وفجأة، توقف يوسف في منتصف القاعة، واستدار نحو أمير بثقة وابتسامة ساخرة خالية من الدفء:"السيد أمير... بما أنك وافد جديد وتملك وقتاً للحديث الجانبي أثناء الشرح، تفضل إلى السبورة وقم بحل هذه المعادلة المعقدة لنرى إن كانت شهرتك ترافقها المعرفة أيضاً."سرت همهمة بين الطلاب، وابتسم أمير بتحدٍّ ونهض بثقة متوجهاً للسبورة
ضغطت حلا على زر الإجابة بيد ترتجف، وحاولت تنظيف حنجرتها بسرعة لتبدو نبرتها طبيعية، ثم وضعت الهاتف على أذنها وهي تتراجع خطوة للخلف:"أهلاً أمي... نعم، أنا بخير."على الطرف الآخر، جاء صوت والدتها الدافيء والمستفسر: "أهلاً حبيبتي.. أين أنتِ؟ تأخرتِ اليوم، هل انتهت محاضراتكِ؟"ابتلعت حلا ريقها، ونظرت إلى يوسف بحيرة وضياع. أما يوسف، فبدلاً من أن يبتعد ليعطيها مساحتها، خطى خطوة هادئة ونحوها، وابتسامة خبيثة وساحرة ترتسم على شفتيه. اقترب منها حتى أصبح ظهره ملاصقًا لظهرها تقريبًا، واكتفى بوضع يديه في جيبي بنطاله، ثم انحنى قليلاً ليقترب من أذنها المفتوحة على الهاتف ويهمس بنبرة دافئة لا تسمعها سوى هي:"أخبريها أنكِ مع أستاذكِ.. تراجعين درس الحب."اتسعت عينا حلا بذهول ورعب، وشعرت بحرارة تشتعل في وجنتيها! وضعت يدها بسرعة على ميكروفون الهاتف كي لا يصل صوت همسه لأمها، ونظرت إليه بنظرة توسل خجولة يمتزج فيها الغضب والرجاء بأن يصمت.تحدثت حلا بسرعة ونبرة متقطعة يحاول إخفاء توترها:"أمي... أنا... أنا ما زلت في الكلية، لديّ بعض الترتيبات مع... مع إدارة القسم. سأنتهي بعد قليل وأعود فوراً للمنزل."قالت الأ
في تلك الليلة، وبعد ساعات من الصراع بين خوفها من أسرتها وجاذبيته التي تلاحقها، حسمت حلا أمرها. أمسكت هاتفها بيدين ترتجفان، وكتبت له ردًا يجمع بين كبرياء الأنثى والتحدي المثير، محاولةً إثبات أنها ليست طريدة سهلة:"القبلات التي تُقطع لا تُستكمل يا دكتور.. بل تُنسى! وموعد القهوة غدًا سينتهي عند حدود المكتب فقط. تصبح على خير. ☕️😉"أرسلت الرسالة وألقت الهاتف جانباً، وقلبها يدق كالتطوع، دون أن تعلم أن كلماتها هذه أضفت على يوسف رغبة أكبر في ترويض كبريائها!وفي صباح اليوم التالي...كانت قاعة المحاضرات مكتظة بالطلاب. تجلس حلا في المقعد الأوسط بجانب ديما، تحاول التركيز ولكن عينيها تلاحقان يوسف الذي يدور في القاعة بهيبته المعتادة، مرتديًا قميصه الأسود الأنيق الذي يبرز بنيته القوية.لكن المفاجأة كانت في أسلوبه طوال المحاضرة، تعمّد يوسف تجاهلها تمامًا. كانت نظراته تمرّ عبر الطلاب وتتجاوزها وكأنها غير موجودة بالمرة! كان يشرح بجدية وصارمة، ونبرة صوته الحازمة تجعل القاعة كلها في حالة انضباط تام.شغلت حلا غيرتها، وشعرت بوخز حاد في قلبها؛ هل أزعجه ردها البارحة؟ أم أنه قرر التراجع والتخلي عنها بهذه ا
أغلقَت حلا شاشة الهاتف بسرعة وسحبته إلى صدرها كمن يخفي سرًا خطيرًا، بينما تسارعت دقات قلبها بجنون بعد قراءة رسالة يوسف.مالت ديما نحوها أكثر، وعيناها تلمعان بفضول قاتل وشكوك لا ترحم، وقالت بنبرة حادة وساخرة:"ولكِ حلا! أرى وجهكِ يشتعل كالجمر، وتخفين الهاتف كأنكِ سرقتِ البنك! احكي فورًا.. ماذا قال لكِ يوسف؟ وما هذه الابتسامة البلهاء التي لا تفارق شفتيكِ؟!"احمرّت وجنتا حلا أكثر، وابتلعت ريقها وهي تحاول استعادة ثباتها وصوتها المفقود. نظرت حولها لتتأكد من خلو الممر من الطلاب، ثم أخذت نفسًا عميقًا وهمست وهي تحاول ضبط نبرتها:"ديما.. اهدئي قليلاً وأخفضي صوتكِ فضحتِنا! لم يحدث شيء كاريثي كما تظنين.. فقط.. الدكتور يوسف كان يتحدث معي بشأن بعض الترتيبات الخاصة بالمحاضرات والقاعة."ضيقت ديما عينيها بنصف ابتسامة غير مصدقة، وقالت وهي تشير إلى وجه حلا المشتعل وشفتيها المحمرتين:"ترتيبات القاعة تسوّي الوجه أحمر هكذا؟! وترعش يديكِ بهذه الطريقة؟! حلا.. أنا أعرفكِ منذ سنوات، هذا ليس وجه طالبة تخرج من مكتب أستاذها بعد اجتماع عمل.. هذا وجه امرأة وقعت في الفخ للتو!"ارتبكت حلا تمامًا، وفركت أصابعها المرت





