ログイン夫を殺された日から、遥の時間は止まった。 「浮気相手」と名乗る女の手で命を奪われた夫・悠真。だがそれは、妄想に囚われた一方的な犯行だった。 誰にも信じてもらえず、孤独のなかで遥に寄り添ったのは、幽霊となった夫と――幼なじみの湊だった。 「ほらな?俺は浮気なんかしてなかっただろ?」 そう微笑む亡き夫と、隣で黙って支え続けてくれた湊。 遥の心は、過去と現在、生と死の間で揺れていく。 想いがすれ違うほどに、胸の奥に残された“愛”の輪郭が浮かび上がる。 これは、名前を持たない感情と、まだ終われない恋の物語
もっと見る"Elyse, hentikan! Ini sudah gelas keberapa? Kalau kau terus minum seperti ini, kau akan pingsan!"
Nada suara Viona tidak membuat Elyse berhenti menenggak isi gelasnya, gelas keempat, atau mungkin kelima, ia sudah tidak peduli.
"Viona… lepaskan aku." Elyse menepis tangan temannya dengan gerakan putus asa.
Mereka duduk di sebuah sofa beludru hitam di dalam Salon, pesta rahasia yang hanya diakses oleh bangsawan kelas tertinggi, tempat mereka melampiaskan hasrat terpendam.
Seharusnya Elyse tidak ada di sini. Jika sang ayah tahu, sudah dipastikan dirinya akan mendapatkan hukuman yang mengerikan.
Tapi, pagi ini Elyse mendengar calon suaminya, Jester, Duke Levric, terang-terangan berkata ia menikahi Elyse agar wanita yang ia cintai bisa menjadi Ratu. Dan yang lebih parahnya lagi, wanita itu adalah Ivanka, sepupunya sendiri!
"Aku tidak pernah mencintai Elyse, aku hanya menikahinya agar posisi ratu dimiliki Ivanka. Hanya Ivanka yang pantas. Dan aku akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan wanita yang kucintai."
Kalimat menyakitkan itu terucap dari mulut Jester. Betapa bodoh dirinya mengira selama ini pria itu mencintainya juga.
Namun siapa sangka, cinta yang selama ini ia harapkan ternyata Jester berikan pada sepupunya sendiri! Yang lebih menyedihkan lagi, selama ini keduanya sering bertemu dan bermesraan di belakangnya.
"Cukup, Elyse! Kalau kau mabuk seperti ini, bagaimana aku bisa mencari lelaki?"
"Pergilah, Viona. Aku tidak masalah minum sendiri." Elyse membalas tanpa menatapnya.
Viona terdiam, sedikit ragu meninggalkan wanita itu sendirian di tengah kekacauannya ini.
“Aku mengerti kau patah hati, tapi sebaiknya kau tetap menahan dirimu,” suara Viona melemah. “Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dan Elyse, kalau Duke Levric tahu kau ada di pesta seperti ini, apalagi aku yang mengajakmu, dia mungkin akan-”
“Memenggalmu?” Elyse menyelesaikan kalimat itu sambil tersenyum kecil, senyum yang tidak mengandung humor. “Dia tidak peduli. Dia bahkan pergi bersama Ivanka.”
Viona terpaku beberapa detik, sebelum akhirnya ia menyerah.
“Baiklah. Aku pergi dulu. Tetaplah di sini sampai aku kembali lagi.”
Elyse tidak memberi respons. Ia berdiri, pelan, goyah, dan meraih gelas lainnya sebelum berjalan menuju balkon besar.
Sesampainya di sana, tubuhnya terbentur pembatas balkon.
Bugh.
Dan kemudian,
Uekk.
Ia memuntahkan semua alkohol yang ia telan tadi. Rasanya lebih lega, meski pikiran dan hatinya tetap sesak.
"Bajingan kau, Jester!" teriaknya ke arah malam yang sunyi. Suaranya pecah, namun ia tidak peduli. Tidak ada orang lain di balkon itu. Ia sudah memastikan.
"Hiks..." tangisnya mulai pecah, air mata mengalir tanpa bisa ia tahan.
“Dasar bajingan…” gumam Elyse pelan.
“Siapa yang bajingan?”
Deg!
Elyse mengangkat kepalanya. Di depannya berdiri seorang pria bertubuh tinggi, mengenakan topeng hitam. Sosoknya terlihat samar dalam cahaya bulan yang remang, tapi cukup untuk membuatnya terlihat mencolok dan misterius.
“Siapa Anda?” tanya Elyse dengan suara serak.
“Hanya orang lewat yang tidak sengaja mendengar teriakan Anda,” jawabnya santai.
Elyse menghapus air matanya dengan gerakan kasar sebelum kembali menatap pria itu.
“Apakah Anda pemburu cinta satu malam?” tanyanya tiba-tiba.
Pria itu tidak langsung menjawab, hanya melangkah sedikit mendekat. Balkon itu cukup gelap, sehingga Elyse tidak benar-benar bisa melihat ekspresinya, hanya siluet dan cahaya bulan yang memantul di topengnya.
“Anda juga?” tanyanya, kali ini berjongkok di hadapan Elyse.
“Ya,” jawab Elyse datar.
“Mau mencoba dengan saya?” tanyanya tanpa basa-basi, nada suaranya terdengar enteng namun ada sesuatu yang tajam di baliknya.
Elyse mengangguk.
“Sepertinya tidak buruk. Keberuntungan berpihak pada saya malam ini, nona topeng kelinci.”
Elyse membalas. “Benar… tuan burung hantu.”
Mereka saling menyebutkan jenis topeng yang dikenakan, keduanya sama-sama menyembunyikan identitas.
“Kalau begitu,” ucap pria itu sambil mengulurkan tangan.
Elyse menatap tangan itu lama. Lalu menatap pemiliknya. Jika ia meraih tangan tersebut, maka tidak ada jalan kembali. Namun… mungkin ini lebih baik. Mungkin ini cara termudah untuk mempermalukan Jester, pria brengsek yang telah menghancurkan harga dirinya.
Elyse tersenyum kecil. Jester selalu mengatakan bahwa Elyse tidak akan bisa tanpanya, bahwa semua orang tahu Elyse akan selalu kembali padanya.
Namun malam ini, tidak lagi.
Ia meraih tangan pria itu.
Tangan besar, kokoh, dengan kapalan kasar seperti seseorang yang terbiasa memegang pedang. Tubuhnya atletis. Mungkin seorang ksatria… atau seseorang dengan profesi berbahaya.
Ah, siapa peduli. Di pesta Salon, tidak ada informasi pribadi yang boleh ditanyakan.
Brugh.
Jika pria itu tidak menahannya, Elyse pasti sudah jatuh. Sekarang tubuh mereka saling menempel, dan Elyse bisa mencium aroma parfumnya, mahal, mewah, berkelas. Mirip aroma Jester, namun dengan karakter yang berbeda. Lebih gelap. Lebih dewasa.
“Anda sudah mabuk?” tanyanya pelan, suaranya tepat di samping telinga Elyse, terlalu dekat, terlalu lembut.
“Tidak. Apakah anda tidak suka wanita mabuk?” Elyse membalas.
“Tidak masalah. Kadang justru membuat segalanya lebih… santai.” jawabnya.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, pria itu mengangkat Elyse begitu saja, tanpa ragu, tanpa tanya, tanpa sopan santun.
Seolah tubuh Elyse tidak lebih berat dari selembar kain.
Dan dengan tenang, ia membawa Elyse pergi dari balkon itu.
Di dalam ruang pribadi yang tidak dikenalnya, Elyse bahkan tidak tahu siapa pemiliknya. Yang jelas, pria di depannya bertindak seolah dia menguasai segalanya.
Mereka berciuman, panas, dalam, dan tanpa jeda.
“Tidak buruk,” gumam pria itu ketika bibir mereka terpisah.
Elyse menelan ludah. “A-apa… apa rasanya akan sakit?”
Pria itu hanya tersenyum samar, lalu mengambil gelas dari nakas dan menyodorkannya.
“Minum.”
Elyse meneguk isinya dalam sekali minum, lalu sebelum sempat bertanya lagi, bibirnya kembali ditangkap. Kali ini lebih menuntut, hangat, kuat, dan bercampur rasa wine.
Elyse masih berusaha mencari matanya dalam gelap, namun pandangannya mulai kabur.
“Buat aku tahu rasa surga dunia tanpa sakit.”
冬の始まりを告げる冷たい風が、街角の枯れ木を鳴らしていた。面会のあと、女――朝比奈美月は錯乱状態に陥り、手記どころではないらしい。「生きている」と弁護士に告げられたとき、ほっとしたような、悔しいような感情が胸の奥でぶつかり合い、形にならないまま沈んだ。出版社へは内容証明で警告を送り、あの記者はそれきり姿を見せない。――そんなことはどうでもいい。悠真は、あの日から戻らなかった。どこを探してもいない。遥は唇を噛み、しばらく思い出の家に籠った。カーテンの隙間から冬の光が細く差し、浮いた埃が静かに巡るのを眺める日が続く。けれど、家族の手と、湊の粘り強い気遣いが、少しずつ彼女を外へ連れ出した。---アンティークショップに戻った初日、遥はいつもより早く店に着いた。羽箒で古いランプの笠を撫で、木の棚の埃を払う。真鍮の取っ手に白い息が淡く映り、拭き跡が鈍い艶を取り戻す。動いている手のほうが、心のざわめきを静めてくれることに気づき、少し驚いた。――いつの間に、ここが私の居場所になっていたんだろう。湊の隣が。ドアベルが小さく揺れ、外の冷気をまとった湊が入ってきた。コートの肩には、出先で受けた風の名残がまだ残っている。「ただいま」「おかえりなさい。コーヒー、淹れるね」「ありがとう」湊が扉の札を裏返し、〈CLOSED〉にする。遥は首をかしげた。「もう閉めちゃうの?」「遥が淹れてくれたコーヒー、ゆっくり飲みたいから」「&hellip
刑務官に促され、遥と湊は面会室を後にした。廊下の空気は冷たく、足音だけが硬く響く。別室に通され、短く事情を問われる。遥は女の様子を尋ねたが、「お答えできません」とだけ返された。外に出ると、秋の空は高く澄み渡っていた。高い塀が陽を遮り、影が長くのびている。その横を、遥は湊と並んで歩く。駐車場までの道のりは、ほんの数十メートル。けれど、その間に何度も足が止まりそうになる。――悠真がいない。その事実が胸の奥で波を立てていた。会いに行くべきではなかったのではないか――。そんな後悔が、一歩ごとに重くなる。けれど同時に、あの言葉。悠真が、女と男女の関係でなかったと、自分を愛していたと。そして、女を罰したあの強い意志。どこかで、それを受け入れてしまっている自分がいた。車にたどり着くと、湊は運転席に荷物を置き、自販機へ向かった。戻ってきたとき、手には二つの缶コーヒーがあった。「飲めよ、遥」その声は、少しだけ低く抑えられていた。温かな缶を受け取ったとき、掌にじわりと熱が染み込む。「……ありがとう、湊」プルタブを引き、口に含む。湊も隣で自分の缶を開け、短く口をつけた。車内に沈黙が落ちる。遠くで風が木々を揺らす音だけが聞こえた。やがて、その静けさを破ったのは、遥だった。「……悠真が、いたの」
遥の横を、すっと影が走った。目で追うより早く、それは分厚い硝子の向こうへ抜けていく。悠真――。いつの間にか、彼は女の横に立っていた。朝比奈美月の瞳が驚きに見開かれ、頬の筋肉がひくりと動く。薄い唇が開きかけたその瞬間、遥の指からハンカチが滑り落ち、床にふわりと沈んだ。「……悠真」押し殺した声が通話口を越え、隣の湊の肩がわずかに動く。《本当のことを話せ》悠真の声が、面会室の空気を切り裂いた。《俺とお前は不倫などしてない。寝たことも、キスしたこともない。俺はお前が嫌いだった。だから部署の異動を願い出た。勝手な妄想で嘘をばらまき、妻を苦しめるな。今すぐ、本当のことを話せ》美月の瞳が揺れる。「……でも、私を見てた。見てたでしょ?」《お前なんて見てない》「嘘よ。本当は私を愛してた。パスカードに奥さんの写真なんて入れて……そんなのアリバイ作りじゃない。私が好きなのに、好きじゃないふりをして異動を願い出るなんて」言葉は笑みに包まれているのに、瞳はどこか焦点を外していた。「あなたを自由にするために……最初は奥さんを殺そうとしたの。でも、チャンスを逃して……だから、あなたを殺すことにしたの」《――お前……!?》悠真の顔に、はっきりとした衝撃が浮かぶ。遥の背に冷たいものが這い上がり、足元から力が抜けた。
硝子越しに座った女を、遥はしばらく見つめていた。通話口の向こう、無表情のままのその顔。どんな言葉から切り出すべきか、一瞬だけ迷いが胸をよぎる。けれど、すぐに押し込められた。「……あなたは、私の夫を殺した」静かに、しかし濁らない声。「それだけでは足りず、嘘ばかりの手記まで出そうとしている。それをやめてほしい。もう、悠真に関わらないで」隣の湊が、わずかに横目で彼女を見やる。その視線には言葉よりも深い気遣いがあった。背後の壁際では、悠真が唇を噛み、目を逸らすことなく女――朝比奈美月を見据えていた。「……嘘?」美月の唇がわずかに動く。「そうよ。すべてが嘘」間を置かず、遥の声が通話口を越える。「悠真はあなたと不倫なんてしてない。一方的に執着して、つきまとって……そして刺し殺した。残酷に、何度も何度も」短く息を吸い、言葉を重ねた。「最後まで認めなかったけれど、控訴を取り下げたのだから、本当は関係なんてなかったって分かってるはず。謝罪はいらない。でも、手記だけはやめて。これ以上、私たちを傷つけないで」視界がわずかに滲む。頬を伝った涙を、湊が黙って差し出したハンカチが受け止めた。手渡すとき、彼の指先がほんの一瞬だけ、彼女の指に触れる。そのわずかな温もりが、胸の奥に滲む。背後から、悠真の手がそっと肩に置かれた。遥はその存在を感じ取り、自分の手を重ねた。
朝の空気に、かすかな冷たさが混じり始めていた。通りの向こう、花屋のガラス窓が陽を受けてきらきらと光っている。橙や深紅の花が並び、奥の花瓶には秋桜やケイトウが生けられていた。――もう、秋なのね。足を止めてガラス越しに花を見つめる。その色の移り変わりは、時間がどれだけ経ったかを容赦なく知らせてくる。冬の雪の日、悠真は刺されて死んだ。大手銀行に勤めていた彼と、加害者の女は同じ職場だった。事件は「美人銀行員による愛憎の末の殺人」として、何度もテレビや雑誌に取り上げられた。女が語った不倫話は、人々の好奇心をくすぐった。事実がねじ曲げられても、信じてくれる人はいなかった。六年が経ち
男が歩み寄ってくる。その姿を見た瞬間、胸の奥がきゅっと縮まった。足を動かす気力が、すうっと抜けていく。――やめておこう。関わったら最後、また好き勝手に書き散らされるだけ。そうわかっているのに、胸の奥でざわめきが広がっていく。そのざわめきが、思わず足を止めさせた。「朝比奈美月が、うちの出版社から手記を出すことになりましてね」耳に冷たい音が落ちてきた。その
にぎやかな声が、壁に反響していた。焼き鳥の香ばしい煙と揚げ物の油の匂いが混ざり合い、テーブルの上には乾杯を終えたジョッキや箸袋が乱雑に転がっている。奥の席からはサラリーマンたちの笑い声が絶え間なく聞こえた。そんな雑多な喧騒の中、遥は湊の向かいに座っていた。ジョッキの表面には細かい水滴が浮かび、手のひらに冷たさがじんと伝わる。「……急に誘って、悪かったな」湊が低く言う。湯気の立つおしぼりで指先を拭きながら、どこか申し訳なさそうな表情をしていた。遥はふっと笑って、首を小さく横に振った。「大丈夫よ。私は独り身だから、気にしないで」その瞬間、耳元でふと声がした。《独り身、ねえ……
夕食を終えたあと、ふたりで並んでテレビを眺めていた。リビングの照明は落とし、間接照明だけを点けて。画面の光が、部屋の片隅をぼんやりと照らしていた。遥は、食後の温かいお茶を飲みながら、隣にいる悠真に話しかける。他愛もない会話。昔と変わらないような、何気ない時間。けれど、ふと気づくと、遥はソファに身体を預けたまま、静かに眠っていた。「……遥?」悠真はそっと名前を呼んだが、返事はない。うっすらと寝息を立てながら、遥は穏やかな顔で眠っている。きっと、ひとりで頑張って、疲れていたのだろう。《……こんなところで寝たら風邪ひくぞ。寝室、行けよ……》声をかけても、当然届かない。幽霊である自