Mag-log in"...คุณมันเเห็นแก่ตัวที่จะเอาให้ได้ทุกอย่างในชีวิตนี้ ผู้หญิงบริสุทธิ์ก็จะเอา แม่ของลูกก็จะเอา เมียที่คอยปรนเปรอบนเตียงก็จะเอา!!!" -- "อุ้มรักสัญญาเถื่อน" โดย ลีขิตา นิยายแนวดราม่า ครอบครัว ปมความลับทับกันไปมา ไม่ต้องกลัวเครียด 🥰🥰 - ไม่เคยเผยแพร่ที่ไหน อ่านได้ที่เดียวที่ Goodnovel เท่านั้น #goodnovel #อุ้มรักสัญญาเถื่อน 🔞 คำเตือนสำหรับผู้อ่าน 🔞 เรื่องนี้แต่งขึ้นเพื่อความบันเทิงเท่านั้น บริบทต่าง ๆ ล้วนสมมติขึ้น ไม่เกี่ยวข้องกับบุคคลหรือเหตุการณ์จริงใด ๆ ทั้งสิ้น โปรดใช้วิจารณญาณในการอ่าน
view more"Om, mana bolaku?" tanya Jendra, bocah berusia lima tahun itu menghentikan langkah kakinya di hadapan seorang pria yang memakai kemeja, celana hitam, dan bersepatu.
Dia terkejut ketika melihat sosok anak kecil yang datang menghampiri dan meminta bola yang berada di dekat kakinya."Anak itu? Kenapa wajahnya mirip denganku?" gumam Amar."Kamu mau bola ini?" tanya Amar yang kemudian mengambil bola berwarna merah itu.Jendra mengangukkan kepala dan kemudian berjalan mendekati Amar."Tangkap, ya!" ucap Amar yang kemudian melempar bola itu kepada Jendra."Yes, dapat!" teriak Jendra kegirangan.Melihat Jendra tertawa, mengingatkan Amar kepada seseorang.Tidak berselang lama, ada seorang wanita cantik berkulit putih dan berambut panjang berlarian dengan wajah panik melihat ke berbagai sudut pusat perbelanjaan."Jendra? Kamu di mana?" teriak wanita itu.Jendra melihat ke arah sumber suara tanpa menjawab. Sementara Amar masih memperhatikan wajah bocah itu."Jendra? Akhirnya mama menemukanmu!" ucap Ameli, nama wanita itu.Amar kembali dikejutkan dengan sosok wanita yang tiba-tiba datang dan menyebutkan dirinya mama."Ameli?" panggil Amar dengan suara bergetar.Ameli menaikkan pandangannya. Tidak hanya Amar, mata Ameli juga terbelalak ketika melihat sosok pria yang memanggil dirinya."Amar?" ucap Ameli.Ameli bergegas menarik lengan Jendra dan mengajaknya pergi menjauhi Amar."Ameli? Tunggu!" teriak Amar.Ameli tidak memperdulikan pria itu yang terus menerus memanggilnya. Dia semakin mempercepat larinya. Karena pusat perbelanjaan waktu itu sangat ramai membuat Amar kehilangan jejak."Kemana perginya dia?" gerutu Amar dengan nafas terengah-engah dan menundukkan posisi tubuhnya menjadi empat puluh lima derajat.Sementara Ameli terus berlari dan segera membawa Jendra masuk ke dalam mobil."Kenapa Mama mengajak Jendra berlari? Memang siapa orang itu, Ma?" tanya Jendra dengan wajah polosnya.Ameli masih terdiam dengan nafas terengah-engah. Dia masih tidak percaya dengan keberadaan Amar yang begitu mengejutkannya. Pertemuan singkatnya dengan Amar mengingatkan dirinya pada kejadian enam tahun yang lalu.***Ameli terlahir di dalam keluarga yang sangat berada. Ayahnya bernama Danang Pamungkas yang merupakan pemilik perusahaan besar yang diberi nama Pamungkas grup, sementara ibunya bernama Mila Setyowati yang tidak lain tidak bukan juga pemilik perusahaan yang diberi nama Setyo grup."Ameli, mama membelikan gaun yang sangat cantik untukmu." Ucap Bu Mila, mamanya Ameli sambil membawa sebuah kardus berukuran tidak terlalu besar yang terlihat elegan ditambah pita merah di atasnya membuat tampilan semakin elegan."Gaun? Ameli tidak sedang ulang tahun, Ma." Jawab Ameli sambil melirik barang yang dibawa Bu Mila dan meletakkan ponsel yang sejak tadi menemaninya."Berdandanlah yang cantik! Karena malam ini kita akan bertemu dengan orang yang sangat terpandang di kota ini," ucap Bu Mila."Siapa, Ma?" tanya Ameli sambil mengerutkan dahi."Nanti kamu akan tahu sendiri," jawab Mila.Belum juga sempat Ameli kembali bertanya, ponsel Bu Mila berdering. Bu Mila segera mengambilnya dari dalam saku dan kemudian berjalan meninggalkan Ameli.Ameli hanya bisa menghela nafas mendapati sikap mamanya yang selalu memaksakan sesuatu tanpa berkompromi terlebih dahulu.Meski dengan perasaan kesal, Ameli menuruti keinginan Bu Mila. Wanita cantik itu dengan hati yang berat berjalan menuju kamar mandi.***Makan malam di sebuah restoran mewah pun tiba. Ameli memakai gaun berwarna hitam ditambah rambut panjangnya yang dikeriting bagian bawah membuat dirinya sangat elegan dan berkelas."Apa kabar, Pak Danang? Maaf sudah menunggu lama!" ucap Pak Hadi, seorang pria berusia lima puluh tahunan sambil mengulurkan tangan kepada Pak Danang."Kabar baik, Pak Hadi. Silahkan duduk," jawab Pak Danang.Sambutan kecil itu diikuti oleh Bu Mega dan Bu Mila. Sementara Ameli juga berusaha bersikap ramah kepada orang-orang yang belum dia kenal sebelumnya dan hanya sebatas tahu jika kedua pasangan suami istri dihadapannya saat ini merupakan orang-orang terpandang."Oh, jadi ini anaknya Pak Hadi yang katanya pemilik perusahaan Kusuma grup?" gumam Ameli sambil melihat sosok pria muda yang sejak tadi bersikap dingin dan pelit senyum."Amar, gadis itu bernama Ameli. Dia cantik, bukan?" bisik Bu Mega sambil melirikkan mata dan tersenyum ke arah Ameli.Namun, bisikan Bu Mega tanpa sengaja terdengar di telinga kedua orangtua Ameli dan juga Pak Hadi sehingga secara bersamaan mereka semua melihat ke arah Ameli dan Amar.Ameli tersipu malu. Pipinya mulai merona. Dia tersenyum dihadapan semua dan kemudian menundukkan wajahnya. Rasanya, Ameli mencium bau-bau perjodohan di sini."Ameli, nanti kamu pulang diantar sama Amar, ya!" perintah Bu Mila yang tiba-tiba keluar begitu saja dari mulutnya dan lagi-lagi tanpa berkompromi dengan Ameli terlebih dahulu.Ameli tersedak. Seketika dia segera mengambil minuman dan diteguknya."Apa?" tanya Ameli terkejut."Iya, Ameli. Kebetulan kami semua mau membicarakan bisnis bersama jadi kemungkinan akan berada di sini lebih lama," sahut Bu Mega.Jika Bu Mega sudah berkata, Ameli tidak berani untuk melawan. Amar mengambil kunci mobil dan kemudian berkata, "ayo!"Mata Ameli terbelalak ketika melihat Amar berdiri sambil mengulurkan tangan kepadanya."Apa-apaan dia? Bikin malu saja!" gerutu Ameli kesal.Disaat yang bersamaan, Ameli mendengar kedua orangtuanya dan orangtua Amar sedang berusaha menyembunyikan tawanya.Karena merasa sungkan dengan kedua orangtua Amar, Ameli akhirnya menerima uluran tangan Amar dan berjalan bersama keluar restoran.Amar terus menggandeng Ameli tanpa sepatah katapun. Sikap Amar yang dingin membuat Ameli semakin penasaran."Apa memang anaknya orang kaya selalu mempunyai sikap yang dingin? Kayak dia paling ganteng saja! Tapi, memang dia ganteng, sih!" ucap Ameli dalam hati sambil menyembunyikan tawanya."Tapi, kenapa aku tidak bisa seperti dia? Aku juga terlahir di keluarga kaya tapi tidak mempunyai sikap sombong seperti dia?" imbuhnya."Tidak usah ketawa! Aku tahu apa yang kamu pikirkan!" ucap Amar sambil terus berjalan."Apa? Kenapa dia bisa tahu?" Lagi-lagi Ameli bergumam dalam hati.Perasaan Ameli seketika berubah menjadi kesal. Ketika dia hendak melepaskan tangannya, Amar semakin mempererat genggamannya."Lepaskan! Jadi apa yang kamu inginkan?" tanya Ameli dengan meninggikan suaranya."Kenapa kamu masih bertanya? Bukannya aku ingin mengantar kamu pulang?" ucap Amar yang kembali bertanya."Haaaiizzz! Kenapa dengan ku ini? Kenapa aku bodoh sekali? Bukannya memang dia ingin mengantarku pulang?" Ameli kembali menggerutu di dalam hati.Sesampainya di mobil, Amar membukakan pintu untuk Ameli dan Ameli pun bergegas untuk masuk. Tidak berselang lama, Amar juga ikut masuk ke dalam mobil.Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya ketika Amar mulai menyalakan mesin hingga memberhentikan mobilnya di suatu tempat.Ameli mulai kebingungan ketika Amar melajukan mobil tidak ke arah rumahnya."Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Ameli.แม้ธามจะสามารถเนรมิตงานแต่งที่ยิ่งใหญ่และหรูหราได้มากที่สุดเท่าที่ผู้หญิงคนหนึ่งจะใฝ่ฝันถึงได้ แต่ภรรยาสาวน้อยของเขากลับเลือกจะฉลองสมรสเงียบๆ ด้วยการทำบุญและกินเลี้ยงกันเฉพาะในหมู่คนสนิทไม่กี่คนเท่านั้น"จะตำน้ำพริกละลายแม่น้ำทำไมล่ะคะ เสียดายเงิน"ศีตลาบอกแบบนั้น"ก็ได้ ตามใจตาล แต่เรื่องที่เราต้องจดทะเบียนสมรสกันกับเรื่องประเทศที่จะไปฮันนีมูน เธอต้องตามใจฉันนะ"ธามบอกอย่างเด็ดขาด ทันทีที่เป็นสามีภรรยากันอย่างถูกต้องตามกฎหมาย เขาจึงพาเธอบินลัดฟ้าไปฮันนีมูนที่ยุโรปถึงหนึ่งเดือนเต็ม ก่อนกลับยังแวะไปอเมริกาเที่ยวหาแม่ผู้ให้กำเนิด พ่อเลี้ยงและน้องชายต่างบิดาของเขาทั้งสามคนอีกด้วยและเมื่อกลับมาเมืองไทยไม่ถึงครึ่งเดือน ทั้งคู่จึงได้ข่าวดีว่าศีตลากำลังตั้งครรภ์ได้สองสัปดาห์แล้ว"...ทีนี้ก็ไม่มีใครมาว่าผมไร้น้ำยาอีกแล้ว"ธามพูดยิ้มๆ พลางวางมือบนหน้าท้องที่ยังราบเรียบของคนเป็นภรรยาศีตลาหัวเราะเบาๆ"ไม่มีใครว่าคุณเลย คุณนั่นแหละร้อนตัวไปเองตลอด""จะว่าร้อนตัวก็ยอม คนแก่มีเมียเด็ก ก็ต้องหวาดระแวงเป็นธรรมดา"ศีตลาจับมือเขามาบีบแน่น"คุณยังไม่แก่สักหน่อย ตาลก็ไม่ใช่เด็กแล้วด้วย...""นั่นสินะ ถ้
"คุณธามคะ...ลี่ขอฝากให้เพื่อนติดรถไปด้วยได้ไหมคะ"ลลิตาโพล่งออกมาด้วยสีหน้าใสซื่อ เมื่อตอนที่ธามแวะมาบอกเธอตามมารยาทว่าเขาจะขอตัวกลับก่อนศีตลาเองก็หันขวับ สีหน้างุนงง เพราะเพื่อนๆ ยังอยู่ในงานครบทุกคน ไม่มีเหตุผลที่เธอจะต้องกลับก่อนใครเลยแต่ดูเหมือนลลิตาไม่ใส่ใจท่าทีของเพื่อนสนิท กึ่งจูงกึ่งลากศีตลาไปส่งธามที่รถของเขาด้วยกันจนได้"หนูลี่ขออภัยที่รบกวนนะคะคุณธาม แต่ลี่ไม่อยากให้ลูกตาลกลับแท็กซี่ จะให้พี่ลักษ์ไปส่ง รายนั้นก็ดันกินเหล้าเข้าไปแล้ว แค่จิบสองจิบก็คอพับหลับเป็นตาย...""ได้สิ ไม่มีปัญหาหรอก"ธามตอบอย่างใจดี"แต่ว่า เกรงใจค่ะ..."ศีตลาอุบอิบตอบ "เกรงใจอะไรกัน เธอกับฉันไม่ใช่คนแปลกหน้าต่อกัน...วางใจเถอะหนูลี่ ผมจะไปส่งลูกตาลให้ถึงบ้านอย่างปลอดภัย""อุ๊ย ขอบคุณมากๆ เลยค่ะ หนูลี่เชื่อคะว่าถ้าเพื่อนลี่อยู่กับคุณธาม จะต้องปลอดภัยแน่นอน"ศีตลาอยากปฏิเสธอีกครั้งแต่กลับพูดไม่ออก สุดท้ายเลยยอมขึ้นรถมากับเขาโดยมีลลิตายืนโบกมือส่งจนลับตา"ขอบคุณคุณธามนะคะ ตาลไม่ได้ตั้งใจ ลี่ก็ไม่ถามตาลก่อน"หญิงสาวเอ่ยเบาๆ อย่างไม่รู้จะพูดอะไร แล้วก็ได้ยินเสียงหัวเราะหึหึจากเขา"ก็บอกแล้วไงว่าเราไม่ใช
ศีตลาไม่ได้เจอธามอีก เพราะนักธุรกิจหนุ่มเดินทางกลับกรุงเทพฯ กะทันหัน หญิงสาวเก็บซ่อนความรู้สึกอ่อนไหวไว้ในใจ อาจดีแล้วก็ได้ที่ไม่ต้องเจอเขาอีก...แต่อีกเพียงสามสัปดาห์ต่อมา ธามกลับปรากฏตัวในงานวันเกิดของลลิตาที่จัดที่บ้านลือชา แน่นอนว่าศีตลาและเพื่อนสนิทอีกหลายคนได้รับเชิญมาด้วยหัวใจดวงน้อยๆ ของศีตลาเต้นรัวแรง และหน้าก็คงจะแดงด้วยเหมือนกัน โชคดีที่ไม่มีใครสังเกตหรือคิดว่ามันผิดปกติ"ลี่นี่มันร้ายจริงๆ ทำให้คนระดับคุณธามมาอวยพรวันเกิดจนได้"ลักษมันบ่นไม่จริงจังนัก ตอนที่เดินโฉบมาหาศีตลาที่โต๊ะจัดเตรียมเครื่องดื่มแบบบุฟเฟต์ มีพนักงานจัดเลี้ยงที่จ้างมาเป็นพิเศษคอยยืนให้บริการตามจุดต่างๆ ราวกับมาร่วมงานเลี้ยงในโรงแรมก็ไม่ปานศีตลายกแก้วน้ำพันช์ขึ้นจิบ ดูเหมือนมีแอลกอฮอล์ผสมอยู่หน่อยๆ แต่ตอนนั้นหญิงสาวไม่ทันได้ใส่ใจ"แต่คุณธามก็มา...คุณธามคงจะชอบลี่มากเลยนะคะ""ใครว่าล่ะ พี่ว่ามาเพราะเกรงใจพ่อต่างหาก"ลักษมันหัวเราะเบาๆ ซึ่งอาจจะจริงเพราะธามยื่นของขวัญและอวยพรน้องสาวเขาไม่ถึงสองนาทีก่อนจะรับคำเชิญของพ่อและหายเข้าไปคุยกันตามประสาผู้ใหญ่ในตัวบ้านเป็นนานสองนานแทน"สำหรับคุณธาม ยัยลี่ก็เป็นแค
ก่อนวันเดินทางกลับกรุงเทพฯ ลลิตาอยากชวนครอบครัวไปตั้งโต๊ะกินข้าวริมทะเล ถึงขั้นขอให้พนักงานจัดโต๊ะดินเนอร์แบบเรียบง่ายแต่สวยเก๋บนชายหาด "ตาล แกไปนั่งรอก่อนนะ เดี๋ยวฉันตามไป"หญิงสาวบอกอย่างกระตือรือร้น ศีตลารับปาก เมื่ออาบน้ำและแต่งตัวเป็นชุดสบายๆ ที่เหมาะสำหรับดินเนอร์มื้อเย็น เธอก็รีบล่วงหน้าไปนั่งจองไว้ให้ก่อน"อ้าว! พี่ลักษ์มาแล้วหรือคะ"ศีตลาถามอย่างแปลกใจเมื่อเห็นลักษมันมานั่งรออยู่ก่อนแล้ว ชายหนุ่มแต่งตัวชุดลำลองแต่ก็ยังดูหล่อเหลาสมมาดผู้บริหาร เขารีบลุกขึ้นยืน ยิ้มเก้อเขินแปลกๆ "ครับ...ลิลลี่ไปตามพ่อกับแม่ เดี๋ยวก็คงตามมา...เอ่อ ลูกตาลหิวหรือยัง กินอะไรรองท้องกันหน่อยดีไหม""ยังไม่หิวค่ะพี่ลักษ์ รอคุณลุงคุณป้าก่อนก็ได้ค่ะ"ศีตลาตอบ และหาที่นั่งตรงข้ามเขา พนักงานที่ยืนรอท่าอยู่ไม่ห่างรีบเข้ามารินเครื่องดื่มให้ทันทีลักษมันจึงบอกเบาๆ ว่าให้ยกอาหารมาเสิร์ฟได้เลย พนักงานรับคำอย่างสุภาพด้วยรอยยิ้มก่อนจะถอยออกไป"พี่ลักษ์หิวแล้วสินะคะ"ศีตลาถามยิ้มๆ เธอคิดว่านี่เป็นแค่การกินข้าวกันในครอบครัว ลักษมันจะเริ่มก่อนพ่อกับแม่ของเขา ท่านก็คงไม่ว่าอะไร"ก็...ยังไม่หิวมากหรอก แต่กินรอไปเรื่อ
ไม่รู้ว่าผ่านไปนานเท่าไหร่ที่วีณาได้แต่นั่งอยู่ตรงนั้น รู้สึกตัวอีกทีตอนที่ธามนั่งลงข้าง ๆ เธอ"ผมนึกว่าคุณหนีไปไหนเสียแล้ว"เขาเอ่ยด้วยน้ำเสียงแปลกไปเล็กน้อย"ฉันควรหนีหรือคะ""ไม่หนีสิ ทำไมคุณต้องหนีด้วย...""คุณ...คุณหญิงธัญญา เธอได้บอกอะไรคุณบ้างไหมคะ""บอก" ธามพยักหน้า มาถึงตอนนี้แล้วก็คงไม่มี
เที่ยวบินจากลอสแอนเจลิสมาถึงสนามบินสุวรรณภูมิในช่วงเที่ยงตามเวลาประเทศไทย แม้อยู่บนเครื่องบินมานานเกือบสามสิบชั่วโมง แต่ทีน่า ฮาร์ท หญิงวัย 55 ปีเชื้อชาติไทย สัญชาติอเมริกัน ก็ไม่มีทีท่าจะเหน็ดเหนื่อยเลยแม้แต่น้อย ยิ่งเข้าใกล้แผ่นดินเกิดมากเท่าไร หัวใจก็ทั้งเต้นแรงและบีบรัด ความตื่นเต้นเอ่อล้นจนแทบ
ณ ภัตตาคารอาหารไทยริมน้ำเจ้าพระยาพล.อ.เขมราช กับคุณหญิงพลอยสี กำลังเพลิดเพลินกับบรรยากาศและอาหารไทยรสเลิศตำรับชาววังแท้ ๆ ที่คุณหญิงธัญญาเลือกสั่งมาเป็นพิเศษ "คุณพี่ลองชิมถ้วยนี้สิคะ น้องเคยมากินหนนึง ติดใจเลยทีเดียว จองโต๊ะวันนี้เลยต้องกำชับให้เขาจัดจานนี้มาให้ด้วย"คุณหญิงธัญญาที่อาวุโสน้อยกว่า
"ว่ายังไงธาม ลูกซื้อเครื่องประดับที่มีมูลค่าอย่างเพชรพลอย ให้ผู้หญิงคนอื่นที่ไม่ใช่หนูเพิร์ลอย่างนั้นหรือ"ธามไม่เห็นประโยชน์จะปิดบัง เขาวางช้อนส้อมก่อนหันไปสบตามารดา“ครับ ผมตั้งใจจะซื้อให้คนอื่นจริง ๆ”“ใคร”หญิงทั้งสองแทบจะถามออกมาพร้อม ๆ กัน“คนรู้จักน่ะครับ”“แค่คนรู้จัก จะซื้อของมีค่าให้กันทำ
Rebyu