"Gandes!” Panggilan Wulan membuat Gandes menoleh.Wulan melambaikan tangan dari kantin. Werda di sampingnya, Rendi dan Sandi duduk menghadap meja penuh gelas.“Kamu tuh ya, kapan hari baru masuk, ngak masuk lagi. Sekarang, sudah masuk terus?” tanya Wulan begitu Gandes mendekat.“Habis badanku nggak enak.”Werda menatap dari ujung kepala sampai kaki. “Tapi, kamu kelihatan beda.”“Lebih segar,” sambung Rendi.Gandes duduk. “Baru sembuh dari rumah sakit.”"Wah, maaf, kita kok nggak tahu." Werda merangkul Gandes.“Nanti habis kuliah kita ke mall, ya,” ajak Sandi. “Sekalian ngerayain hari jadian kita.” Sandi mengerling ke Wulan.Wulan tersenyum lebar. “Kita udah resmi, lho, Ndes."Gandes membelakkan matanya. "Serius?“Wulan mengangguk."Selamat,” ucap Gandes tulus merangkul Wulan.“Kamu ikut, ya,” pinta Wulan. “Biar rame.”Gandes ragu sebentar. “Lihat nanti. Kalau nggak capek.”“Kamu pasti ikut,” sahut Werda yakin. “Mukamu lagi pengen keluar rumah.”Mereka tertawa kecil. Untuk sesaat, Gande
Last Updated : 2025-12-25 Read more