LOGIN王女セリーナが連れ去られた。犯人は、貧しい村出身の二人の男。だが、彼らの瞳にあったのは憎しみではなく――痛みだった。 閉ざされた小屋で、セリーナは知る。彼らが抱える“事情”と、王国が見落としてきた現実に。 恐怖、怒り、そして理解。交わるはずのなかった三人の心が、やがて静かに溶け合っていく。 「助けてあげて」。母の残した言葉を胸に、セリーナは自らの“選択”を迫られる。 ――これは、王女として生きる前に、人としての答えを、彼女は見つけにいく。
View More"Ustadz kok bisa ada disini?" ucap Balqis menatap sekitar.
"Ini kamar saya," jawab Ashraf. Tatapannya tajam dan dingin.
"Hah, aku kok bisa ada disini," lirih Balqis kebingungan. Dia melihat setiap sudut tempat itu yang sangat asing.
"Keluar kamu sekarang! Bisa-bisanya ada di kamar saya." Gertak Ashraf dengan nada tinggi.
"Ba-baik ustadz, permisi,"
Tapi sebelum Balqis keluar, tiba-tiba ada beberapa teman Ashraf yang memasuki kamar Ashraf.
"Astaghfirullah, Ustadz Ashraf membawa santriwati ke kamarnya?" ucap seorang Ustadz yang merupakan teman dekat Ashraf. juga beberapa orang yang melihat kegaduhan itu.
"Saya tidak menyangka Ustadz Ashraf begini, bagaimana nanti jika Ning Ayra tahu."
"Ustadz, ini bukan Ustadz Ashraf yang saya kenal."
Ashraf tak ada jawaban saat beberapa ustadz bertanya kepadanya. Tentang Balqis yang sudah ada di kamar Ashraf.
"Maaf semuanya, tapi jangan salah paham dulu. Saya juga tidak tahu kenapa ada dia di kamar saya?" beo Ashraf tak ingin terjadi kesalahpahaman diantara dirinya dengan santriwati itu.
Semua saling menuduh, tak ada satupun yang membela Ashraf. Bahkan Dito temannya saja turut diam.
Sementara Balqis hanya terdiam, tidak punya nyali untuk menjelaskan. Dia dihadapkan dengan para ustadz senior yang sudah mengajar lama di Pesantren Al- Fatah ini.
"Kamu? Santriwati yang sering melanggar itu kan? Sudah diapakan kamu sama ustadz Ashraf," cecar Zain, Ustadz yang sedikit tidak menyukai Ashraf.
"Jaga ucapanmu Zain, sedikit saja kamu menuduh itu bisa jadi fitnah. Istighfar," Ashraf membantah tuduhan Zain.
Zain hanya mendengkus, keadaan semakin ramai. Bahkan ada beberapa orang pun memasuki kamar Ashraf.
"Ada apa ini?" tanya Gus Rohman, anak pertama Kyai Zulkifli.
Semua terdiam, saat Gus Rohman yang sangat terpandang itu memasuki kamar Ashraf. Entah apa yang sudah membuat Gus Rohman sampai mendengar kegaduhan dalam kamar itu.
"Maaf Gus, ini atas dasar salah paham. Demi Allah, saya tidak melakukan apapun dengan dia," lirih Ashraf sambil menunduk.
"Ini bisa dijelaskan di hadapan Kyai Zulkifli, ayo Ashraf ikuti saya," ujar Gus Rohman lalu meninggalkan kamar itu.
Ashraf pun mengikuti langkah Gus Rohman, dan Balqis juga berjalan di belakang Ashraf. Semua tatapan tak suka ditujukan kepada Asraf dan juga ke Balqis, terkhusus ke Balqis.
***
"Ustadz Ashraf, tolong dijelaskan. Ada apa ini?" tanya Kyai Zulkifli saat berada di aula pesantren, ditemani sang istri- Nyai Asma yang duduk disampingnya.
"Abah, Ashraf ketahuan satu kamar dengan Balqis, santriwati yang sering melanggar aturan," Gus Rohman mencela Ashraf yang hendak menjawab.
"Rohman, Abah sedang bertanya kepada Ashraf, jadi kamu diam dahulu," tegas Kyai Zulkifli. Meskipun pikirannya penuh tanda tanya
"Maaf Abah Kyai, saya juga tidak tahu kenapa ada santriwati di kamar saya. Saya tadi sedang masuk di kamar mandi, dan setelah keluar tiba-tiba dia sudah berada di kamar saya," bela Ashraf sambil menunjuk Balqis, menjelaskan kronologi kejadian tadi.
"Abah yakin, Ustadz Ashraf ini orang baik-baik dan tidak mungkin akan melakukan hal seperti itu apalagi di kawasan pesantren," ucap Kyai Zulkifli berdiri menatap satu per satu orang-orang yang berada di depannya.
"Maaf Kyai, kami melihat dengan mata kepala kami sendiri. Mereka sedang berduaan di dalam satu ruangan, tolong ini lebih dipertegas lagi kalau tidak akan jadi masalah buat santri yang lain."
Zain semakin mengompori semua orang dan Kyai Zulkifli untuk mempercayai semua yang dia ucapkan.
"Maaf Kyai, saya mungkin dikenal santri kurang baik di pesantren ini. Tapi saya tidak akan melakukan hal itu, apalagi dengan Ustadz Ashraf. Saya cukup sadar diri," lirih Balqis.
Balqis mendongakkan kepalanya, menatap semua orang. Dirinya cukup sadar diri dengan keadaannya.
"Baguslah kalau kamu sadar diri!" papar Ashraf dengan kata-kata dingin nan tajam.
Seperti teriris pisau, namun Balqis sudah terlalu biasa dengan semua tatapan tak suka dan perlakuan kurang baik dari beberapa orang. Balqis hanya oasrah dengan unian yang menimpanya sekarang.
Tiba-tiba ada beberapa pengurus pesantren putri memasuki ruangan itu. Dan juga putri bungsu Kyai Zulkifli, yaitu Ning Ayra.
"Ada apa ini Abah?" tanya Ayra- putri Kyai Zulkifli dengan wajah penasaran. Lalu sambil melihat Ashraf dengan raut bertanya.
"Ayra, ini semua fitnah. Tolong dengarkan penjelasan saya," Ashraf mencoba mendekati Ayra, tunangannya. Mereka berdua dijodohkan oleh Kyai Zulkifli dua bulan yang lalu dan juga keduanya saling menyukai.
"Sepertinya pertunangan kalian harus batal. Demi kebaikan pesantren ini," ucap Kyai Zulkifli membuat semua orang terkejut dan syok. Ayra tersentak mendengar penuturan sang Abahnya.
"Tapi Kyai, ini semua tidak benar. Saya difitnah, demi Allah. Saya tidak melakukan zina dengan santriwati itu. Kalaupun ada bukti, tapi mereka tidak melihat saya melakukan hal apapun. Mereka hanya melihat saya berdua saja," protes Ashraf.
Ashraf sangat tidak terima dengan keputusan Kyai Zulkifli, nafasnya naik turun. Dia tak bisa menerima tuduhan itu.
"Abah, dengarin dulu penjelasan ustadz Ashraf. Ayra yakin, dia tidak mungkin melakukan hal demikian. Walaupun dia ketahuan berdua dengan perempuan itu, Ayra yakin pasti perempuan itu yang berusaha menggodanya," tampik Ayra dengan membela Ashraf. Semakin menyudutkan Balqis.
"Ayra, jaga ucapan kamu, Nak. Jangan langsung menyimpulkan demikian. Tarik kembali kata-katamu Ayra," Nyai Asma mencoba menenangkan sang anak bungsunya.
"Maaf Ning Ayra, mungkin bagi Ning dan semua orang disini saya bukan santriwati baik. Tapi hal demikian tidak pernah saya lakukan. Saya tidak menggoda ustadz Ashraf, saya dijebak dan kami difitnah."
Balqis gemetar, air matanya jatuh seketika. Di saat seperti ini, tidak ada yang bisa dibela. Semua orang sepertinya menuduhnya, menyimpulkan bahwa dialah akar masalahnya.
"Sudah cukup, Abah tidak mau memperpanjang masalah ini lagi. Abah sudah memikirkan hal ini dan mempertimbangkan akibatnya. Maafkan aku Asrhaf, pertunanganmu dengan Ayra harus dibatalkan. Ini keputusan Abah, mungkin kamu tidak boleh bersama."
Kyai Zulkifli mengusap pelan bahu Ashraf, lalu meninggalkan semua orang disana. Disusul Gus Rohman, putra sulungnya.
"Ayra, ini fitnah, kamu yakin aku tidak bisa seperti itu. Aku juga tidak akan mau bersama santriwati sepertinya. Ini benar-benar fitnah," Ashraf berusaha membujuk Ayra agar tunangannya itu percaya padanya.
Mata Ayra memanas, tatapannya sangat tajam ke arah Balqis. Ayra selalu mencintai Ashraf, dan cintanya berbalas.
Ayra tidak terima, ia meraih kertas yang dibawanya. Lalu menghampiri Balqis yang tertunduk lemah.
"Kebijakan Pelakor! Kebijakan pelajar nakal! Gara-gara kamu, pertunangan kami gagal. Salah apa saya sama kamu? Tega-teganya menggoda tunangan saya!"
Tanpa aba-aba, sebuah tamparan melayang ke pipi kiri Balqis. Balqis yang belum siap dengan aksi itu nyaris terhuyung mundur.
"Astaghfirullah, Ning Ayra."
四カ月後──初夏の陽が高く、空気はすでに夏の匂いを帯び始めていた。セリーナはラスの村へ足を踏み入れる。潮風に混じって、草と土の香りがふわりと流れた。「わざわざこんな辺境まで悪かったな。」「お久しぶりです。ガットさん。」二人は自然と笑顔で向き合う。張りつめたものが溶けるような、柔らかい笑みだった。セリーナは村の景色を見渡し、胸いっぱいに空気を吸い込む。「緑がいっぱい…」すぅ……はぁ……。深呼吸すると、胸の奥が軽くなった。「皆さんの様子はどうですか?」「ああ。みんな元気にしてる。」「緑?野菜のことか。そろそろ収穫できそうだな。……俺は食わんが。」「野菜食べないとだめですよ?」ガットは気恥ずかしそうに頭をかいた。指先が髪をくしゃりと乱し、どこか照れが滲む。「……そうだな。」「このまま行くか?」「はい。今日はプリシアさんに会うために来ましたから。」「そうか。プリシアも喜ぶ。」「少し待っていてください。」セリーナは護衛の兵士たちのもとへ歩み寄り、村の入口で待機するよう落ち着いた声で命じた。兵士たちは静かに頷き、持ち場へと散っていく。二人は海沿いの道を歩きはじめた。照り返す白い砂利道が、陽に眩しく輝く。寄せては返す波音が、二人の足取りにリズムを刻む。やがて、一本の大きな木が海風に揺れる丘へ辿りつく。そこに、プリシアの墓がひっそりと立っていた。《プリシア=ローウェル、ここに眠る》「プリシアはここが好きでな。」地平線まで続く大海原。白い波が遠くで弾け、細かい光が舞い散る。ザァァ……「きれい……」セリーナは風に揺れる髪を押さえながら、そっと墓前に花束を置いた。瞳を閉じると、潮の香りと静けさが胸に染みていく。「プリシアは一日ここにいたことが
城の裏の庭園に、色とりどりの花が咲き始めていた。白や薄紅の花びらが、春風にゆらりと揺れる。「もう春でございますね。」侍女クララが柔らかく微笑む。セリーナは風にそよぐ髪を押さえながら、空を見上げた。(誘拐される前は……一年がすごく長く感じた。)(でも今は……)「一年が早く感じます。」庭園の奥、草原に広がる白い小花。その光景に、セリーナは足を止めた。(シロツメクサ……)あの時、渡せなかった花冠。言葉にできなかった想いは、季節と共にしぼんでいった。でも――今なら、もう一度編める気がする。「クララ。籠を持ってきてくれますか?」「籠ですか?」「はい。花冠を……久しぶりに作りたくなりました。」「わかりました。」(もう一度……お父様に……)セリーナはスカートの裾を軽くつまみ、白い花々の間に膝をついた。春の陽光がその髪に降り注ぎ、淡く金色の光がきらめく。手のひらでそっと茎を折り、指先で編み込んでいく。(作るのは久しぶりだけど……)淡い香りと共に、ひとつ、またひとつ。シロツメクサの輪が形になっていく。(できた……思ったより時間、かかっちゃった。)花冠を胸に抱え、セリーナは小さく息をついた。――夕刻。ナビル王私室。扉の前で、セリーナは小さく深呼吸をした。コンコン。「セリーナです。」「入れ。」重厚な扉が静かに開く。セリーナは花冠を後ろに隠し、そっと進み出た。「どうした?」「これを……お父様に……」セリーナは両手で花冠を差し出した。白い花々の間から、春の香りがふわりと漂う。「私のために作ってくれたのか?」
それから三カ月後。一月の澄んだ空の下――ナビル王国・城下町東地区。そこに、一軒の新しいレストランが静かに扉を開いた。レストラン《セリーナ》昼下がり、柔らかな陽光がガラス越しに差し込む。木の温もりを残した店内には、花の香りと焼きたてパンの香ばしさが溶け合っていた。「こんにちは、コビーさん。」扉の鈴が軽やかに鳴る。白い外套に身を包んだセリーナが、少しはにかんだ笑みを浮かべて立っていた。「あ! 王女さん! よく来てくれたね。ありがとう。さ、こっちこっち。」コビーは嬉しそうに手を振り、店の奥の特別室へと案内する。壁には彼の故郷の海を描いた絵が飾られ、窓際には季節の花が揺れていた。セリーナは店内を見渡し、ふわっと微笑んだ。「へぇ……すごく、きれいですね。」「ふふっ。ありがとう。僕のこだわり入ってるからね。王女さんには感謝だよ。こんな素敵な場所を……僕なんかのために。」セリーナは頬を緩め、少し照れたように笑った。「コビーさんの料理はほんとに美味しいんです。だから私もみんなに食べてもらいたい。みんなに笑顔になってもらいたいと思ったので。」「ふふっ。プリシアと同じこと言うんだね。」「プリシアさんと?」「うん。『コビーの料理は美味しいから料理屋やりなよ』って。嬉しかった。そう言われて。王女さんが願いを叶えてくれた。だから僕はナビルの人達を料理で笑顔にしてみせるよ。」セリーナは優しく微笑みながら頷く。 「はい。」二人の笑顔に、一月の冷たい風が、カーテンをやさしく揺らした。「今日はね……特別フルコース出すから楽しみにしててね。」「はい。」その時、奥から低い声が響いた。「セリーナ。久しぶりだな。」驚いて振り向くと、扉の向こうに懐かしい大柄な男の姿。 その肩には、長旅の埃がうっすらと残
セリーナが法令状をしまい、もう一枚の紙を静かに広げる。それは、王族にのみ許された絶対の書。《王族特権状》「王族特権状──この状は、いかなる法令であっても王族の名において棄却、または改定を行うことを許すものです。」ガットは息をのむように、セリーナを見上げた。「……読み上げます。」「王族特権状により、同日。セリーナ=ナビルの名において改定。」「法令による罪状は、すべて破棄。」「ガット=ローウェル、コビー=ハンクス──両名を無罪とします。」牢内に静寂が満ちる。 ガットは、涙を堪えきれず目頭を押さえた。「なお、身代金三千万ウィルは回収。改めて、ラスの村復興のための譲渡金として三千万ウィルを贈呈します。また、穀物の種五十種、苗三十種を合わせて送付します。」(お父様が…昨夜、私に言ってくれた。)──昨夜。「あやつの罪は、法的には裁かねばならない。国で決めたことだ。」セリーナは顔を横に振る。 ナビル王の目が、再び父の優しさを宿す。「……ただ、改定はできる。王族である私と、お前ならな。」「改定……ですか?」「ああ。それが“王族の特権”だ。」ナビル王はゆっくりと頷いた。「ガット=ローウェル、コビー=ハンクスの件──セリーナ、お前に任せる。」──そして、今。牢獄。(だから私は……)「以上すべての物を、ラスの村に──」(王族としてしかできないことを……)「譲渡いたします。」(私らしく……)「……以上です。ガットさん。これが今、私にできる精一杯のことです。」「ああ……充分だよ……」ガットは涙が止まらなかった。「……釈放します。」(あなたが気づかせてくれた……わたしにできること。)
前日の夜──。私室で泣いているセリーナ。「う…うぅ…」(私は…やっぱり何もできないんだ…)コン、コン……。セリーナは必死に涙を拭う。「はい。」「私だ。」その声はナビル王。「お父様……お入りください。」ガチャ……。そこにいたのは、いつもの王の目ではなく、優しい“父親”の目をしている王の姿だった。「お父様!ガットさんは!」
王都・西区。 王都倉庫内。 積み荷の間を抜ける風が、油と木の匂いを運んでいた。 開け放たれた扉の隙間から、夕陽が射し込み、 積み上げられた木箱の影が床に長く伸びている。倉庫の空気は重く、静寂の中で緊張だけが響いていた。「!? なんだ!」「セ、セリーナ様!」「貴様!」怒号が上がり、兵士たちが一斉に構えを取る。 オレンジ色の光が差し込む中、 ガットがセリーナの首元にナイフの刃先を寝かせ、冷たさだけを首筋に触れさせていた。 刃に夕陽が反射する。「騒ぐな!」
運送屋の倉庫裏。 王都行き便の積み出し口、その片隅。 ひんやりした空気の中、二人の影が身を潜めていた。 マントの裾が風に揺れ、フードの奥で息を殺す。「コビーから合図がくる。」「それまで待ちだ。」「合図ですか?」「ああ。コビーがうまく逃げられたら、そこの川の水かさが増す。」川のせせらぎが、静かな夜にかすかに響いている。 セリーナは頷き、冷たい指先をぎゅっと握った。「上流を堰き止めてるからな。それをコビーが決壊させる。水かさが一気に増える。それが合図だ。
今は使われなくなった鉱山道を通り、小屋の真下で身を潜める。(約束の時間までもう少し…)朝の空気は冷たく、息が白い。 遠くで鳥の鳴き声が一瞬して、また静けさが戻る。やがて――ガタン、ガタン…。 山間を抜けて、車輪の音が微かに響いた。(動いた…時間通り。)馬車が小屋の横に止まり、御者が馬を引き上げる。 (よし…)コビーは鉱山道に戻り、横穴を抜けて小屋の床下へ。 そっと板を押し上げ、中の様子をうかがう。小屋に入り、人気がないこ