ログイン「ノワール・ヴァレリアン。あなたとの婚約は破棄する」 それは十年前、貴族令嬢カローラが口にした決別の言葉だった。 平民出の“勇者候補”として騎士団に加わりながらも、魔力適性ゼロと嘲笑されていたノワール。 家のため、未来のため――カローラは彼を手放した。 そして十年後。 魔王が世界を滅ぼす寸前、ひとりの男が現れる。 黒衣に身を包み、魔王を屠り、神にすら刃を向けた“最強の勇者”の名は――ノワール。 「カローラ、君を迎えに来た」 その声は、静かに、でも狂おしいほどの執着を孕んでいた。 世界を救った報酬に、彼が望んだのは嘗て失った婚約者――ノワールだった。
もっと見るNamaku Karlina. Seorang wanita berusia sembilan belas tahun yang hidup dengan penuh perjuangan tanpa fasilitas yang diberikan kedua orang tua yang miskin.
Tuan Hong adalah ayah pemuda tampan bernama Philip. Entah siapa nama panjangnya. Sang ayah adalah seorang pengusaha garment cukup sukses yang memiliki rumah produksi sendiri dalam pengelolaan seorang wanita muda berbakat bernama Rosi yang akrab dipanggil Cece. Di sanalah aku mengais rupiah demi bertahan hidup sendirian menjadi perantau kecil. Ibu Philip adalah Dokter Maria. Dokter umum yang bekerja di sebuah rumah sakit cukup besar di kotanya. Keseharian Dokter Maria hanya seputar kamar pribadi, ojeg online, dan rumah sakit. Hanya terkadang masuk dapur dan ruang makan jika ada Philip yang jarang sekali di rumah atau Meyling yang sekolah dan tinggal di asrama, pulang untuk berlibur. Rumah besar mereka selalu lengang sementara Philip memilih tinggal terpisah dari orang tuanya. Tak banyak yang tahu pemuda jangkung dengan rambut ikal hitam gondrong itu seorang yang berbakat. Jemarinya yang tampak lentik meski lelaki, memiliki kelenturan luar biasa saat menari bersama cutter kecil di atas media kayu maupun bambu. Karya-karyanya selalu menarik perhatian pembeli dengan hasil yang cukup besar untuk hidup dirinya sendiri tanpa perlu berhati-hati dalam menggunakan uang. Tidak sepertiku yang harus super hemat karena gaji kecil yang kuterima setiap akhir pekan dari Cece. Philip punya ayah yang kaya, tapi dia tak suka berurusan dengan Tuan Hong meski untuk uang sekalipun. Saat sangat merindukan ibu dan adiknya, Philip selalu memasuki rumah orang tuanya dengan menyelinap seperti pencuri melewati pintu kecil bagian samping yang biasa digunakan para karyawan Sang Ayah untuk keluar masuk mengurus barang produksi. Dia tinggal di luar sana. Tiap melintas aku melihat tatapannya begitu sinis ke arah kantor yang berada di bagian depan bangunan terpisah dari rumah utama. Di ruang itulah Tuan Hong menghabiskan waktu bersama Cece. *** Hari sudah sore ketika semua karyawan berkemas untuk meninggalkan pekerjaan dan melanjutkan sisa hari bersama keluarga. Kecuali aku tentu saja meskipun tak ketinggalan segera membereskan gunting, cater dan teman-temannya selepas menjiplak pola-pola di lembaran kertas karya Cece. Aku adalah asisten Cece, posisi yang kerap membuat teman-teman iri. Ketidak mampuan diri ini memegang segala mesin produksi membawa keberuntungan tersendiri. Namun jangan dikira aku sangat nyaman menjadi asisten karena jam kerja kemudian tidak lagi jelas. Teman-teman semua punya jam kerja dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore. Sementara aku masih saja ada tugas-tugas lain setelah semuanya bebas melenggang keluar gedung pengap ini. Seperti sekarang. “Karlina, kamu ikut Tuang Hong ke Sukses Makmur sekarang soalnya ada yang tidak masuk kamu gantikan!” Begitu titah Cece. Sukses Makmur adalah toko yang menjual segala pernik fashion yang sebagian besar merupakan hasil produksi pabrik tempatku bekerja. Namaku Karlina Suryo. Anak dari keluarga miskin di desa kecil daerah Jawa Tengah. Aku hanya bisa mengecap pendidikan di bangku SMA karena terkendala biaya, kemudian merantau seorang diri ke Bandung. Dengan menumpang mobil pengangkut barang yang hendak setor ke pasar induk Caringin, aku sampai di kota Kembang. Jangan tanya kenapa bapak ibuku melepas anak gadisnya ini pergi seorang diri merantau begitu jauh dari keluarga. Anak banyak dalam kemiskinan tentu saja akan mengurangi beban ketika salah satu sudah bisa mandiri, syukur-syukur bisa meringankan beban dengan menjadi penyumbang nafkah keluarga. Selama tidak menyalahi norma, kedua orang tuaku sama sekali tak pernah keberatan kami mencari jalan mencari uang untuk sekedar jajan sejak kami masih sekolah. Kami terbiasa mandiri dan lepas pengawasan. Tapi alhamdulillah anak-anak bapak dan ibu tak ada yang berani macam-macam dalam artian nakal. “Pergilah cari kerja, kalau sampai sore tak dapat balik lagi ke sini ikut aku pulang lagi ke kampung.” Begitu pesan Kang Karman sopir truk yang kutumpangi. “Ya, Kang. Kalau aku ndak ada balik berarti dapat kerja ya, Kang …,” kataku yang hanya dibalas anggukan. Kang Karman sibuk menurunkan barang. Lelaki tiga puluh tahun itu adalah sepupuku anak dari kakaknya ibu. Keadaan menjadikannya lelaki tangguh. Demi anak dan istrinya lelaki penuh tanggung jawab itu merelakan sebagian waktu berjibaku di jalanan. Tak kenal waktu malam yang harusnya untuk istirahat bercengkrama dengan keluarga malah tengah mengukur jalan. Begitupun saat panas dan hujan tetap tak menyurutkan roda kendaraannya yang terus melaju menerabas aspal yang tak selalu mulus. Lelaki sederhana pekerja keras yang berhati lembut. Aku mendatangi beberapa pabrik lumayan besar seperti pabrik sepatu, juga beberapa toko yang sekiranya membutuhkan karyawan. Perkantoran jelas tidak akan menampung lulusan SMA kampung kecuali posisi OB atau OG. Aku tak berminat. Alhamdulillah akhirnya pabrik konveksi kecil milik Tuan Hong menerimaku. Wanita cantik bernama Rosi yang meyakinkan si bos yang semula tak yakin badan kecilku mampu bekerja keras di pabrik. “Biarlah, Koh. Rosi butuh dia buat asisten.” Rosi yang kemudian biasa kami panggil Cece adalah tangan kanan Tuan Hong yang mengelola pabrik ini. Keputusan penerimaan pegawai juga tergantung pada wanita cantic berbadan mungil yang kini tersenyum ke arahku. Kubalas dengan senyum selebar mungkin isyarat diri ini mengandalkannya. Dan benar akhirnya aku diterima. Resmilah aku mengakhiri predikat pengangguran berkat Cece Rosi. “Cepat masuk mobil, Kar!” Suara Cece membawaku ke dunia nyata dari lamunan. Tak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk lemah lalu mengikuti langkah cepat wanita berkaus pendek grey dipadu celana pendek cream di atas lutut mengekspos kaki mulus yang terlihat lebih panjang dari ukuran tubuh mungilnya itu. Aku duduk diam-diam di kursi belakang menunggu innova metalik meluncur keluar tetapi entah apa yang ditunggu sang Tuan hingga masih diam di balik kemudi dengan kaca jendela terbuka. Tanpa sadar mata ini melirik tangan yang terjulur keluar. Cece meremas lembut sekilas kemudian kaca itu menutup keatas seiring roda yang melaju perlahan. Degg! Dadaku terasa nyeri tanpa sebab menyaksikan adegan sekilas itu. Apa rumor itu benar bahwa Tuang Hong mengkhianati Dokter Maria? Anganku melayang pada pertemuan pagi tadi dengan Dokter Maria di lorong ruang produksi. Wanita berambut keriting itu berjalan cepat melintasi ruangan di mana kami sedang berkumpul dan bergosip sebelum dimulainya jam kerja beberapa menit lagi. Rok span semata kaki dengan blazer batik dipadu kaos panjang di dalamnya dan lengan baju yang saling mendahului memang terlihat sangat tidak rapi apa lagi modis bagi penampilan seorang wanita. Berbanding terbalik dengan Cece Rosi yang selalu tampil seksi bercelana pendek meski tak terlihat vulgar di bagian atas tubuhnya. Cece Rossi memang bukan wanita gitar spanyol dengan dada membusung hingga pakaian minim yang dipakainya tak menimbulkan kesan seronok. Bahkan aku yang keseharian bersamanya tak menangkap kesan genit pada tingkah laku wanita yang kutaksir berusia dibawah tiga puluh tahun itu. Dibandingkan dengan Tuan Hong Dan Dokter Maria, Cece tampak seperti anak sulung untuk mereka. Konon Philip putra pertama keluarga Hong, lahir setelah lebih dari delapan tahun usia pernikahan. Mengingat Dokter Maria aku jadi …. “Hei! Lu orang tidak mau turun ha?” Aku terlonjak mendengar suara Tuan Hong. Lelaki tua yang masih tampak gagah itu menggelengkan kepala melihatku tergagap dari lamunan panjang tentang keluarganya. Mataku memicing saat tangan lebar kurus yang agak keriput itu melambai di depan wajahku. “Sebenarnya lu orang kesambet apa bagaimana? Bengong saja kerjanya. Cepat turun masuk toko biar bisa gantikan pegawai yang izin. Malam Minggu ramai ha, jangan sampai tidak buka!” perintahnya panjang lebar. Aku beranjak turun dari mobil dan melangkah gontai memasuki ruko berlantai dua yang penuh sesak dengan rak-rak tinggi juga baju berbagai model bergelantungan di sana-sini. “Hei! Kamu jalan sambil tidur apa gimana sih,” gerutu Mas Untung kepala toko Sukses Makmur milik Tuan Hong yang kutabrak bahunya sambil berjalan. “Lemes amat,” tanyanya lagi sambil memindai diriku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. “Apaan sih. Aku sebel aja selalu di suruh gantiin anak buahmu yang izin melulu itu. Mending dihitung lembur,” kataku sambil cemberut. “Udah jangan cemberut gitu nanti uang makan aku tambahin dari biaya operasional toko,” kata Mas Untung menerbitkan senyum lebarku. “Asyik!” Tak ada yang lebih baik dari mendapat tambahan uang makan. Gaji yang tak seberapa membuatku berjuang keras menahan diri untuk sekedar bakso semangkok ditambah kerupuk selebar piring untuk dicelupkan ke kuah saus yang kental dan pedas. Air liur ku langsung menetes. “Ih jorok!” teriak Mas Untung. Sisa waktu sampai jam sembilan malam nanti aku gunakan untuk membantu Mas Untung melayani pembeli yang semakin malam semakin ramai. Malam minggu membuat sepanjang jalan depan toko ramai muda-mudi berjalan-jalan. Baik untuk sekedar melihat-lihat, berburu kuliner khas Bandung, dan juga berbelanja termasuk ke toko yang kami jaga. Menjelang jam Sembilan pengunjung berangsur sepi. Banyak pemilik toko mulai menutup perniagaan mereka hari ini kecuali para penjaja kuliner yang tutup lebih malam. Aku dan Mas Untung pun mulai berbenah memasukkan segala sesuatu yang masih berada di luar dan menarik rolling door untuk menutupnya. Kemudian kami duduk sebentar mengistirahatkan badan sejenak sambil memakan sisa cemilan milik Mas Untung tentunya. “Lin, kamu tahu kelemahan Cece Rosi?” Aku menggeleng polos sambil menatapnya meminta penjelasan. “Sebenarnya aku sering ketemu Philip.” “Anak lelaki Tuan Hong?” “Ya. Dia menyuruhku memata-matai Cece dan ayahnya.” “Gimana caranya? Mas Untung tiap hari di toko dan cuma ke pabrik kalau ambil kunci. Eh ngomong-ngomong kenapa kunci toko juga Cece yang pegang ya bukan Bu Dokter? Bukannya Cece cuma orangnya Tuan Hong yang pegang pabrik?” Aku memicingkan mata menatap lelaki berusia dua puluh lima tahun di depanku. Lelaki hitam manis bertubuh sedikit pendek itu menoyor kepalaku hingga terayun ke samping. “Mas!” pekikku tak terima. “Kamu Lin, lemot banget jadi orang. Berbulan-bulan berdiri diantara mereka enam hari dalam seminggu kok tak menyadari sesuatu.” “Jadi maksudnya mereka ….” “Yess Karlina binti Suryapalo eh Suryo!” Aku mencebik melihat tingkah lelaki yang duduk di depanku itu. “Jadi mau nggak mematai mereka untukku eh untuk Philip? Ada uangnya lho.” Mataku berkedip penuh binar mendengar kata uang. Bersambung ….雪解けの春が訪れてから、三年目の冬がこの村を包もうとしていた。 辺境の地、フィオレ――森と湖に抱かれたこの場所は、王国の地図からも抜け落ち、誰にも顧みられない静謐な空間として、ただそこに在った。 かつて神を斬り、王国を揺るがした男の姿など、ここにはない。 あるのは、薪を割り、子を抱き、スープを温めるただの父親の姿。 その名も、ノワール。 朝、カローラは戸口を開けて、小さく息をつく。 白い息が空に溶けていき、降り積もる雪はまだ浅く、木々の間から差し込む朝の光が、世界を仄かに照らしていた。「……寒いわね、今日も」 振り返ると、小さな足音が近づいてくる。 「ママ、ママっ、雪! ほら、ゆきだよ!」 まだ幼い女の子が、嬉しそうに外を指差している。 ふわふわの髪はカローラに似て柔らかく、目元と口元には、どこかノワールの面影が宿っていた。「ええ、見えてるわ……冷たくなるから、お外はパパが帰ってからにしましょうね」「うん……でも、あのね、ゆきのにおいって、ちょっとおいしそう」「ふふ、それは雪じゃなくて、パンの焼ける匂いじゃないかしら?」 母と娘の笑い声が、小さな家の中に柔らかく響いた。 ノワールは、その声を背に受けながら薪小屋から戻ってきた。 戸を開けると、少女が真っ先に駆け寄ってくる。「パパ、おかえり!」「ん。……ただいま」 無骨な男の口から返るその一言は、誰よりも誠実で、温かかった。 ノワールは娘の頭をそっと撫で、雪の付いた肩を軽く払い落とす。 その手はかつて神を屠った剣の手でありながら、今はただ、小さな命を優しく包むためだけに存在していた。 カローラは微笑みながら、薪を受け取る。 ノワールと交わす視線の中には、言葉を超えた絆があった。 「朝ごはん、できてるわ……スープ、少し冷めちゃったかも
カローラは、ふと鏡に映る自分の顔を見つめることがある。 薪の炎が揺れる小さな家の壁にかけられた、小さな銀縁の鏡。 その中に映るのは、どこか静かに落ち着いた、見慣れないほど柔らかい表情をした自分。 若くして貴族令嬢と呼ばれ、刺繍のドレスと決まりきった笑顔を着ていたあの頃――政略、名誉、婚約。 そうした言葉の中で、自分という存在を押しつぶして生きてきた少女は、今ここにはもういない。 火の灯るこの静かな家で、誰の目にも晒されず、ただひとりの隣で生きている。 それは、名誉でも義務でもなく、自ら選んだ日常。 彼の隣に在ること、それだけが、今の彼女の人生だった。 ノワール。 嘗て『黒衣の勇者』と呼ばれた男。 今では、村の誰もがただの一人の男、『ノワール』としか知らない存在。 彼は薪を割り、土を耕し、雨の日には無言で窓の外を眺めている。 あまりに静かで、あまりに平凡で――それでいて、彼女だけが知っているのだ。 平穏の奥に、どれほどの『絶望』と『異常』が潜んでいるかを。 この男の手は、かつて神を斬った。 王に膝をつかせ、信仰を捻じ曲げ、人の倫理と秩序を粉砕したその手が、今は温かいスープの鍋をかき回している。 だが、力は失われていない。 いや、むしろ――今もなお、世界を終わらせるだけの力を抱えている。 その全てを、たった一つの『願い』のために。 自分という存在のためだけに。 ──狂気にも似た、純粋な執着。 ある晩、火が赤々と燃える暖炉の前で、カローラは膝を抱えながら、ぽつりとつぶやいた。「……私を選んだんじゃないのよね」 ノワールは、振り返らなかった。 火の中に目を落としたまま、ただ静かに聞いていた。「あなたが選んだのは、『罪』だった……そうでしょ?」 ノワールの瞳が、ふとカローラへと向けられる。 その黒い目は、昔から変わらない。沈黙の中に、すべてを語る目だった。
その日が近づくと、カローラは朝から落ち着かない心地になる。 辺境の村にも春の兆しが差し始め、窓の外では木々が薄緑の芽を覗かせていた。 鳥たちがさえずり、土の匂いが柔らかく空気に混じる。 冬のあいだ閉ざされていた世界が、再び目を覚ますように、生の気配で満ちていく。 けれど、彼女の心に芽吹くのは、自然の変化ではなかった。 ──十年前。 すべてが光に包まれていた、あの眩しい初夏の一日。 小さな庭で、まだ幼い彼に向かって、彼女は無邪気に言ったのだ。『「守ってね』と。 何の打算も知らない、ただまっすぐな子供の願いとして。 侯爵家の庭園に咲いていた白い花。 彼女はそれを摘み、自分の髪にそっと挿して笑った。 あの時に交わした拙い約束は、今も彼女の胸に、色褪せることなく残っている。 春の訪れと共に、今年もその記憶が彼女の心をやさしく波立たせていた。 辺境のこの村にも、確かに春は訪れる。 夜の霜がゆるみ、凍てついた地面から草が芽吹き、空気にわずかな温もりが宿る。 そして──その季節になると、村の道の向こうから、毎年同じものが届く。 小さな包み――粗末な紙に包まれた手のひらほどのそれは、遠く長い旅をしてきたかのように、うっすらと埃をかぶっていた。 中には、一輪の白い花。 花弁は瑞々しく、まるで今しがた摘まれたかのような新鮮さで、指先に触れれば、朝露の余韻さえ残しているかのようだった。 柔らかな香りが、胸の奥を切なく揺さぶった。 手紙も、差出人の名もない。 言葉ひとつ添えられていない。 けれど、それが誰から届いたのか――カローラには、痛いほどわかっていた。 たった一輪の白い花。 それは、十年を越えても変わらぬ『誓い』の印。 彼が、毎年この日を忘れることなく、どれだけ遠く離れていても、どれほど言葉を交わさずとも、カローラを想い続けてきた証だった。 花びら一枚一枚に、彼の無言の想いが染み込んでいる気がした。 この世界のどこかで、自分が生きていることを、彼は確かに覚えていてくれている。 それだけで、心が熱を帯びた。 カローラはその白い花を、静かに、丁寧に押し花にする。 潰れぬように、壊さぬように、そっと、慈しむように紙に挟む。 そして、古い日記帳の一ページに、今年の記録を書く。 『また届いた』と書きながら、彼女は一年分の小
王都、ヴァル=エルレア。 かつては信仰と栄光が交差し、神殿の鐘が朝と共に鳴り響いていた都市。 だが今、その鐘は沈黙していた。 白壁の神殿は封印され、門前に立つ者はなくなった。 かつて人々が頭を垂れた英雄の石像は撤去され、その破片が広場の隅に積み上げられている。「……何もかも、終わったように見えるな」 ローランド王は窓の外を眺めながら、誰にともなく呟いた。 その背中は、王国を支えてきた威厳を失い、ただ老いたひとりの男のそれに変わっていた。 重苦しい静けさの中、若い侍従が声を低くして問う。「……陛下、記念碑の撤去について、正式な告知を民へ?」「必要ない。民はすでに……すべてを知っている」 その声には疲れが滲んでいた。 いや、疲労ではない。 もっと深い場所で、何かが決定的に崩れてしまった者の声だった。「神を斬った男……ノワールという異端の『勇者』を称えようとしたのは、我々自身だ」 王は机の上の羊皮紙に視線を落とした。 それは、かつて彼がノワールに与えた――『望むものを授ける』と書かれた褒賞の誓約書。その下には、今も王自らの署名が残っていた。「……だというのに、彼が望んだものは、栄光でも、土地でも、地位でもなかった。ただ一人の『女性』だけだったのだ」 室内に微かな緊張が走る。 誰も名を口にしなかった。その名前を出すことが、何か大切なものを壊してしまいそうで。「我々は……彼を何一つ理解していなかったのだよ」 王は唇を噛み、ゆっくりと言葉を継いだ。「力だけを見て、利用価値ばかりを量ろうとした……だが、あの男は確かに『人間』だった」 手のひらをそっと空へ向けるように、彼は天を仰いだ。「神を斬ったその手で、たった一人の女を選んだ。民でも、国家でも、神でもない……彼のすべてを投げ出しても惜しくないと信じた存在を……だが、それが……我々には理解できなかった。否、理解しようとすら、しなかったのだ」 重苦しい沈黙が落ちる。 やがて王は深く息を吐き、椅子に腰を下ろした。そしてぽつりと呟いた。「……だがな、不思議なものだ」「彼が『あの娘』を選んだことだけは、なぜか……私の胸に、小さな安堵をもたらしている」 侍従が戸惑いを隠せず、小さく眉をひそめた。「安堵……に、ございますか?」「ああ」 王はわずかに微笑んだ。その笑みには、ほの
重厚な扉が鈍く軋み、音を立てて閉じた。 その響きはまるで、外界から希望を遮断する音――まるで、王国を見捨ているかのような、そのような音に聞こえた。 王宮の戦略会議室。 金と瑠璃で飾られた豪奢な空間に、不釣り合いな沈黙が満ちており、煌びやかな装飾は、今や王国の惨状を痛々しく照らし出す。 国王ローランドは椅子に身を沈め、目を閉じる。 手元の書類の束には、各地からの戦況報告とともに――ある『名前』の調査記録が挟まれている。 そして、彼は低く、かすれるような声で口を開いた。「…&helli
――魔王が復活した。 その報せは、王都よりも早く、風よりも鋭く届いた。 血の匂いを含んだ、不吉な風とともに。「ヴェルゼンが……陥落? 一夜で?」「王宮は炎に包まれ、王室の安否は不明。国境守備隊も壊滅……との報です」 戦略会議の間には、重苦しい沈黙が支配していた。 地図の上に並べられた三つの国――ヴェルゼン、クランド、アスロニア。 僅か十日で、すべて魔王軍の手に落ちた。 まるで紙の城を倒すように、あまりに呆気なく、容赦なく
ノワール・ヴァレリアンが王都から姿を消してから、数日が経過した──いや、時の流れが鈍くなったように思えた。 王立騎士団の寮。 かつて彼が暮らしていた簡素な一室には、もはや何ひとつ残されていなかった。 剥き出しの床板。空っぽの棚。埃をかぶった窓枠。 どこを見ても、そこに誰かが住んでいた、気配は微塵もない。「ここ……誰か使ってたっけ?」 新入りの団員が、扉の前で不思議そうに首を傾げる。 返ってきたのは、嘲るような声だった。「ああ、魔力ゼロの『勇者様』の部屋
雨が降っていた。 しとしとと、濡れた音すら立てぬほど細く、静かな雨であり、空は鉛色に曇り、どこまでも低く、重く垂れ込めていた。 風はない。 ただ、まるで世界そのものが呼吸を止めてしまったかのような静けさ。 淡く霞む王都の空気は、濡れた石畳に淡く煙をまとわせ、景色すらも輪郭を失い始めていた。 その朝、王立騎士団の名簿から、ひとつの名前が静かに消えた。 ──ノワール・ヴァレリアン。 『魔力ゼロ』の勇者候補――平民出身の落ちこぼれ。 誰からも惜しまれず、誰の耳にも届くことなく、彼の名は