Masuk"เรื่องที่เกิดขึ้นเมื่อคืนฉันจะไม่รับผิดชอบอะไรทั้งนั้น" "ค่ะ" ฉันฝืนความรู้สึกแล้วตอบออกไป ฉันไม่คิดว่าพี่ภูจะรับผิดชอบอะไรอยู่แล้วคำพูดของเขาเมื่อคืนฉันยังจำขึ้นใจ "และฉันก็หวังว่าเธอจะไม่เอาเรื่องที่เกิดขึ้นไปฟ้องแม่ฉันอีกว่าฉันรังแกเธอ" "ค่ะ" "สรุปก็คือเธอห้ามเอาเรื่องนี้ไปบอกใครเด็ดขาดเพราะไม่อย่างนั้นฉันจะเอาเรื่องที่เธอเคยโกหกไปบอกพ่อเธอรวมถึงย่าเธอด้วยว่าเธอโกหกสร้างเรื่องหาว่าฉันล่วงเกินเธอทั้งที่ตอนนั้นฉันไม่ได้ทำ เธอคิดเอาก็แล้วกันว่าย่าเธอจะผิดหวังแค่ไหนที่หลานสาวสุดที่รักของท่านสร้างเรื่องโกหกหน้าด้านๆ เพื่อจับผู้ชาย" ฉันก้มหน้าแล้วน้ำตาก็ไหลออกมาอีกครั้ง "เข้าใจที่พูดไหม" "อื้มมม" ฉันตอบเขาได้แค่นั้นเพราะพูดอะไรไม่ออกกลัวเขาจะรู้ว่าตอนนี้ฉันกำลังร้องไห้อยู่ "แต่ความผิดของเธอยังไม่หมดฉันยังไม่พอใจเพราะฉะนั้นเธอต้องมาที่นี่ทุกครั้งที่ฉันต้องการ แต่ถ้าเธอดื้อไม่ยอมมาฉันจะไปลากตัวเธอถึงบ้านไม่เชื่อก็คอยดู" "พี่ติดใจอัยก็บอกว่าเถอะไม่ต้องเอาเรื่องผิดไม่ผิดมาเป็นข้ออ้างหรอก" ฉันโต้กลับเพราะฉันไม่อยากให้พี่ภูคิดว่าฉันกลัวเขา "เธอพูดว่าไงนะฉันเนี่ยนะติดใจเธอ เหอะพูดผิดพูดใหม่ได้นะ"
Lihat lebih banyak"Oh, yesss...! Kamu masih sama enaknya kayak dulu, Cintaaa...! Yes, Baby! Ughhh... Aku kangen banget sama kamu. Ahhh...!" Suara desahan keras Dewa Djatmiko terdengar seantero ruangan berdiameter 3x4, tempat di mana Cinta Andini menjajakan tubuhnya selama ini. Ia memang adalah seorang pelacur yang sudah lima tahun berada di bawah bayang-bayang Mami Chika, mucikari kejam tanpa belas kasihan.
"Dewaaa... Ohhh..."
"Iya, Sayang... Enak, hm? Ugh, fuck! Sudah berapa lama nggak aku entot, Baby? Jawab, Cinta Andini! Ough, yesss...! Kamu masih sempit aja! Ughhh... Enakkk...!"
"Oughhh...!" Dan erangan bukan hanya terdengar dari pita suara Dewa semata, namun Cinta juga turut mengambil bagian yang tersaji.
Dengan gaya bercinta missionary, keduanya saling mengejar gairah yang tercipta, diikuti serentetan kecup basah dan juga sentuhan milik Dewa.
Dewa tak henti-hentinya memuja tubuh molek Cinta yang kini jauh berbeda sedari awal keduanya saling berbagi pengalaman pertama, masih di bawah penjagaan ketat Mami Chika.
Sang mucikari menjual keperawanan Cinta Andini setelah dirinya melunasi utang piutang yang gadis itu lakukan untuk menebus kesalahan ayah kandungnya di dalam penjara, dan Dewa Djatmiko adalah pemenangnya, "Lebih cepat lagi, Dewaaa...! Oughhh... Ini enakkk...!"
"Cintaaa...! Ah, yeachhh...! Nakal kamu sekarang, hm? Aku tinggal kuliah ke New York udah berapa banyak yang ngentotin kamu, heh?! Ughhh... Jangan harap kamu bisa tidur sama laki-laki lain lagi, Sayanggg...! Aku nggak akan biarkan itu terjadi!" Dewa yang kala itu masih berstatus perjaka pula, menerima kekalahannya di arena balap motor dengan cara demikian, melepaskan keteguhannya menahan diri selama delapan belas tahun menjaga.
"Aku mau keluar, Dewaaa...! Aku... Ah ah ahhh... Dewaaa...!"
"Shit! Keluarin, Baby! Ughhh...!" Namun yang Dewa kehendaki saat itu adalah gadis perawan, sama sepertinya.
Kejadian panas yang mendapat posisi paling menakjubkan di dalam diri Dewa itu tak mudah terlupakan begitu saja sepanjang lima tahun dirinya mengambil gelar Strata Satu sekaligus Magister di Negeri Paman Sam, sebab selama ini ia acap kali menyambangi Cinta ketika pulang ke tanah air.
Cinta adalah tujuan kedua setelah rumah mewah milik orang tuanya, juga tekadnya yang tak kunjung padam untuk membawa gadis cantik itu keluar dari sangkar emas kepunyaan Mami Chika.
"Oh, enakkk... Punyamu enak banget, Dewaaa...!"
"Sialan! Ahhh...! Punyamu lebih enak lagi, Sayanggg...! Ughhh... Ayo teriak, Babyyy...! Ayo puasin Dewamu ini!"
"Dewaaa...! Ahhh...!" Setelah menyelesaikan kehendak ayahnya, Dewa tak mau lagi menunda-nunda keinginannya untuk mengeluarkan Cinta dari lumpur dosa, juga bersedia melakukan apapun kendati rintangan sudah menunggu mereka di depan mata.
Dewa memang tak pernah mencecar kalimat manis penuh mulut di hadapan Cinta untuk rasa yang selalu ia tata dalam hati, sebab sepanjang dirinya masih bergantung di kaki orang tua, kebebasan itu jelas hanya akan menimbulkan luka dan juga duka.
'Sebentar lagi kamu akan keluar dari tempat laknat ini, Cinta! Aku nggak akan ngebiarin kamu dimiliki orang lain yang belum tentu sayang sama kamu!' Susunan kata-kata itu, bergulir bebas di isi kepala Dewa sedari tadi.
Diselingi dengan sentuhan dan kecupan basah, pinggul liat Dewa terus memompa di bawah sana, mencari pelepasan yang belum ia dapatkan.
"Cintaaa...! Udah mau keluar, Sayanggg...! Oughhh... Naik ke atas badanku, Cin! Ohhh...!" Lelehan peluh yang membanjiri tubuh keduanya tak menjadi satu persoalan untuk mereka, sebab memang pada kenyataan bukan hanya rasa dari Dewa seorang, melainkan sudah sejak lama Cinta pun demikian.
Perasaan lancang tersebut dengan sendirinya tumbuh subur di hatinya atas segala tingkah laku Dewa padanya, namun masih tersembunyi karena pria itu tak pernah mengutarakan hal yang sama, termasuk berjanji apapun.
"Dewaaa...!"
"Cintaaa...! Ohhh...!" Terlepas dari hubungan intim di atas ranjang, harapan memang selalu Cinta inginkan dari Dewa, namun ia sadar betul dengan kasta dirinya di banyak pasang mata.
Cinta Andini hanyalah sampah masyarakat yang bertahun-tahun bahkan mampu menciptakan kehancuran biduk rumah tangga banyak pihak, padahal jauh sebelumnya Dewa sudah lebih dulu memikirkan semua itu dan anggapan wanita itu salah besar untuknya, sebab ia selalu memacu tekadnya menjadi anak manis agar dapat memperjuangkan kisah mereka.
"Terima kasih, Sayang. Uhhh... Enak banget." Deru nafas berpacu dengan debaran jantung kurang ajar, bertambah ketika bibirnya mendarat lembut di kening penuh peluh Cinta.
Cup
Seulas senyum teramat sangat manis dari Cinta, menular untuk Dewa di tengah pujian yang sama, "Aku yang harusnya bilang makasih ke kamu, Dewa. Punyamu juga enak banget dan—"
"—Mau nambah, hm?" Sampai-sampai ide untuk kembali berpacu dengan kobaran gejolak asmara hadir di bibir Dewa.
Ikut tertawa renyah, Cinta menolak ajakan panas itu dengan mengelus sejumlah rambut halus yang tumbuh di dada bidang Dewa, "Jangan sekarang, Sayang. Sewa kamarnya bakalan double sama Mami Chika nanti. Pas aku libur hari minggu aja baru kita long time di luar biar nggak mahal ya?"
Melakukan hal yang sama pada surai hitam legam di kepala Cinta, sejujurnya Dewa tak mempermasalahkannya, "Nggak masalah, Sayang. Aku kan udah nggak kuliah lagi. Udah diterima Papa di kantornya, jadi udah bisa bayar kamar double kok."
Toh, ia sudah tidak berstatus sebagai Mahasiswa, tetapi kini menjabat sebagai wakil direktur mengganti posisi sang ibu, "Tapi—"
"—Tapi apa, hm? Ada janji tidur sama cowok lain ya?" Sayangnya penolakan kecil itu berujung prasangka buruk dibungkus sedikit rasa kecemburuan.
Membuahkan sentuhan di dada, kini beralih menjadi elusan ke rahang tegas Dewa yang ditumbuhi bulu-bulu kasarnya, "Astaga. Aku nggak ada janjian sama siapa-siapa selain sama kamu hari ini, Dewa. Cuma nggak tahu aja nanti Mami Chika. Kenapa, sih, Sayang? Masih mau lagi memangnya?"
"Jangan tanya kayak gitu ke aku, Cinta. Mau belasan ronde pun aku jabanin asal itu sama kamu, Sayang," serak Dewa menahan gelombang panas yang bermunculan lagi.
Cinta yang dibalur rasa bangga merambah ke ranah inti milik Dewa, menyengajakan diri kian merapatkan kulit di tubuh mereka, namun candaan tak luput sedikit pun, "Alah, gombal. Emangnya di New York kamu nggak pernah gitu tidur sama cewek lain, maksudku pacarmu."
Setengah mati Dewa menahan dirinya untuk tidak menerkam Cinta saat itu juga, beralih pada berkata jujur demi bangunan kokoh yang digadang-gadang olehnya, "Ya itu, sih, pernah. Tapi kepepet pas aku diajak temen-temen mabok di kelab."
"Emmm..." Hasilnya? Hanya satu deheman saja yang keluar dari bibir Inna dan Dewa merasa kejujurannya adalah sebuah satu kesalahan.
Tiga detik Dewa mempergunakan waktu untuk mencari percakapan baru, tetapi masih saja kakinya belum ingin beranjak dari pembicaraan tadi, namun ia memilih terus bercerita jujur tentang isi hatinya, "Cuma anehnya kenapa yang aku bayangin itu lagi tidur sama kamu ya, Sayang? Jangan-jangan kita jodoh lagi."
Sebenarnya, umpan dari bibir Dewa sungguh sangat tepat sasaran, bahkan kini semburat merah di pipi Cinta kian memerah, namun kegugupan membuatnya salah berkata, "Jangan bercanda, Dewa. Aku ini lonte. Edan! Apa kata keluargamu nanti? Mana ada di dunia ini orang tua yang mau punya menantu perempuan jalang kayak ak—"
"—Ssttt... Jangan ngomongin itu lagi ya? Pokoknya punyamu enak banget dan bikin nagih, Sayang. Oh iya, aku punya surprise lho minggu depan buat kamu." Dewa yang tak suka, pun memotong ucapan Cinta dan kali ini ia benar-benar mengalihkan pembicaraan mereka.
Tanda tanya mulai membesar untuk hal baru yang penuh teka-teki, "Surprise? Apaan tuh?"
"Surprise itu kejutan, Sayang." Lalu bergulir dengan begitu baik oleh kemasan candaan manis Dewa.
Pukulan kecil di tubuh Dewa ada di sana, juga beragam reaksi lain, pun tak mau ketinggalan di antara diskusi kecil pelepas rindu, "Ih, Dewa! Aku juga tahu kali surprise itu artinya kejutan. Nggak bego-bego amat walaupun cuma tamatan SMA."
"Kamu tamat SMA, Yang?"
"Iya. Kenapa emang?"
"Nggak. Kan bisa kerja waktu itu, Sayang. Kenapa harus pinjem duit ke rentenir terus ujung-ujungnya malah berhamba ke Mami Chika gini, sih?"
"Karena aku masih bego, Dewa. Aku anak umur delapan belas tahun dari kampung di Cimahi sana yang nggak ngerti apa-apa. Jadi waktu bapak nyuruh aku minta tolong ke tetangga di dekat kontrakan waktu itu, ya aku kira emang nanti bakalan diganti utuh seperti yang kami pinjam. Ternyata berbunga banyak gitu."
"Terus."
"Terus nggak bisa bayar aku dibawa ke sinilah. Kan udah pernah aku ceritain. Kamu bikin aku jadi inget almarhum bapak aja. Capek-capek kerja biar bisa bebas dari sini, eh bapak malah pergi tinggalin aku."
"Ssttt... Sudah-sudah, Sayang. Aku minta maaf ya? Jangan nangis lagi oke? Aku janji nggak akan ngajak kamu ngobrol tentang itu lagi, tapi syaratnya sekarang harus senyum dulu. Bisa kan?" Namun ujung obrolan yang tidak Cinta harapkan lantas terjadi, ketika kisah masa lalu ikut menjadi pembahasan keduanya.
"Nggak bis— Ough, Dewa!"
Dewa memakai dua ruas jarinya untuk menebar umpan yang lebih jitu, "Kenapa, Sayang? Enak, hm? Mau aku kocokin sampai croot?"
"Dewaaa... Ahhh..." Dan hasilnya sudah dapat ditebak, bahwa Cinta akan dengan mudah luluh, juga menggema seperti beberapa saat lalu.
Hawa panas naik hingga ke ubun-ubun, memerahkan kulit di sekujur leher jenjang Cinta tentunya, "Terus, Sayang. Ayo teriak lagi, Baby..."
Aksi berjalan cepat dan tepat hingga menjadi hebat, nyaris tidak bisa menghasilkan satu penolakan dalam bentuk apapun juga untuk diri Cinta Andini, "Stop, Dewa! Ini-- Ough, fuck!"
Kalimat kotor juga menjadi mantra terbaik di sana, "Yes, Baby. I wanna fuck you again. Do you like it, hm? Enak, Sayang?"
"Enak, Dewaaa..." Menyerupai kutukan yang mau tak mau harus Cinta lalui.
Pergumulan memang wajib hukumnya untuk dilaksanakan tanpa bantahan, "Kurang keras, Baby girl!"
"Arghhh... DEWAAA...!"
"Good sound, Girl. Gimana kalo pakai bibir aja dulu?"
"Dewa, please! Cukup dong, Sayang. Aku— Ouhhh...! Sialan! Dewaaa...!" Lebih-lebih ketika lidah tak bertulang Dewa sudah sampai di lipatan Labia Mayor yang mulai menguar aroma khas itu.
Detik membawa menit untuk kian membara dan berkobar pula, lalu penyatuan di zona inti adalah bentuk betapa keduanya bukan hanya sekedar saling memuaskan hasrat, melainkan juga mengikat rasa untuk semakin erat.
Adalah janji ketika Dewa Djatmiko berulang kali meneriakkan nama Cinta di sana yang memiliki niat untuk dapat segera ditepati, tetapi tidak pada Cinta Andini. Ada butiran kecil air di kelopak mata yang diselimuti dengan lelehan peluh dan semua tentu saja masih tentang kasta serta derajat dirinya.
Cinta tidak ingin berharap lebih ketika di sepanjang lima tahun ke belakang Dewa tak pernah berkata jelas tentang isi hatinya, melainkan terus bersikukuh untuk menjadikan lelaki itu sebagai Raja yang membayar jasa. Mampukah ia terus bertahan? Entahlah. Semoga saja.
"แม่ค๊าบบบบ" ภูฟ้าลูกชายคนเล็กวิ่งมากอดฉัน"มาอ้อนแม่แบบนี้อยากได้อะไรครับหื้มมม""แม่รู้ทันฟ้าตลอดเลยอ่ะเบื่อจัง>ถ้าฟ้ารักแม่ฟ้าก็ต้องฟังแม่นะลูก หรือฟ้าอยากให้แม่เป็นห่วงกินไม่ได้นอนไม่หลับเพราะเอาแต่เป็นกังวลเรื่องฟ้าขับรถ" ฉันพยายามหาเหตุผลมาคุยกับลูกเพราะภูฟ้าแกก็เป็นเด็กมีเหตุผลประมาณหนึ่งถึงแม้ว่าจะถูกพ่อถูกปู่ถูกย่าถูกยายทวดตามใจมากแค่ไหนก็ตามเพราะเป็นหลานชายคนเล็กแต่สุดท้ายแล้วแกก็จะเชื่อฟังฉันมากที่สุดเพราะแบบนี้พี่ภูถึงให้ภูฟ้ามาคุยกับฉัน"แม่สัญญาแล้วนะครับ""ครับแม่สัญญา^^"
หลายปีต่อมา...อัยวา....ไม่อยากจะเชื่อเลยว่าฉันกับพี่ภูจะมาถึงวันนี้ได้ เราแต่งงานกันมาเกือบสิบปีแล้วและวันนี้เป็นวันครบรอบการแต่งงานของฉันกับพี่ภูซึ่งพี่ภูก็ได้จัดงานเลี้ยงฉลองให้ทุกปีและปีนี้เป็นปีที่พิเศษกว่าปีไหนๆ เพราะลูกๆ ทั้งสี่คนอยู่พร้อมหน้าพร้อมตาเนื่องจากว่าน้องภูมิไปเรียนต่อต่างประเทศเพิ่งกลับมา อ่อฉันลืมบอกไปว่าลูกคนเล็กของฉันเป็นผู้ชายนะคะแกมีชื่อว่าน้องภูฟ้าชื่อนี้พี่ภูเป็นคนตั้งให้เองเลยค่ะเขาอยากให้ลูกชายมีชื่อคล้ายกับเขาทุกคนส่วนลูกสาวก็ชื่อคล้ายฉัน ซึ่งหลังจากคลอดน้องภูฟ้าฉันก็บังคับให้พี่ภูทำหมันค่ะเพราะไม่อย่างงั้นฉันคงต้องตั้งท้องทุกๆ ปีเพราะเขาหื่นมากแม้ลูกสี่แล้วก็ตาม"ฉันดีใจด้วยนะที่เธอมีครอบครัวที่อบอุ่นและมีความสุขคุณแม่ลูกสี่อ่ะนี่ของขวัญจากฉัน" บอมยื่นของขวัญมาให้"ขอบคุณนะนายมายินดีกับฉันทุกปีเลย^^""อื้มมม""แล้วเมื่อไหร่นายจะมีแฟนเป็นตัวเป็นตนสักทีล่ะบอมฉันไม่เคยเห็นนายจริงจังกับผู้หญิงคนไหนเลยทั้งที่มีผู้หญิงเข้าหาตั้งเยอะ" อันนี้คือเรื่องจริงตั้งแต่เป็นเพื่อนกันมาฉันไม่เคยเห็นบอมคบกับใครจริงจังเลยอาจจะมีบ้างแต่ไม่นานก็เลิกคุยพอฉันถามเหตุผลมันก็บอกมั
อัยวา...."เปลี่ยนคำขอบคุณเป็นเสียงครางหวานๆให้พี่ฟังได้มั้ยครับที่รัก" พี่ภูส่งสายตาหื่นกระหายมาให้ฉันฉันยิ้มหวานส่งไปให้พร้อมกับเดินเข้าไปโอบรอบคอพี่ภูแล้วก็ซบลงที่อกกว้าง เราอยู่ด้วยกันมาตั้งหลายปีทำไมฉันจะไม่รู้ล่ะว่าพี่ภูต้องการอะไร"คืนนี้อัยจะครางให้พี่ฟังทั้งคืนเลยค่ะ" ฉันเงยหน้าพร้อมสบสายตาเชิญชวน"มายั่วกันแบบนี้ระวังจะไม่ได้นอนทั้งคืนนะครับเมีย""ไม่นอนก็ไม่นอนค่ะ อัยพร้อมอยู่แล้ว^^""เมียใครน่ารักจัง""เมียพี่ภูไงคะ^^" จุ๊บ จุ๊บ จุ๊บ จ๊วบ จ๊วบ ฉันจุ๊บที่คอพร้อมกับดูดเบาๆ"ซี๊ดดดด อัยจ๋าดูดแรงๆเลยครับที่รักพี่ชอบ" พี่ภูครางกระเส่าเมื่อฉันดูดคอเขาจนเป็นรอย"คืนนี้อัยจะไม่ได้ดูแค่ที่คอนะคะอัยอยาก...ดูดอย่างอื่นของพี่ด้วย" ทั้งสายตาทั้งคำพูดของฉันทำเอาพี่ภูอึ้งไปพักนึงเลย ฉันอยากจะตอบแทนความรักที่เขามีให้ฉันเพราะฉันรู้สึกว่าที่ผ่านมาฉันดูแลเอาใจใส่พี่ภูได้ไม่ดีพอ ฉันผลักพี่ภูให้นอนลงบนเตียงก่อนที่ฉันจะตามขึ้นมา ฉันไม่รอช้ารีบจัดการถอดกางเกงของเขาออก ก่อนจะหันมาจัดการกับชุดเจ้าสาวของตัวเองจนตอนนี้เราสองคนเปลือยเปล่าด้วยกันทั้งคู่ ฉันยิ้มให้พี่ภูด้วยสายตายั่วยวนก่อนจะขยับตัวลง
ภูผา....ผมนั่งมองลูกสาวสองคนที่กำลังเล่นทรายกันอยู่ริมชายหาดใต้ต้นมะพร้าว สักพักก็มีเด็กผู้ชายคนหนึ่งอายุน่าจะพอๆกับน้องภูมิวิ่งถือลูกบอลมายืนมองดูลูกสาวผมที่กำลังนั่งเล่นทรายกัน ผมก็นั่งดูอยู่ไม่ได้พูดอะไรจนกระทั่งลูกสาวผมพูดชวน"พี่มาเล่นด้วยกันมั้ยค๊าาา" น้องอันดาชวนแล้วก็ตามมาด้วยน้องเอิงเอย"มาเล่นด้วยกันซี่สนุกน๊าาา" ว่าแล้วทั้งสองสาวก็ลุกขึ้นพร้อมกันแล้วเดินไปจูงมือเด็กชายมาเล่นทรายด้วย"น่ารักจังเลยครับชื่ออะไรกันเหรอน้องสองคนหน้าเหมือนเลยเป็นฝาแฝดเหรอ""ใช่ค่า""พี่ชี่อพี่กลัฟน่ะอายุเจ็ดขวบ^^"ผมเหร่ตามองเด็กผุู้ชายที่แนะนำตัวเองเสร็จสรรพกับลูกสาวของผม"น้องชื่ออันดาค่าส่วนนี่น้องเอิงเอยเป็นน้องสาวอันดาเองค่าอายุสี่ขวบครึ่งแล้ว^^" ลูกสาวผมก็ใช่ย่อยครับบอกชื่อบอกอายุเขาเรียบร้อย ที่ผมไว้หนวดมานี่ไม่มีผลเลยสินะ เห้อออออผมนั่งมองเด็กทั้งสามคนเล่นด้วยกันจนกระทั่งเย็นมากแล้วผมก็เลยไล่ให้เด็กผู้ชายนั่นกลับบ้าน"ไว้พรุ่งนี้พี่มาเล่นด้วยอีกนะ^^""ได้ค่าพี่กลัฟ^^""ได้ค่าพี่กลัฟ^^"พอคล้อยหลังเจ้าเด็กนั่นผมก็เรียกสองสาวมาคุยด้วยใบหน้าจริงจัง"น้องอันน้องเอิงหนูฟังพ่อนะลูก เราเป็นผู้
ภูผา...."ก่อนหน้านี้พ่ออัยเอาโฉนดบ้านมากู้เงินจากพี่แต่พี่ไม่รับเพราะพี่รู้ว่าอัยรักบ้านหลังนี้มากแต่ก็ให้เงินท่านไปนะแต่ไม่นานเงินก็หมดเพราะพ่ออัย...ติดการพนัน""พ่อติดการพนันเหรอคะทำไมอัยไม่เคยรู้เลย""เรื่องนั้นช่างมันเถอะ แต่ตอนนี้พี่คิดหาทางออกให้อัยแล้ว""ยังไงคะ""ในเมื่อพ่ออัยเห็นว่าบ้านยั
อัยวา..."อ้าวอัยจะไปแล้วเหรอลูก" ป้าพิมพ์เดินเข้าบ้านมาพร้อมตะกร้าดอกไม้ที่น่าจะเพิ่งไปตัดมาจากในสวน"ค่ะป้าพิมพ์""แล้วตาภูล่ะเมื่อกี้ป้าให้อุ้มตาหนูรออยู่ในห้อง""พี่ภูขึ้นไปข้างบนแล้วค่ะ""อัยจะไม่ให้โอกาสลูกชายป้าจริงๆเหรอลูก""อัยขอโทษนะคะป้าพิมพ์ แต่อัยกลัวตัวเองจะเจ็บอีกป้าพิมพ์ไม่โกรธอัยนะ
เช้าวันต่อมา....ฉันตื่นขึ้นมาในตอนเช้าแต่ไร้เงาพี่ภูที่นอนกอดฉันทั้งคืน อยากจะบอกว่าเขาทำตามสัญญาไม่ทำอะไรฉันเลยนอกจากนอนกอดเท่านั้น ฉันลุกจากเตียงแล้วเดินไปดูพี่ภูในห้องน้ำแต่ก็ไม่เจอพอเดินออกมาข้างนอกก็ไม่เจออีก แล้วเขาไปไหนกันนะทำไมตื่นเช้ายังไม่เจ็ดโมงเลย หรือไปทำงาน สงสัยจะใช่แล่ะแต่ทำไมเขาไม
อัยวา...."อัยช่วยไปดูตาภูที่คอนโดให้ป้าทีได้มั้ยลูก เอายากับอาหารไปให้ตาภูทีเผื่อว่าตาภูยังไม่ได้กินข้าวกินยา""เอ่อ คือ""ถ้าไม่สะดวกที่จะไปก็ไม่เป็นไรลูกเดี๋ยวป้าไปเอง น้องอัยนอนเถอะเดินทางมาเหนื่อยๆ ป้าไปนะลูก""เอ่อ เดี๋ยวค่ะป้าพิมพ์""อะไรลูก""คือ..อัยไปให้ก็ได้ค่ะแต่อัยเกรงว่าพี่ภูอาจจะไม่ไ




![My Engineerรักร้ายนายจอมโหด [ต้าร์พินอิน]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
