Pletak.Hening lagi. Bau kencing kelelawar yang menyengat bercampur minyak tanah tua merayap lambat di rongga hidungku yang sudah melengkung peyang. Dingin sekali ubin tegel pecah di bawah punggung zirahkan. Sensasi di kulit leher bawahku rasanya mirip ditempeli kain wol basah yang direndam dalam air es selokan. Gak ada pendar lampu indikator lagi di rongga dadaku. Cuma gelap pekat yang membungkus mata kiri asliku, beradu sama denyut tumpul yang menjalar pelan dari kawat saraf punggung yang sudah kendor total.Klang!Potongan pipa besi dihantamkan Vane ke slot selak pintu kayu rumah pompa. Berisik. Suara benturan logam itu memantul di dinding semen yang lapuk, bikin sisa tengkorak kepalaku yang lemot ini rasanya mau belah dua. Napas kapten pemberontak itu kedengaran makin pendek-pendek, ngos-ngosan persis mesin gilingan tebu yang kehabisan solar di tengah sawah."Pintunya udah kuganjal pakai sisa tiang karatan, Haneul... mereka gak bakal gampang jebol dari luar," kata Vane parau, disu
اقرأ المزيد