ANMELDENเธอจากเขาไปพร้อมกับความรัก และกลับมาอีกครั้งพร้อมปริศนา... ส่วนเขา คนที่คิดว่าตนเองเป็นคนรักแรงเกลียดแรง กระทั่งได้กลับมาเจอหน้าแฟนเก่า ที่ทิ้งตนเองไปอีกครั้ง ☁️ส่วนหนึ่งในนิยาย☁️ “กูต้องการรู้ ว่าผู้หญิงที่ชื่อชาลีทำงานที่นี่ตำแหน่งอะไร” “รับทราบครับ ถ้าผมได้ข้อมูลแล้วจะให้ดำเนินการยังไงต่อครับ” คำถามของลูกน้องทำให้มาเฟียหนุ่มเหยียดยิ้มมุมปาก ก่อนจะเปล่งเสียงออกมาด้วยความเยือกเย็น “ให้มันไสหัวไปให้พ้นตีนกู” . . “ไม่ใช่พนักงานบริษัทเรา?” “ครับ เธอเปิดร้านขายกาแฟอยู่ใต้ตึกติดกับทางขึ้นลิฟต์พนักงานครับ และเป็น 'แม่ของเด็ก' ที่วิ่งมาขวางหน้ารถเราเมื่อเช้า” . . "มี้~ ลุงคนนี้เพื่อนมี้จริงเหรอ" "ใช่ ฉันเป็นเพื่อนของแม่เธอ" "..." "แล้วเธอน่ะ ลูกใคร?"
Mehr anzeigen"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGหลายปีต่อมา "ป๊าก้าบ~" เสียงเรียกเด็กชายผมสีน้ำตาลอ่อน เรียกความสนใจของเซนจากหน้าจอได้ป็นอย่างดี ลูกชายวัยสามขวบเดินเข้ามาภายในห้องทำงานที่ไม่ได้ล็อกประตูด้วยใบหน้าเปื้อนยิ้ม "ครับ ออสโลเรียกป๊าทำไมครับ" คนเป็นพ่อเดินเข้าไปอุ้มลูกชายมานั่งบนโต๊ะทำงาน ก่อนจะหลุบตามองมือเล็กๆ ที่เปื้อนขนแมว "ไ
เปิดประตูพร้อมกับออกแรงดันแผ่นหลังสามีเข้าห้องเบาๆ ทั้งหมดอยู่ในสายตาของคนเป็นลูกน้อง ดีนส์มองใบหน้าหวานที่ดูไม่ทุกข์ร้อนที่สามีเจ็บป่วยด้วยความสงสัย ยิ่งรอยยิ้มมีพิรุธนั่นยิ่งทำให้เขาสงสัย “นายหญิงท้องหรือเปล่าครับ” แกร๊ก มือที่จับลูกบิดค้างไว้ชักมือกลับด้วยความตกใจ พริมโรสหันขวับมองมือขวาข
หนึ่งปีต่อมา เจ้าของร่างสูงนั่งทำงานภายในห้องทำงานหรูอย่างเคร่งเครียด เนื่องจากอยู่ในช่วงส่งเอกสารภาษีประจำปี ปกติงานพวกนี้เจ้านายของเขาจะเป็นคนตรวจสอบมันด้วยตนเอง แต่หลังจากกลับฮันนีมูนที่สแกนดิเนเวีย ทั้งคู่กลับเดินทางไปญี่ปุ่นต่อ งานของนายทั้งหมดที่เขาเป็นคนแบกรับคนเดียวตลอดหนึ่งเดือน จึงยังค
ใช้แก้มตัวเองถูไถกับคนตัวเล็ก จนคนถูกกระทำหัวเราะออกมาทั้งที่ใบหน้ายังมีคราบน้ำตา "ใจดีมาก ใส่ใจคนอื่น" เขาชมเปาะจากใจ "จริงเหรอ...ชมอีกสิ" "..." "นะ...ชมเตยอีก ชมอีกๆ" เขย่าท่อนแขนแข็งแรงรบเร้าอย่างเอาแต่ใจ ดีใจเพราะถูกเขาชม ปกติเธอไม่ค่อยถูกชมว่าใจดีกับใคร หากถูกชมว่ากวนประสาทเก่ง หรือเผ
ไหนล่ะปิดตาข้างหนึ่งแล้วจะดีขึ้นของเขา "นับตั้งแต่เซ็นสัญญาฉบับนี้ เลิกส่งคนติดตามฉันกับพริมโรส และครอบครัวของเธอ" เงื่อนไขข้อที่สองถูกพูดออกมา แทนการตอบคำถามของหญิงสาว "แค่นี้?" ราฟาเอลทวนถามให้แน่ใจ รับซองสีน้ำตาลในมือของมือขวาของน้องชายมาอ่านอีกครั้ง และมันก็มีอยู่แค่นั้นจริงๆ "ฉันทำเพื่อ
[Primrose Talks] สิ่งที่ฉันกลัวเกิดขึ้นช้ากว่าที่คิด ฉันกับเซนใช้ชีวิตอยู่ในสิงคโปร์มาสองวันแล้ว แต่ยังไร้วี่แววของราฟาเอล ทั้งที่สิงคโปร์เล็กนิดเดียว และเราไม่ได้ซ่อนตัว หรือหลบหน้าหลบตาเลย แต่กลับไม่เจอกันเสียที เซนบอกว่า ถ้าราฟาเอลจะมาก็ให้มาหาเอง เขาไม่มีธุระจำเป็นต้องไปหา เอาดิ เช้านี
“อ๊ะ...อื้อ!” พริมโรสใช้สองมือค้ำยันแผ่นอกแน่นหนันเอาไว้ เมื่อคนที่อยู่ใต้ร่างเริ่มออกแรงคุมจังหวะจนสะโพกของเธอเด้งขยับตามแรงกระแทก “สะ...เสียวจัง อื้มมมม” เสียงเล็กๆ ครวญครางออกมาอย่างไม่ปกปิด ไม่มีเหนียมอายที่พูดความรู้สึกขณะร่วมรักออกมาอย่างโจ่งแจ้ง “นะ...ไหนว่าจะให้ขย่มเองไง” รอยยิ้มร้ายเป
@ห้างสรรพสินค้า ใกล้มหาวิทยาลัย สามสาวเดินออกจากโรงภาพยนตร์ในเวลาเกือบสองทุ่มครึ่ง หนังที่เลือกดูเป็นแนวแอคชั่นที่กินเวลากว่าสามชั่วโมง บรรยากาศยามห้างใกล้ปิดเงียบสงัด จนได้ยินเสียงฝีเท้าที่เดินบนส้นสูงของทั้งสาม ร้านค้าหลายเจ้าปิดร้านดึงประตูม้วนปิดร้านเรียบร้อย เมื่อมองจากชั้นห
Rezensionen