ログインใครเป็นคนกำหนดหรอว่าความรักควรมีกันแค่สองคน? แต่สำหรับฉันความรักจะถ้ามีแค่สอง มันจะไปเร้าใจอะไรล่ะ!^ω^ ฉันเป็นเด็กต่างหวัดที่เข้ามาหางานทำในเมืองหลวง แต่เพราะชีวิตที่ขัดสน จนหมดหนทางจึงต้องจำใจขายร่างกายเพื่อหาเงินv_v และเป็นการขายครั้งแรกของฉัน แต่ปัญหาคือ ฉันต้องมีอะไรกับผู้ชายถึงสามคน!!!⊙_⊙ แต่แล้วเรื่องมันก็พลิกเมื่อเขาทั้งสามยื่นข้อเสนอให้ฉันว่า ให้มาเป็นเด็กในอุปการะของพวกเขาแทน และให้ย้ายไปอยู่ในบ้านส่วนตัวของพวกเขา หน้าที่ของฉันคือ....ทำความสะอาดบ้าน ทำอาหาร ทำทุกอย่างรวมถึงเรื่องบนเตียง≧∇≦ แต่มีข้อห้ามที่ว่าคือ •ห้ามรัก •ห้ามหึง •ห้ามหวง •ห้ามทำเกินหน้าที่ •ห้ามทำตัวเป็นเจ้าของ •เวลาอยู่ข้างนอกห้ามทำเป็นรู้จักกัน Σ (O_O แต่ความรู้สึกมันห้ามกันไม่ได้นี่สิ ฉันควรทำยังไง ●︿● *ห้ามคัดลอกหรือดัดแปลงเนื้อหาเพิอผลประโยชน์ของตนเองหากพบเห็น จะดำเนินคดีตามกฏหมาย*
もっと見る“Kau yakin dengan keputusanmu, Shaw? Aku hanya mengajak, tidak memaksa.”
Seorang remaja sedang fokus mengemas barang yang akan dibawa, menyusunnya rapi ke dalam tas. Di hadapannya, Shaw yang beberapa tahun lebih muda darinya mengangguk yakin. “Hum!” “Baiklah, tapi ingat yang kukatakan! Segera pergi begitu aku naik helikopter atau setidaknya segera pergi begitu helikopter mengudara. Mengerti?” Daniel, sang remaja, menoleh. Masih terlihat guratan ragu padanya mengingat rencana ini sangat berisiko. Shaw mengangguk. “Kita akan menyusuri perbatasan distrik Aloclya dan distrik Acilav di sisi barat. Sekolah, jembatan, rumah sakit, serta beberapa rumah makan dan rumah penduduk masih dalam tahap perbaikan di dekat perbatasan itu. Jadi, orang lain yang tidak berkepentingan dilarang ke sana dan di sana akan sepi saat malam hari. Hanya beberapa pengawal yang berjaga,” kata Daniel, menjelaskan hati-hati. “Kau tahu, 'kan, resikonya? Jadi, sekali lagi aku tanya. Kau yakin ikut? Karena kalau kau ikut, kita akan pergi berdua, lalu kau akan pulang sendirian.” Shaw mengangguk lagi. Ia sudah memikirkan masak-masak. Ini adalah kesempatan langka. Tidak ada orang yang berani merencanakan dan melakukan ini selain Daniel. Setelah mengecek sekali lagi barang-barang yang akan dibawa, Daniel menggendong satu ransel di punggung dan satu lagi di dada. “Ayo, kita bisa pergi sekarang!” seru Daniel. Sempat terjadi perbincangan alot antara Shaw dengan kakek dan neneknya. Butuh beberapa menit lebih lama untuk meyakinkan kakek dan nenek agar mengizinkan Shaw ikut serta. Usai mengantongi izin, Shaw bersama Daniel pergi; mulai menjalankan rencana yang sudah disusun rapi. Perbatasan distrik ditandai dengan sungai yang diapit dua hutan kecil. Hampar rumput dan sawah mengapit jalanan yang menghubungkan kedua distrik. Daniel dan Shaw berlari secepat yang mereka bisa tanpa menimbulkan suara apa pun saat melewati padang rumput; penanda mereka sudah dekat ke perbatasan. Mereka berpacu dengan waktu dan sorot lampu dari para penjaga yang terus berputar mengawasi sekitar. Pada saat ini, ingatan Daniel melanglang. “Tolong pertimbangkan lagi, Tuan.” Daniel memohon kala itu, berdiri di seberang meja. “Tidak bisa, Dan. Keputusan sudah keluar. Kau remaja cerdas, catatan prestasimu sangat cerah, tetapi kau tidak bisa gunakan itu untuk dapat izin melanjutkan pendidikan keluar Zanwan.” Petugas kantor perizinan di hadapan Daniel menumpuk lembar kertas sertifikat, menaruhnya di meja, menggesernya ke arah Daniel. “Aku tidak ingin mengatur, tetapi sebaiknya kali ini kau benar-benar berhenti.” Sudah hari kelima Daniel datang, tetapi jawaban yang didapatkannya tetap sama. Permohonannya untuk melanjutkan pendidikan di negeri luar ditolak. “Mengapa? Kalian yang sesumbar siapa pun yang bisa memenangkan sepuluh sertifikat kejuaraan di peringkat pertama bisa melanjutkan pendidikan ke luar Zanwan. Angkatanku dari distrik Aloclya juga ada yang lolos tahun ini, padahal kualifikasiku lebih tinggi darinya. Mengapa aku tidak boleh?” “Karena itu kau!” Petugas menyentak, lalu menghela napas panjang dan mengusap wajah. “Apa?” Daniel mengernyit. Ia seperti mengerti, tetapi ia seperti tidak ingin mengerti. “Jangan memancing amarah petinggi dan tetua desa, Dan.” “Setidaknya beritahu aku. Biarkan aku mengerti.” Petugas melepas kacamatanya sebentar. “Kau bukan dari distrik Aloclya dan semua yang kau gaungkan membuat orang berasumsi dalam dirimu tumbuh bibit pemberontak. Itu masalahnya.” “Tapi ….” “Sudah. Tidak ada keadilan, Dan. Kau harus terima itu. Kau terlalu vokal, padahal kau sendiri tahu para petinggi dan tetua desa tidak suka perubahan.” Begitu memasuki kawasan dalam perbaikan akibat perang dengan para perompak beberapa waktu lalu, Daniel dan Shaw berjalan mengendap-endap. Sesuai perkiraan, keadaan sunyi sepi; hanya ada beberapa pengawal yang berjaga. “Atau kau mungkin masih punya harapan.” Bayang petugas perizinan berputar lagi di kepala Daniel. Ia melirik ke pintu. Daniel turut menoleh. Seorang petinggi desa masuk, tetapi keluar lagi begitu melihat Daniel. “Tuan, tunggu!” Daniel segera mengambil sertifikatnya dan berlari. Sampai di luar kantor, prajurit petinggi desa menghalau Daniel. “Tuan!” Lantang teriakan Daniel tidak berbalas. Petinggi desa menaiki kereta, lalu pergi begitu saja diikuti prajuritnya. Petugas perizinan menghampiri, berdiri di samping Daniel. “Bahkan petinggi desa pun tidak mau lagi mengurusi. Kau memang harus berhenti, tetapi kalau kau masih ingin mencoba, temui Tuan Hunt. Itu harapan terakhirmu.” “Meminta pada petinggi desa saja sulit, apalagi pada pemimpin desa.” “Aku yakin kau punya pilihan.” Petugas menepuk pundak Daniel, lalu masuk kantor. Daniel mematung, kecewa. Ia membawa kekecewaannya seperti menambahkan kayu kering pada api yang menyala. Penolakan yang ia dapatkan mendorong tekadnya makin besar untuk keluar dari Zanwan dan ia mencoba mewujudkannya malam ini. Daniel dan Shaw melewati celah dinding tembok sekolah yang belum selesai direnovasi, kembali berlari saat melewati tanah lapang, mengendap-endap lagi melewati restoran, dan masuk ke gang kecil rumah-rumah penduduk dengan merapat pada sisi dinding yang tidak terkena cahaya lampu. Sejenak, mereka berhenti dan melihat sekitar saat sampai di ujung bangunan sisi barat yang paling dekat perbatasan hutan Zanwan, lalu berlari cepat menuju hutan saat keadaan dirasa sudah aman. “Bagaimana ini? Penjagaannya sangat ketat!” Shaw berbisik sangat pelan. Matanya jeli mengawasi gerak-gerik lima jagawana yang bertugas di bawah; mengarahkan senter ke sekeliling. Di atas menara, tiga jagawana memantau melalui sorot lampu menara yang jangkauan cahayanya lebih jauh dan lebih jelas. Shaw cemas. Agaknya rencana mereka akan lebih sulit untuk diwujudkan. Otak Shaw berpikir keras apa kiranya yang harus ia lakukan jika ketahuan dan semua tidak sesuai rencana. Untuk sampai ke hutan saja mereka sudah kesulitan, ditambah harus melewati hutan dengan banyak pos berjarak di sepanjang hutan dan bibir pantai. Memikirkan kemungkinan terburuk membuat Shaw lebih menajamkan pendengaran dan penglihatannya. Pelarian sangat dilarang di Zanwan. Hukumannya tidak main-main. “Enam menit lagi pergantian sif. Kita bisa melewati pos saat keadaan lengang. Terus perhatikan! Kudengar para jagawana yang bertugas di malam hari adalah yang terpilih, terbaik dari yang terbaik. Pendengaran mereka tajam dan mereka sudah sangat terbiasa berada di alam bebas. Suara daun kering yang diremas dari jarak 50 meter pun bisa sampai ke telinga mereka,” sahut Daniel, berbisik tidak kalah pelan, sangat pelan. Ia sama cemasnya dengan Shaw. Namun, tidak ia tunjukkan. Shaw melotot mendengar penuturan Daniel di sampingnya. Matanya sesaat beralih pada sekitar kaki mereka, memastikan tidak ada daun kering ataupun ranting di sana. “Mereka sudah kembali. Hanya butuh tujuh menit untuk jagawana berikutnya datang. Jadi, kita harus bergegas. Ikuti aku.” Daniel melangkah cepat sambil berjongkok di balik semak belukar, diikuti Shaw. Tujuan mereka adalah pantai di barat daya, sudut yang cukup sepi dengan hutan yang sangat lebat, sempurna untuk mendukung rencana pelarian mereka. Sesampainya di bibir pantai, Shaw mengedarkan pandang menyusuri hutan sementara Daniel menyisir langit. Mata Daniel melebar berbinar kala melihat sebuah helikopter mendekat, lalu mendarat. Lampu menara akan kembali bergerak dalam sepuluh menit setelah dinyalakan, cukup untuk helikopter mendarat, menunggu penumpangnya masuk, lalu kembali mengudara. “Dasar agen. Mereka bawa heli bayang, eh?” Daniel membatin. Jelas helikopter yang dilihatnya saat ini bukanlah yang direncanakan. Helikopter yang dilihatnya sekarang sangat gelap dan senyap. “Ini, ambillah ....” Daniel menyerahkan satu tas krem berukuran sedang yang ia gendong di dada pada Shaw. Melihat Shaw mengerutkan kening tanpa menerima tasnya, Daniel meraih tangan Shaw, lalu menyerahkan tas dan berujar, “Ada beberapa benda di dalamnya. Semoga itu bisa bermanfaat untukmu.” “Dan, cepatlah!” Seorang laki-laki sebaya Daniel menghampiri mereka dengan sorot khawatir. Ia menunjuk ke arah hutan, celah pepohonan, tepatnya menara pengawas terdekat dari mereka, lalu turun ke bawah, menunjuk jagawana baru yang sudah setengah jarak dari pos. Daniel mengangguk, kembali menoleh menatap Shaw. “Aku percaya padamu, Shaw. Kau mampu, aku bisa melihat itu. Karena itu, aku membawamu ke sini. Setelah ini kau harus segera sembunyi dan pulang dengan aman.” Shaw diam, mendengarkan dengan baik. Ia tahu, mungkin saja ini akan jadi pertemuan terakhir mereka. Jadi, ia ingin mendengar semua yang Daniel katakan, mengingat suara dan wajah Daniel. Daniel memegang kedua pundak Shaw, menatap lekat anak lelaki yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri. “Kau pasti bisa membebaskan Zanwan. Suatu saat nanti, orang-orang pasti akan mendengarkanmu. Untuk itu, kau harus bisa membebaskan diri dari jeruji tanah anarki ini. Hadapi dirimu dahulu. Ketakutanmu, kekhawatiranmu, keraguanmu, kegundahanmu. Menangkan perang di dalam dirimu dahulu, kuasai dunia di dalam dirimu, maka kau bisa meruntuhkan benteng Zanwan. Kelak, tanah anarki ini pasti bisa kau taklukkan. Jaga dirimu baik-baik, Shaw ....” Dipeluknya Shaw erat untuk sesaat sebelum naik ke helikopter. Ada rasa bersalah menyelimutinya. Daniel tahu benar, mengajak Shaw terlibat dalam rencana ini bukanlah sepenuhnya keputusan bijak. Meski Shaw sangat lincah dan cerdas, Shaw tetaplah anak-anak. Melihat Shaw bergeming di tempatnya, Daniel menggunakan bahasa isyarat; menyuruh Shaw pergi. Namun, Shaw masih saja bergeming, menatap tenang dan mengulas senyum pada helikopter yang mulai mengudara. Sekejap, Shaw mengalihkan pandang, menatap tas di genggaman, lalu menyembunyikan tas tersebut di semak-semak. Setelahnya, ia kembali ke posisinya semula, tersenyum cerah menatap helikopter yang terus menjauh. Hingga akhirnya aksi mereka tertangkap oleh para jagawana yang kemudian melapor pada atasan mereka pun, Shaw tetap bertahan pada posisinya. Kedua tangan ia tautkan di belakang tubuh, mengambil sikap istirahat ketika derap langkah lari para jagawana terdengar menuju ke arahnya. “Cepat pergi dari sana, Shaw!” Sekali lagi Daniel menginstruksi dengan bahasa isyarat dan sekali lagi pula Shaw tidak mengindahkan. Ia terus saja menatap dengan tenang dan tersenyum. Pias wajah Daniel kini.2ปีต่อมาเสียงคลื่นสาดกระทบฝั่งสายลมเย็นโชยมาไม่มีพัก ร่างของเด็กสาวตัวน้อยกำลังเล่นก่อทรายอยู่กับน้องชายที่พึ่งจะได้สองขวบ ร่างอ้วนจ้ำม่ำของเด็กชายนั่งกลมอยู่บนกองทราย"เชนทร์อย่าโยนขึ้นแบบนั้นมันโดนพี่นะ เฮ้อ! ทำไมดื้อจังพูดไม่ฟังเลยนะเดี๋ยวพี่จะตีแล้วนะเจ้าเด็กดื้อ!" เสียงใสของเด็กสาวเอ่ยขึ้นอย่างไม่สบอารมณ์เมื่อน้องชายที่ยังไม่รู้ความมากนักกำทรายโยนใส่ตัวเธอผู้เป็นพ่อและแม่นั่งฟังอยู่ใกล้ๆ ก่อนจะยิ้มขึ้นและเดินมานั่งข้างๆ "ไหนให้พ่อดูหน่อยเชนทร์หนูแกล้งพี่ข้าวหรอครับ?" รันเวย์ยื่นมือไปอุ้มลูกชายขึ้นมานั่งบนตัก"ค่ะ น้องแกล้งหนูไม่น่ารักเลย พ่อขาดุน้องเลยค่ะ""พ่อดุไม่ได้ครับ น้องยังไม่รู้เรื่องแต่พ่อจะทำแบบนี้ เชนทร์ครับวันหลังอย่าทำแบบนี้ใส่พี่อีกนะลูกถ้าเข้าตาพี่จะเจ็บตานะรู้มั้ยครับ"เจ้าลูกชายพยักหน้าเล็กน้อยอย่างเข้าใจ "ส่วนหนูต้องสอนน้องนะคะรู้มั้ยลูก อะไรทำได้ อะไรทำไม่ได้ ตอนเด็กๆ พ่อไม่ตีหนูแต่พ่อจะสอนเหมือนที่พ่อสอนน้อง สอนให้เข้าใจดีกว่าใช้กำลังนะคะ""ค่ะพ่อขา แม่ขาไปเล่นน้ำกันค่ะ""ได้สิคะ เฮียไปเล่นน้ำกันค่ะ" "ครับ ขวัญ" รันเวย์ตอบกลับก่อนจะเรียกชื่อเธอเขามองหน้าเธ
"ขอบคุณนะครับที่เข้ามาในชีวิตเฮีย ขอบคุณนะครับที่เกิดมาเป็นลูกพ่อ"ทั้งชีวิตของเขาตอนนี้มีเพียงแต่เธอและลูกครอบครัวที่แสนสุข ชีวิตที่แสนจะเรียบง่ายแต่ก็ไม่ได้ง่ายเสมอไปเขาต้องทำงานแข่งกับคนอื่นๆเสมอถึงแม้จะเป็นรองประธานก็เถอะแต่มี้พียงคนเดียวที่เขาไม่คิดจะแข่งด้วยคือพี่ชายฝาแฝดของเขาปล่อยให้โรมันเป็นประธานนั้นแหละดีแล้วหลังจากมาอยู่ห้องพักฟื้นได้สองชั่วโมงบรรดาพ่อแม่และญาติพี่น้องของรันเวย์ก็พร้อมใจกันเข้ามาเพื่อดูหน้าหลานชายคนใหม่"หน้าตาน่าเกลียดน่าชังจริงๆหลานย่า เหมือนพ่อมันอีกแล้ว เห้อ!" มินตราเอ่ยขึ้นทำให้เรียกเสียงหัวเราะภายในห้องดังขึ้นมา"แม่ครับ ผมหล่อขนาดนี้ดีแล้วที่ลูกเหมือนผม เอ๊ะ! ลูกกูเหมือนมึงได้ไงไอโรไม่สิมึงนี่ขี้เหร่ ลูกกูหน้าตาดีเหมือนกู" รันเวย์เอ่ยขึ้นอย่างไม่ยอมแพ้ถึงจะหน้าเหมือนกันแต่เขาต้องหล่อกว่า"ประสาทนะมึงอ่ะ นี่ก็ลูกกูนะถ้าหน้าเหมือนกู!"โรมันเอ่ยพร้อมกับจ้องหน้าน้องชายแล้วกระตุกยิ้มขึ้นมาก่อนจะปรายตาลงมามองหน้าหลานชาย หน้าเหมือนพ่อก็จริงแต่ยังมีความคล้ายคลึงกับแม่อยู่บ้าง"แหม่! เฮียโรคะอยากเป็นพ่อของลูกขวัญก็ไม่บอก""เฮียไม่ติดนะ หึ!""แต่กูติดมึงหยุดเ
ฮึบ! อื้ออ! อื้ด!"เบ่งอีกนิดค่ะคุณแม่ หายใจเข้าลึกๆนะคะ เบ่งค่ะ!" ใบหน้าสวยเต็มไปด้วยหยาดเหงื่อที่กำลังไหลออกมา ริมฝีปากซีดเซียว ร่างของเธอเกร็งมากขึ้นก่อนจะเริ่มออกแรงเบ่งอีกครั้งหลังจากพักหายใจ แต่เธอก็ยังคงมีกำลังใจอยู่ข้างๆ รันเวย์กุมมือของเธอไว้แน่น สายตาของเขาจ้องมองภรรยาตัวน้อยและด้านล่างสลับกันเขาจดจ่อชะเง่อคอมองเขาอยากเจอลูกใจจะขาดแต่ลูกก็ไม่ออกมาสักทีจริงๆ ควรออกง่ายสินี่ปวดท้องคลอดมาตั้งแต่เที่ยงคืนตอนนี้ยังไม่โผล่ออกมาเลย "ฮึบ! อื้ดด! ฮ้า! โอ๊ย!" เสียงหวานครางออกมาเมื่อความรู้สึกปวดร้าวหน่วงอยู่ที่บริเวณช่วงเชิงกรานกำลังทวีคูณมากขึ้น "หัวโผล่แล้วค่ะ หายใจเข้าลึกๆนะคะ พร้อมแล้ว เบ่งค่ะ!""อื้ออออ!"พรวด! แอะ! แอะ! อุแว้! อุแว้!"น้องผู้ชายนะคะ เกิดเวลา เก้านาฬิกาสี่ห้านาที""หนูเก่งมากเลยเด็กดี ลูกหน้าเหมือนหนูเลยนะครับ" ฟอด! รันเวย์ก้มลงมาเอ่ยข้างหูก่อนจะกดปลายจมูกลงยังแก้มนวลที่ชุ่มไปด้วยเหงื่อ "หนูอยากอุ้มลูกค่ะ""รอพยาบาลทำความสะอาดก่อนนะเดี๋ยวเขาก็อุ้มมาให้"ผ่านไปได้สักพักพยาบาลก็อุ้มทารกน้อยที่ถูกห่อตัวโผล่มาเพียงใบหน้าด้วยผ้าผืนสีฟ้า รันเวย์รับมาอย่างชำนาญแน่น
พอเริ่มใกล้ถึงวันคลอดเฮียเวย์จะรีบเคลียร์งานให้เสร็จและรีบกลับมาบ้านเพื่อคอยอยู่ใกล้ๆฉัน ภายในห้องนั่งเล่นของบ้านวันนี้คนในบ้านคือเกือบครบขาดเฮียโรมัน น้องมิริน แค่นั้น“พี่ขวัญเจ็บท้องมั้ยคะ” มิราเอ่ยถามฉันด้วยสีหน้าเป็นห่วง“ยังเลย แต่ก็มีเตือนๆมาบ้างแล้วล่ะ” ฉันตอบ“เห็นแบบนี้พี่ไม่อยากมีลูกเลย” พี่ควีนเอ่ย“ก็ไม่ต้องไม่แฟนซิ!” เฮียคิงเอ่ยขึ้นก่อนจะยิ้มเล็กน้อย“คงไม่ได้ค่ะ เพราะควีนเป็นคนที่สวยและคนสวยจะไม่ยอมปิดโอกาสให้ผู้ชายเข้ามาแน่นอนค่ะ!” พี่ควีนตอบกลับด้วยท่าทางเชิด ก็สวยจริงนั่นแหละว่าไม่ได้นะ“อาควีนฉวย เหมือนหนูนะคะยุงคิง หนูจะมีแฟนหย่อๆ เหมือนอาควีน คิกๆๆๆ”“จริงหยอคะคนสวยของยุงคิงมาให้ยุงกอดหน่อยค่ะ” จบประโยคเฮียคิงสาวน้อยก็รีบวิ่งเข้าไปชูแขนให้ลุงอุ้มทันที พออุ้มได้เฮียคิงก็หอมแก้มสาวน้อยฟอดใหญ่“ปู่ปู่อยากหอมแก้มคนสวยเหมือนกันค่ะ” แด๊ดโรมเอ่ย พอได้ยินแบบนั้นก็รีบบอกใก้เฮียคิงปล่อยทันที“วางหนูยงเย็วๆ อื้อ จะไปหาปู่ปู่”“อะไรกันคะเนี้ย ปู่ปู่แย่งยาดมยุงคิงได้ไง”ปากพูดแต่ก็ยอมปล่อยค่ะ ก่อนจะวางก็หอมอีกฟอดใหญ่ๆ“ปู่ปู่ขา หนูฉวยปู่ปู่หย่อ ย่าย่าก็ฉวย หนูยักทูกโคนเยยค่า ยั











