LOGIN長年の冒険でつちかった、きずなと経験。それがアラフォーの彼女たちの唯一の武器だった。 大剣を軽々と振り回す美しき女剣士ソリス。丸眼鏡の魔法使いフィリア。おっとり系弓使いイヴィット。 世間から"余りもの"と呼ばれた彼女たちが、20年以上もの間、ダンジョンで生き残ってきた理由。それは、"安全第一"を貫く慎重さと、誰にも負けない強いきずなだった。 しかし、運命はそのきずなを引き裂いていく――――。 謎の"祝福"が初めて発動した時、ソリスは泣いた。 「もし、私が先に死んでいれば.……」 後悔と罪悪感に苛まれるソリス。しかし、彼女の戦いはまだ終わらない。 失われた仲間を取り戻すため、彼女は再び剣を手に取った――――。
View More“Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.”
Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut dan penasaran. “Suara siapa itu?” batinnya. Jaka berjalan mendekat dan melihat pintu belakang gudang sedikit terbuka. Harusnya tidak ada orang di sini, ini gudang terbengkalai yang sudah di tutup setahun lalu, apalagi letaknya jauh dari keramaian desa. Ia mengendap-endap, langkahnya pelan namun terarah pasti menuju pintu tersebut. “Shh! Saya takut, Pak!” Suara itu terdengar lagi. Jaka mengerjap, jantungnya berdebar kencang. “Itu jelas suara desahan, enggak salah lagi,” batinnya. Bermodalkan rasa penasaran yang membumbung tinggi, Jaka mengintip dari celah pintu yang terbuka. Dan seketika matanya terbelalak. “P-Pak Kades?!” gumamnya sambil menutup mulut. Di dalam gudang, Jaka melihat Pak Herman—Kades Desa Gunung Jati—sedang berbuat mesum dengan Marni, janda kembang yang kerap membuat mata lelaki melotot saat ia lewat karena bodynya yang aduhai. Jaka membeku, ia tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Pak Kades sedang mencumbu Marni sambil tangannya terus meremas dua bukit kembar janda itu yang masih terbalut daster. Jaka menelan ludah, ia mundur perlahan. Namun sial, kakinya tidak sengaja menginjak jerigen yang ia letakkan tadi hingga menimbulkan suara cukup nyaring. “Ah, sial!” gerutu Jaka. Di dalam, Pak Kades tersentak mendengar suara tersebut. Marni juga panik, janda itu buru-buru merapikan dasternya yang mulai tersingkap. Pak Kades langsung mengintip untuk melihat siapa di luar. “Jaka?!” Matanya terbelalak saat menemukan Jaka sedang berdiri kaku di luar. “Ngapain kamu di sini?” Pak Kades yang awalnya sedikit takut, langsung kembali mendapatkan keberaniannya saat melihat orang di sana hanyalah Jaka, si pemulung yang bukan siapa-siapa. Jaka menelan ludahnya. Seharusnya di sini, Pak Kades lah yang harus takut, karena skandalnya dengan janda kembang desa ketahuan. Tapi nyatanya tidak, malah Jaka yang tampak gemetaran. Pak Kades menatapnya dengan tajam, menyiratkan ancaman tanpa kata-kata. “Jaka, awas ya kalau kamu berani membeberkan apa yang kamu lihat tadi.” “Anu, enggak, Pak. Saya—” “Saya bisa usir kamu sekarang juga dari kontrakan,” potong Pak Kades kembali memberi ancaman. “Kamu ingat, kontrakan kamu sudah nunggak tiga bulan. Saya dan istri masih berbaik hati karena kamu masih berkabung karena kematian ibumu minggu lalu.” Pak Kades terus memberikan intimidasi kepada Jaka, agar pemuda itu benar-benar ciut nyalinya untuk membeberkan masalah ini. Jaka mengangguk pelan, keringat dingin mulai membasahi keningnya. Di depan, Pak Kades berdiri membusungkan dada, sementara di belakangnya, Marni masih sibuk membetulkan kancing dasternya dengan wajah yang memerah—entah karena nafsu yang terputus atau karena amarah. “Ingat Jaka! Kamu jangan berani macam-macam, kamu tidak punya siapa-siapa di sini!” bentak Pak Kades lagi memberi ancaman. Tanpa menunggu jawaban Jaka, kepala desa itu langsung menggandeng tangan Marni dan mengajaknya pergi dari sana. Setelah kepergian Pak Kades, Jaka menghela napas berat. Tidak ada yang bisa ia lakukan, ancaman Pak Kades begitu nyata. Memikirkan uang untuk membayar tunggakan kontrakan yang sudah tiga bulan saja cukup membuat kepala Jaka pusing, jadi ia sama sekali tidak ingin menambah masalah baru. Jaka lebih memilih diam. Lagi pula, apa yang dikatakan Pak Kades benar. Jaka hanya seorang diri di sini, dia yatim piatu. Sore itu, Jaka akhirnya pulang membawa karung berisi beberapa jerigen bekas dan botol plastik lainnya. Sesampainya di rumah, ia langsung meletakkan karung itu di belakang. Namun belum sempat ia beristirahat, suara ketukan pintu terdengar begitu keras di depan. Brak Brak! “Jaka?!” Jaka tersentak, ia cukup mengenal suara itu. Itu suara Bu Lilis, istrinya Pak Kades. Bu Lilis yang mengurus kontrakan di sini, wanita itu juga yang suka menagih sewa kepada para penghuni. Jaka menghela napas berat, ia tahu akan kena semprot lagi karena belum punya uang untuk membayar kontrakan. Jaka membuka pintu dan mendapati Bu Lilis berdiri sambil berkacak pinggang di sana. Matanya bak singa betina yang ingin menerkam mangsa. “Mana uangnya?!” bentak Bu Lilis. “Jangan bilang hari ini juga enggak ada.” Jaka menelan ludah. Suara Bu Lilis menggelegar seperti petir di siang bolong, padahal parasnya cukup cantik untuk seukuran wanita yang hampir kepala empat. Bahkan Jaka sendiri terkadang suka melamun saat melihat istri Pak Kades itu, dua bukit kembarnya cukup menggoda apalagi ia sering mengenakan daster berkerah rendah. “Kenapa malah bengong?!” bentak Bu Lilis lagi yang menyadarkan Jaka dari lamunannya. “Anu, Bu. Saya minta waktu dua hari lagi, uangnya belum cukup,” ujar Jaka memohon. “Dua hari, dua hari. Udah tiga bulan kamu nunggak. Kalau enggak ada hari ini, kamu kemasi barang-barangmu dan keluar sekarang juga! Masih banyak orang yang mau nyewa kontrakan ini, bukan kamu saja,” bentak Bu Lilis lagi. “Bu, saya mohon, Bu. Jangan usir saya. Beri waktu saya dua hari lagi.” Jaka benar-benar merengek, memohon untuk diberi waktu lagi. Bu Lilis menarik napas dalam-dalam, wanita itu menatap Jaka cukup tajam. “Satu hari lagi. Besok sore kalau kamu belum punya uang, kamu harus keluar dari sini!” Tanpa menunggu jawaban, Bu Lilis langsung pergi dari sana meninggalkan Jaka yang membeku di ambang pintu. “Gimana ini, ya?” Jaka benar-benar bingung, di mana ia harus mencari uang untuk membayar kontrakan yang menunggak selama tiga bulan. Jaka memutar otaknya. Penghasilannya dari memulung barang bekas benar-benar tidak mencukupi, hanya cukup buat makan sehari-hari saja, kadang juga kurang. Ia akhirnya memutuskan untuk menggeledah benda-benda apa saja yang ada di dalam rumah yang kiranya bisa ia jual. Pikirannya benar-benar kacau, hidup sebatang kara di usia yang baru menginjak 23 tahun bukanlah suatu yang mudah. Ia akhirnya masuk ke dalam kamar mendiang ibunya. Ia mulai menggeledah, namun sayang, tidak ada apa-apa. Semasa hidupnya sang ibu hanya buruh cuci. Jadi tidak ada peninggalan mendiang yang kiranya berharga. Jaka menghela napas berat, ia membuka lemari mendiang sang ibu. Itu tempat satu-satunya yang belum ia periksa. Jaka mulai menggeledah isi lemari tersebut yang hanya berisi pakaian tua yang sudah lusuh. Hingga tidak sengaja ia membuka laci paling bawah di dalam lemari. Ada sesuatu di sana yang langsung menarik perhatiannya. “Apa ini?” Jaka menemukan sebuah kotak kayu. Ia langsung mengambilnya, berharap di dalam ada perhiasan atau apa saja yang bisa ia jual. Jaka membukanya, dan seketika senyum tipis langsung terlukis di bibirnya. Ternyata di dalam kotak itu ada beberapa lembar uang lima puluh ribuan yang totalnya ada 500 ribu. Namun bukan itu saja, di sana juga ada gelang yang tampak kusam dan karatan, dan juga ada secarik kertas. Jaka segera mengambil kertas tersebut. Ada tulisan di sana yang ia yakin itu tulisan mendiang ibunya. “Jaka, kalau kamu menemukan kotak ini berarti ibu sudah tiada. Maaf, ibu tidak meninggalkan apa-apa untukmu. Hanya uang ini tabungan yang ibu punya, pergunakanlah sebaik mungkin. Dan satu lagi, jagalah gelang ini baik-baik, Nak, ini gelang peninggalan mendiang ayahmu dulu.”「ここが上位世界……なのかしら?」 ソリスは恐る恐る黄金の花畑に足を下ろし、辺りを見回した。しかし、視界を埋め尽くすのは、風に揺れる黄金の花ばかり。人の営みを示す建物の影すら、この神秘の楽園には見当たらなかった。 女神を生み出し、自分たちの世界の根幹を形作った驚異的な科学技術の聖地を思い描いてやってきたソリスは、目の前に広がる牧歌的な風景に困惑の表情を浮かべる。上位世界とは超文明の未来都市ではなかったのか? 少なくともどこかにジグラートを超える壮大なサーバー群があるはずだが……コンピューターどころか建物一つ見当たらない。「ねぇ? パパはどこにいるのかなぁ……」 セリオンの瞳に不安の影が宿る。まるで迷子の子猫のようにおずおずと周囲を探るが、花畑が広がるばかりで困惑してしまっていた。「どこかなぁ……? テロリストのアジトもどこなんだろう……。ん……? あれは……?」 ソリスは、風景の中にわずかな異変を感じ取り、少し盛り上がった岩場へと足を進めた。 すると何かにつまずいた――――。「いたたた……、何かしら?」 ソリスの足元で、何やら異質な丸いものがゴロリと転がり、黄金の花々が悲鳴を上げるように押しつぶされる。瞳を凝らすと、そこには人の手によって生み出されたとしか思えない、精緻な彫刻のような造形が見えた。まるで太古の秘密が、この花畑の中に眠っていたかのようだ。「え……? 何……?」 震える指先で、ソリスは恐る恐るそれに手を伸ばした。ゆっくりとひっくり返した瞬間、息が止まった。眼前に現れたのは、ブロンズの輝きを纏った女神像の首だったのだ。 美しく均整の取れた目鼻立ちに流れる長い髪の毛、それは見まごうことの無い女神様、その像だった。優美な曲線を描く顔立ち、繊細な造作が見て取れる瞳には、かつての栄光を偲ばせる。
「セ、セリオン……」 ソリスはその小さな味方をハグし、サラサラの金髪にほほを寄せた。「あー、子龍ちゃんね、パパも上にいるからいいかもね」 シアンはニヤッと笑い、セリオンの肩をポンポンと叩く。「え!? パ、パパ……?」 驚いたように碧い目を見開くセリオン。「そうだよ? キミは上の世界からやってきたのさ。良く知らないけど地球で成人まで過ごすのが龍族の掟だとか何とか……。あ、言っちゃマズかった……かな……」 シアンは失敗したという顔をして顔をゆがめた。「そ、そうなんだ……。パパ……」 言葉にできない感情がセリオンの喉をつまらせ、長い|睫毛《まつげ》に覆われた瞳を伏せた。 ソリスは胸に広がる切なさを抑えきれず、震えるセリオンを優しくその腕に包み込んだ。どんな事情があるか分からないが、家族と離れ一人でずっと暮らすことの寂しさは相当のものがあるはずだった。 震えが収まるのを待ってソリスはセリオンの青い瞳をのぞきこむ。「どうする? 行く……?」 しばらく口を結んでいたセリオンだったが、決意を秘めた瞳でソリスを見上げた。「行く……行くよ! 僕の成長をパパに観てもらうんだ!」 セリオンはギュッとこぶしを握って見せる。「オッケー! じゃぁすぐに出発! そこの二人は後方支援。ミッションが成功できるかどうかは君らにかかってる。いいね?」 ニヤッと笑ったシアンは、極薄のタブレットを二枚取り出し、フィリアに渡した。「ま、任せとき!」「わ、わかりましたえ」 テロリストの拠点を叩くなど、本来初心者がやるようなものじゃない特級の任務である。二人は責任の重さにビビりながらも気丈に返す。「よーし! タブレットの中にテロリストの通信履歴が
チャン、チャン、チャランチャ♪ ソリスのスマホがけたたましく鳴った――――。「誰かしら……」 ソリスは怪訝そうな顔で画面をのぞきこむ。「やぁ! お疲れー!!」 勝手にスピーカーフォンがつながって、シアンの声が響いた。「お、お疲れ様です……」「手練れ相手にフォーメーションCはダメだって教えたよ?」 シアンは不満そうな声を響かせる。 まさか戦闘をチェックされていたとは思わなかったソリスは、うつむき加減で顔をしかめた。「ま、まさかあんなチート防具があったなんて思わなかったんです……」「まだまだ甘いな。おっと……」 ズン、ズンと激しい爆発音が次々と電話の向こうから聞こえてくる――――。 どうやら戦闘中にかけてきたらしい。 ソリスは眉をひそめ、セリオンと顔を見合わせる。「シアンさんはいつも戦っているねぇ……」「お忙しいのね……」 その時、ひときわ激しい爆発音が電話越しに伝わって、スマホがビリビリと震えた。「きゃははは! 成敗! ざまぁみろってんだい! あー、ゴメンゴメン。で、そのテロリストはどうやら上位世界とつながってるみたいなんだよね」 会心の勝利で上機嫌のシアンは予想外のことを口にする。「えっ!? じょ、上位世界……ですか!?」 ソリスは色めき立った。女神を創った上位世界、それが本当にあって、あのテロリストも関係しているらしい。「そうそう、キミが行きたがってた所じゃん?」「え、ま、まぁ……」「行ってくる? んぐんぐんぐ……ぷはぁ!」 何かを飲みながら気軽にすごいことを言うシアン。「えっ!? そ、それは、行ける
ソリスは燃えるような灼熱の痛みを背中に感じながらギリッと奥歯を鳴らした。なぜそんな女神も持っていないようなチート防具を持っているのか? テロリストとは一体何なのか? 疑問を感じながらガクリと力を失い、意識が遠くなっていく。 くぅぅぅ……。 ソリスは力尽き、花々の中に身を預けると、意識は闇の中へと沈んでいった。「あぁっ! おねぇちゃーん!!」 涙をこぼすセリオンがソリスへと駆け寄ろうとしたが、フィリアの手が強く引き留める。「アカン! 今はあかんで!」「離してっ!」 セリオンはもがくがフィリアは毅然とした態度でそれを制した。「はっ! 『今』だと? お前らに次はない。すぐに全員死ぬんだよ!」 男は嗜虐的な笑みを浮かべながら両腕を高く掲げる。 刹那、天空を染め上げる巨大な紅い円環が頭上に展開した。直径数十キロはあろうかという輪は雲をも超える高空に鮮やかに輝き、息を呑むほどの威圧感を放つ。 それは、まるで彼らを狙っているのではなく、この星全体を破壊しようとするような途方もない悪意を感じさせた。「な、なんや!?」「べらぼうどす……」「ひぃぃぃ!」 世界の終焉を予感させるその光景に、彼らの心は凍りつく。 そうこうしている間にも、巨大な円環の中に六芒星が息づくように浮かび上がり、その周りを幾何学模様が星座のごとく彩っていく。それは大地を覆う、途方もない規模の魔法陣。その姿は、人知を超えた力の結晶のようだった。 あわわわわ……。ひぃぃぃ……。いやぁぁぁ! 三人はギュッと身を寄せ合う。 やがて魔法陣は息を吹き込まれたかのようにまばゆく輝き始めた。稲妻のような閃光が飛び交い、まるで生き物のように脈打つエネルギーが周囲を包み込んでいく。その威力は、太古の地球に激突し恐竜を絶滅させた隕石すら凌駕するかのようだった。「くっくっく……この星ごとお前らを滅ぼしてやる。も
「おねぇちゃん、大丈夫!?」 セリオンが駆けてくる。「私は全然大丈夫。それより蛇女が……マズいかも?」 ソリスは、ピクリとも動かなくなってしまった、そのすりガラスのような幻想的なつくりの身体を不安げに見つめた。「このくらい大丈夫だよ。彼女は水の精霊王、水系の精霊の女王なんだ」「へっ!? 精霊王!? これが?」 ソリスは目を丸くする。精霊王と言えばこの世界の精霊の頂点に立つ魔法生物である。彼女の声が響くとき、精霊の大群が動き、時には天災さえ引き起こすという。確かに身体
「こんなもん使わず、拳で語らんかい!」 うろたえるソリスの顔面を冷酷無比のメリケンサックが撃ち抜いた。 ゴリッ! 意識を一瞬で持っていかれ、ボコボコに撲殺されてしまうソリス。「ふんっ! 弱すぎて話にならんわ……」 |筋鬼猿王《バッフガイバブーン》はメリケンサックから血を滴らせ、鼻で嗤いながら広間の奥へと|踵《きびす》を返した。『レベルアップしました!』 黄金の光を纏いながら立ち上がったソリスは、油断している|筋鬼猿王《バッフガイバブーン》に後方から襲
簡易宿に泊まった翌朝、まだ朝もやのけぶる中をソリスは大剣を背負い、晴れやかな気持ちで石畳の道を歩き出した。 いよいよ生死をかけた|弔《とむら》い合戦へと|赴《おもむ》くのだ。 もう二度と見れないかもしれない景色、そう思うと古びた街並みも、壊れかけて|軋《きし》む看板も、パン屋が元気よく開店の準備をするさまもすべて愛おしく見えた。 立派な浮彫の施された堅牢な城門をくぐると、ソリスは振り返る。 城門の向こうに見える愛しい街並み――――。「長い間ありがとう……。仇を討って戻ってくるわ&
へ……? ソリスはただポカンとその情景を眺めていた。 二人が潰されたことを理解できない、いや、認めたくなかったのだ。 二十数年間苦楽を共にしてきた二人が、あっさりと目の前でこの世界から消えてしまうなんて、到底認めるわけにはいかない。 |赤鬼《オーガ》は満足そうにいやらしい笑みを浮かべながら振り返り、ソリスに向けて歩いてくる。その棍棒からは生々しい血の赤い色が滴っていた。 後ろには倒れて動かなくなっている二人。向いてはいけない方向に手足が伸びているさまにソリスは真っ青になる。