Semua orang mengatakan bahwa Carmel adalah primadona tercantik di Kota Nansa. Kulitnya putih, wajahnya menawan, dan sifatnya bebas serta penuh percaya diri. Pada saat masih bersenang-senang di luar negeri, dia tiba-tiba dipanggil pulang oleh ayahnya melalui sebuah telegram kilat. Di telegram itu hanya ada satu kalimat.
[ Segera pulang dan menikah dengan Alfons. ]
Alfons adalah perwira termuda sekaligus paling menjanjikan di militer. Sifatnya dingin, tertutup, disiplin, dan sangat menjunjung aturan. Benar-benar bertolak belakang dengan Carmel.
Carmel menyukai keramaian, sedangkan Alfons menyukai ketenangan.
Carmel bertindak sesuka hati dan sudah tak terhitung berapa banyak ulah nekat yang pernah dilakukannya, sementara Alfons selalu mematuhi aturan dan menjadikan disiplin militer sebagai prinsip yang tak boleh dilanggar.
Carmel cantik, ceria, dan bebas. Gonta-ganti pacar adalah perkara mudah baginya. Sementara itu, Alfons terkenal tidak pernah mendekati wanita. Jangankan menjalin hubungan, bahkan tangan prajurit wanita pun belum pernah disentuhnya.
Membayangkan harus menikah dengan pria sekaku itu saja sudah membuat Carmel merasa sesak napas. Karena itu, Carmel mengerahkan segala cara demi menggagalkan pernikahan ini.
Carmel pergi ke aula dansa dan menari liar selama tiga hari tiga malam, berharap Alfons mengundurkan diri. Namun, dengan seragam militer yang rapi dan di tengah tatapan penuh makna dari orang-orang di sekeliling mereka, dia hanya memasang wajah datar dan menggendong Carmel pulang.
Carmel sengaja menabrak pagar taman rumah keluarga komandan hingga roboh, berharap Alfons menganggapnya keterlaluan. Namun, Alfons malah datang sendiri untuk meminta maaf, membayar biaya perbaikan, dan menyelesaikan semuanya tanpa menimbulkan kegaduhan.
Carmel terus membuat masalah, sementara Alfons selalu diam-diam membereskan semua kekacauan di belakangnya.
Kali ini, Carmel kembali ditahan karena berkelahi. Alfons baru saja menyelesaikan misi darurat selama tiga hari. Seragam militernya bahkan belum sempat diganti, matanya dipenuhi gurat merah karena kelelahan, tetapi dia tetap bergegas datang untuk mengurus pembebasannya.
Melihat punggung Alfons yang tetap tegak meski tampak lelah, untuk pertama kalinya Carmel merasakan keinginan untuk menjelaskan.
Carmel ingin mengatakan bahwa kali ini bukan dia yang mencari gara-gara. Seorang pria lebih dahulu menggodanya karena melihat wajahnya yang cantik. Namun sebelum sempat membuka mulut, Alfons sudah berdiri di hadapannya dan menggenggam tangannya dengan lembut.
Di ujung jari Carmel ada luka kecil yang bahkan tidak disadarinya. Namun, Alfons mengeluarkan kotak P3K dari saku seragam, menunduk membersihkan luka itu, lalu menempelkan plester.
"Sakit nggak?" tanyanya.
Pada saat itu, semua penjelasan dan pembelaan yang telah disiapkan Carmel seolah tercekat.
Alfons mengangkat pandangan. Tatapannya tenang.
"Aku nggak peduli sebesar apa masalah yang kamu buat atau seberapa besar kekacauan yang kamu timbulkan. Semua itu bisa aku selesaikan. Yang aku pedulikan hanya satu, di sini ...," ujarnya sambil menggenggam tangannya lebih erat. "Apa masih sakit?"
"Di sini ... apa masih sakit ...."
Hati Carmel bergetar hebat. Seolah ada sesuatu yang menghantam bagian paling lembut di dalam hatinya, meruntuhkan seluruh pertahanan yang selama ini dia bangun.
Sejak kecil, setiap kali Carmel membuat masalah, ayahnya hanya memarahinya karena mempermalukan keluarga. Ibu tirinya hanya akan berpura-pura lembut sambil menasihatinya agar lebih anggun. Tidak pernah ada seorang pun yang bertanya kepadanya, "Apa kamu sakit? Apa kamu merasa diperlakukan nggak adil?"
Dengan suara serak, Carmel mendengar dirinya sendiri berkata, "Alfons, kita boleh menikah."
Sorot mata Alfons yang dalam seolah memancarkan cahaya.
"Tapi sebelum itu, aku ingin nanya satu hal." Carmel menatapnya dengan kebanggaan dan sifat posesif yang memang menjadi bagian dari dirinya. "Apa kamu pernah punya seseorang yang kamu cintai tapi nggak bisa kamu miliki? Pria yang menjadi milikku harus sepenuhnya hanya menjadi milikku. Di hatimu nggak boleh ada orang lain. Masa lalu, masa kini, maupun masa depan, hanya boleh ada aku."
Alfons menatap mata Carmel tanpa menghindar sedikit pun. "Nggak ada. Hanya kamu."
Oleh karena itulah, Carmel pun menikah dengannya.
Primadona paling cerah dan paling bebas di Kota Nansa akhirnya menikah dengan pria paling dingin dan tertutup di kalangan militer. Setelah menikah, beredar sebuah kalimat di kalangan masyarakat kelas atas Kota Nansa.
"Siapa pun boleh kamu usik, tapi jangan pernah mengusik Carmel, istri Mayor Jenderal Alfons."
Sebab, sebesar apa pun masalah yang dibuat Carmel, Alfons yang dingin bak Raja Neraka itu akan selalu berdiri di belakangnya dan menopang seluruh langit untuknya.
Carmel pun mengira bahwa gunung es itu benar-benar telah mencair oleh kobaran api dirinya.
Sampai suatu hari, dia pergi ke markas militer untuk mengantarkan berkas yang tertinggal di rumah. Baru tiba di dekat lapangan latihan, dia melihat sekelompok perwira berkumpul. Sepertinya mereka sedang mengadakan acara keakraban, suasananya sangat meriah.
Alfons dikelilingi beberapa rekan sesama perwira. Rupanya dia kalah dalam permainan, lalu didesak untuk menjawab pertanyaan dengan jujur.
Seseorang bertanya dengan keras, "Mayjen Alfons, cepat katakan, apa kebohongan terbesar yang pernah kamu ucapkan seumur hidupmu?"
Suasana yang semula riuh langsung menjadi sedikit lebih tenang. Semua orang memandang komandan yang selama ini dikenal disiplin dan jujur itu dengan penuh rasa penasaran.
Alfons terdiam beberapa saat. Siluet wajahnya tampak sulit ditebak di bawah cahaya lampu. Dia mengangkat cangkir teh di atas meja dan menyesapnya, lalu perlahan membuka mulut. Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas hingga ke telinga Carmel yang baru saja tiba di ambang pintu.
"Pernah ada seseorang yang nanya aku, apakah aku punya seseorang yang kucintai tapi tidak bisa kumiliki."
"Aku membohonginya. Aku bilang nggak ada."
Bum!
Carmel merasa seperti disambar petir.
Tubuhnya langsung mematung di tempat. Darah di seluruh tubuhnya seolah ikut membeku.
Alfons berbohong? Benar-benar ada seseorang yang dicintai Alfons tetapi tidak bisa dimilikinya? Lalu, kenapa Alfons tidak bilang padanya? Sebenarnya apa tujuan Alfons menikahinya?
Hawa dingin menjalar dari telapak kaki ke seluruh tubuhnya dalam sekejap, membuatnya seolah terjatuh ke dalam gua es. Seluruh tubuhnya gemetar kedinginan. Dia hendak berlari menghampiri Alfons untuk meminta penjelasan.
Namun tiba-tiba, seorang ajudan bergegas menghampiri Alfons dan membisikkan beberapa patah kata di telinganya. Wajah Alfons yang biasanya selalu tenang langsung berubah drastis.
Dia mendadak berdiri. Bahkan tak sempat memberi penjelasan kepada orang-orang di sekitarnya, dia langsung meraih mantel seragam militer yang tergantung di sandaran kursi dan bergegas keluar. Gerakannya begitu cepat hingga menimbulkan embusan angin.
Dia bahkan ... tidak menyadari bahwa Carmel sedang berdiri tepat di ambang pintu.
Saat melewati Carmel, bahunya menghantam bahu wanita itu cukup keras. Namun dia sama sekali tidak menyadarinya, seolah seluruh indranya telah tertutup dan hanya menyisakan satu tujuan yang harus segera dia datangi.
Carmel terdorong hingga terhuyung. Bahunya terasa sangat sakit. Namun, yang jauh lebih sakit adalah hatinya. Menahan rasa sakit di bahunya dan segala keraguan yang berkecamuk di dalam hati, Carmel tanpa sadar mengikuti di belakangnya.
Dia melihat Alfons melompat ke atas jip. Mesin kendaraan itu meraung, lalu memelesat pergi dengan cepat. Carmel segera menghentikan sebuah taksi dan mengikuti dari belakang. Jip itu akhirnya berhenti di depan sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota.
Alfons bersama para ajudannya langsung menerobos masuk. Carmel mengikuti secara diam-diam dan bersembunyi di tempat gelap. Di dalam gudang, seorang penculik berwajah garang sedang menyandera seorang gadis dengan sebilah pisau.
Gadis itu mengenakan gaun sederhana berwarna lembut. Dia menangis tersedu-sedu dan tampak begitu lemah seolah bisa pingsan kapan saja.
Saat melihat gadis itu, ekspresi Alfons langsung berubah drastis. Dengan suara yang bergetar, dia berkata, "Lepaskan dia!"
Penculik itu menyeringai.
"Ternyata tebakanku benar! Alfons, semua orang bilang kalau kamu benar-benar memanjakan Carmel, istrimu yang semaunya sendiri itu. Cuma aku yang tahu, orang yang diam-diam kamu sayangi adalah dia, Irie!"
Irie?
Hati Carmel langsung tenggelam.
Penculik itu kembali berteriak, "Di operasi militer perbatasan waktu itu, saudara-saudaraku ada yang mati dan ada yang cacat gara-gara kamu! Hari ini, aku juga akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya kehilangan wanita yang paling kamu cintai!"
Punggung tangan Alfons dipenuhi urat yang menonjol. Namun, suaranya tetap dipaksa tenang. "Target balas dendammu itu adalah aku! Lepaskan dia. Hadapi aku saja!"
"Kamu mau aku melepaskan dia? Bisa saja!" Penculik itu menendang sebuah belati berkilau ke arah Alfons. Belati itu jatuh tepat di depan kakinya dengan suara nyaring. "Tusukkan belati itu ke jantungmu sendiri. Dengan begitu, baru akan kupikirkan untuk melepaskannya!"
"Jangan! Alfons, jangan!" Irie menangis sambil menggeleng putus asa. Air matanya mengalir deras tanpa henti.
Namun, Alfons hanya menatap Irie dalam-dalam. Tatapan itu dipenuhi kasih sayang yang belum pernah dilihat Carmel sekali pun.
Lalu tanpa ragu sedikit pun, dia membungkuk mengambil belati itu dan menghunjamkannya dengan keras ke arah dadanya sendiri!
Carmel yang bersembunyi di belakang mencengkeram telapak tangannya dengan erat. Sampai ketika kuku-kukunya menembus kulit, barulah dia bisa menahan diri agar tidak berteriak.
Alfons benar-benar ... rela menusuk dirinya tanpa ragu demi wanita lain?