王女と2人の誘拐犯~囚われのセリーナ~

王女と2人の誘拐犯~囚われのセリーナ~

last updateLast Updated : 2026-03-20
By:  Masa&GCompleted
Language: Japanese
goodnovel4goodnovel
Not enough ratings
21Chapters
166views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

王女セリーナが連れ去られた。犯人は、貧しい村出身の二人の男。だが、彼らの瞳にあったのは憎しみではなく――痛みだった。 閉ざされた小屋で、セリーナは知る。彼らが抱える“事情”と、王国が見落としてきた現実に。 恐怖、怒り、そして理解。交わるはずのなかった三人の心が、やがて静かに溶け合っていく。 「助けてあげて」。母の残した言葉を胸に、セリーナは自らの“選択”を迫られる。 ――これは、王女として生きる前に、人としての答えを、彼女は見つけにいく。

View More

Chapter 1

第1話 日常

"Ustadz kok bisa ada disini?" ucap Balqis menatap sekitar.

"Ini kamar saya," jawab Ashraf. Tatapannya tajam dan dingin.

"Hah, aku kok bisa ada disini," lirih Balqis kebingungan. Dia melihat setiap sudut tempat itu yang sangat asing.

"Keluar kamu sekarang! Bisa-bisanya ada di kamar saya." Gertak Ashraf dengan nada tinggi.

"Ba-baik ustadz, permisi," 

Tapi sebelum Balqis keluar, tiba-tiba ada beberapa teman Ashraf yang memasuki kamar Ashraf.

"Astaghfirullah, Ustadz Ashraf membawa santriwati ke kamarnya?" ucap seorang Ustadz yang merupakan teman dekat Ashraf. juga beberapa orang yang melihat kegaduhan itu.

"Saya tidak menyangka Ustadz Ashraf begini, bagaimana nanti jika Ning Ayra tahu." 

"Ustadz, ini bukan Ustadz Ashraf yang saya kenal."

Ashraf tak ada jawaban saat beberapa ustadz bertanya kepadanya. Tentang Balqis yang sudah ada di kamar Ashraf.

"Maaf semuanya, tapi jangan salah paham dulu. Saya juga tidak tahu kenapa ada dia di kamar saya?" beo Ashraf tak ingin terjadi kesalahpahaman diantara dirinya dengan santriwati itu.

Semua saling menuduh, tak ada satupun yang membela Ashraf. Bahkan Dito temannya saja turut diam.

Sementara Balqis hanya terdiam, tidak punya nyali untuk menjelaskan. Dia dihadapkan dengan para ustadz senior yang sudah mengajar lama di Pesantren Al- Fatah ini.

"Kamu? Santriwati yang sering melanggar itu kan? Sudah diapakan kamu sama ustadz Ashraf," cecar Zain, Ustadz yang sedikit tidak menyukai Ashraf.

"Jaga ucapanmu Zain, sedikit saja kamu menuduh itu bisa jadi fitnah. Istighfar," Ashraf membantah tuduhan Zain.

Zain hanya mendengkus, keadaan semakin ramai. Bahkan ada beberapa orang pun memasuki kamar Ashraf.

"Ada apa ini?" tanya Gus Rohman, anak pertama Kyai Zulkifli.

Semua terdiam, saat Gus Rohman yang sangat terpandang itu memasuki kamar Ashraf. Entah apa yang sudah membuat Gus Rohman sampai mendengar kegaduhan dalam kamar itu.

"Maaf Gus, ini atas dasar salah paham. Demi Allah, saya tidak melakukan apapun dengan dia," lirih Ashraf sambil menunduk.

"Ini bisa dijelaskan di hadapan Kyai Zulkifli, ayo Ashraf ikuti saya," ujar Gus Rohman lalu meninggalkan kamar itu.

Ashraf pun mengikuti langkah Gus Rohman, dan Balqis juga berjalan di belakang Ashraf. Semua tatapan tak suka ditujukan kepada Asraf dan juga ke Balqis, terkhusus ke Balqis.

***

"Ustadz Ashraf, tolong dijelaskan. Ada apa ini?" tanya Kyai Zulkifli saat berada di aula pesantren, ditemani sang istri- Nyai Asma yang duduk disampingnya.

"Abah, Ashraf ketahuan satu kamar dengan Balqis, santriwati yang sering melanggar aturan," Gus Rohman mencela Ashraf yang hendak menjawab.

"Rohman, Abah sedang bertanya kepada Ashraf, jadi kamu diam dahulu," tegas Kyai Zulkifli. Meskipun pikirannya penuh tanda tanya

"Maaf Abah Kyai, saya juga tidak tahu kenapa ada santriwati di kamar saya. Saya tadi sedang masuk di kamar mandi, dan setelah keluar tiba-tiba dia sudah berada di kamar saya," bela Ashraf sambil menunjuk Balqis, menjelaskan kronologi kejadian tadi.

"Abah yakin, Ustadz Ashraf ini orang baik-baik dan tidak mungkin akan melakukan hal seperti itu apalagi di kawasan pesantren," ucap Kyai Zulkifli berdiri menatap satu per satu orang-orang yang berada di depannya.

"Maaf Kyai, kami melihat dengan mata kepala kami sendiri. Mereka sedang berduaan di dalam satu ruangan, tolong ini lebih dipertegas lagi kalau tidak akan jadi masalah buat santri yang lain."

Zain semakin mengompori semua orang dan Kyai Zulkifli untuk mempercayai semua yang dia ucapkan.

"Maaf Kyai, saya mungkin dikenal santri kurang baik di pesantren ini. Tapi saya tidak akan melakukan hal itu, apalagi dengan Ustadz Ashraf. Saya cukup sadar diri," lirih Balqis.

Balqis mendongakkan kepalanya, menatap semua orang. Dirinya cukup sadar diri dengan keadaannya.

"Baguslah kalau kamu sadar diri!" papar Ashraf dengan kata-kata dingin nan tajam. 

Seperti teriris pisau, namun Balqis sudah terlalu biasa dengan semua tatapan tak suka dan perlakuan kurang baik dari beberapa orang. Balqis hanya oasrah dengan unian yang menimpanya sekarang.

Tiba-tiba ada beberapa pengurus pesantren putri memasuki ruangan itu. Dan juga putri bungsu Kyai Zulkifli, yaitu Ning Ayra.

"Ada apa ini Abah?" tanya Ayra- putri Kyai Zulkifli dengan wajah penasaran. Lalu sambil melihat Ashraf dengan raut bertanya.

"Ayra, ini semua fitnah. Tolong dengarkan penjelasan saya," Ashraf mencoba mendekati Ayra, tunangannya. Mereka berdua dijodohkan oleh Kyai Zulkifli dua bulan yang lalu dan juga keduanya saling menyukai.

"Sepertinya pertunangan kalian harus batal. Demi kebaikan pesantren ini," ucap Kyai Zulkifli membuat semua orang terkejut dan syok. Ayra tersentak mendengar penuturan sang Abahnya.

"Tapi Kyai, ini semua tidak benar. Saya difitnah, demi Allah. Saya tidak melakukan zina dengan santriwati itu. Kalaupun ada bukti, tapi mereka tidak melihat saya melakukan hal apapun. Mereka hanya melihat saya berdua saja," protes Ashraf.

Ashraf sangat tidak terima dengan keputusan Kyai Zulkifli, nafasnya naik turun. Dia tak bisa menerima tuduhan itu.

"Abah, dengarin dulu penjelasan ustadz Ashraf. Ayra yakin, dia tidak mungkin melakukan hal demikian. Walaupun dia ketahuan berdua dengan perempuan itu, Ayra yakin pasti perempuan itu yang berusaha menggodanya," tampik Ayra dengan membela Ashraf. Semakin menyudutkan Balqis.

"Ayra, jaga ucapan kamu, Nak. Jangan langsung menyimpulkan demikian. Tarik kembali kata-katamu Ayra," Nyai Asma mencoba menenangkan sang anak bungsunya. 

"Maaf Ning Ayra, mungkin bagi Ning dan semua orang disini saya bukan santriwati baik. Tapi hal demikian tidak pernah saya lakukan. Saya tidak menggoda ustadz Ashraf, saya dijebak dan kami difitnah."

Balqis gemetar, air matanya jatuh seketika. Di saat seperti ini, tidak ada yang bisa dibela. Semua orang sepertinya menuduhnya, menyimpulkan bahwa dialah akar masalahnya.

"Sudah cukup, Abah tidak mau memperpanjang masalah ini lagi. Abah sudah memikirkan hal ini dan mempertimbangkan akibatnya. Maafkan aku Asrhaf, pertunanganmu dengan Ayra harus dibatalkan. Ini keputusan Abah, mungkin kamu tidak boleh bersama." 

Kyai Zulkifli mengusap pelan bahu Ashraf, lalu meninggalkan semua orang disana. Disusul Gus Rohman, putra sulungnya.

"Ayra, ini fitnah, kamu yakin aku tidak bisa seperti itu. Aku juga tidak akan mau bersama santriwati sepertinya. Ini benar-benar fitnah," Ashraf berusaha membujuk Ayra agar tunangannya itu percaya padanya.

Mata Ayra memanas, tatapannya sangat tajam ke arah Balqis. Ayra selalu mencintai Ashraf, dan cintanya berbalas.

Ayra tidak terima, ia meraih kertas yang dibawanya. Lalu menghampiri Balqis yang tertunduk lemah.

"Kebijakan Pelakor! Kebijakan pelajar nakal! Gara-gara kamu, pertunangan kami gagal. Salah apa saya sama kamu? Tega-teganya menggoda tunangan saya!"

Tanpa aba-aba, sebuah tamparan melayang ke pipi kiri Balqis. Balqis yang belum siap dengan aksi itu nyaris terhuyung mundur. 

"Astaghfirullah, Ning Ayra."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
21 Chapters
第2話 誘拐
丘を越える風が、春の匂いを運んでいた。修道院の鐘の音が遠ざかり、王都へと続く街道を一台の馬車が進んでいく。 昼下がりの光は柔らかく、揺れる木漏れ日が馬車の内側に模様を描いていた。 セリーナは窓辺に頬を寄せ、淡く霞む空を見つめていた。草の香り、馬の息づかい、そして遠くで聞こえる鐘の余韻。いつもと同じ帰り道――そう思った。 けれど胸の奥に、どこか針のようなざらつきを覚えていた。 ――そのときだった。 街道の先、砂煙がひと筋。陽炎の向こうから、二つの影がゆっくりとこちらへ向かってくる。 影はやがて分かれた。一人は右から速度を上げ、馬車と並走する。もう一人は左後方に付き、馬車の死角へ滑り込む。 馬の足音が風を裂き、砂を跳ね上げた。二人の動きは、まるで呼吸のように噛み合っていた。 「……近づいてくる……」 そのつぶやきが空気を震わせたように、外がざわめいた。 「なんだ?」 「飛ばせ! 早く城へ!」 御者が手綱を叩く。馬がいななき、車輪が跳ねる。セリーナの体が少し浮いた、その刹那―― ボォン! 乾いた爆音。前方に白い煙が立ちこめ、視界を覆う。 「煙幕だ!」 煙が馬車の中へ入り込み、鼻を突く薬臭が満ちた。喉が焼け、息が詰まる。 「う……ごほっ、ごほっ……!」 続いてもう一発。前方にも煙が上がり、護衛の兵たちがそちらへ引き寄せられる。馬車の前方が混乱する隙を突き、左後方の影が動いた。 ガチャ―― 馬車の後ろが開き、冷たい外気が流れ込む。白煙の向こう、黒いフードを深く被った男の影が現れた。 「……!」 風が一気に抜ける。煙が晴れ、フードがめくれ上がった。その下から現れたのは鋭い眼差し――ガットの瞳だった。視線がぶつかる。一瞬、時間が止まる。 言葉もなく、彼は腕を伸ばす。ごつごつした掌がセリーナの手を掴み、力強く引き上げた。 「こい!」 視界が傾き、身体が宙に浮く。 「っ……!」 次の瞬間、風と共に胸の中へ抱き寄せられた。背に感じる硬い革の感触、熱い呼吸。世界が一瞬で遠ざかる。 ガットは無言のままナイフを抜き、馬車の柱に紙片を突き刺した。 ――王家への身代金要求。 その一枚だけを残し、馬を蹴る。 ガットはセリーナを前に抱きかかえた。馬が嘶く。蹄が土を蹴り、森の影へと飛び込んだ。背後で兵士の怒号が木
Read more
第3話 灯火の中の景色
――湿った風が吹く森の奥。人里離れた小屋の前で、三人の影が立ち止まった。 ガットが扉を押し開け、セリーナの肩を支えて中へ導く。目隠しをされたままの彼女は段差を見つけられず、わずかによろめいた。その瞬間、ガットの手がそっと背を支えた。 古びた木の匂い。閉め切られた空気に混じる、ほのかな潮の香り。小屋の中には、淡い灯火が二つだけ揺れている。 ベッドに腰を下ろさせると、コビーが前に回った。 「ごめんね、王女さん。少し我慢してね。」 彼は両手を、次いで足首をきつめに縛った。縄が擦れる音と一緒に、ためらうような息づかいが聞こえた。 「僕たちは王女さんを傷つけたりは絶対にしない。だから安心して。」 セリーナは小さくうなずく。 (どうしてだろ……全然怖くない……) ガットの声が低く響く。 「王女さん。俺たちは金が欲しいだけなんだ。あんたに危害を加えるつもりはねぇ。」 (お金……やっぱり誘拐……私なんかを誘拐しても……) ガットは外套を羽織り、帽子を深くかぶった。 「通った道をもう一度見てくる。王都の様子も見ておきたい。ここを頼む。」 「うん。小屋の周りは警戒しておくよ。」 扉が軋み、ガットの足音が遠ざかる。ほどなくして、コビーも外の見張りへ出た。 ――静寂。 残されたのは、縛られたままのセリーナ一人。耳だけが世界を探している。 ザァァ……ザァァ…… (波の音……?) (海沿い……?) 遠くのうねりが、ゆっくりと胸の奥にしみてくる。 (ほかには何も聞こえない……) どれほどの時間が経ったのかもわからない。口を塞いでいる布は呼気を吸って重くなり、湿った熱で頬に張りつく。息はできる。けれど、空気が薄く感じた。 (息が熱い……苦しい……) 灯火の明かりが肌の上をかすかに流れる。その温度の揺れだけが時間を刻んでいた。 ――ガチャーー。 扉が開く。 コツ……コツ……コツ…… 近づく足音。 (誰……?) 「口の布、外すね。」 その声に、セリーナはどこか安堵を覚える。 頬に指が触れ、布がほどける。 「はぁ……」 深く息を吐く。冷たい空気が肺の奥まで落ちていった。 「ごめんね。苦しかったよね。……ガットが帰ってくるまで待ってて。」 (ガット……もう一人の人……) カツン、カツン。火打石の音。しばらくして、パチ……パ
Read more
第4話 涙の理由
「ふぅ……」 ガットが深く息を吐いた。灯火がゆらりと揺れ、木の壁に三つの影が揺らめく。 「俺たちは……あんたを誘拐した。身代金目当てだ。」 「ことが済めばすぐに帰す。三日間……我慢してくれ。」  その声は荒くもなく、ただ淡々としていた。セリーナは膝の上で両手を固く握りしめた。木の軋む音と、心臓の鼓動だけが静けさを乱していた。 コビーが湯を注ぐ音がした。かすかな香りが、閉め切った空気にゆっくりと広がる。 「ごめんね。僕たちにはどうしてもお金が必要なんだ。」 「どうしても……」 小卓がセリーナの前に据えられ、その上に湯気の立つカップが置かれた。 「どうぞ、王女さん。」 (……紅茶?) 見上げると、コビーの瞳がそこにあった。柔らかくも、どこか影を宿した光。 「大丈夫。怪しいのは入ってないから。落ち着くよ?」 セリーナは震える手でカップを持ち上げ、 「ふぅ」 湯気が唇の前でほどける。セリーナは一口、そっと口に運んだ。 (……あたたかい。) 「これはね、ラスの村ってところで採れたハーブを使ってるんだ。あまり出回ってないから、王女さんも飲んだことないよね?」 セリーナは静かにうなずいた。 「いい香りでしょ?」 また、うなずく。 「ガットも……はい。」 「ああ。」 ふたりのやりとりは、どこか穏やかだった。けれど、その穏やかさが逆に、胸を締めつけた。 (私を誘拐しても……) (お父様は……本当に私を取り戻すだろうか……) (身代金……それだけの価値が……私に?) (もし……見捨てられたら……) セリーナの肩が小さく震えた。それは寒さではなく、心の奥に忍び寄る恐怖。ここにいることが怖いのではない。――これから先、どうなるかが、怖かった。 「大丈夫だよ、王女さん。ほんとに何もしないから。」 コビーの声が、ゆっくりと近づく。セリーナはかすかに首を横に振った。「違うの」と、声にならない唇が動く。 ひと筋の涙が、頬をすべり落ちた。 コビーはそっと膝をつき、同じ目の高さに視線を合わせた。 「ね、王女さん。僕とお話……できる?」 その顔は穏やかで、無理に笑おうとした優しさがにじんでいた。セリーナの胸の奥で、何かが静かに崩れる。 (こんな顔……初めて……)
Read more
第5話 夕餉のあとに…
夕刻。小屋の外では、橙の光が森をやわらかく染めていた。焚き火の煙が細く立ち上り、木の壁を通して、ゆらゆらと温かい影を作っている。 「ガット。夕食、僕が作ればいいの?」 「おう……もうそんな時間か。頼む。」 ガットが薪をくべると、ぱちぱちと火が弾けた。コビーは慣れた手つきで鍋を取り出し、水を注ぐ。魚の身をほぐし、刻んだ野菜を入れると、すぐに香ばしい匂いが漂いはじめた。 「王女さん。魚のスープとパンしかないけど、大丈夫かな?」 「はい。大丈夫です。」 「よかった。口に合うかはわからないけど、魚もさっきそこで釣ってきたんだ。」 「コビーの夢は料理人なんだ。でっかい街で、でっかい料理屋をやるのが夢なんだと。味は大丈夫だ。俺が保証する。」 「やめてくれよ……もう諦めたから。」 (夢……でっかい街で……でっかい料理屋……) 「どうして……諦めたのですか?」 「うーん……田舎者はダメだって。」 「田舎者……」 「うん……」 「腕も、味も見ねぇで田舎者は雇ってないって門前払いだ。」 ガットの顔が険しくなる。火の明かりに照らされ、その横顔は怒りと悔しさで硬く見えた。 「俺はな、見た目や身分だけで判断するのはいやなんだ。中身を見ねぇで決めつけやがる……とくに王族と貴族はな……」 「……」 セリーナは何も言い返せなかった。胸の奥に、かすかな痛みが走る。 (そんな世界があるなんて……知らなかった……) 自分が生きてきた城の中は、あまりにも穏やかで、閉じられていたのだと気づく。 「さ、できたよ。王女さん。食べてみて。」 「ありがとうございます……」 器から湯気が立ちのぼる。魚と野菜の甘い香りが、狭い小屋の中をやさしく満たしていく。冷えた指先に、器の熱が心地よく染みた。 セリーナは、二人の動きをそっと観察した。手元の食器――先が少し割れた“スフォーク”。すくうのか、刺すのか、使い方がよくわからない。 (どうやって……) 二人の真似をしてみるが、うまくすくえず、スープがこぼれてしまう。コビーが気づいて、優しく笑った。 「王女さんは、これ使ったことないんだ?」 「……はい……」 セリーナはさっきの“とくに王族と貴族はな…”という言葉がよぎり、ガットの方を見られなかった。嫌な顔をされていたらどうしよう――そんな不安
Read more
第6話 私は……
(もう朝…あまり寝れなかったな…) 目張りされた窓の隙間から、細い陽光がこぼれていた。埃が光を帯びて舞い、静けさの中にかすかな温もりが満ちていく。 ザァァ……ザァァ…… 耳を澄ますと、遠くで波の音。 (海…見たいな…) やがて、奥の台所から小気味いい音が響く。 カチャ…カチャカチャ…タンタンタンタン…カポン…ジャァァー (コビーさん……かな……) 「おはようございます。」 「おはよう、王女さん。眠れた?」 「はい。少しだけ……」 「こんな場所だからね……ごめんね。」 「いえ……」 少し湿った空気に、焼けた油の匂いが混じる。奥の椅子に腰を下ろすガットの姿が見えた。腕を組み、どこか遠くを見つめている。 「ガットさん……おはようございます。」 「ん? ああ。」 短い言葉。けれど、その声には疲れと微かな優しさが混じっていた。 「王女さん。朝ご飯、目玉焼きにパン、野菜、あと……ミルクしかないけど大丈夫かな?」 「あ、はい。ありがとうございます。」 「うん。じゃあテーブルの椅子に座ってて。」 「はい。」 セリーナは椅子に座った。木の軋む音が、妙に耳に残った。脇ではガットが目を閉じ、呼吸を整えている。 「はい。王女さんから。」 白い皿に目玉焼きとパン、サラダ。カップからは湯気が立ちのぼっている。 「あとこれ。」 小皿が二つ。中身は緑と黄色。 「これは僕オリジナルのソース。緑が野菜ブレンドので、黄色いのはスパイスが効いてる。黄色いのは刺激が強いから苦手だったらつけなくて大丈夫だから。」 セリーナが小声でつぶやいた。 「あ……好きなほうです……」 「ハハッ、そうなんだ? でも気を付けてよ? 馬もびっくりするぐらいだから。」 すかさずガットがぼそりと呟く。 「朝から馬もびっくりスパイス出すとはね……」 すぐにコビーが言い返した。 「朝だからいいんじゃないか。目が覚めるよ?」 ふっと、セリーナの唇が緩む。恐怖と緊張の夜を越えたその笑みは、ようやく人の温度を取り戻したようだった。 「いただきます。」 「うん。食べて食べて。」 食卓に流れる時間は、思いのほか穏やかだった。皿の上の卵が陽の光を反射し、窓の隙間から射す光がテーブルを照らす。 「ごちそうさまでした。」 「おいしかったです。ソースも。全部。」 「ふふ
Read more
第7話 優しさと涙
ガチャ―― 「おかえり。あれ? 王女さんは?」 ガットは椅子にドカッと腰を下ろし、背中で昼の光を弾いた。 外から吹き込む潮風が、かすかに薪の匂いを混ぜて揺らぐ。 「置いてきた。」 「置いてきたって……どうしてさ!」 ガットは黙ったまま、ランプの炎を見つめた。 炎が揺れるたび、影が壁を這い、答えの代わりに沈黙が落ちる。 「……」 「ちょっと行ってくる!」 コビーは慌てて外へ飛び出した。 扉が閉まる音が、湿った海風の中に吸い込まれる。 (ガット……ダメだよ。あの子は繊細なんだから……) 砂を蹴り、コビーは走る。 潮の香りが強くなり、波の音が近づいてくる。 やがて、陽光に照らされた海辺に小さな人影が見えた。 (いた……よかった……) ザァァ……ザァァ…… 波が寄せては返す音。 セリーナは、海と空の境をじっと見つめていた。 風に髪がなびいても、動かない。まるで時間が止まったようだった。 「王女さーん!」 遠くからコビーの声が届く。 セリーナは驚いたように肩を震わせ、慌てて涙をぬぐった。 目元に残る光の粒を、日差しがやさしく照らす。 「はぁ……はぁ……よかった……」 「ごめんなさい……もう少し……海を見たかったから……」 コビーは息を整えながら、彼女の横顔を見た。 赤くなったまぶた、わずかに震える唇――見てはいけない痛みに触れた気がした。 「帰ろう。」 「……はい……」 ふたりは砂浜を歩き出す。 波が足元をかすめ、靴が湿る。 昼の海は穏やかで、ふたりの影だけが並んで揺れて
Read more
第8話 一緒に泣いて
日の光が真上から射す時間。静まり返った小屋の中、窓から差し込む光がテーブルの上に柔らかく広がっていた。「コビーさん……ガットさんは?」「ガットなら明日の準備をしに出かけたんだ。それとついでに買い出しも」ふふっとコビーが笑う。その笑顔に、いつもの穏やかさが戻っていた。「そう…ですか……」「どうしたの?元気ないね?」コビーは椅子を引き、座っての合図を指で送る。木の脚が床を擦る音が小さく響いた。セリーナは椅子に座り、視線を落としたまま息を整える。「やっぱり今朝、ガットと何かあった?」「いえ……気になることがあって……」「ガットさんとコビーさんは…何をしようとしてるんですか?」「何を?……お金のこと?」「はい……」ランプの炎がゆらゆらと揺れ、二人の影を壁に映す。コビーは天井から吊り下がったランプの光を見ながら、ゆっくりと口を開いた。「うーん…ガットには言わないって約束してくれる?」「はい……」「僕たちは遊ぶお金が欲しいわけじゃないんだ…村のみんなに普通の生活をしてほしい。そのためのお金なんだ。」セリーナの瞳が、わずかに揺れる。「村の…ために?」「うん。」コビーの声はどこか遠くを見つめるようで、その言葉ひとつひとつが静かに部屋の空気に溶けていった。「三千万ウィルあれば、種や苗を買って育てることができる。牛や羊…鶏…みんな買える。家の補修だってできる。」「……」セリーナは黙ってコビーの話に聞き入る。窓の外で鳥の声が一瞬だけ響いた。そしてふふっと笑みがこぼれた表情で、コビーは続けた。「ガットは言ってくれたんだ。そのお金で村に小さな料理屋作ってやるって。」「お前が作る料理はうまい!だから村に料理屋
Read more
第9話 最後の晩餐
ガチャ――「おかえり、ガット。」「おう。言われたもん、買ってきたぞ。」どさりと木のテーブルに袋を置く。焚き火の明かりが、少し疲れたガットの顔を照らした。「ありがとう。どれどれ……」コビーが袋の口を開け、中身を確かめる。大きなパン、根菜、調味料、そして小さな包み。「うん、大丈夫。これで作れるよ。」仕切りのカーテンが少し開き、セリーナが顔をのぞかせた。「何を買ってきたんですか?」「夕飯だよ。」コビーは台所へ運びながら続ける。「今夜が、王女さんと過ごす最後の夕食だからね。」小さく笑い、振り返る。「僕がフルコースみたいなのを作るから、期待してて。」「最後……」「フルコースじゃないのか?」「そこはね。でも味は保証するよ。だから王女さんも楽しみにしててね。」「はい……」「セリーナ。」ガットが、部屋に戻ろうとしていたセリーナを呼び止める。扉を開き、外を指しながら。「ちょっといいか。」「はい……」(今……私の名前を……)「コビー。ちょっと出てくる。」「うん、夕飯は用意しておくよ。」外は茜に染まり、水平線は淡く金色を帯びていた。寄せては返す波が光を砕き、海面はまるで溶けたガラスのようにきらめいている。(この静けさ……消えてほしくない)       ――ザァァ……ザァァ……ガットが前を歩き、セリーナは少し後ろからその背を追う。足もとで波がさらりと砂をさらい、風が髪を揺らすたび、潮の匂いが胸の奥に沁みた。「今朝は……すまなかった。」セリーナは顔を向けるが、すぐに視線を落とす。「いえ……私もガットさんの気持ちを考えずに言ってしまいました。」「お前は、俺たち
Read more
第10話 ここに居たい……
食事が終わったあと、部屋の中に小さな灯りだけが揺れていた。皿の上には、冷めかけたスープの香りがかすかに残っている。ガットが重たい沈黙を破った。「……明日で終わりだ。」セリーナはスプーンをそっと置き、視線を落とした。「……」「お前は明日から自由だ。」「自由……」セリーナはその言葉を胸の内で転がした。「……私にとっての、自由……」「また城の生活に戻れる。」セリーナは繋いでいた両手をぎゅっと握りしめた。「……許されるのなら……」言葉が喉でほどけ、音にならない。言葉が途切れ、静寂が落ちる。やがて、セリーナが小さく息を飲んだ。「……私はここに居たい。」セリーナは自分のスカートの裾を、そっと指でつまんだ。――ザァァ……ザァァ……遠くの岸で砕ける波の音が、ひと呼吸遅れて小屋の壁に寄せてきた。その一言は、震える声と共に零れ落ちた。涙が頬を伝い、ランプの光を受けてきらめく。ガットはしばらく黙ったまま、天井のランプを見上げた。そして、ふぅーっと長い息を吐いた。喉が鳴った。言いかけた名を、飲み込む。「……それは、だめだ。」その言葉に、セリーナの肩がびくっと揺れる。「……」「俺たちとお前は、住む世界が違う。」「お前は王女だ。俺たちなんかと一緒にいちゃだめなんだ。」部屋の空気が静まり返る中、コビーが優しく口を開いた。「どうして僕たちと一緒にいたいんだい?」セリーナはゆっくりと顔を上げた。その瞳は涙で滲んでいる。「ガットさんとコビーさんは……私に優しくしてくれました。」「私を“見て”話しかけてくれました……」ぽたりと、涙が床に落ちる。「だめなのはわかっています。帰らないといけない
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status