กลลวงร้ายซ่อนรัก

กลลวงร้ายซ่อนรัก

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-07-12
Bahasa: Thai
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
62Bab
3.4KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

"เรื่องที่เกิดขึ้นเมื่อคืนฉันจะไม่รับผิดชอบอะไรทั้งนั้น" "ค่ะ" ฉันฝืนความรู้สึกแล้วตอบออกไป ฉันไม่คิดว่าพี่ภูจะรับผิดชอบอะไรอยู่แล้วคำพูดของเขาเมื่อคืนฉันยังจำขึ้นใจ "และฉันก็หวังว่าเธอจะไม่เอาเรื่องที่เกิดขึ้นไปฟ้องแม่ฉันอีกว่าฉันรังแกเธอ" "ค่ะ" "สรุปก็คือเธอห้ามเอาเรื่องนี้ไปบอกใครเด็ดขาดเพราะไม่อย่างนั้นฉันจะเอาเรื่องที่เธอเคยโกหกไปบอกพ่อเธอรวมถึงย่าเธอด้วยว่าเธอโกหกสร้างเรื่องหาว่าฉันล่วงเกินเธอทั้งที่ตอนนั้นฉันไม่ได้ทำ เธอคิดเอาก็แล้วกันว่าย่าเธอจะผิดหวังแค่ไหนที่หลานสาวสุดที่รักของท่านสร้างเรื่องโกหกหน้าด้านๆ เพื่อจับผู้ชาย" ฉันก้มหน้าแล้วน้ำตาก็ไหลออกมาอีกครั้ง "เข้าใจที่พูดไหม" "อื้มมม" ฉันตอบเขาได้แค่นั้นเพราะพูดอะไรไม่ออกกลัวเขาจะรู้ว่าตอนนี้ฉันกำลังร้องไห้อยู่ "แต่ความผิดของเธอยังไม่หมดฉันยังไม่พอใจเพราะฉะนั้นเธอต้องมาที่นี่ทุกครั้งที่ฉันต้องการ แต่ถ้าเธอดื้อไม่ยอมมาฉันจะไปลากตัวเธอถึงบ้านไม่เชื่อก็คอยดู" "พี่ติดใจอัยก็บอกว่าเถอะไม่ต้องเอาเรื่องผิดไม่ผิดมาเป็นข้ออ้างหรอก" ฉันโต้กลับเพราะฉันไม่อยากให้พี่ภูคิดว่าฉันกลัวเขา "เธอพูดว่าไงนะฉันเนี่ยนะติดใจเธอ เหอะพูดผิดพูดใหม่ได้นะ"

Lihat lebih banyak

Bab 1

จุดเริ่มต้น

"Oh, yesss...! Kamu masih sama enaknya kayak dulu, Cintaaa...! Yes, Baby! Ughhh... Aku kangen banget sama kamu. Ahhh...!" Suara desahan keras Dewa Djatmiko terdengar seantero ruangan berdiameter 3x4, tempat di mana Cinta Andini menjajakan tubuhnya selama ini. Ia memang adalah seorang pelacur yang sudah lima tahun berada di bawah bayang-bayang Mami Chika, mucikari kejam tanpa belas kasihan. 

"Dewaaa... Ohhh..." 

"Iya, Sayang... Enak, hm? Ugh, fuck! Sudah berapa lama nggak aku entot, Baby? Jawab, Cinta Andini! Ough, yesss...! Kamu masih sempit aja! Ughhh... Enakkk...!" 

"Oughhh...!" Dan erangan bukan hanya terdengar dari pita suara Dewa semata, namun Cinta juga turut mengambil bagian yang tersaji. 

Dengan gaya bercinta missionary, keduanya saling mengejar gairah yang tercipta, diikuti serentetan kecup basah dan juga sentuhan milik Dewa. 

Dewa tak henti-hentinya memuja tubuh molek Cinta yang kini jauh berbeda sedari awal keduanya saling berbagi pengalaman pertama, masih di bawah penjagaan ketat Mami Chika. 

Sang mucikari menjual keperawanan Cinta Andini setelah dirinya melunasi utang piutang yang gadis itu lakukan untuk menebus kesalahan ayah kandungnya di dalam penjara, dan Dewa Djatmiko adalah pemenangnya, "Lebih cepat lagi, Dewaaa...! Oughhh... Ini enakkk...!"

"Cintaaa...! Ah, yeachhh...! Nakal kamu sekarang, hm? Aku tinggal kuliah ke New York udah berapa banyak yang ngentotin kamu, heh?! Ughhh... Jangan harap kamu bisa tidur sama laki-laki lain lagi, Sayanggg...! Aku nggak akan biarkan itu terjadi!" Dewa yang kala itu masih berstatus perjaka pula, menerima kekalahannya di arena balap motor dengan cara demikian, melepaskan keteguhannya menahan diri selama delapan belas tahun menjaga. 

"Aku mau keluar, Dewaaa...! Aku... Ah ah ahhh... Dewaaa...!" 

"Shit! Keluarin, Baby! Ughhh...!" Namun yang Dewa kehendaki saat itu adalah gadis perawan, sama sepertinya. 

Kejadian panas yang mendapat posisi paling menakjubkan di dalam diri Dewa itu tak mudah terlupakan begitu saja sepanjang lima tahun dirinya mengambil gelar Strata Satu sekaligus Magister di Negeri Paman Sam, sebab selama ini ia acap kali menyambangi Cinta ketika pulang ke tanah air. 

Cinta adalah tujuan kedua setelah rumah mewah milik orang tuanya, juga tekadnya yang tak kunjung padam untuk membawa gadis cantik itu keluar dari sangkar emas kepunyaan Mami Chika. 

"Oh, enakkk... Punyamu enak banget, Dewaaa...!" 

"Sialan! Ahhh...! Punyamu lebih enak lagi, Sayanggg...! Ughhh... Ayo teriak, Babyyy...! Ayo puasin Dewamu ini!" 

"Dewaaa...! Ahhh...!" Setelah menyelesaikan kehendak ayahnya, Dewa tak mau lagi menunda-nunda keinginannya untuk mengeluarkan Cinta dari lumpur dosa, juga bersedia melakukan apapun kendati rintangan sudah menunggu mereka di depan mata.      

Dewa memang tak pernah mencecar kalimat manis penuh mulut di hadapan Cinta untuk rasa yang selalu ia tata dalam hati, sebab sepanjang dirinya masih bergantung di kaki orang tua, kebebasan itu jelas hanya akan menimbulkan luka dan juga duka.    

'Sebentar lagi kamu akan keluar dari tempat laknat ini, Cinta! Aku nggak akan ngebiarin kamu dimiliki orang lain yang belum tentu sayang sama kamu!' Susunan kata-kata itu, bergulir bebas di isi kepala Dewa sedari tadi.

Diselingi dengan sentuhan dan kecupan basah, pinggul liat Dewa terus memompa di bawah sana, mencari pelepasan yang belum ia dapatkan. 

"Cintaaa...! Udah mau keluar, Sayanggg...! Oughhh... Naik ke atas badanku, Cin! Ohhh...!" Lelehan peluh yang membanjiri tubuh keduanya tak menjadi satu persoalan untuk mereka, sebab memang pada kenyataan bukan hanya rasa dari Dewa seorang, melainkan sudah sejak lama Cinta pun demikian. 

Perasaan lancang tersebut dengan sendirinya tumbuh subur di hatinya atas segala tingkah laku Dewa padanya, namun masih tersembunyi karena pria itu tak pernah mengutarakan hal yang sama, termasuk berjanji apapun. 

"Dewaaa...!" 

"Cintaaa...! Ohhh...!" Terlepas dari hubungan intim di atas ranjang, harapan memang selalu Cinta inginkan dari Dewa, namun ia sadar betul dengan kasta dirinya di banyak pasang mata. 

Cinta Andini hanyalah sampah masyarakat yang bertahun-tahun bahkan mampu menciptakan kehancuran biduk rumah tangga banyak pihak, padahal jauh sebelumnya Dewa sudah lebih dulu memikirkan semua itu dan anggapan wanita itu salah besar untuknya, sebab ia selalu memacu tekadnya menjadi anak manis agar dapat memperjuangkan kisah mereka.

"Terima kasih, Sayang. Uhhh... Enak banget." Deru nafas berpacu dengan debaran jantung kurang ajar, bertambah ketika bibirnya mendarat lembut di kening penuh peluh Cinta. 

Cup

Seulas senyum teramat sangat manis dari Cinta, menular untuk Dewa di tengah pujian yang sama, "Aku yang harusnya bilang makasih ke kamu, Dewa. Punyamu juga enak banget dan—" 

"—Mau nambah, hm?" Sampai-sampai ide untuk kembali berpacu dengan kobaran gejolak asmara hadir di bibir Dewa. 

Ikut tertawa renyah, Cinta menolak ajakan panas itu dengan mengelus sejumlah rambut halus yang tumbuh di dada bidang Dewa, "Jangan sekarang, Sayang. Sewa kamarnya bakalan double sama Mami Chika nanti. Pas aku libur hari minggu aja baru kita long time di luar biar nggak mahal ya?" 

Melakukan hal yang sama pada surai hitam legam di kepala Cinta, sejujurnya Dewa tak mempermasalahkannya, "Nggak masalah, Sayang. Aku kan udah nggak kuliah lagi. Udah diterima Papa di kantornya, jadi udah bisa bayar kamar double kok."      

Toh, ia sudah tidak berstatus sebagai Mahasiswa, tetapi kini menjabat sebagai wakil direktur mengganti posisi sang ibu, "Tapi—" 

     

"—Tapi apa, hm? Ada janji tidur sama cowok lain ya?" Sayangnya penolakan kecil itu berujung prasangka buruk dibungkus sedikit rasa kecemburuan.

      Membuahkan sentuhan di dada, kini beralih menjadi elusan ke rahang tegas Dewa yang  ditumbuhi bulu-bulu kasarnya, "Astaga. Aku nggak ada janjian sama siapa-siapa selain sama kamu hari ini, Dewa. Cuma nggak tahu aja nanti Mami Chika. Kenapa, sih, Sayang? Masih mau lagi memangnya?"

"Jangan tanya kayak gitu ke aku, Cinta. Mau belasan ronde pun aku jabanin asal itu sama kamu, Sayang," serak Dewa menahan gelombang panas yang bermunculan lagi.   

Cinta yang dibalur rasa bangga merambah ke ranah inti milik Dewa, menyengajakan diri kian merapatkan kulit di tubuh mereka, namun candaan tak luput sedikit pun, "Alah, gombal. Emangnya di New York kamu nggak pernah gitu tidur sama cewek lain, maksudku pacarmu."    

Setengah mati Dewa menahan dirinya untuk tidak menerkam Cinta saat itu juga, beralih pada berkata jujur demi bangunan kokoh yang digadang-gadang olehnya, "Ya itu, sih, pernah. Tapi kepepet pas aku diajak temen-temen mabok di kelab."

"Emmm..." Hasilnya? Hanya satu deheman saja yang keluar dari bibir Inna dan Dewa merasa kejujurannya adalah sebuah satu kesalahan.

Tiga detik Dewa mempergunakan waktu untuk mencari percakapan baru, tetapi masih saja kakinya belum ingin beranjak dari pembicaraan tadi, namun ia memilih terus bercerita jujur tentang isi hatinya, "Cuma anehnya kenapa yang aku bayangin itu lagi tidur sama kamu ya, Sayang? Jangan-jangan kita jodoh lagi." 

Sebenarnya, umpan dari bibir Dewa sungguh sangat tepat sasaran, bahkan kini semburat merah di pipi Cinta kian memerah, namun kegugupan membuatnya salah berkata, "Jangan bercanda, Dewa. Aku ini lonte. Edan! Apa kata keluargamu nanti? Mana ada di dunia ini orang tua yang mau punya menantu perempuan jalang kayak ak—"

"—Ssttt... Jangan ngomongin itu lagi ya? Pokoknya punyamu enak banget dan bikin nagih, Sayang. Oh iya, aku punya surprise lho minggu depan buat kamu." Dewa yang tak suka, pun memotong ucapan Cinta dan kali ini ia benar-benar mengalihkan pembicaraan mereka. 

Tanda tanya mulai membesar untuk hal baru yang penuh teka-teki, "Surprise? Apaan tuh?" 

"Surprise itu kejutan, Sayang." Lalu bergulir dengan begitu baik oleh kemasan candaan manis Dewa. 

Pukulan kecil di tubuh Dewa ada di sana, juga beragam reaksi lain, pun tak mau ketinggalan di antara diskusi kecil pelepas rindu, "Ih, Dewa! Aku juga tahu kali surprise itu artinya kejutan. Nggak bego-bego amat walaupun cuma tamatan SMA." 

"Kamu tamat SMA, Yang?" 

"Iya. Kenapa emang?" 

"Nggak. Kan bisa kerja waktu itu, Sayang. Kenapa harus pinjem duit ke rentenir terus ujung-ujungnya malah berhamba ke Mami Chika gini, sih?"

"Karena aku masih bego, Dewa. Aku anak umur delapan belas tahun dari kampung di Cimahi sana yang nggak ngerti apa-apa. Jadi waktu bapak nyuruh aku minta tolong ke tetangga di dekat kontrakan waktu itu, ya aku kira emang nanti bakalan diganti utuh seperti yang kami pinjam. Ternyata berbunga banyak gitu." 

"Terus." 

"Terus nggak bisa bayar aku dibawa ke sinilah. Kan udah pernah aku ceritain. Kamu bikin aku jadi inget almarhum bapak aja. Capek-capek kerja biar bisa bebas dari sini, eh bapak malah pergi tinggalin aku." 

"Ssttt... Sudah-sudah, Sayang. Aku minta maaf ya? Jangan nangis lagi oke? Aku janji nggak akan ngajak kamu ngobrol tentang itu lagi, tapi syaratnya sekarang harus senyum dulu. Bisa kan?" Namun ujung obrolan yang tidak Cinta harapkan lantas terjadi, ketika kisah masa lalu ikut menjadi pembahasan keduanya. 

"Nggak bis— Ough, Dewa!" 

Dewa memakai dua ruas jarinya untuk menebar umpan yang lebih jitu, "Kenapa, Sayang? Enak, hm? Mau aku kocokin sampai croot?" 

"Dewaaa... Ahhh..." Dan hasilnya sudah dapat ditebak, bahwa Cinta akan dengan mudah luluh, juga menggema seperti beberapa saat lalu.  

Hawa panas naik hingga ke ubun-ubun, memerahkan kulit di sekujur leher jenjang Cinta tentunya, "Terus, Sayang. Ayo teriak lagi, Baby..." 

Aksi berjalan cepat dan tepat hingga menjadi hebat, nyaris tidak bisa menghasilkan satu penolakan dalam bentuk apapun juga untuk diri Cinta Andini, "Stop, Dewa! Ini-- Ough, fuck!" 

Kalimat kotor juga menjadi mantra terbaik di sana, "Yes, Baby. I wanna fuck you again. Do you like it, hm? Enak, Sayang?"  

"Enak, Dewaaa..." Menyerupai kutukan yang mau tak mau harus Cinta lalui.

Pergumulan memang wajib hukumnya untuk dilaksanakan tanpa bantahan, "Kurang keras, Baby girl!" 

"Arghhh... DEWAAA...!" 

"Good sound, Girl. Gimana kalo pakai bibir aja dulu?" 

"Dewa, please! Cukup dong, Sayang. Aku— Ouhhh...! Sialan! Dewaaa...!" Lebih-lebih ketika lidah tak bertulang Dewa sudah sampai di lipatan Labia Mayor yang mulai menguar aroma khas itu. 

Detik membawa menit untuk kian membara dan berkobar pula, lalu penyatuan di zona inti adalah bentuk betapa keduanya bukan hanya sekedar saling memuaskan hasrat, melainkan juga mengikat rasa untuk semakin erat. 

Adalah janji ketika Dewa Djatmiko berulang kali meneriakkan nama Cinta di sana yang memiliki niat untuk dapat segera ditepati, tetapi tidak pada Cinta Andini. Ada butiran kecil air di kelopak mata yang diselimuti dengan lelehan peluh dan semua tentu saja masih tentang kasta serta derajat dirinya.

Cinta tidak ingin berharap lebih ketika di sepanjang lima tahun ke belakang Dewa tak pernah berkata jelas tentang isi hatinya, melainkan terus bersikukuh untuk menjadikan lelaki itu sebagai Raja yang membayar jasa. Mampukah ia terus bertahan? Entahlah. Semoga saja.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya
Tidak ada komentar
62 Bab
จุดเริ่มต้น
หลายปีก่อน...."คุณพจน์คุณบอกความจริงกับฉันมาทำไมถึงกล้าทำแบบนี้" อินทิราโยนรูปถ่ายจำนวนหลายสิบใบลงบนเตียงซึ่งมันเป็นรูปที่เธอจ้างนักสืบให้ช่วยตามสืบเรื่องที่สามีของเธอ"ผมทำอะไร" พจน์ผู้เป็นสามีถามด้วยน้ำเสียงเหมือนไม่มีอะไรเกิดขึ้นทั้งที่เห็นแล้วว่าในรูปถ่ายคือเขากับอดีตคนรักกำลังเดินออกมาจากโรงแรมด้วยกัน"คุณรู้อยู่แก่ใจว่าทำอะไร คุณอย่าลืมว่าคุณแต่งงานกับฉันแล้วนะคุณพจน์""แล้วไงในเมื่อผมไม่ได้รักคุณที่ผมแต่งงานกับคุณเพราะผมถูกแม่บังคับ""แต่สุดท้ายคุณก็แต่งงานกับฉันไม่ใช่หรือไงแล้วตอนนี้เราก็มีลูกด้วยกันแล้วถ้ายัยอัยรู้ว่าคุณกำลังมีผู้หญิงอีกคนลูกจะรู้สึกยังไง""เพ็ญเขาไม่ใช่คนอื่นสำหรับผมเขาคือคนที่ผมรักถ้าผมไม่โดนบังคับให้แต่งงานกับคุณตอนนี้ผมกับเพ็ญเราก็คงได้แต่งงานกันมีความสุขกันไปแล้ว""คุณพูดแบบนี้ได้ยังไงกัน คุณไม่คิดถึงจิตใจของฉันบ้างเลยหรือยังไงฉันเป็นภรรยาของคุณนะ""ใช่คุณเป็นภรรยาของผมแต่ผมไม่เคยรักคุณเลยตลอดเวลาหลายปีที่แต่งงานกันมาคุณรู้ไหมว่าผมทรมานมากแค่ไหนที่ต้องทนอยู่กับผู้หญิงที่ผมไม่ได้รัก""คุณพจน์!!!!" น้ำตาของเธอเริ่มไหลออกมาด้วยความเจ็บปวด"ผมว่าเราหย่ากันเ
Baca selengkapnya
แกมันก็แค่หมาหัวเน่า
หลายปีต่อมา....อัยวา....."จะไปไหนแต่เช้ายะ" ฉันที่เดินลงบันไดมาอย่างอารมณ์ดีเพราะฉันกำลังจะไปหาพี่ภูผาว่าที่คู่หมั้นของฉันที่ตอนนี้เขาเรียนจบกลับมาแล้วแต่ก็ต้องมาอารมณ์เสียกับแม่เลี้ยงใจร้ายที่ยืนกอดอกจ้องหน้าถามฉันด้วยน้ำเสียงทรงอำนาจคิดว่าฉันกลัวหรือยังไงถ้าฉันกลัวฉันคงไม่อยู่ที่บ้านหลังนี้หรอก"..........." ฉันเลือกที่จะไม่ตอบแล้วก็เดินผ่านหน้าไปเหมือนธาตุอากาศที่มองไม่เห็น"เอ๊ะฉันถามว่าจะไปไหนถามทำไมไม่ตอบห๊ะนังหมาหัวเน่า" ฉันกัดฟันด้วยความโกรธแต่ฉันไม่แสดงออกว่ากำลังโกรธเพราะมันจะเข้าทางยัยแม่เลี้ยง"ก็ไม่อยากตอบทำไมมีอะไร""แกนี่มันเป็นเด็กไร้มารยาทซะจริงๆสู้ลูกเอินของฉันก็ไม่ได้ใครเห็นก็พากันเอ็นดูเพราะลูกเอินทั้งน่ารักอ่อนหวานนิสัยดีไม่นิสัยเสียแบบแก""แล้วไง เธอจะอวยลูกเธอว่าดีวิเศษวิโสยังไงฉันไม่สนใจหรอกนะเพราะเธอก็น่าจะรู้อยู่เต็มอกว่าจริงๆแล้วยัยนั่นนิสัยเป็นยังไงแล้วที่ว่าฉันไร้มารยาทฉันก็ไร้มารยาทแค่กับผู้ใหญ่บางคนที่ไม่น่าเคารพนับถือเท่านั้นยกตัวอย่างเช่น เธอยังไงล่ะ" ฉันชี้หน้าอย่างไม่กลัว"แกนังอัยวา!!!""ทำม่ะฉันพูดผิดตรงไหนไม่ทราบ จะบอกอะไรให้นะว่าแม่บ้านแม่ครัวค
Baca selengkapnya
น้อยใจ
อัยวา.....ฉันแอบมองอยู่นานพอสมควรพยายามทำใจให้เย็นไม่เหวี่ยงไม่วีนกับสิ่งที่ได้ยิน"อ้าวน้องอัยมาพอดีเลยมานี่สิลูก" ป้าพิมพ์คงจะเห็นว่าฉันยืนดูอยู่ก็เลยเดินมาจูงมือฉันแล้วพาไปนั่งข้างๆพี่ภู ยัยนั่นมองมาที่ฉันด้วยสีหน้าไม่พอใจ ต้องเป็นฉันมากกว่าหรือเปล่าที่ไม่พอใจยัยนี่มีสิทธิ์อะไรมานั่งใกล้พี่ภูขนาดนี้"ภูน้องอัยมาหาน่ะลูก" ป้าพิมพ์บอกพี่ภูแต่ดูเหมือนเขาจะไม่ได้สนใจการมาของฉันเลยสักนิด"ครับ" พี่ภูตอบแค่นั้นจริงๆไม่พูดอะไรกับฉันเลยสักคำแม้แต่หน้าฉันก็ยังไม่ยอมหันมามองแต่กลับคุยกับยัยนั่นต่อ ยัยนั่นก็หันมองมาที่ฉันอีกรอบแล้วยิ้มเยาะใส่ ฉันกำหมัดแน่นด้วยความโกรธและน้อยใจพี่ภูทั้งที่ฉันเป็นว่าที่คู่หมั้นแต่เขากลับไม่สนใจไปสนใจยัยนั่นแทน"ว่าแต่ตอนนี้เอินเรียนปีไหนแล้ว" น้ำเสียงที่พี่ภูคุยกับยัยนั่นเต็มไปด้วยความเอ็นดูอย่างเห็นได้ชัด"ปีสองแล้วค่ะพี่ภู เอินลงเรียนบริหารธุรกิจสาขาเดียวกับที่พี่ภูเรียนเลยนะคะ^^" น้ำเสียงออดอ้อนทำให้ฉันอดหมั่นไส้ไม่ได้"อ่าวเหรอพี่จำได้ว่าเราเคยบอกกับพี่ว่าเราไม่ชอบเรียนบริหารอยากเรียนนิเทศมากกว่าไม่ใช่หรือไง""ก็ใช่ค่ะตอนแรกเอินไม่อยากเรียนเพราะคิดว่ามันคง
Baca selengkapnya
จำฝังใจ
อัยวา...."เธอก็เหมือนกันนิสัยก็ไม่ดีชอบดูถูกคนอื่นไม่แปลกใจเลยที่ไม่มีใครรักชอบเรียกร้องความสนใจรู้บ้างหรือเปล่าว่ามีแต่คนเขาเอือมระอา" ถึงจะเจ็บกับคำพูดของพี่ภูแต่ฉันก็จะไม่ยอมอ่อนแอให้เขาเห็นเป็นอันขาด"แล้วไงใครแคร์" ฉันพยายามทำเหมือนไม่แคร์แต่จริงๆ แล้วไม่ใช่เลย"ทำตัวแบบนี้อย่าหวังเลยว่าฉันจะหมั้นกับเด็กนิสัยแย่ๆแบบเธอ" ฉันกำหมัดแน่นด้วยความโกรธและน้อยใจถ้าพี่ภูจะพูดต่อหน้าฉันฉันจะไม่รู้สึกอะไรขนาดนี้เพราะรู้ว่าเขาไม่ชอบที่โดนจับคลุมถุงชนแต่นี่เขาพูดต่อหน้ายัยนั่นทั้งๆที่รู้ว่าฉันกับมันไม่ถูกกัน"ภูพูดแบบนั้นมันเกินไปหรือเปล่าพูดอะไรหัดนึกถึงจิตใจน้องบ้าง""แล้วแม่ไม่เห็นเหรอว่าคนดีของแม่ทำอะไรเอินบ้าง ที่เอินต้องมาเจ็บตัวไม่ใช่เพราะหลานสาวสุดที่รักของแม่หรือไงยิ่งแม่เข้าข้างยัยนั่นแบบนี้ผมก็ยิ่งไม่ชอบเข้าไปใหญ่ ผมไม่อยากทะเลาะกับแม่เพราะคนอื่น ผมขอตัวพาเอินไปหาหมอก่อนนะครับ" พี่ภูจ้องมาที่ฉันด้วยสายตาโกรธไม่พอใจก่อนจะอุ้มยัยนั่นเดินออกไป แต่ก็มิวายที่จะมีสายตาเยาะเย้ยราวกับว่าตัวเองเป็นผู้ชนะส่งมาให้ฉัน ฉันทำได้แค่ยืนมองพี่ภูอุ้มยัยนั่นออกไป"อัยอย่าคิดมากเลยนะลูก" พอพี่ภูอุ้ม
Baca selengkapnya
ตัดไฟแต่ต้นลม
ภูผา.....สุดท้ายผมก็ไม่ได้ให้คำตอบเอินว่าจะพาไปไหนเพราะมันไม่มีแพลนตั้งแต่แรก แล้วการที่เอินมาหาผมที่บ้านผมก็ไม่รู้ด้วยว่ามาได้ยังไงใครบอกให้มาตอนแรกผมกะว่าจะขอตัวไปนอนเพราะเหนื่อยจากการเดินทางข้ามประเทศคือผมไม่อยากคุยกับใครอยากนอนมากกว่าแต่บังเอิญว่าสายผมมันดันเหลือบไปเห็นเงาของใครบางคนที่แอบหลบอยู่หลังประตูซึ่งผมรู้ว่าเป็นใครไปไม่ได้นอกจากยัยเด็กข้างบ้านว่าที่คู่หมั้นของผมเองผมก็เลยชวนเอินคุยอย่างสนิทสนมทั้งที่จริงแล้วผมไม่ได้อะไรกับเอินผมขับรถมาเรื่อยๆ จนมาถึงคาเฟ่แห่งหนึ่งใกล้ๆ บ้านเพราะผมไม่อยากไปไหนไกลๆ อยากนอกมากกว่า"พี่ภูคะเอินมีเรื่องจะถามพี่ภูหน่อยค่ะไม่รู้ว่าจะเป็นการละลาบละล้วงเกินไปหรือเปล่า""เรื่องอะไร""เรื่อง..เรื่องที่พี่ภูจะหมั้นกับอัยวาน่ะค่ะพี่ภูต้องหมั้นด้วยจริงๆ เหรอคะ" เรื่องนี้ผมก็เครียดอยู่เหมือนกันเพราะผมไม่อยากหมั้นผมไม่ชอบการถูกจับคลุมถุงชนนี่มันปีสองพันยี่สิบสี่แล้วนะแล้วหมั้นกับใครไม่หมั้นต้องหมั้นกับยัยอัยวาอีกคือผมไม่ได้รักไม่ได้ชอบจะให้หมั้นกันได้ยังไง ผมคิดว่าผมอาจจะต้องคุยเรื่องนี้กับพ่อแม่อย่างจริงจังอีกครั้งจะให้ผมมีคู่หมั้นนิสัยแย่เอาแต่ใจแบบน
Baca selengkapnya
รู้ทัน
ภูผา....หลังจากทานอาหารกับเสร็จผมก็ขับรถพาเอินมาส่งที่บ้านตอนแรกผมจะแค่มาส่งแล้วก็กลับเลยแต่เอินบอกว่าแม่ตัวเองอยากเจอซึ่งผมก็ไม่รู้ว่าจะอยากเจอผมทำไมร้อยวันพันปีไม่เคยคุยกันหน้าผมยังจำไม่ได้แต่ผมก็ไม่อยากเป็นคนไร้มารยาทก็เลยเดินตามเข้ามาในบ้าน"ขอบคุณนะคะพี่ภูที่พาเอินไปทานอาหารอร่อยๆ^^""อืมมไม่เป็นระ...." ผมพูดไม่ทันขาดคำก็ได้ยินเสียงคนในบ้านกำลังทะเลาะกันอยู่"แกว่าใครเป็นหมาห๊ะ""ก็ว่าผู้ใหญ่ที่ปากเหมือนหมายังไงล่ะ ถ้าเธอคิดว่าเป็นตัวเองก็รับไปสิ" เสียงอัยวาผมจำได้แต่ทะเลาะกับใครวะ?? ผมคิดในใจ"กรี๊ดดด นังเด็กเมื่อวันซืนฉันจะฟ้องพ่อแกว่าแกด่าฉันเป็นหมา" อ่อผมนึกออกละแม่ของเอินแม่เลี้ยงอัยวานั่นเอง"เชิญคิดว่าฉันกลัวหรือไงถ้าฉันกลัวแกฉันไม่อยู่บ้านหลังนี้มาจนถึงทุกวันนี้หรอกนะ" "ฉันจะทำให้แกไม่มีที่ซุกหัวนอนเลยไม่เชื่อก็คอยดู""เสียใจด้วยนะเธอคงไม่รู้ว่าบ้านหลังนี้เป็นชื่อของฉัน""แกว่าไงนะ!!!!""เอ่อพี่ภูคะเอินว่าพี่กลับไปก่อนก็ได้นะคะ" เอินรีบหันมาพูดกับผมเหมือนไม่อยากให้ผมรู้เรื่องที่แม่ตัวเองกับอัยวากำลังทะเลาะกันแต่ผมอยากรู้ไงได้ยินมาขนาดนี้แล้ว"พี่ยังไม่ได้เจอกับแม่เราเลย
Baca selengkapnya
ไม่อยากหมั้น
อัยวา....หลังจากส่งรายงานอาจารย์เสร็จเรียบร้อยฉันก็ขอให้บอมส่งฉันกลับบ้านทันทีตอนแรกมันจะพาฉันไปหาอะไรกินก่อนแต่ฉันไม่มีกระจิดกระใจที่จะทำอะไรหรือไปที่ไหน พอฉันเดินเข้าบ้านมาก็เจอกับพ่อนั่งหน้าตึงเครียดอยู่ที่ห้องรับแขกโดยมียัยแม่เลี้ยงนั่งอยู่ข้างๆแล้วมองมาที่ฉันด้วยสายตาเยาะเย้ยเบะปากมองบนเหมือนเช่นทุกครั้งไม่รู้เป็นโรคอะไร"สวัสดีค่ะพ่อ" ฉันยกมือไหว้สวัสดีพ่อแค่คนเดียวส่วนอีกคนฉันไม่ไหว้ให้เสียมือหรอกก่อนจะเดินผ่านหน้าไปเหมือนยัยแม่เลี้ยงเป็นธาตุอากาศ"อย่าเพิ่งไปเราไปคุยกับพ่อที่ห้องทำงานหน่อยพ่อมีเรื่องจะคุยด้วย""เรื่องอะไรคะ""เรื่องอะไรงั้นเหรอก็เรื่องที่เราด่าน้าเพ็ญเมื่อเช้าไง""อ่อนึกว่าเรื่องอะไร""ทำไมเราถึงทำตัวไม่น่ารักแบบนี้ห๊ะยัยอัยพ่อบอกตั้งกี่ครั้งแล้วว่าให้เคารพน้าเพ็ญบ้าง""ถ้าเมียใหมพ่อทำตัวน่าเคารพอัยก็จะเคารพอยู่ค่ะแต่นี่..." ฉันหยุดพูดแล้วก็ใช้สายตามองยัยแม่เลี้ยงตั้งแต่หัวจรดเท้าอย่างเหยียดๆ"พี่พจน์คะดูลูกสาวพี่มองเพ็ญสิ" ยัยแม่เลี้ยงเต้นเร่าอย่างไม่พอใจหึทีตัวเองมองบนเบะปากใส่คนอื่นทำได้ทีตัวเองโดนมองแค่นี้ทนไม่ได้ประสาท"ยัยอัย!!!!" พ่อตะคอกใส่ฉันทันทีแต่
Baca selengkapnya
ไม่ได้เป็นอะไรกัน
ภูผา...."ห๊าววววว" ผมเดินหาวเข้าบ้านมาในตอนสายของอีกวัน"ทำไมกลับมาเอาป่านนี้ห๊ะตาภู" พอก้าวขาเข้าบ้านก็เจอแม่ยืนกอดอกจ้องหน้าผมอย่างเอาเรื่องเพราะเมื่อคืนผมไม่ได้กลับมานอนที่บ้าน"ก็..." ผมกำลังจะบอกแต่..."หืมมมดูคอสิรอยอะไรเยอะแยะเต็มไปหมด" ผมรีบเอามือลูบไปที่คอตัวเองทันทีสงสัยเมื่อคืนเบลทำรอยไว้แน่ๆ ทั้งที่เมื่อคืนบอกแล้วว่าห้ามทำ เมื่อเช้าก่อนออกจากห้องผมก็ไม่ทันได้ดูรีบใส่เสื้อผ้าแล้วก็ออกมาเลย"เอาน่าคุณอย่าดุลูกเลยตาภูก็ไม่ใช่เด็กๆ แล้วไอ้รอยพวกนั้นมันเป็นเรื่องปกติของผู้ชาย" เห็นไหมล่ะพ่อยังเข้าใจผมเลยแต่แม่นี่ดิ"ไม่ต้องเข้าข้างลูกเลย""พี่ภู" ผมถอนหายใจอย่างเบื่อหน่ายเมื่อได้ยินเสียงยัยอัยวา"มาทำไม" ผมถามอย่างเซ็งๆ"วันนี้พี่ภูว่างมั้ย""ไม่ว่าง" ผมรีบตอบทันทีโดยไม่ต้องคิด"ว่างลูกพี่เค้าว่างว่าแต่น้องอัยมีอะไรหรือเปล่าลูก""อัยอยากชวนพี่ภู....""ไม่ไปง่วงอยากนอน" ผมรีบออกตัวทันทีก่อนยัยอัยวาจะพูดจบประโยค"พ่อแม่ผมขอตัวก่อนนะง่วงจะไปนอน" ผมเลิกสนใจคนที่มาใหม่แล้วเดินผิวปากขึ้นไปยังห้องนอนของตัวเองอัยวา....ฉันยืนมองพี่ภูที่เดินล้วงกระเป๋าผิวปากเดินขึ้นห้องไปอย่างโกรธๆ"น
Baca selengkapnya
วันเกิด
อัยวา....หลายวันต่อมา....ตอนนี้ฉันยืนอยู่หน้าพูลวิลล่าขนาดใหญ่หลังหนึ่ง ถามว่าฉันมาทำอะไรที่นี่ฉันรู้จากบอมว่าพี่ภูมาจัดงานวันงานวันเกิดที่นี่ถามว่าบอมรู้ได้ไงบอมมันรู้มาจากพี่บาสพี่ชายของมันซึ่งเป็นเพื่อนสนิทพี่ภูฉันก็เลยขอร้องให้บอมมาส่งเพราะทางมันค่อนข้างไกลฉันไม่กล้าขับรถมาคนเดียว"ฉันนั่งรอเธออยู่บนรถละกันนะไม่อยากเข้าไปเพราะเจ้าของงานเขาไม่ได้ชวน" พอมาถึงหน้าพูลวิลล่าบอมมันก็หันมาพูดกับฉัน แล้วถามว่าพี่ภูได้ชวนฉันไหมเขาก็ไม่ได้ชวนแต่ฉันมาของฉันเอง"อื้มมม" ฉันพยักหน้าก่อนจะก้าวขาลงจากรถ พอเดินเข้ามาถึงด้านในก็เจอการ์ดยืนคุมอยู่หลายคน ตอนแรกพวกเขาไม่ยอมให้ฉันเข้าไปเพราะไม่มีรายชื่อเข้างานฉันก็เลยบอกพวกเขาไปว่าฉันเป็นว่าที่คู่หมั้นพี่ภูถ้าไม่เชื่อให้โทรถามคุณลุงคุณป้าพ่อแม่พี่ภูได้เลย พอได้ยินแบบนั้นการ์ดก็เลยยอมให้ฉันเข้าไปข้างใน เสียงดสังเกตตรีเริ่มดังขึ้นเป็นระยะเมื่อเดินเข้ามาด้านใน ฉันมองหาพี่ภูจนทั่วงานสุดท้ายก็เจอเขายืนอยู่กับกลุ่มเพื่อนของเขาซึ่งมีทั้งชายทั้งหญิง ฉันรีบเดินเข้าไปหาพร้อมกับของขวัญที่ฉันตั้งใจเอามาให้ ฉันเตรียมใจไว้แล้วล่ะว่าเขาจะต้องไม่พอใจที่ฉันมาแต่แล้
Baca selengkapnya
รับผิดชอบ
อัยวา...."เป็นไงบ้างแล้วนี่เธอร้องไห้ทำไม""เปล่าไม่มีอะไร ตอนนี้แกพาฉันไปจากที่นี่ก่อน" ฉันพูดทั้งน้ำตาแม้ว่าจะเช็ดเท่าไหร่มันก็เช็ดไม่หมดสักทีบอมขับรถพาฉันมานั่งที่ริมแม่น้ำซึ่งตอนนี้มันเป็นเวลาเที่ยงคืนกว่าแล้ว"อ่ะดื่มซะเผื่อจะดีขึ้น" บอมเดินหายไปสักสิบกว่านาทีก่อนจะเดินกลับมาพร้อมกับยื่นกระป๋องน้ำอัดลมเย็นๆ ให้ฉัน"ขอบใจแต่ไม่มีอย่างอื่นให้ดื่มแล้วเหรอฉันอยากดื่มอะไรก็ได้ที่มันทำให้ฉันลืมความเจ็บปวด""พูดแบบนี้แปลว่าอยากดื่มเหล้า??""อื้มม" ฉันพยักหน้า"แต่เธอดื่มไม่เป็นนะ" ใช่ฉันไม่เคยดื่มแล้วก็ไม่คิดที่จะดื่มด้วยแต่ตอนนี้ฉันอยากดื่มมันมากๆ"ใช่แต่ฉันเคยได้ยินเค้าพูดกันว่าเหล้ามันจะทำให้เราลืมความเจ็บปวดเสียใจได้""มันก็ลืมได้แค่แป๊บเดียวพอสร่างก็เจ็บปวดเสียใจอยู่ดี""แต่มันก็ยังดีไม่ใช่เหรอแม้ว่าจะแค่แป๊บเดียว""โอเคถ้าอยากกินเดี๋ยวไปซื้อมาให้แต่เอาเป็นเบียร์ก็พอเหล้ามันหนักไป"บอมเดินหายไปอีกสักพักก่อนจะกลับมาพร้อมเบียร์หลายกระป๋อง"ขอบใจนะฉันจะดื่มให้หมดนี่เลยไม่เชื่อคอยดู" อยากจะบอกว่านี่เป็นครั้งแรกที่ฉันดื่มเครื่องดื่มแอลกอฮอล์ ฉันจิบเข้าไปแค่อึกเดียวฉันก็รีบวิ่งไปอ้วกทั
Baca selengkapnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status