“Mama? Mama mau makan, nggak?”Suara Kaivan yang lirih terdengar dari balik pintu pagi keesokan harinya. Pada celah bawah pintu, ujung tisu makan muncul perlahan. savita yang tertidur di lantai, diantara kekacauan kamarnya, menyeret tubuhnya mendekati pintu kamar itu.“Kaivan? Itu kamu, Nak?” bisiknya dengan menempelkan bibirnya sedekat mungkin di pintu dingin itu.“Iya, Ma,” balas Kaivan pelan. “Aku bawain Mama roti. Papa bilang kalau Mama dihukum. Ini buat Mama sarapan. Kaivan nggak mau Mama sakit.”Bibir Savita bergetar mendengar ucapan Kaivan itu. Anak sekecil itu sudah berpikir dewasa. Lebih tepatnya terpaksa berpikir dewasa. Hati Savita bagaikan diremas. Kaivan berusaha menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang paling sederhana.Perlahan Savita menarik tisu makan tersebut. Di atasnya terdapat dua potong roti tawar yang dijajarkan tanpa isian selai. Savita berpikir mungkin roti itu diambil diam-diam oleh Kaivan dari meja makan.“Makasih ya, Sayang,” bisik Savita dengan suara
Last Updated : 2026-01-02 Read more