Sebelum Sofia tenggelam dalam kesalahpahaman yang menghancurkan hatinya, suara Riga kembali terdengar. Kali ini bernada serak, bergetar menahan emosi yang mendalam. "Tolong Mama berikan kompensasi atau uang yang layak untuk Maya. Katakan padanya, itu sebagai ucapan terima kasih dariku... karena kata-katanya waktu itu telah menyadarkanku. Dia yang membuatku tersadar untuk bangkit dan memperjuangkan anakku sendiri." Sofia membeku, air mata yang menetes di pipinya kini tertahan. Ia meremas dadanya yang terasa sesak, terus mendengarkan. "Mama tahu sendiri... Sofia begitu antusias dengan kehamilan ini, Ma," lanjut Riga dengan suara yang mulai gemetar, setitik air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. "Dia tersenyum seolah tidak ada ancaman apa pun, padahal ginjal tunggalnya sedang bertaruh nyawa di dalam sana. Aku berutang budi pada Maya karena jika bukan karena dia, aku mungkin sudah memaksa Sofia
อ่านเพิ่มเติม