LOGIN西園寺聖(さいおんじ ひじり)を数え切れないほど誘惑した。それでも初夜を迎えることに失敗した後、秋月鹿乃子(あきづき かのこ)は兄に電話をかけた。 「兄さん、私、離婚しようと思う」 電話の向こうで沈黙が流れ、やがて秋月臨也(あきづき いざや)の低い声が響いた。 「言っただろう。西園寺聖という男は、お前が俗世に引きずり下ろせるような相手じゃないんだ」 鹿乃子は赤い目をして笑った。 「そうね。私が身の程知らずだったわ」 「D国に来い」 臨也の声は明るかった。 「こっちにはいい男が山ほどいる。聖なんかに負けやしない。俺のこんなに可愛くて手のかかる妹を大事にしないなんてな。あいつについては、一生孤独のまま腐ればいいさ」
View More"Aku memberimu dua pilihan. Ini ada cek senilai 5 miliar, dan kau bisa memilih antara cek ini atau masih dengan niatmu untuk tetap menikah dengan putriku, Erika."
Tanpa basa-basi, ayah kekasihnya memberikan sebuah pertanyaan yang membuat Ryan terkejut. Sebagai seorang staff kantor biasa, tawaran ini bukan hanya uang, tapi pilihan antara pembuktian cinta tapi juga pembuktian diri tentang kekayaan. Ini menjadi pilihan yang sulit, meskipun Ryan sudah menetapkan jawabannya. Tapi satu hal yang pasti, ia bukanlah pria pecundang yang mudah untuk menyerah. "Maaf, Tuan Lee. Saya memilih putri Anda, Erika, karena saya mencintainya. Saya, tidak mau kehilangan wanita yang menjadi pilihan hati dan cinta saya," jawab Ryan dengan suara yang terdengar tegas untuk menyakinkan. Rasa cinta yang ada pada darah muda, tidak bisa berpikir realistis. Ia memilih cinta dan ingin menikahi kekasihnya daripada akan lebih dihina karena memilih uang yang tadi ditawarkan. "Hm," gumam Tuan Lee sambil mengangguk samar. "Apa kau yakin? Kurasa kamu akan menyesali keputusanmu ini, Ryan!" Ryan menghela nafas panjang, lalu berdiri dan segera permisi untuk pergi. Ia ingin menghubungi kekasihnya untuk membicarakan rencana pernikahan mereka yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, tak ingin ada halangan lagi seperti yang baru saja terjadi. Tapi keinginan Ryan yang ingin membuktikan diri bahwa dia bukanlah tipe pria pecundang, nyatanya salah besar. Ia selalu mendapatkan cibiran dan hinaan dari kedua orang tuanya Erika, bahkan dari kakak laki-laki satu-satunya sang istri - Tanu Lee. Dan ini membuat Ryan semakin tidak tahan untuk tidak melawan kesombongan mereka semua, seperti hari ini. "Grafik saham itu harus naik, jangan sampai ada penurunan!" Salah satu keluarga Lee membuka suara di tengah acara makan malam keluarga besar sang istri. Tapi setiap ia ikut bergabung dalam pembicaraan mereka, suaranya hanya dianggap seperti angin lalu tanpa mendapatkan respon yang berarti. Oleh karena itu, Ryan memilih diam di sana, sampai Tuan Tian Lee--ayah mertua Ryan--memberikan tanggapan, "Ya, memang sudah seharusnya begitu jika pandai mengelola." Ryan tak bisa tinggal diam. Bagaimana jika ayah sang istri justru menemui kegagalan. "Tapi, harga pasaran bisa berubah sewaktu-waktu, Pa," sahutnya , sesuai dengan pendapat yang ia miliki. Tapi respon yang Ryan dapatkan tidak seperti keinginannya. Semua orang tidak menggubris pendapat yang ia kemukakan, bahkan Tanu - kakak iparnya, memberikan tanggapan yang seakan-akan meremehkannya sebagai orang yang tidak ahli dalam bidang investasi. "Tidak perlu bicara soal pasaran saham jika tidak punya pengalaman dengan memiliki saham, iya kan, Pa?" tanya Tanu menyindir adik iparnya. Sementara itu, Erika tersenyum tipis - lebih tepatnya miris. Wanita itu menggenggam tangan suaminya, mencoba menenangkan supaya Ryan tidak menanggapi serius sikap dari keluarganya yang mengabaikan pendapatnya. Erika berusaha sebaik mungkin untuk bisa menjaga perasaan suaminya, sebab ia tahu bagaimana kerasnya mereka yang memang tidak suka pada suaminya - Ryan. Bahkan mamanya - Nyonya Tian Lee, yang seharusnya memiliki hati yang lebih lembut sebagai seorang wanita dan ibu, sama kerasnya dengan tidak adanya rasa simpati sama sekali. Hal ini karena Nyonya Tian Lee juga seorang wanita sukses, pembisnis yang ikut membesarkan perusahaan keluarga mereka. "Seharusnya kamu belajar dengan Tanu, Ryan! Jangan hanya mengandalkan gaji dari perusahaan, apalagi jika hanya sebatas staff biasa yang gajinya standar UMR!" Nyonya Lee, berkata dengan tatapan sinis. "Mama," tegur Erika dengan tatapan tidak percaya jika wanita itu bisa berkata dengan kasar pada menantunya. Ia tidak ingin suaminya terus mendapatkan penghinaan seperti sekarang ini, apalagi dari sang mama. "Apa, Erika? Memang benar, kan? Ryan itu belum bisa diandalkan," sahut Nyonya Lee dengan senyuman miring, kembali mencibir menantunya. Sementara tiga pria yang tadi sedang membicarakan investasi dan grafik saham, hanya tertawa kecil - menertawakan Ryan yang tidak bisa membantah penghinaan tersebut. Ryan memang berprofesi sebagai staff biasa di sebuah perusahaan swasta, yang tentunya gajinya tidaklah sebesar pengusaha seperti mereka-mereka. Tapi Ryan juga memiliki posisi yang cukup penting, karena ia menjabat sebagai kepala divisi di perusahaan tempatnya bekerja. Tapi menurut keluarga istrinya, Ryan tetap saja pegawai rendahan karena tidak memiliki usaha sendiri yang tentunya bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar seperti mereka. "Saya bekerja dengan baik, dan kemungkinan awal tahun nanti saya mendapatkan promosi kenaikan jabatan." Ryan memberikan kabar baik ini agar mereka dapat melihat perjuangannya, begitulah harapannya. "Heh, namanya kuli tetap kuli! Jangan mimpi untuk bisa mendapatkan uang yang besar dari gajimu itu!" Tanu menyahut dengan tawa mengejek. Semua orang tertawa. Hal itu membuat Ryan merasa sakit hati, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ryan hanya bisa menahannya, sebab apa yang mereka katakan memang ada benarnya. Ia bukanlah orang kaya, bahkan keluarganya sudah tidak ada karena meninggal saat terjadi bencana alam. Itulah sebabnya Ryan berjuang hidup sendiri dan merasa bersyukur sudah bisa mendapatkan pekerjaan yang baik seperti sekarang ini. Tapi ternyata menjadi seorang pria yang "gantleman" tidaklah cukup untuk membungkam keluarga kaya seperti mereka, karena kekayaan lah yang mereka jadikan nilai sebagai tolok ukur sebuah kesuksesan. "Hidup ini keras, dan semuanya membutuhkan uang. Kamu harus camkan itu, Ryan!" ucap Tuan Tian Lee - memperingatkan menantu prianya. "Ya, dan semua kebutuhan hidup juga semakin mahal!" imbuh nyonya Lee dengan wajah sombong. "Cih, dasar pria tak tahu malu!" ejek Nyonya Lee cepat, dengan memalingkan wajahnya. "Ma," tegur Erika dengan tatapan tak suka. "Apa, emang iya, kan? Suami kamu memang seperti benalu di rumah ini, di keluarga Lee ini!" ejek sang mama, semakin menjadi-jadi. Ryan mengetatkan rahangnya, berpikir bahwa keputusannya yang dulu ternyata memang salah. Ia tidak berpikir logis tentang situasi kehidupan nyata keluarga istrinya, yang semuanya dipandang dari segi materi dan status sosial. 'Andai saja waktu bisa diputar kembali, aku akan mengambil keputusan yang pastinya akan kalian sesali!' batin Ryan dengan segala rasa penyesalan dalam hati. Dalam hatinya, Ryan sangat marah. Ia menyesal saat ingatannya kembali pada waktu itu, di mana akhirnya ia memutuskan untuk menikah dengan putri mereka - Erika Lee, yang sekarang ini sudah menjadi istrinya. Malam sekali, Ryan pun mengemudikan mobilnya dengan hati-hati karena jalanan ramai, pulang ke rumah setelah menghadiri acara bisnis sebagai perwakilan dari kantor tempatnya bekerja. Namun, hujan yang cukup deras akhirnya menjadikan aspal jalan cukup licin, membuatnya sedikit kesulitan untuk berkendara di jalan ini. Ketika ia sampai di tikungan yang cukup tajam, ban mobilnya kehilangan kendali pada aspal yang basah karena rem tidak normal. Ia berusaha dengan keras untuk mengendalikan kemudi, tetapi nyatanya tetap kehilangan keseimbangan dan akhirnya menabrak pembatas jalan dengan keras. Brakk! "Argh!!" teriaknya keras. "A-ku, tidak ingin mati terlebih dahulu. A-ku ingin mengubah kehidupan dan takdirku agar keluarga istriku bisa melihatku sebagai manusia, bukan manusia yang bisa diremehkan dan dihina ..." Duarr! Sayangnya, mobil meledak dan segalanya menjadi gelap bagi Ryan, yang kemungkinan besar tidak selamat dalam kecelakaan tunggal tersebut. Hanya saja, Ryan merasakan keanehan. Secara perlahan-lahan, Ryan mulai membuka mata. Pria itu merasa aneh karena sekelilingnya tampak begitu familiar. Sepertinya, ingatannya tidak lagi normal karena mungkin telah berpindah alam akibat kecelakaan yang dialaminya. Namun, saat ia melihat kembali sekelilingnya dengan lebih jelas, ia menyadari bahwa ini lingkungan yang ia kenal dengan sangat familiar. "Apakah aku mati dalam kecelakaan tadi? T-api, bagaimana mungkin aku ada di ruangan ini?" gumam Ryan bertanya-tanya. Anehnya lagi, mendadak dia di ruangan besar bersama ayah Erika kembali! "Apa ini?" Ryan terkejut saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Saat ini, sebuah serba membingungkan sebab jarum jam, tanggal dan tahun yang ia lihat sama persis seperti saat ia mendapatkan dua pilihan dari calon papa mertuanya sendiri - Tuan Lee, waktu itu. Dalam kebingungan dan keheranan, Ryan mulai menyadari bahwa ia telah kembali ke masa lalu, ke titik di mana takdirnya seolah-olah akan diubah dengan pilihan yang harus ia putuskan demi masa depannya sendiri. "Apakah ini saat yang tepat untuk merubah takdirku?" tanyanya kemudian - dalam kebingungan. Dengan kecelakaan yang membawanya kembali ke masa lalu, Ryan sadar bahwa saat ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk mengubah takdir yang telah membuatnya merana dan terhina selama menikah dengan putri pengusaha sukses yang kaya raya tersebut. Ryan masih diam dengan duduk termenung, berusaha memahami situasi yang sedang dialaminya saat ini. Sebuah kecelakaan tunggal, tapi justru membawanya ke waktu tiga tahun yang lalu. "Kenapa wajahmu? Apakah kau tidak yakin dengan keputusan yang akan kau buat?" Suara Tuan Lee bergema di telinganya, mengalihkan perhatian Ryan yang masih tidak percaya dengan keadaan yang ada. "Saya ..." "Pilih, Ryan. Satu tawaran dari dua pilihan ini, cek sebesar 5 miliar atau menikahi putriku?" tanya Tuan Lee dengan sorot mata tajam, menantang Ryan - lagi. Deg! Jantung Ryan berdegup kencang, pikirannya berkecamuk dalam kebingungan. Ini adalah peristiwa dan adegan yang sama, tapi tetap saja ia gugup dan tidak tahu harus menjawab apa dengan cepat, sebab keputusannya waktu itu terbukti salah dengan keadaannya setelah menikah dengan Erika! Apa yang harus ia pilih?会場が静まり返った。彼は光と影の境界に立っていた。スーツの皺には機内でついたコーヒーのシミが残り、いつも完璧に整えられていた髪は乱れて額にかかっていた。「略奪婚でもする気か?」蓮が目を細めた。聖は彼を無視し、真っ直ぐ鹿乃子の前まで歩いて跪いた。「俺が万死に値するのはわかっている」彼の声は形をなさないほど枯れていた。「だが頼む、もう一度だけ俺を見てくれ……」ゲストたちがざわめいた。西園寺家の当主、あの冷徹で高貴な「聖人」が、今、背筋を伸ばして跪いているのだ。鹿乃子は半歩下がった。「西園寺聖、やめて」「三百通の手紙を書いた。俺たちの出会いから結婚、そして……」彼の喉仏が動く。「俺がお前を愛していながら、それを認めるのを恐れていたすべての日々について」彼は震える手でトランクを開けた。純白の便箋が蝶のように舞う。だが鹿乃子は動じず、一瞥もしないまま、ゆっくりと首を振った。「遅すぎるわ、西園寺聖」蓮の指輪がついに彼女の指にはめられた時、聖は自分の心臓が砕ける音を聞いた。鹿乃子と蓮は拍手の中でキスをし、彼は手紙の海に跪いたまま、審判を受けた罪人のようだった。パーティーが終わった後、聖は車の中で深夜まで座り込んでいた。フロントガラスには秋月家のシャトーの灯りが映り込み、バルコニーで抱き合う人影が微かに見えた。聖は突然エンジンをかけ、アクセルをベタ踏みして、ちょうど門から出てきた蓮に向かって突っ込んだ。「死ね……」ハンドルを握り潰しそうなほど強く握る。「お前さえいなければ……鹿乃子は俺のものだ……」ヘッドライトが蓮の驚愕の表情を照らし出す。危機一髪の瞬間、赤い影が突然飛び出し、両手を広げて蓮の前に立ちはだかった!「鹿乃子?!」聖の瞳孔が収縮し、猛然とハンドルを切った。車体は樫の木に激突した。エアバッグが開く瞬間、彼は鹿乃子の恐怖に満ちた目を見た。よかった……彼は朦朧と考えた。少なくとも今回は、自分は正しい選択をした。フロントガラスの亀裂が蜘蛛の巣のように広がり、額から血が流れるのを感じながら、彼はふと解放感を覚えた。もし死がこの骨を蝕むような苦痛を終わらせてくれるなら……たぶん、これが最高の結末だ。聖はとても長い夢を見た。夢の中は自分と
梨花はその場で凍りついた。「……え?」「嫁いだ以上、うまくやりなさい」彼の口調は穏やかだった。そして彼は目の前の初老の男に視線を向けた。「彼女を殴るな。さもないと、どうなるかわかっているな」男は何度も頷き、梨花の手首を掴んだ。「おい、帰るぞ。大事にしてやるから」たとえ殴らなくても、変態な手段はいくらでもある。ましてや、彼はこんなに醜く、老いている。そして梨花は花のように美しいのだ。彼女は狂ったように抵抗した。「西園寺聖!どうしてこんな仕打ちができるの?!一生守ってくれるって言ったじゃない!私が一番大事だって言ったじゃない!兄さん……私が悪かった……兄さん……」彼女のヒステリックな泣き声が遠ざかっていき、聖は振り返りもせず書斎に入った。部屋で、彼は自らの手で梨花に関するすべてのものを燃やした。写真、プレゼント、彼女が幼い頃に描いた絵……炎が過去を飲み込み、灰が空中に舞う。今から、ここには鹿乃子の痕跡だけを残す。だが彼が屋敷中を見回して初めて気づいた——彼女はずっと前に、自分の荷物をすべて持ち去っていたのだ。一つ残らず。聖は部屋の中央に跪き、ふと低く笑った。構わない。彼女を取り戻すから。母の「心臓病」は案の定、狂言だった。「鹿乃子ちゃんは?」母親がドアの外を覗き込む。「一緒に帰ってくるんじゃなかったの?」聖はしばし沈黙した。「俺たちは離婚した」リビングが瞬時に静まり返った。父親が激昂して立ち上がった。「何だと?!」「俺が彼女を裏切ったんだ」聖はこの二年の出来事をすべて話した。梨花のこと、そして自分の改心も含めて。母親は聞き終わると目を赤くした。「あの子……あの子は帰ってくるたびに、笑顔で『幸せです』って言っていたのに……」「私に薬膳スープを作ってくれて、お父さんにお守りを作ってくれて、使用人が病気になれば自ら看病して……」父親は怒りのあまり茶碗を叩きつけた。「この馬鹿者が!今すぐD国へ行け!土下座してでも連れ戻してこい!」聖は頷いた。「明日の便で行く。今日、やるべきことが一つある」深夜、書斎の明かりは煌々とついていた。聖は机に向かい、万年筆を走らせていた。【鹿乃子へ。今日、家の中を見回して初めて気
カフェで、蓮はゆっくりとコーヒーをかき混ぜていた。聖の第一声で、彼の手が止まった……「彼女を返してくれ。代償は何でも払う」蓮は眉を上げた。「何でも?」「ああ」聖の声はしわがれていた。「西園寺グループの株、帝都の土地、俺の海外資産……」「さらには……」聖は目を閉じた。「梨花を呼び戻し、鹿乃子に直接謝罪させてもいい」蓮は突然笑った。彼はカップを置き、碧い瞳に嘲りの色を浮かべた。「聖、まだわからないのか?鹿乃子は商品じゃない。彼女は人間だ。血が通い、痛みを感じ、涙を流す人間なんだよ。君はかつて彼女の真心すべてを手にしていたのに、自らの手でそれを粉々に砕いたんだ」蓮は立ち上がり、彼を見下ろした。「今は、俺が彼女を愛する番だ。君は……」彼は軽く笑った。「その後悔を抱えて、残りの人生を過ごせばいい」聖はその場に座り続け、去っていく蓮の背中を見ながら、ふと何年も前のことを思い出した。鹿乃子もこうだった。何度も自分に突き放され、そのたびに目を赤くして戻ってきた。あの頃、なぜ気づかなかったのだろう……愛されるということが、どれほど贅沢なことだったかに。聖はD国でさらに丸一週間待ち続けた。毎朝、彼女が一番好きな白バラを持って秋月家の前に現れた。午後は決まって蓮の会社の下で、彼女を一目見るためだけに待った。深夜には彼女の寝室の窓の外にあるプラタナスの木の下に、明かりが消えるまで立ち尽くした。秘書からの十八回目の電話がかかってくるまでは——「社長、役員会がもう抑えきれません。帝都東部のプロジェクトがこれ以上遅れれば、少なくとも一千億の損失が出ます」両親からの電話も続いた。「聖、いつ戻るんだ?最近母さんの心臓の調子が良くなくてな……」電話を切り、聖は秋月家の別荘の外に立ち、二階の明かりがついた窓を見上げた。カーテンに、親密に抱き合う二つの影が映る。彼は拳を必死に握りしめ、爪が掌に深く食い込んだ。翌朝、鹿乃子が玄関のドアを開けると、階段の下に聖が立っていた。目の下には薄暗い隈ができ、顎には無精髭が生えていたが、それでも彼は背筋を伸ばしていた。「一度帰国する」彼の声はしわがれていた。「会社でトラブルがあった。両親の体調も良くない」鹿乃
電話の向こうの泣き声がピタリと止んだ。梨花の声が震え、信じられないというような金切り声になった。「兄さん……どういう意味?」聖は目を閉じ、低く疲れた声で言った。「俺が以前、お前を甘やかしすぎた。嫁いだ以上、うまくやれ。どうしても耐えられないなら……」彼は言葉を切った。「両親に言え。今の俺には、そんなことを処理する余裕はない。それに……」彼は自嘲気味に笑った。「もし助けたら、鹿乃子はますます俺を許さないだろう」梨花の呼吸が荒くなり、やがてヒステリックな絶叫が爆発した。「あなた、本気で秋月鹿乃子を好きになったの?!」聖はしばし沈黙し、最後に静かに言った。「そうだ」その一言がナイフのように、梨花の最後の理性を断ち切った。「ありえない!」梨花の声は鼓膜を突き破りそうだった。「あなたが好きなのは私のはずでしょ!どうしてあいつなんか?!嘘よ!嘘に決まってる!」彼女は支離滅裂に訴えた。二人の幼い頃の思い出から、聖が自分をどれだけ許してきたか、そして二人の間にあった曖昧な瞬間まで……聖は終始沈黙していた。やがて電話の向こうから、野太い男の声が聞こえた……「誰に電話させてる?まだベッドでの躾が足りないようだな」続いて揉み合う音と、梨花の泣き叫ぶ声が遠ざかっていく。「兄さん!助けて!お願い助けて……」電話は切れた。聖はゆっくりと携帯を下ろし、指の関節が白くなるほど握りしめた。彼は眉間を押さえ、結局かけ直すことはなかった。……入院中の数日間、聖は看護師たちの雑談から、鹿乃子と蓮の情報を耳にすることが多かった。「302号室のカップル、本当にラブラブよね。あの彼女、三日間一睡もせずに付き添ってたわ……」聖は黙って聞いていたが、胸に巨石が乗っているように息苦しかった。退院前、彼は何かに導かれるように302号室の前まで行った。ドアは完全に閉まっておらず、隙間から、鹿乃子がベッドサイドに座り、リンゴを剥いているのが見えた。ベッドにもたれていた蓮が突然手を伸ばして彼女を抱き寄せ、口づけをした。鹿乃子は彼を突き飛ばすこともなく、むしろ彼の首に腕を回し、熱烈に応えた。聖はドアの外に立ち、泥棒のように、本来自分のものであったはずの幸福を盗み見ていた。
鹿乃子は痛みで目を覚ました。消毒液の匂いが鼻をつき、天井の蛍光灯が目に染みる。無意識に手を上げて遮ろうとしたが、手の甲の点滴針が引っ張られ、「っ」と痛みに声を漏らした。「やっと気がついたのね」看護師が包帯を交換していた。彼女が目を開けたのを見て、ほっと息をつく。「一体誰にそんな恨みを買ったの?酒瓶で二回も殴られて、三十針以上も縫合したのよ」彼女は思わず包帯の巻かれた頭に触れ、掠れた声で尋ねた。「私を運んでくれた人は?」「お友達のこと?一晩中ついててくれたけど、会社で急用が入って行っちゃったわ。介護士を手配したって伝えてくれって」鹿乃子は呆然とした。病院に運ん
鹿乃子は最後の言葉を飲み込み、踵を返して車に乗り込むと、在留管理庁へと向かった。D国の永住権申請の手続きは複雑ではない。特に自分のような家柄の人間にとっては。数年前、秋月家の事業はすべて海外に移転し、両親も兄も海外へ移住していた。自分だけが、聖のためにこの国に残っていたのだ。そして今、自分もまた去ろうとしていた。「手続きには一週間ほどかかります」担当者が微笑みながら言った。彼女は頷き、受領証を受け取って在留管理庁を出た。やっと終わる。西園寺聖。六年間追いかけ続け、俗世に引きずり下ろせると思っていたあの高潔な聖人は、結局自分のものではなかった。彼のために多くの
西園寺聖(さいおんじ ひじり)を数え切れないほど誘惑した。それでも初夜を迎えることに失敗した後、秋月鹿乃子(あきづき かのこ)は兄に電話をかけた。「兄さん、私、離婚しようと思う」電話の向こうで沈黙が流れ、やがて秋月臨也(あきづき いざや)の低い声が響いた。「言っただろう。西園寺聖という男は、お前が俗世に引きずり下ろせるような相手じゃないんだ」鹿乃子は赤い目をして笑った。「そうね。私が身の程知らずだったわ」「D国に来い」臨也の声は明るかった。「こっちにはいい男が山ほどいる。聖なんかに負けやしない。俺のこんなに可愛くて手のかかる妹を大事にしないなんてな。あいつについ
鹿乃子は三日間入院した。退院の日、在留管理庁から電話があった——D国の永住権が下りたのだ。それが最近聞いた唯一の良いニュースだった。在留管理庁の前に立つと、日差しが涙が出るほど眩しかった。手をかざして光を遮る。薬指の結婚指輪は既に外されており、淡い跡だけが残っていた。これで終わる。在留管理庁で永住権を取得した後、彼女は迷わず法律事務所へ向かい、離婚協議書を作成して署名した。そして梨花に電話をかけた。「会って話しましょう」カフェで、梨花は警戒したように彼女を睨みつけていた。「一体何の用?警告しておくけど、兄さんが戻ってきて私をいじめたって知ったら……」鹿乃
reviews